Restart

by | Oct 1, 2017 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 2 comments

October is mine—always mine.

Saya menuliskan ini setelah main games hampir dua jam. Mungkin sudah lebih dua bulan saya enggak membuka akun Origin saya. Kemarin ada surel pemberitahuan kalau ada aktivitas mencurigakan di akun ini.

Ada banyak yang harus diselesaikan, sebenarnya. Tapi … entahlah. Saya membuka almanak dan menyadari kalau beberapa hari lagi Oktober. Lalu itu membuat saya melihat lagi beberapa bulan ke belakang sampai ke awal tahun. Kesimpulannya hanya satu; roller coaster.

Banyak yang datang, pergi, kembali, menolak pergi, atau menolak kembali.

Beberapa hari lagi, saya harus memperbarui OS di laptop. Kemarin saya melakukannya untuk ponsel. Saya sudah mencicil memindahkan data dan memperbaiki cara kerja beberapa waktu belakangan. Tapi rasanya itu belum cukup. Seperti laptop dan ponsel; hidup saya sepertinya harus di-restart.

Kedengarannya mudah memang—kalau untuk barang seperti laptop. Tinggal mengganti isinya, nyalakan ulang, dan semuanya berubah jadi baru. Hidup enggak bisa seperti itu, sayangnya, seberapa pun kuatnya saya ingin melakukannya.

Beberapa hal ingin saya putuskan ulang; apa terlalu terburu-buru? Beberapa hal lain, saya ingin bertanya lagi; apa ini harus dipertahankan? Ada banyak hal tentang melupakan. Saya baru mengerti betapa kemampuan untuk lupa itu anugrah. Bagaimana jadinya kalau kita enggak bisa melupakan setiap hal yang diproses di otak. Mengingat setiap detailnya dengan jelas? Betapa menderitanya.

SIMS4 saya di Origin perlu update. Jadi, saya menunggu dengan menulis ini.

Saya teringat tentang hari-hari menyakitkan dan menyenangkan. Tentang banyak do’a yang sudah dikabulkan. Tentang do’a-do’a lain yang masih juga dipanjatkan. Tapi … saya berhenti berdo’a panjang dan detail akhir-akhir ini. Entah mengapa. Mungkin saya takut kalau saya berharap, lalu dikabulkan. Entahlah.

Saya teringat tentang banyak waktu saya lewatkan tanpa menulis. Saya mengetik caption Instagram. Tapi itu beda dengan menulis panjang seperti ini—walaupun saya akui satu-dua kali saya melakukannya untuk mempertahankan kewarasan saya. Ada hal lain yang saya pelajari tentang diri saya; kalau saya banyak bicara, maka saya sedikit menulis. Kalau saya banyak membaca, bisa jadi saya akan banyak menulis. Saya berhenti menulis mungkin karena saya banyak bicara.

Saya juga banyak bertengkar beberapa waktu belakangan.

Saya lebih suka menghindari konflik, biasanya. Mengalah dan meninggalkan atau kemudian enggak memikirkannya lagi. Bukan karena saya enggak peduli, tapi—biasanya—karena takut apa yang sudah ada jadi berantakan. Enggak banyak orang yang kamu bisa bertengkar dengan rasa ‘aman’. Kedengarannya aneh, ya? Hahahaaa. Saya akan jelaskan.

Buat saya bertengkar enggak selalu menghancurkan. Saya melakukannya karena ingin mencari pintu keluar atau jalan tengah. Syaratnya hanya satu; saya dan orang yang bertengkar itu punya tujuan yang sama. Bayangkan begini. Kalau dengan pasanganmu misalnya, bayangkan kamu berdiri di bibir sungai yang sulit dilewati sementara di seberang ada kota tujuan kalian. Kalian berdebat dan bertengkar tentang bagaimana caranya ke seberang. Bagaimana caranya agar sampai ke tujuan dan bukannya bertengkar untuk mempertanyakan apa kalian harus ke seberang atau enggak.

Lalu, saya juga mengingat tentang betapa saya berkali-kali gagal menjaga renjana. Masalahnya, saya tahu; inertia. Ketika kamu berhenti setelah melakukan sesuatu terus-menerus beberapa lama, untuk memulainya akan sulit sekali. Menulis blog ini, misalnya. Saya sudah tiga bulan berhenti. Setengahnya bukan karena saya ingin, tapi karena saya berhenti, lalu seperti pelancong di kota besar, saya tersesat.

Saya ingin menulis lagi. Saya benci diri saya sendiri karena saya menginginkannya lebih dari apapun sekarang tapi belum juga bisa saya lakukan. Mungkin menulis catatan pendek seperti ini bisa membantu. Mungkin.

Mungkin.

Ah, Origin saya sudah selesai update.

Credit to all images: Unsplash