Rethinking Friendship

by | Oct 3, 2017 | Ceracau Pagi, Love & Relationship, Non Fiksi | 0 comments

“Ally.” Peeta says the words slowly, tasting it. “Friend. Lover. Victor. Enemy. Fiancee. Target. Mutt. Neighbor. Hunter. Tribute. Ally. I’ll add it to the list of words I use to try to figure you out. The problem is, I can’t tell what’s real anymore, and what’s made up.” 

(Suzanne Collins—Mockingjay)

Kalau enggak karena harus membahasnya jadi tema di satu episod podcast yang sedang dibuat, mungkin saya enggak akan memikirkannya sampai jauh seperti sekarang ini. Sudah kadung dipikirkan, sudah banyak—bahkan yang bukan tentang hal ini tapi masih ada hubungannya—dibaca, dan waktu pun banyak dihabiskan untuk memikirkannya, jadi … sekalian saja saya rangkum dan tulis di sini. Semacam; sayang kalau enggak dibagi.

Saya enggak akan membahas ini dari sudut pandang; my husband/wife is my bestfriend karena itu agak-agak—duh, gimana ya, ngomongnya—maksa? Hahahaaa. Saya tahu itu mungkin. Di satu titik, itu memang terjadi di hidup saya. Namun, seiring berjalannya waktu, saya jadi paham bahwa itu agak maksa. Saya memaksakan satu orang yang untuk memenuhi kebutuhan saya akan pertemanan, yang mana—lagi-lagi—ini bisa, tapi dunia saya jadi terasa betapa sempitnya. Saya memang berteman dengan suami saya. Bukan karena seharusnya begitu, tapi karena saya memang awalnya berteman dengannya dan akhirnya, sampai sekarang tetap berteman. Tapi dia enggak bisa memberikan jenis pertemanan lain yang saya inginkan atau butuhkan. Saya masih ingin berteman dengan teman-teman lain, yang membawa jenis pertemanan yang lain, yang punya rasa yang lain. Tiap orang unik dan berbeda, kan? Demikian juga dengan pertemanan yang mereka bawa.

Saya juga ingin membahas ini karena betapa lelahnya saya dengan hubungan romatis yang overrated (terjemahannya ‘overrated’ apa, ya?). Semua melulu tentang jatuh cinta, putus cinta, pacar, mantan, dan kisah cinta yang kadang menarik, kadang enggak. Padahal hidup dan hubungan antarmanusia enggak hanya tentang itu. Kalau kamu lelaki, perempuan enggak hanya jadi target dan objek untuk kamu jatuhi cinta romantis. Kamu bisa berteman dengannya. Kamu bahkan bisa bermusuhan dengannya, hahahaaa.

Belakangan, saya mencoba mengingat lagi, begitu banyak novel yang membahas tentang cinta dan segala sesuatu di sekitarnya. Sedikit sekali yang membahas tentang persahabatan. Saya teringat Harry Potter dan bagaimana mereka bertiga (Harry, Ron, dan Hermione) berteman walaupun pada akhirnya Ron dan Hermione menikah, tapi rasa-rasanya itu unevitable—walaupun saya enggak setuju dengan pernikahan mereka. Mereka enggak cocok. Hahahaaa.

Jangan-jangan, kesepian kita—banyak banget yang kesepian sekarang ini, kan, ketika teknologi untuk terhubung dengan orang lain begitu mudahnya—ada karena kita terlalu berharap pada hubungan romantis? Bahwa yang bisa membunuh kesepianmu hanya hubungan yang didasarkan pada cinta romantis (eros)? Kita sudah lupa caranya berteman? Kita sudah lupa caranya bersahabat dan punya ikatan dalam dengan orang lain karena semua nyaris take it for granted dengan sosial media? Kamu melihat hidup dan kabar teman-temanmu di sana lalu kamu lupa bertanya. Kamu lupa bahwa sosial media bukan temanmu, tapi orang yang di belakangnya, bisa jadi temanmu. Bahwa seperti semua hal yang berharga, pertemanan itu pun mesti dijaga.

Ah, ini akan panjang. Sebentar. Saya buat kopi dulu.

Saya menulis ini sambil mendengarkan The Marias, I Don’t Know You berulang-ulang. Mungkin kamu juga bakalan suka. Ah, sebenarnya saya mendengarkan lagu ini sudah tiga hari enggak berhenti.

Saya pun sepertinya sudah agak lupa bagaimana caranya berteman. Akhir-akhir ini, saya lebih suka menelepon dengan alasan; kadang saya enggak bisa menemui mereka, jadi saya berharap bisa bicara. Bicara—walaupun hanya—di telepon itu beda rasanya dengan chat atau sekedar meninggalkan satu-dua komentar di sosial media. Kalau dianggap urusan di sosial media itu ibarat ‘just say hi’ ketika enggak sengaja—atau disengaja-ngajain, kalau kamu stalker dia—bertemu, maka bicara bisa diumpamakan seperti berhenti sebentar, lalu mengobrol.

Saya juga merasa aneh, sih, dengan urusan menelepon ini karena biasanya, yang menelepon saya enggak pernah mengobrol kurang dari sejam, errr … kurang dari dua jam pun jarang kayaknya. Saya enggak bilang kalau saya ini enak diajak bicara, ya, karena ada juga dari telepon panjang itu isinya bertengkar, hahahaaa…. Saya menganggap ini sebagai; jangan-jangan … kami memang ingin bicara. Kami memang perlu bicara—apapun pembicaraannya, pertengkaran sekalipun.

Lalu orang-orang ini, mereka yang bicara dengan saya di telepon, bertemu kalau bisa—saya susah ke mana-mana dan rumit urusannya kalau diajak janjian—punya hubungan yang lebih dekat. Saya enggak tahu bagaimana dengan mereka. Jangan-jangan ini cuma sepihak. Tapi rasanya memang beda.

Rasanya juga beda dengan orang yang sering kamu temui, sering bicara denganmu, tapi pembicaraan kalian kosong saja. Tentang hal remeh-temeh yang kamu bisa bicarakan dengan siapapun. Jangan-jangan (lagi), kita sudah jarang bicara lebih dalam tentang hati dan isinya. Kita bicara karena kita bisa bicara bukan karena kita ingin membicarakan sesuatu dan ingin jadi lebih dekat. Dalamnya pembicaraan juga mempengaruhi kelekatan kita dengan seseorang, soalnya. Deep conversation dengan seseorang tentu efeknya akan beda dengan gosip dan lainnya.

Jangan-jangan kita kesepian karena enggak banyak bicara tentang kesepian itu sendiri. Jangan-jangan kita kesepian karena enggak ada orang yang kita ajak untuk melihat bagian lebih dalam dari hati kita sendiri. Kemudian karena di sekitar kita selalu saja banyak yang bicara tentang cinta romantis, pernikahan, dan hidup bahagia setelahnya, kita jadi menganggap itu yang bisa membuat kesepian itu hilang. Mungkin juga karena kita selalu melihat pertemanan sebagai networking atau komunitas, bahkan mungkin hanya perkumpulan.

Kamu tahu, kamu bahkan bisa bangun di suatu malam dan merindukan orang yang sedang tidur di sampingmu karena kalian enggak lagi dekat—ya, saya pernah mengalami fase ini. Pernikahan dan cinta romantis itu naik-turun. Kamu juga enggak bisa mengharapkan pasanganmu memberi segala yang kamu butuhkan. Misalnya, saya memang mengharapkan dicintai tanpa syarat oleh suami saya, tapi kemudian untuk hal-hal lain, seperti; teman diskusi tentang pekerjaan kreatif, teman bicara tentang buku, teman menghabiskan waktu di telepon untuk berdebat tentang struktur naratif, teman bicara tentang makeup … ini enggak saya minta dari dia karena memang enggak bisa. Dia enggak bisa kasih dan saya menerima itu. Saya mencarinya di tempat lain karena kalau saya enggak melakukan itu, bisa jadi, lambat-laun kewarasan yang saya pertaruhkan—bukan lagi sekadar kesepian.

Betapa beruntungnya orang yang punya teman sejak kecil dan mereka berteman sampai dewasa. Saya enggak punya. Mungkin punya, tapi entahlah … sudah lama sekali saya terpisah dengannya. Mungkin ini juga karena selama masa remaja, saya asyik sendiri dan sekarang saya baru mengerti bahwa saya akan memerlukan itu suatu saat nanti.

Ah, bicara tentang struktuf naratif dan penceritaan, karena saya penulis—yang enggak punya karya, hahahaaa—saya ingin menjelaskan ini. Kalau kamu menulis tentang hubungan antarkarakter, hubungan persahabatan dan percintaan itu sama saja elemennya. Jadi, apapun yang kamu lakukan dengan sahabatmu, itu kamu lakukan juga dengan pasanganmu. Bedanya hanya; dengan pasanganmu, kamu bisa melakukan ‘sexy fun time’, hahahaaa. Kalian akan sama-sama menghabiskan waktu dengan bicara dan pembicaraannya, bisa jadi, sama saja. Kalian akan saling minta dimengerti, dipahami, disemangati, dan kalian akan bertengkar. Memang untuk hubungan romantis, perlu jatuh cinta. Ambil novel percintaan yang paling kalian suka, deh, ambil adegan romantisnya, maka sisanya, itu pertemanan atau kalau mereka memang dekat sekali, itu persahabatan.

Tapi … kalau kalian punya sahabat yang sudah begitu mengerti dan memahami kalian, untuk jatuh cinta itu lebih aman dan mudah dibanding jatuh cinta dan mempertaruhkan hati untuk orang asing lalu masuk ke hubungan dengan cinta sekaligus memulai kedekatan sebagai sahabat—kalau mau hubungannya bertahan lama. Kalau mau hanya buat senang-senang saja, yaaa … enggak perlu mengusahakan kedekatan mungkin, ya. Kamu bisa punya hubungan romantis tanpa berteman. Lalu ini yang menjadikan hubungan itu rumit dan bermasalah di kemudian hari karena kalau sudah lelah dengan urusan romantika, kalian akan menuntut yang lain—yang kalian dapat dari pertemanan atau persahabatan. Semoga saya ngejelasinnya enggak rumit, ya.

Tapi, hubungan pertemanan ini juga rumit buat saya karena ‘akad’-nya enggak jelas. Kita berteman dengan suka-rela. Bisa jadi kita bertemu di suatu tempat, mengobrol, lalu saling menyukai, dan kemudian berteman. Sudah, begitu saja. Enggak ada pengakuan bahwa saya menawarkan diri saya untuk jadi teman seseorang itu, misalnya. Ini yang membuat hubungan pertemanan ini kadang rumit dan sulit; ekspektasi enggak dibuat jelas sejak awal. Kalau dengan pasangan, misalnya, karena ada akad dan dengan begitu ada hak dan kewajiban dijejerkan di belakangnya, maka saya bisa menuntut. Segala macam bisa dituntut; nafkah, waktu, tanggung-jawab, dan sebagainya. Dengan teman, kamu enggak bisa begitu. Mungkin dengan sahabat dekat, bisa, sih. Kamu bisa menuntut semacam, “Kita udah enggak ketemu sebulan lebih! Lo harus temui gue! Harus! Kita enggak bisa begini terus! Kita harus bicara! Gue kangen!”

Bertemanlah. Bersahabatlah. Itu nasehat saya. Jangan juga menjadikan cerita di series semacam Friends sebagai acuan bagaimana berteman yang baik dan benarkarena yang baik benar itu enggak ada. Semua relatif. Hubungan antarmanusia, apapun bentuknya, enggak akan pernah sempurna dan karena itu, dia jadi manusiawi. Setidaknya, hubungan itu akan mengurangi kesepianmu karena saya sendiri heran dengan betapa banyaknya orang yang merasa sendirian di dalam kesepiannya. Saya mau bilang; tiap orang akan kesepian. Itu juga manusiawi.

Lalu, pertanyaan yang sering ditanyakan ke saya; bisa enggak cewek-cowok temenan?

Jawaban saya; bisa, selama ekspektasinya dijaga.

Selama kamu enggak berharap lebih, enggak merasakan lebih, walaupun di satu titik, bisa jadi salah satu pihak mengalami itu. Tapi bukan enggak mungkin pertemanan itu di-restart, diulang lagi sejak awal. Bisa jadi, kalau keduanya ingin, dilanjutkan ke tahap yang keduanya setuju.

Lalu, saya gatal sekali ingin memasukkan kutipan dari Dave Matthews Band ini, hahahaaa:

A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other…Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever

Lalu … tulisan ini pun jadi berakhir paradoks! Hahahaaa~

Tulisan ini udah kepanjangan, kayaknya, jadi saya tambahkan dengan mengutip caption Instagram saya saja, deh. Tentang peran tiap orang dalam hidupmu.

Tiap orang punya peran dalam hidupmu dan kamu (dan orang itu) harus punya ekspektasi yang sama—ini yang baru saya pahami beberapa waktu belakangan.

Tidak ada satu orang yang bisa jadi ‘The One’, bahkan spouse yang kamu cintai sampai ke relung hati paling rahasia sekalipun. Relung yang pernah saya tuliskan sebagai tempat terdalam, yang ketika seseorang sudah berhasil menyelam ke sana, yang pernah dan akan mencoba hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan, tidak pernah kepastian. Betapa beratnya hidup satu orang kalau kamu jadikan dia ‘The One’. Dia harus jadi; your lover, bestfriend, trusted confidant, keeper, protector, provider, mentor, teacher, creative partner, your sun and moon, blood of your bood … kelar hidup itu orang. Kelar juga hidupmu kalau dia tidak ada.

Saya mencoba realistis dengan ini semua. Menarik banyak garis batas dan menyeimbangkan tepi. Memahami bahwa kamu harus membagi peran tiap orang dalam hidupmu. Kamu sudah menikah, misalnya, bukan berarti kamu tidak perlu lagi teman, sahabat, atau apapun di luar sana. Untuk yang belum menikah; jangan mencari dan menunggu ‘The One’. Dia ini semacam grand ambition of love and life, soalnya—sulit untuk benar-benar ada.

Seperti saya yang bisa-bisa aja sebenarnya jadi sahabatan sama Tuan Sinung, tapi memang ada urusan-urusan curhat perempuan yang hanya bisa saya bagi dengan perempuan lain (pun biasanya dia tahu urusannya kayak apa). Saya tidak bisa memaksa dia suka dengan buku-buku yang saya sukai. Dia menghargai itu, tapi dia membebaskan saya untuk mencari teman diskusi yang juga sama sukanya seperti saya. Peran besar dia tidak pernah jadi terungku dalam hidup saya. Bersiap bahwa cepat atau lambat akan ada yang pergi, datang, dan kembali—dan setiap kali, selalu ada tempat. Setiap kali, mereka selalu dapat tempat.

Terakhir, saya membuat topik ini jadi diskusi panjang dengan Gian di podcast kami yang baru, After Heart. Semua yang saya tulis di atas, itu pendapat saya—dari kacamata perempuan yang sudah menikah dan masih juga menempatkan pertemanan sebagai hubungan yang penting. Kamu bisa mendengarkan apa yang Gian pikirkan sebagai cowok single yang keras kepala kalau podcast-nya sudah rilis, hahahaaa….

Kami memang membuat podcast itu karena ingin mendiskusikan banyak hal yang terlewat dibincangkan lebih dalam. Selain karena, yah—walaupun berat mengakuinya—ternyata kami berteman selama ini walaupun bertengkarnya lebih sering dibanding akurnya. Hahahaaa. Ketika sedang akur, kami pun membicarakan banyak hal, merekamnya, dan menjadikannya podcast yang semoga ingin kamu dengarkan.

Ah, pas kopi saya habis dua cangkir sambil menulis ini. Hmmm…. ^^

Credit to all images: Unsplash