Writing Kissing Scene

by | Dec 2, 2017 | Non Fiksi, Notetaking | 1 comment

“How to stop time: kiss.

How to travel in time: read.

How to escape time: music.

How to feel time: write.

How to release time: breathe.”

Matt Haig, Reasons to Stay Alive

I’m not a good kisser but I know what a good kiss feels like, or am I?—sayangnya, standar seperti ini enggak saya temukan baca di novel young adult dan romens lokal. Memangnya gimana good or bad kisses itu kalau ditulisankan, dideskripsikan, bukan hanya selayang lalu, tapi juga detail dan visceral? Hahahaa. Penasaran enggak? Saya sesungguhnya penasaran…. 

Dari sini juga masalah datang; saya ingin menuliskan adegan ciuman tapi saya sendiri kadang ragu karena satu-dua hal yang menjadi pertimbangan dan enggak satu pun dari dua hal itu tentang kesopanan, moral, dan sejenis itu. Saya pikir, ciuman dan sentuhan fisik itu normal-normal saja selama kamu tahu di mana menempatkannya. Saya hanya enggak ingin meromantisasi ini sampai-sampai jadi hal yang wajib ada kalau saya menuliskan tentang cinta atau lebih dari itu; menjadikan ciuman dan sentuhan fisik ini sebagai simbol yang harus ada dalam cerita cinta. Di sini sulitnya.

Beberapa bulan lalu, saya membaca sebuah cerpen tentang adegan ranjang—atau kadang suka dipelesetkan menjadi ‘rantangan’. Saya suka rantangan yang bagus dan saya punya kriteria tentang itu. Misalnya saja, enggak didramatisasi sampai-sampai saya sendiri mengerenyitkan dahi membacanya dan berpikir, “Ini mungkin enggak, sih?” Memang bercerita itu juga tentang dramatisasi dan dramaturgi. Saya enggak tahu ini selera atau bukan, tapi saya suka cerita yang jujur, apa-adanya. Cerita seperti ini biasanya sederhana tapi siap mengoyakmu dengan kenyataan yang—bisa jadi—lebih dramatis daripada fiksi dengan segala konstruksinya.

Mungkin ini yang membuat cerpen-cerpen Jhumpa Lahiri selalu menarik untuk saya baca. Dia jujur, apa-adanya. Ketika dia harus menuliskan adegan ranjang antara sepasang suami-istri yang sedang ‘falling out of love’, dia menuliskannya dengan satu kalimat saja, yang menjelaskan lebih banyak daripada beberapa paragraf detail tentang apa yang ada di ranjang itu sendiri. Tulisnya:

… and making love with a desperation they had forgotten. She wept without sound, and whispered his name, and traced his eyebrows with her finger in the dark.

Saya sesak membacanya. Yang ingin dia sampaikan itu rasa, bukan ingin merisak pembaca dengan adegan itu sendiri. Tentang mengganggu dengan adegan itu sendiri, kalian pernah menonton Irreversible? Di sana ada adegan perkosaan sembilan menit, one take, dan adegan ini harus ada agar penonton melihat perkosaan dengan apa-adanya, tanpa romantisasi, tanpa dikurangi dan dilebihkan. Sakit rasanya melihat itu.

Kembali ke urusan ciuman, saya pun mempertimbangkan dua hal untuk memutuskan apakah harus menuliskannya atau enggak.

Yang pertama: Haruskah? Apa karakter ini harus berciuman? Untuk apa? Apa yang ingin dijelaskan? Apa yang ingin saya tampakkan?

Yang kedua: Bagaimana? Bagaimana saya menuliskannya—dan bagaimana mereka melakukannya? Bagaimana mereka melakukannya ini urusannya banyak, termasuk; apa mereka sudah pernah melakukan itu sebelumnya? Lalu, apa yang mereka rasakan ketika itu? Rasa ini akan membantu saya memutuskan bagaimana adegan itu dituliskan—saya harus memilih diksi dan apa yang ingin saya deskripsikan. Sangat mungkin menulis adegan ciuman tapi membuatnya terasa dingin, sakit, atau tanpa rasa sama sekali—yang mana yang saya mau?

Pada akhirnya, saya menulis juga adegan itu, yang coba saya letakkan alasannya di atas rindu. Bahwa setelah sekian lama, banyak yang enggak lagi tertahankan. Semacam itu. Saya juga tahu kalau saya, mungkin saja, enggak menuliskannya dengan baik. Tapi ada alasan lain kenapa saya—akhir-akhir ini—memilih untuk enggak menghindarinya kalau memang saya harus melakukannya untuk membuat cerita menjadi lebih realistis; saya enggak ingin memutar alasan dari ‘saya enggak bisa’ menjadi ‘saya enggak mau’. Karena itu saya bertanya lagi pada diri saya sendiri; saya bisa enggak menuliskannya? Kalau saya enggak bisa, saya enggak akan mengelabui diri saya sendiri dengan mengatakan bahwa saya enggak mau. Berikutnya saya akan memakai pertimbangan yang sama untuk adegan ranjang, gore, sadis, dan sebagainya.

Di cerpen ini, saya bisa dan saya mau. Adegan itu saya buat untuk penceritaan—bukan yang lain—sejujur yang saya bisa tuliskan. Jadi, ini memang bukan cerpen pertama saya yang di dalamnya saya berani menuliskan itu, tapi ini akan jadi yang pertama di mana saya melakukannya dengan pertimbangan sadar bahwa ceritanya perlu adegan itu, karenanya, saya menuliskannya.

Cerpennya bisa kamu baca di Storial atau di Wattpad. Silakan.