A Monster Calls

by | Dec 3, 2017 | Buku, Film, Non Fiksi, Review | 0 comments

“Stories are wild creatures, the monster said. When you let them loose, who knows what havoc they might wreak?”

Patrick Ness, A Monster Calls

Malam setelah menyelesaikan NaNoWriMo 2017, walaupun lelah sekali, saya enggak bisa tidur. Sejak siang, saya mengejar sisa 6.500 kata dan menjelang malam baru bisa melewati batas 50.000 kata. Bukan capek duduk mengetik, sih, yang paling terasa; tapi capek pikiran. Baru kali ini saya menulis tanpa outline—hanya dengan catatan enggak cukup panjang dan detail tentang bagaimana cerita itu selesai di kepala saya. Setiap hari selama sebulan, saya duduk di depan laptop dengan memikirkan; mau dibawa ke mana cerita ini? Eh, tapi enggak begitu, sih. Lebih tepat keadaannya kalau digambarkan seperti ini; mau diapakan cerita ini sampai saya akhirnya bisa berhenti di ujung yang saya mau. Lebih tepat begitu.

Ah, cerita tentang proses menulisnya ini, saya bicarakan lagi nanti. Saya mau ngomongin film sekarang, A Monster Calls, yang saya tonton malam setelah saya bisa gegoleran tanpa memikirkan apapun lagi yang ada urusannya dengan menulis.

Film ini sudah lama sekali saya tonton, sebenarnya. Novelnya pun sudah lama saya selesaikan. Saya punya banyak pilihan menonton film yang lain sebenarnya, tapi entah kenapa malam itu—kalau dihitung dari ketika saya menulis review ini, berarti tiga malam yang lalu—saya memutuskan untuk menonton ulang film yang satu ini. Tapi setelah saya pikir-pikir, bisa jadi saya hanya ingin agar rasa yang tertinggal setelah menulis enggak buru-buru hilang, sih. Film ini sedih memang—walaupun saya enggak menangis menontonnya karena saya susah memang diajak nangis-nangisan model kayak begitu. Film dan novel ini near and dear to my heart; tema, eksekusi, bagaimana cerita itu diceritakan lagi oleh penulisnya.

Lebih deep lagi, saya ‘kena’ di bagian bagaimana premis ‘ketakutan’ digambarkan real jadi sosok monster. Mulai ngomongin film ini, kita? Sedikit nanti saya ceritakan tentang novelnya. Okay. Mari.

Saya suka Keane—mungkin kamu kalau ngikutin blog ini dari lama, tahu itu. Jadi awalnya saya tahu film ini dari single Keane yang dirilis setelah mereka mengumumkan hiatus, yang ternyata dibuat untuk keperluan soundtrack film, yang mana lagi ternyata, itu enggak direkam setelah mereka hiatus. Jadi itu bukan single comeback atau yang semacam itu. Saya pun nyari tahu film apa yang ngejadiin lagu itu—saya udah nyebutin judulnya belum, sih? Judulnya Tear Up This Town—sebagai soundtrack-nya. Ketemulah film yang judulnya A Monster Calls. Terus saya lihat kalau film itu diadaptasi dari novel. Saya carilah novelnya. Ketemu! Novelnya berjudul sama; A Monster Calls. Lalu saya pun memilih untuk membaca dulu novelnya karena … ah, enggak ada alasan khusus sebenarnya, saya emang cuma lagi pengen baca aja waktu itu. Lalu saya nonton filmnya beberapa bulan kemudian. Semua ini terjadi setahun lalu. Udah lama banget, ya? Errr….

Bisa jadi waktu saya membaca novelnya, saya memang kesepian dan ketakutan pada entah apa makanya ceritanya seolah menghujam jantung. Bisa jadi waktu saya menonton ulang filmnya beberapa malam lalu, saya juga sedang kesepian dan ketakutan pada entah apa. Makanya ceritanya—sekali lagi—menghujam jantung.

Oh, saya tahu sekarang apa yang saya takutkan beberapa malam lalu. Kamu tahu rasanya menulis cerita yang punya arti besar untukmu itu seperti apa rasanya? Seperti dikejar monster. Itu yang saya rasakan selama November. Monster besar yang menakuti di belakang punggungmu dan kalau kamu selesai menulis satu bab, rasanya seolah satu tulang monster itu patah. Kamu selesai menulis bagian pembukaan, satu tangan monster itu lepas. Kamu sampai di Key Turning Point I, satu kaki monster itu terjatuh. Begitu seterusnya sampai monster itu hancur dan hilang—dan seharusnya enggak lagi menakutimu. Tapi saya masih juga ketakutan setelah semua selesai ditulis.

Mungkin itu juga yang dirasakan Patrick Ness ketika menulis novel ini. Ide awal novel A Monster Calls itu datang dari temannya, sesama penulis, Siobhan Dawd yang sebelum sempat menulis sudah keburu meninggal karena kanker. Ide novel ini pun ditulis dan diselesaikan oleh Patrick Ness untuk mengenang temannya itu.

Ide tentang monster yang terbuat dari ketakutanmu, yang mengejarmu, meminta agar kamu mengakui ketakutanmu sendiri—dan mungkin setelah itu menerimanya agar enggak jadi takut lagi.

 

Karakter utama di novel ini juga punya ketakutan yang dia enggak pahami dan sulit jelaskan. Ibunya dalam penyembuhan kanker yang sudah berjalan begitu lama. Connor yang baru berusia 12 tahun harus mengurus dirinya sendiri. Ayahnya sudah lama bercerai dengan ibunya dan dia pun tinggal hanya berdua dengan ibunya yang sakit itu. Melakukan hal-hal yang seharusnya anak seumur dia enggak lakukan; mencuci pakaian, membersihkan dapur, membuat sarapan sendiri, dan ini belum ditambah dengan bully yang dia terima di sekolah karena untuk anak seumurnya, badannya termasuk kecil. Dia mulai merasa enggak nyaman ketika orang-orang mengetahui tentang kondisi ibunya dan mulai mengasihaninya.

Saya membaca novelnya hasil dari pinjaman ebook di perpustakaan, jadi … yah, saya enggak tahu apa sudah diterjemahkan dan bisa enggak dibeli di sini.

Dia enggak bisa mengatakan apapun. Semua itu dia simpan di dalam hatinya sampai suatu ketika, semua rasa itu; ketakutan, amarah, kesedihan, dan kesepian, berubah menjadi monster yang minta diakui dan diterima keberadaannya. Monster itu datang ke depan kamarnya, mengguncang tembok, dan ingin menceritakan tiga cerita yang harus Connor dengar karena untuk cerita yang keempat, Connor yang harus menceritakannya balik kepada monster itu.

Connor enggak takut ketika ketika semua ketakutannya itu berbentuk seperti monster. Dia mau mendengarkan semua yang diceritakan oleh monster itu—yang setelah saya baca ulang novelnya, saya jadi paham bahwa cerita-cerita itu diceritakan si monster untuk mengajarkan Connor bahwa manusia itu enggak mutlak jahat atau mutlak baik. Bahwa ada banyak sisi dari sebuah cerita. Bahwa ketakutan dan kesedihanmu belum tentu juga akan jadi ketakutan atau kesedihan di orang lain.

Di cerita keempat, monster itu meminta Connor untuk mengakui apa yang sebenarnya membuat dia takut, marah, sedih, dan kesepian. Yang enggak juga bisa terkatakan. Ternyata, itu bukan tentang sakit ibunya, bully, atau neneknya yang enggak bisa akur dengannya. Bukan juga tentang dia yang harus berpisah dari ayahnya atau harus mengerjakan banyak hal sendirian. Yang membuat dia takut hanya satu; dia lelah dengan semuanya dan dia takut untuk mengatakan itu. Dia takut orang-orang tahu bahwa dia ingin semua ini berakhir. Dia tahu kalau ibunya enggak akan sembuh dan dia lelah melihat ibunya kesakitan setiap kali.

Jadi, apa ketakutanmu? Ini pertanyaan yang—ketika membaca novelnya untuk pertama kali—saya tanyakan pada diri saya sendiri.

Jadi, apa sebenarnya ketakutanmu? Ini pertanyaan yang—ketka membaca novelnya untuk kedua kali dan menonton filmnya untuk ketiga kali—masih juga saya tanyakan pada diri saya sendiri.

Mungkin benar premis cerita ini bahwa kamu harus berdamai dengan ketakutanmu untuk kemudian menerima dan menjadi enggak takut lagi. Tapi bagaimana kalau kamu sendiri enggak tahu dengan apa yang kamu takuti? Bagaimana kalau kamu enggak bisa memutuskan apakah itu benar ketakutan atau hanya pikiran yang merisaknya keterlaluan?

Saya selalu takut kehilangan karena itu saya selalu memilih untuk lari sebelum harus kehilangan—apapun. Ini sampai ke hal-hal kecil seperti; saya enggak pernah menjual barang-barang apapun milik saya. Semua ponsel saya yang lama, bangkainya saya masih punya. Rongsokan itu saya simpan karena saya enggak ingin melepas mereka—ini kebiasaan enggak baik, saya tahu. Ini juga yang membuat saya enggak akan membeli yang baru sebelum yang lama rusak. Kalau saya ingin yang baru sementara yang lama belum rusak, saya akan membuat diri saya enggak menyukai yang lama dan tetap menyimpannya.

Begitu pun dengan hal-hal lain. Enggak hanya yang buruk tapi juga yang baik. Kalau ada hal yang terlalu baik, too good to be true, maka saya akan mempertanyakannya; ini beneran enggak? Kalau ada orang yang mau nememani saya sekian lama, saya akan bertanya padanya; mau sampai kapan karena saya ingin siap-siap kehilangan. Ini masuk akal karena memang semua orang akan saling kehilangan satu dan lainnya, apapun alasannya. Kalau ada yang hal yang terlalu saya sukai dan saya inginkan lalu saya dapatkan, saya akan mempertanyakan ulang; itu memang sudah sepantasnya saya dapatkan atau ada yang enggak beres di sini?

Mungkin ini impostor syndrome, sih. Mungkin juga overthinking. Entahlah.

Saya selalu suka menulis—saya suka melebihi apapun. Tapi saya kebanyakan enggak suka dengan cerita yang saya buat walaupun banyak yang membaca dan bilang kalau mereka suka.

Setiap tahun saya selalu berkejaran dengan monster yang wujudnya adalah cerita yang enggak selesai dituliskan. Beberapa tahun belakangan, mosnter itu enggak pernah saya kalahkan. Tahun ini, monster itu luluh-lantak dan bukannya merasa menang dengan semua ketakutan itu, saya malah mulai merasa kuatir; ini mudah sekali dikalahkan, jangan-jangan monster benerannya bukan ini.

Begitulah.

Pikiranmu adalah monster yang perlu kamu kalahkan ternyata.

Tear Up This Town ini jadi salah satu–dari banyak, sayangnya hahahaaa–lagu Keane yang saya suka.

Saya sudah lama berhenti membaca untuk sekadar membaca. Ini juga berlaku untuk kegiatan menonton, sih. Saya ingin memahami diri saya sendiri lewat apa yang saya baca, tonton, atau dengar. Ini juga yang membuat bacaan saya enggak banyak karena sekali saya menemukan yang benar saya suka, saya bisa membacanya berkali-kali. Mungkin di luar sana enggak ada yang memahami ketakutan saya, tapi A Monster Calls bisa. Ini yang membuat dia jadi pilihan pertama film yang saya tonton ketika ketakutan itu enggak juga reda. Padahal film ini, tuh, film untuk anak. Kalau kamu tonton sekilas lalu, yaaa … rasanya memang seperti film anak; sederhana, mudah diikuti. Tapi kalau kamu memahami bahwa novelnya ditulis karena Patrick Ness ingin mengalahkan monster yang enggak sempat dikalahkan temannya, Siobhan Dawd, sebelum temannya itu meninggal, kamu akan paham bahwa bisa jadi monster yang kamu kenal juga dikenali oleh orang lain—dan mereka ingin juga mengalahkannya.

Saya enggak tahu apa novelnya sudah ada terjemahannya. Kalau belum, membaca versi aslinya pun enggak akan sulit karena bahasa Inggrisnya mudah, kok. Filmnya bisa kalian cari, saya rekomendasikan.

Kapan-kapan kita ngobrol tentang film dan buku lain, ya. Saya mau lebih banyak membaca dan menonton cerita di tahun depan.