Behind The Draft: Ampersand

by | Dec 5, 2017 | Non Fiksi, Notetaking | 1 comment

Akhirnya November berlalu, NaNoWriMo selesai, dan—seperti janji yang sudah saya katakan—saya akan menulis behind the draft Ampersand. Ini akan panjang—bisa jadi, ini akan panjang. Saya juga enggak tahu apa yang kamu bisa ambil dari tulisan ini jadi … bear with me, please. Proses kreatif itu memang rumit, berantakan, dan kadang sulit dijelaskan, tapi saya akan berusaha.

Okay….

Dari awal sekali, ya. Ini juga akan jadi curhat sepertinya.

Saya lelah.

Itu yang saya rasakan di Oktober. Lelah pikiran. Saya sudah lamaaa … sekali enggak menulis—dengan benar. Bukan sekadar menulis caption di sosial media karena buat saya, itu bukan menulis—itu caption; penjelasan atas gambar atau foto kalau di Instagram. Saya memisahkan antara menulis dan sekadar berbagi cerita singkat di sosial media agar saya selalu tahu bedanya. Agar garis itu bisa membuat saya selalu sadar bahwa menulis yang saya inginkan itu bukan tentang likes, share, atau yang lainnya.

Saya ingin menguasai tekniknya. Saya ingin jadi baik dan lebih baik setiap kali. Saya enggak ingin afirmasi di sosial media mengelabui saya dari tujuan ini.

Saya lelah.

Saya enggak mau bilang kalau kamu menulis caption itu bukan berkarya. Itu terserah kamu. Kalau kamu anggap itu karya, yaaa … enggak mengapa. Itu hak asasi kamu. Tapi buat saya, itu enggak. Ini yang membuat saya bisa bilang; saya sudah lamaaa … sekali enggak menulis walaupun setiap hari saya mengunggah caption panjang-lebar. Saya ingin mengkonstruksi cerita. Saya ingin bercerita, bukan membagi kegalauan dan catatan harian yang—bisa jadi—ketika membacanya orang malah tertular galaunya. Ini bisa dianalogikan seperti; saya ingin membuat film panjang untuk bioskop—ini cita-cita saya. Ketika ada orang yang membuat video daily life enam puluh detik untuk diunggah ke sosial media, yaaa … itu enggak mengapa. Tapi, saya enggak mau itu. Saya mau film seratus dua puluh menit dengan Digital Panavision.

(Ah, ini kebanyakan penjelasannya dan bisa jadi bahan perdebatan nantinya. Kita sudahi saja sampai di sini.)

Lalu perasaan saya yang terlalu ingin menulis itu ditabrakkan dengan pekerjaan saya di Poddium sebagai podcaster. Harusnya ini enggak jadi masalah. Tapi, kemudian … ada saat-saat di mana hubungan saya dan Gian (namanya saya sebut setelah dapat ijin, hahahaaa) enggak baik. Kami banyak bertengkar sampai di titik di mana saya dan Gian enggak tahu mengapa kami terus-terusan bertengkar. Kami melewati hari-hari mengurus Poddium itu dengan bolak-balik bertengkar, rekaman, edit, rilis, berbaikan, bertengkar lagi, begitu seterusnya.

 

Masalahnya, enggak satu pun dari kami mau melepas Poddium dan pertemanan kami walaupun ungkapan semacam, “Udah kita bubarin Poddium, yuk!” itu saya ucapkan ratusan kali. Bukan hanya karena apa yang kami kerjakan ini menyenangkan, tapi juga pertemanan kami berharga.

Kadang ada hari di mana saya bertengkar dengan Gian dan saya enggak bisa bicara karena terlalu kesal atau enggak ingin mendengar suaranya. Jadi, saya menuliskan surat panjang. Saya juga melakukan ini dengan Sinung, sih, tapi dia selalu ada di depan saya kalau kami bertengkar dan keadaan jadi lebih mudah diselesaikan. Dengan Gian, itu sulit karena janjian bertemu pun susahnya minta ampun karena jarak, waktu, dan sebagainya. Saya serius waktu bilang surat-surat itu panjang karena ada satu yang sampai lebih empat ribu kata. Surat terakhir yang saya tulis untuknya di pertengkaran yang terakhir, lebih dua ribu kata. Surat-surat, percakapan, ingatan atas pembicaraan kami, semuanya saya simpan. Sampai di penghujung Oktober, ketika saya baca ulang surat-surat dan catatan percakapan itu, saya pun berpikir; saya ingin mencuri bagian ini, ini, dan itu karena saya suka.

Saya pun mencurinya.

Waktu itu saya katakan pada Gian—di hari kami cukup rukun untuk membicarakan hal ini—kalau saya ingin mengambil apa-apa yang kami punya. Ini awalnya sulit karena ada aturan enggak tertulis yang ternyata kami sepakati bersama tanpa ada perdebatan; relationship itu, semakin berharga, semakin enggak ingin diperlihatkan. Ini yang membuat saya jaraaang … sekali mengunggah foto saya dan Sinung—sesekali saja kalau sedang ingin. Pertemanan saya dengan Gian dan apapun yang ada di dalamnya, setengahnya milik Gian juga.

Saya menceritakan apapun tentang dia di sini, itu seijin dan sepengetahuannya. Termasuk apa-apa yang terlalu berharga untuk enggak dipamerkan. Kalau ada yang terlihat, itu memang sudah disepakati untuk diperlihatkan sesekali. Begitu kesepakatannya.

Lalu, saya pun mulai mencuri dan memilah mana yang ingin saya curi.

Saya melakukan ini juga karena saya ingin memahami banyak hal tentang kesukaan saya menulis, cita-cita saya untuk menulis ini dan itu, keberadaan Gian, Poddium yang kami buat bersama, lalu pertemanan, pertengkaran, dan banyak hal lain di antaranya.

Prosesnya cepat sekali kalau dibandingkan dengan menulis draft lain. Saya hanya bersiap sepekan, lalu mendiskusikan dengan Ririn—yang juga ikut event Bulan Nulis Novel Storial 2017 di Storial—di dua kali telepon untuk mengaitkan satu hal ke hal lainnya. Ririn banyak membantu saya melihat hal yang enggak saya lihat dan menyadari hal-hal lain yang bisa saya kembangkan. Ketika saya mulai menulis di awal November, saya cuma punya satu lembar outline tanpa plot sinopsis yang isinya hanya bagaimana cerita ini diawali dan diakhiri. Ini di luar kebiasaan saya yang penuh persiapan.

Setiap hari, saya duduk di depan laptop tanpa tahu harus bagaimana dan harus menuliskan apa. Belum lagi ditambah dengan saya dan Gian harus rekaman. Lalu, kami bertengkar. Berbaikan. Editing sound, mixing, rilis episod baru After Heart. Dilanjutkan mengurus Awkwardee Podcast. Sampai rilis. Bertengkar lagi … begitu terus. Bahan pertengkarannya, hmmm … biasanya pekerjaan. Kami hanya sekali pernah bertengkar personal dan itu pun untuk urusan enggak penting yang sekarang jadi inside jokes.

Saya tahu yang saya tulis di sepanjang November itu bukan draft sempurna bahkan celanya bisa saya hitung dan tunjukkan dengan tepat sekarang. Tapi, menuliskan jadi semacam healing; menguraikan banyak hal yang selama ini bersilang-sengkarut di kepala saya. Sampai-sampai, menjelang saya menulis klimaks, makin parah pula hubungan saya dengan Gian—Sinung ikut campur dengan menasehati ini-itu tapi … enggak selesai juga. Tapi, saya juga tahu kalau banyak hal yang kemudian saya pahami, saya jelaskan padanya, dan kami bicarakan. Bolak-balik seperti itu—bahkan sampai tadi malam.

Masalahnya apa, sih?

Tanyakan ke Gian, dia juga bisa jadi enggak paham dengan utuh. Saya juga enggak paham semuanya. Lalu karena dibicarakan, saya jadi bisa melihat lebih jelas. Ternyata ini tentang jam kerja—ini salah satunya, memang—dan tentang ini dan itu yang sayangnya enggak bisa saya utarakan.

Sepertinya saya enggak bisa memahami itu hanya dengan menuliskan surat-surat yang saya kirimkan padanya. Saya pun membuat satu draft lima puluh ribu kata untuk memecah dan menyusun kembali. Berita baiknya; sepertinya itu berhasil.

Tapi, sampai di sini, saya mau mengatakan bahwa saya enggak memakai karakter siapa-siapa di draft itu. Saya enggak mencuri karakter siapapun. Kalau kamu baca, bisa jadi kamu membaca dialog yang memang benar pernah terjadi karena saya mencuri bagian itu. Lalu, saya pun enggak menuliskannya buat siapapun. Ini untuk diri saya sendiri, untuk kewarasan saya sendiri. Saya ingin menyelamatkan apa-apa yang ada dan kami punya, karena itu saya melakukannya.

November adalah bulan dialog buat saya; antara saya, Sinung, Gian, dan teman-teman lain. Saya juga berdialog dengan diri saya sendiri. Dialog-dialog itu membawa banyak pandangan baru yang sebelumnya saya enggak pernah tahu bahwa saya bisa merambah sampai ke sana. Naskah ini jadi tempat saya mengawetkan rasa yang ada di sepanjangnya—hanya rasa, bukan masalah dan apa-apa tentangnya.

Saya sedang rehat sekarang. Every first draft is a sh*t, kata Hemmingway. Begitu juga dengan draft ini—yang enggak sh*t hanya ‘rasa’ yang saya simpan di sana. Teknik, deskripsi, plot dan character’s archetype … ah, jangan tanya, saya tahu di mana dosa-dosa draft ini. Tenang saja. Draft pertama itu tentang keberadaan dan kemungkinan. Dia harus ada dan selesai untuk membuatmu paham kalau itu bisa dilakukan. Lalu, untuk membuatmu melihat tentang kemungkinan perbaikan dan perkembangan.

Mungkin saya enggak akan pernah jadi penulis yang baik—saya pun meragukan kemampuan saya. Mungkin saya juga enggak akan jadi podcaster yang hebat—dan Poddium mungkin akan begitu-begitu saja. Tapi, saya bersyukur bahwa saya menemukan orang-orang yang baik. Yang dengan mereka saya tumbuh, berjalan, bertengkar, berbaikan, tertawa, berdiskusi, menyelesaikan masalah, membuat masalah, lalu—seperti yang sudah-sudah—menjadikan hal yang bukan masalah jadi masalah. Hahahaaa.

Itu semua lebih berharga dari apapun.

Di awal Desember ini, saya pun bertanya pada Gian, siang tadi, “Ngapain kita, Gian?” Hal yang sama saya tanyakan juga pada diri saya sendiri, “Gue mau ngapain abis ini?”

Jawabannya sepertinya akan selalu sama; mengumpulkan bahan untuk berkarya, berkarya, belajar, dan bersenang-senang. Lalu kalau Allah mengijinkan, bertemu dengan orang-orang yang sama antusiasnya dan pertemanan ini jadi semakin besar, hati kita pun jadi semakin lapang.

Seperti kata Steve Jobs: Life is brief, and then you die. And we’ve all chosen to do this with our lives. So it better be damn good. It better be worth it.

Lalu nasehat saya yang lain; jangan berteman dengan penulis, mereka akan mengawetkanmu dalam tulisan-tulisan mereka—bisa jadi, kenangan tentangmu akan hidup selamanya. Hahahaaa.

Apa kabarmu, Manteman? Sedang mengerjakan apa?