Catatan Penutup 2017

by | Dec 28, 2017 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 5 comments

Tahun ini sudah akan berakhir dan rasanya cepet banget, ya, waktu berjalan. Tahu-tahu udah mau akhir tahun aja, gitu. Huft. Ini di luar kebiasaan saya untuk menulis catatan seperti ini, sebenarnya. Tapi tahun 2017 itu kayak roller-coaster buat saya. Kayak—kalau boleh minjem analogi yang dikasih Ambar ke Yusuf di film Tiga Hari untuk Selamanya—rasanya seperti; lo digantung, kaki lo di atas, dioyak-oyak sampai isi perut lo keluar semua, trus lo disuruh ngeliat lagi yang lo muntahin itu apaan.

Rasanya persis kayak gitu buat saya.

Ada banyak hal yang saya pelajari di sepanjang tahun ini. Banyak yang saya syukuri, banyak juga yang bikin saya istigfar berkali-kali. Hahahaaa. Ini tahun yang berat, saya banyak nangis, banyak ketawa, tapi—anehnya—saya merasa lebih stabil padahal saya seumpama berdiri di atas tanah yang berguncang di sepanjang tahun. Mungkin memang benar kalau kondisi terburuk yang kamu jalani itu bisa memperlihatkan seberapa kuat kamu sebenarnya.

Di bawah ini, saya tulis daftar apa-apa aja yang saya dapat di tahun ini. Tapi ini personal, sih, ya. Bisa jadi apa yang saya anggap masalah, buat kamu bukan masalah, vice versa.

Catatan ini juga buat pengingat kalau hari ini, saya masih di sini, dan saya bersyukur atas apapun yang sudah terjadi.

1. Enggak semua kejadian buruk itu akan membuatmu hancur

Ini pelajaran paling penting yang saya dapat di sepanjang tahun ini. Berkali-kali saya diingatkan si Tuan kalau setelah kesulitan itu akan ada kemudahan. Di awal tahun 2017, saya sendiri seperti menentang kalimat itu, “Mana? Mana kemudahannya? Manaaa?” Sampai di pertengahan tahun, enggak banyak yang mudah, ternyata. Tapi setelah itu, saya baru pahami bahwa itu bukan tentang ada atau enggaknya kemudahan—kemudahan selalu ada. Saya yang enggak mau lihat banyak hal sebagai kemudahan. Anak-anak yang sehat, hubungan pernikahan kami yang makin baik dari hari ke hari, mudahnya saya menulis di kondisi sekarang ini, itu juga kemudahan.

2. Cut toxic relationship

Ini pelajaran baru yang saya pahami sepanjang tahun ini; putuskan hubungan yang hanya akan jadi racun buatmu. Entah itu racun di pikiranmu atau racun di hatimu. Caranya banyak, misalnya; saya unfollow banyak akun yang negativity-nya lebih banyak (ini cara agar saya enggak merasa sesak di sosial media). Saya juga menghindari banyak orang yang kerjaannya hanya mengeluh terus-menerus. Mengeluh boleh, tapi kalau semua dikeluhkan … aduh. Hal lain yang saya lakukan; mengubah bagaimana cara saya berteman. Saya membiasakan diri untuk menyiapkan waktu untuk menelepon, menanyakan kabar, sekadar bicara enggak penting, dan menunjukkan kalau saya peduli. Ini lebih baik untuk kesehatan mental saya, ternyata. Walaupun akhirnya memang di sosial media, enggak ada lagi keinginan untuk menunjukkan apa-apa yang ada di dalam hubungan itu karena saya menyadari bahwa hal-hal semacam itu enggak perlu afirmasi dari siapun—kecuali orang yang ada dalam hubungan tersebut. Gitu, lah.

Tentang toxic relationship, saya juga mencoba untuk enggak berusaha punya hubungan lebih dari yang bisa saya handle. Jadi populer itu menyenangkan, memang. Tapi punya fulfilling and meaningful relationship yang membuat kamu nyaman, itu lebih penting.

3. Membaca, menonton, dan mendengar apa yang memang saya perlu dan suka

Ini juga saya lakukan dengan sadar sepanjang tahun ini. Saya enggak membaca buku untuk mengejar target. Ada buku yang saya suka, saya membacanya lebih dari sekali. Ada film yang saya suka, saya menontonnya lebih dari sekali. Beberapa hal memang bukan tentang saya suka atau enggak, saya harus membaca dan menontonnya. Tapi ini saya pastikan enggak membebani. Ini juga lebih sehat dan lebih banyak manfaatnya untuk proses kreatif saya ternyata. Sama seperti hubungan personal, yang fulfilling and meaningful itu lebih baik.

4. Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Ini juga baru saya pahami benar sepanjang tahun ini. Apa-apa yang patah dan hilang mungkin enggak akan datang dengan bentuk yang persis sama. Ini bukan seperti es krimmu jatuh lalu kamu minta dibelikan es krim yang sama lagi. Bisa jadi, penggantinya itu tas baru. Hehe. Tapi … yah, begitulah. Tahun ini juga tahun kehilangan buat saya. Tahun untuk banyak mengikhlaskan, melepaskan. Saya sendiri heran—sekarang ini, ketika saya mengetikkan tulisan ini—setelah saya ingat lagi, ternyata banyak yang saya ikhlaskan dan lepaskan itu selalu ada gantinya. Lebih baik, lebih tepat, dan lebih pas. Alhamdulillah.

5. Saya enggak lagi mengejar kebahagiaan karena bahagia bukan tujuan

Karena kalau itu tujuan, pastilah bahagia itu berpahala dan orang yang paling bahagia akan masuk surga, hahahaaa. Ini pemahaman fenomenal juga buat saya. Selama ini, saya selalu ingin bahagia. Tapi itu malah jadi membuat saya enggak bahagia karena saya terus-menerus ingin bahagia. Saya melakukan berbagai cara agar bahagia dan kadang cara itu berhasil, kadang enggak. Kalau pun berhasil, bahagia itu enggak permanen, ternyata. Saya pun menerima bahwa bahagia itu sama saja seperti perasaan yang lain. Saya harus ikhlas menerima kalau saya bahagia. Saya juga menerima kalau saya sedih, kesal, dan lainnya. Itu semua juga akan berlalu.

Bahagia itu enggak sederhana tapi hal-hal sederhana bisa buat kamu bahagia. Seperti suatu kali saya sedih sekali di hari itu—saya sudah lupa kenapa sedihnya—terus saya minta salah seorang teman untuk menelepon saya. Pembicaraan ngalor-ngidul yang bukan curhat dan kebanyakan bercandanya ternyata bisa membuat perasaan enggak bahagia itu berlalu dan berganti dengan perasaan syukur bahwa saya masih punya teman seperti itu.

6. Sabar

Duh, ini yang masih juga enggak bisa saya lakukan tapi sepanjang tahun ini saya harus banyak latihan sabar. Sabar yang saya maksudkan di sini bukan sabar yang kamu disakiti terus kamu diam aja. Tapi lebih ke sabar yang progresif, misalnya; sabar menyelesaikan banyak hal sampai benar selesai. Sabar untuk bertahan mengerjakan sesuatu sampai benar terpenuhi semua yang saya inginkan. Perlu lebih dari sekadar keras kepala dan semangat untuk menyelesaikan banyak pekerjaan (terutama creative works) dan saya pun menambahkan sabar di dalamnya.

7. Ini hal yang saya pecahkan, hancurkan, lalu saya susun ulang logikanya; saya enggak mengejar passion

Pertanyaan ‘passion kamu apa?’ sudah saya ganti dengan ‘apa yang paling bagus dan baik yang saya bisa lakukan dan dengan hal itu saya bisa memberikan kontribusi?’. Okelah, saya mungkin belum bisa memberikan kontribusi besar—bagaimana dengan kontribusi kecil? Misalnya menyenangkan orang lain?

Saya juga menjadikan menulis bukan lagi passion saya. Seperti kata Walter White di episod terakhir Breaking Bad sebelum dia mati ditembak, dia bilang begini; I love it, I’m good at it, and it makes me feel alive. Saya pun melakukan hal yang sama dengan urusan menulis ini; saya suka, saya bisa melakukannya dengan baik, dan—yang terpenting—itu membuat saya merasa ada gunanya. Kalau saya terus-terusan mempertanyakan apa passion saya, bisa jadi saya malah hanya akan tertekan nantinya.

Ini juga yang kemudian membuat saya membalik cara saya menulis; dari menulis untuk memuaskan diri sendiri menjadi—untuk pertama kalinya—juga menulis untuk orang lain. Dengan begini, saya berusaha untuk lebih bertanggung-jawab dengan apa yang saya lakukan. Saya sadar bahwa apa yang saya lakukan akan berdampak bila saya bagikan di ruang publik—sosial media juga bagian dari ruang publik—karena itu kalau saya enggak bisa memberikan banyak hal baik, setidaknya saya enggak menambah buruk. Itu yang saya lakukan. Hak pribadi saya dibatasi oleh hak pribadi orang lain.

8. Katakan sejujurnya

Ini pelajaran berat buat saya—dan sepertinya saya belum juga bisa melakukannya dengan baik di sepanjang tahun ini. Kalau ada orang yang berarti buatmu, katakan itu padanya. Kalau ada yang menyakitimu, katakan hal itu padanya—bukan untuk jadi bahan bakar kebencian, tapi untuk membuka pintu diskusi bagaimana seharusnya agar enggak ada lagi yang tersakiti. Mengatakan bahwa seseorang itu punya arti buatmu, itu sama saja seperti mengapresiasi buku atau film, kan? Hahahaaa. Saya pun berpikir; kenapa saya enggak melakukannya dengan orang-orang? Bahkan dari yang paling kecil seperti bilang, “Makasih ya, udah ngobrol sama gue. Mood lifting banget.”

Apa lagi, ya? Segitu aja kayaknya. Hahahaaa….

Oh, lalu saya juga mulai melihat manusia sebagai manusia. Ini gimana menjelaskannya, ya. Semacam begini; kalau saya melihat ada orang buat kesalahan, pertama kali, saya akan memahami bahwa membuat kesalahan itu manusiawi. Memaafkan, itu manusiawi.

Yah, begitulah.

Entah apa yang ditawarkan 2018 buat saya. Semoga enggak seberat 2017, itu aja harapan saya.

Kalau kamu menulis tentang apa yang kamu pelajari di tahun 2017 juga seperti saya, share, dan mention atau tag saya, ya. Saya juga ingin belajar dari apa yang kamu pelajari.