My Unpopular Opinions about Social Media

by | Jan 12, 2018 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 3 comments

Saya punya banyak pendapat atau hal yang kadang ingin sekali saya sampaikan di sosial media, tapi, yaaah … biasanya enggak saya lakukan karena satu-dua hal yang jadi alasan. Alasan-alasan ini enggak populer, sayangnya. Enggak banyak dilakukan atau dipahami orang lain karena memang kita punya pemahaman dan sudut pandang yang beda, kan? Ini enggak masalah sama sekali. Saya juga hanya ingin cerita saja beberapa unpopular opinions yang saya punya. Siapa tahu ada yang sama dengan kamu tapi karena pencilan, enggak mainstream, jadinya enggak ada yang menjelaskannya terang-terangan. Iya, enggak?

1. Kamu bukan sosial mediamu, begitu juga dengan orang lain.

Ada banyak yang enggak nampak di sosial media karena memang nyaris semua orang membagikan sesuatu yang sudah dikurasi. Buat saya, ini enggak masalah—dan seharusnya memang demikian. Saya suka melihat feed Instagram yang rapi, berkonsep, dan sebagainya. Saya melihatnya bukan sebagai usaha untuk menampilkan hidup enggak apa adanya, tapi lebih ke bagaimana si empunya akun bisa melihat hidup dari sudut pandang lain.

Semisal kamu melihat dengan mata telanjang setangkai bunga misalnya. Lalu temanmu mengambil fotonya, mengedit, dan membagikannya di Instagram. Buat saya, apa yang dilakukan temanmu itu; memperlihatkan sudut pandangnya terhadap bunga itu. Memang enggak mentah, sudah diedit, dicari angle yang paling baik. Tapi coba lihat lagi, deh; dia mengusahakan itu. Artinya; dia mencari yang paling baik dari hal baik yang dia lihat. Buat saya, itu bukan usaha menyembunyikan dan enggak menampilkan yang apa-adanya. Buat saya, dia punya cara pandang lain, itu yang membuatnya beda dengan yang lain.

Ini juga yang kemudian membuat saya berhati-hati menilai seseorang di sosial media. Banyak yang enggak tampak; kecemasannya, ketakutannya, perasaan kesepian. Banyak yang tampak tapi enggak seperti yang kelihatan. Misalnya, foto bersama teman-temannya yang membuat dia kelihatan sangat populer dan mustahil kesepian. Tapi … bisa jadi dia kesepian. Bisa jadi teman-temannya banyak tapi enggak satu pun yang sangat dekat dengannya. Bisa jadi juga, dia memang punya banyak teman. Enggak memutuskan mana yang lebih benar sebelum saya benar-benar kenal dengan orangnya, itu yang saya lakukan. Just take it with a grain of salt. Sosial media bisa jadi semacam ‘seni pertunjukan visual’ sekarang ini.

Misalnya lagi, foto jalan-jalan yang memperlihatkan kalau dia senang sekali di perjalanan. Saya mau jujur tentang hal ini; saya enggak suka jalan-jalan. Hmmm … suka, sih, tapi banyak syaratnya sampai saya bisa suka. Misalnya, saya enggak suka pergi ramai-ramai karena buat saya, jalan-jalan itu juga tentang siapa yang ada di sampingmu. Saya enggak suka tempat yang terlalu ramai, mol selalu jadi pilihan terakhir. Saya enggak kuat mendengar Dolby Stereo karena itu saya jarang nonton di bioskop—dan sekarang saya mempertimbangkan untuk punya earplugs yang dari silikon untuk dipakai nonton, huft. Ironi untuk penggemar film, memang.

Saya suka museum, melihat lukisan, barang-barang peninggalan masa silam, atau apalaaah … yang menarik untuk dilihat. Saya suka toko buku tapi terakhir saya ke Gramedia, saya sungguh merasa terintimidasi dan perpustakaan digital jadi pilihan saya sekarang. Saya suka pantai, gunung, dan tempat-tempat seperti itu tapi saya enggak ingin pergi dengan orang yang sampai ke sana hanya untuk memberi centang di daftar tampat yang ingin dia kunjungi. Saya ingin berlama-lama, berjalan, mengambil foto, dan melakukan hal lain di sana dengan enggak terburu-buru. Ini yang membuat jalan-jalan dengan saya sungguh jadi pengalaman yang menyebalkan. Foto saya di sosial media, enggak akan bisa menceritakan itu semua. Hahahaaa.

Jadi, apa yang kamu lihat di sosial media saya, itu bukan saya. Begitulah. Saya pun memandang sama ke sosial media orang lain.

2. Saya enggak paham konsep nyinyir; putuskan atau selesaikan.

Ini yang sulit saya pahami. Saya enggak paham kenapa harus nyinyir, subtweet, pasif-agresif, dan sebagainya. Kalau kamu punya masalah dengan orang lain, yaaa … selesaikan atau tinggalkan. Kalau kamu enggak suka dengan seseorang hanya karena apa yang kamu lihat di sosial media, yaaa … unfollow, mute, atau sekalian block. Selesai. Buat apa memelihara kebencian, kan?

Kamu juga enggak bisa mengubah seseorang dengan satu-dua twit, status, caption Instagram, dan sebagainya. Mengubah seseorang itu perlu orangnya sendiri yang mau berubah. Kalau dia bukan siapa-siapa kamu, dia enggak kenal kamu secara langsung, gimana cara merubahnya. Ini saya kecualikan untuk kasus yang besar seperti yang terjadi kemarin; seorang dokter membuat rangkaian twit tentang pengalaman di RSJ yang setelah saya baca, rasanya enggak pantas karena membuat pasien dengan gangguan kejiwaan jadi bahan lucu-lucuan. Enggak ada yang lucu dengan itu. Beberapa akun Twitter yang saya tahu menegur bukan untuk menyerang secara pribadi si dokter tadi, tapi untuk memberitahukan kalau apa yang dia lakukan itu enggak sopan. Akun yang nyintir dan subtweet sampai hari ini tentang masalah itu, saya unfollow. Capek lihatnya. Dokternya sudah minta maaf, dia paham salahnya di mana, dan berjanji untuk lebih berhati-hati. Buat saya itu cukup karena yang dia lakukan bukan tindak kriminal walaupun ada beberapa orang yang mengingatkan kalau hal itu bertentangan dengan etika kedokteran. Untuk hal ini, saya enggak bisa komentar lebih jauh karena saya juga enggak paham.

3. Saya paham dengan konsep eksis di sosial media agar terkenal atau dengan niat menginspirasi tapi enggak saya lakukan.

Saya menulis dengan niat untuk menantang pemikiran saya sendiri—biasanya begitu. Seperti sekarang saya menulis post ini, tujuan saya; untuk memahami kembali apa yang saya lakukan ini benar? Kalau misalnya enggak, saya akan tahu karena menulis itu lebih lambat prosesnya dibanding berpikir—saya perlu mengetik. Kalau ada hal-hal yang ternyata enggak sesuai dengan apa yang saya pahami, enggak baik, dan yang sejenisnya, saya akan tahu. Tulisan saya sekarang ini, bisa jadi akan saya tentang sendiri nanti. Pemahaman juga perlu direvisi dari waktu ke waktu. Saya enggak sehebat itu sampai bisa menginspirasi. Pemikiran saya juga enggak sebaik itu sampai bisa dicontoh. Kalau kamu membaca tulisan saya, jangan setuju-setuju aja. Pikirkan lagi.

Ini juga yang membuat saya beristigfar dan mengembalikan lagi pujian kepada Allah kalau ada yang menyampaikan pujian itu ke saya. Ngeri soalnya. Takut besar kepala padahal … apalah saya ini. Apalagi sampai bisa menulis kalimat semacam; semoga menginspirasi. Enggak sanggup rasanya. Tapi saya tetap juga menulis. Pikiran saya selalu saja penuh dan mesti disimpan di tempat lain untuk sementara sampai saya bisa mengunjunginya kembali untuk saya debatkan dengan diri sendiri. Saya menulis karena ingin membagikan apa yang merisak dengan pembaca saya—blog ini punya pembaca tetap ternyata, makasih yaaa…. Saya ingin bercerita dengan cara yang sama seperti yang kita lakukan kalau kita ada waktu bertemu dan menghabiskan waktu untuk mengobrol. Itu saja.

Ini juga yang membuat saya enggak peduli jumlah followers, likes, dan statistik semacam itu. Saya ingin terhubung. Ingin kenal dengan kamu. Ingin tahu siapa kamu walaupun awalnya dari sosial media yang dikurasi. Saya paham dengan tujuan untuk menjadi terkenal karena itu memang mata uang di sosial media. Banyak yang bisa kamu lakukan kalau kamu terkenal dengan segala resiko dan tanggung-jawabnya. Tapi saya sendiri enggak ingin terkenal. Saya ingin kamu kenal. Iya, kamu kenal saja. Saya ingin kita bicara. Di sosial media saya ingin terhubung. Sesederhana itu.

Tapi … semua yang saya tulis di atas itu jadi runtuh dan enggak relevan ketika yang dibicarakan adalah sosial media yang bukan personal. Sosial media Poddium, misalnya. Beda cara mengurusnya walaupun di beberapa hal, saya tetap mau prinsip yang saya pegang dibawa ke sana.

Sayangnya, semua yang saya tulis di atas adalah salah kalau kamu belajar SEO. Hiks. Buat saya, SEO itu enggak salah. Kalau kamu sedang belajar SEO dan ingin mengaplikasikannya di blog atau sosial media kamu, jangan dengarkan apa kata saya.

credit to all pictures: unsplash