Strange Encounter (by Thirteen Senses)

by | Feb 11, 2018 | Lagu & Cerita, Non Fiksi | 2 comments

Siang itu saya sedang chat dengan seorang teman ketika tiba-tiba Spotify memutarkan lagu ini. Kalau kamu biasa membuat playlist di Spotify, kamu pasti tahu kalau untuk playlist dengan lagu kurang dari sepuluh, Spotify akan memutarkan lagu yang direkomendasikan—oleh algoritma mereka. Kebiasaan kamu mendengarkan lagu apa,  genrenya apa, kapan, seberapa banyak, dan sebagainya dijadikan acuan untuk melihat kamu itu kayak apa. Buat saya, sayangnya, kadang berhasil. Saya banyak menemukan lagu baru yang akhirnya saya suka dari rekomendasi itu.

Are we all friends? Are we sent to defend you or keep you in? We’re not so hard, we’re the first to forget what it takes to fight We’re on your side, we’re be there from the start Till you get it right

Our paths have crossed, in the order of things we’re just so lost And closer still, it we think with our heads we can feel so high And loosing ground, so the distance between is can keep us alive

Tapi siang itu, saya sedang bicara tentang pertemuan yang aneh, pertemanan yang terbentuk dari sesuatu yang seharusnya perlu dipikirkan lagi; mengapa bisa. Percakapan itu berjalan lumayan lama sampai akhirnya saya berhenti dan mendengarkan lagu ini baik-baik. Kami sedang bicara tentang ‘strange encounter’ dan lagu ini judulnya Strange Encounter. Bisa jadi ini bukan kebetulan, sih, karena saya suka dengan Thirteen Senses tapi sudah lama sekali enggak mendengarkan lagu-lagu mereka. Pertama kali saya tahu mereka itu sewaktu lagu Into the Fire jadi salah satu soundtrack di Grey’s Anatomy. Kalau kamu masih ingat, itu waktu scene Meredith ketemu sama istrinya Dr. McDreamy. Ugh!

Tapi lagu ini, saya baru dengar … dan langsung suka. Saya ini emang gampangan. Hahahaaa.

Saya suka liriknya. Apa-apa yang ada hubungannya dengan kalimat dan kata yang tersusun baik dengan penyampaian makna yang bagus, saya biasanya langsung tertarik. Lagi-lagi saya mau bilang; saya ini gampangan.

Saya sedang mengedit dan menulis ulang Ampersand sekarang. Lagu ini jadi salah satu pengiring ketika saya mengerjakannya. Alasannya sesederhana; liriknya pas dengan apa yang ingin saya tulis dan musiknya menyenangkan untuk dijadikan teman menulis. Tentang pertemuan yang aneh. Tentang bagaimana jalan hidup orang bisa bertemu di titik yang enggak masuk logika tapi tepat waktu, tempat, dan keadaannya. Tentang bagaimana pertemuan itu mempengaruhi banyak hal yang lain dan membuat mereka menjadi berbeda setelah itu.

Are we only a few lonely hearts filling time in an empty jar? Are we ever part, the delusion which’s greater than we first thought We’re so surreal

Saya juga suka bagaimana satu karya mempengaruhi karya yang lain. Bagaimana kreator saling meminjam emosi dan perasaan satu dan lainnya. Misalnya saya yang meminjam banyak dari lagu ini. Bukan hanya rasa yang muncul setelah saya memahami liriknya, tapi juga musiknya, ketukannya, mood and feel yang mereka bawa. Lagu Sovereign Light Cafe-nya Keane juga jadi inspirasi cerita pendek yang ditulis oleh William Boyd. Puisinya W. B. Yeats, An Irish Airman Foresees His Death juga jadi inspirasi Keane untuk menulis lagu Bad Dream. Kita ini saling meminjam, sebenarnya.

Hari Minggu ini tenang sekali di rumah. Saya ingin menulis. Ah, saya juga ingin mengutip Time Rice-Oxley karena dia penulis lagu yang banyak membaca dan karena itu saya suka. Lirik yang dia tulis selalu saja puitis dan dalam karenanya.

“If you make music and can’t touch other people heart, so … what’s the point?”