Cinta Rahwana

by | Mar 17, 2018 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 2 comments

“Tuhan, jika cintaku kepada Sinta terlarang, kenapa Kau bangun begitu megah rasa itu di hatiku?”

Saya sedang berusaha menulis pagi tadi—benar-benar berusaha menulis. Lama sekali saya enggak menulis panjang seperti yang dulu biasa saya lakukan. Terakhir mungkin di November tahun lalu dan di akhir bulan itu, di tanggal tiga puluh, ketika NaNoWriMo akan berakhir beberapa jam lagi dan saya masih kurang beberapa ribu kata lagi, saya enggak bisa menulis sambil duduk. Saya berdiri, mengetik tanpa menimbang lagi apa yang harus ditulis. Cerita mengalir, emosi menguap memenuhi ruang, dan saya—saya ingat ketika itu rasanya—seperti tidak ada di sini. Keadaan seperti ini biasa disebut trance; ketika kamu masuk ke cerita dan enggak mengingat apapun di luar itu. Saya lebih suka menyebutnya dengan ‘giting’. Sinung mungkin akan lebih suka menyebutnya dengan; she’s going crazy again—sambil beristigfar keluar dari kamar.

Tapi saya enggak juga berhasil menulis pagi tadi.

Saya malah membaca ini-itu. Apalagi ini hari Minggu, hari di mana saya dikirimi banyak surel langganan yang berisi kurasi dari tulisan-tulisan esai panjang dan feature dengan tema yang saya suka. Saya bisa menghabiskan sepagian untuk membaca semuanya sambil makan, tiduran di ranjang, atau mengerjakan yang lain (menyetrika, misalnya, karena beberapa dari tulisan itu tersedia dalam versi audio atau podcast-nya). Saya sudah lama berhenti browsing ke sana-sini untuk membaca berita atau artikel yang saya suka. Berusaha menemukan cara agar saya enggak ketinggalan berita, banyak membaca topik yang saya suka, tapi tetap fokus, dan enggak banyak membuang waktu. Cara ini nanti saya ceritakan di post lain saja. Nanti, ya.

Lalu saya teringat dengan cerita tentang Rahwana yang saya baca beberapa hari lalu. Saya enggak terlalu suka cerita pewayangan lebih karena saya belum menemukan bahan bacaan yang bagus aja, sih. Jadi, ketika saya membaca sudut pandang lain dari cerita Rahwana dan cintanya kepada Shinta, itu membuat saya berpikir panjang—sampai beberapa hari. Mendiskusikannya berpanjang-panjang dan memikirkannya berulang-ulang. Cerita itu mulai masuk akal sekarang. Mungkin karena saya juga sudah lama meninggalkan masa di mana saya melihat cinta sebegitu memesona dengan segala pemahaman romantis seperti di film-film.

Seperti kata Chairil Anwar di Derai-derai Cemara:

Aku sekarang orangnya bisa tahan

Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi

Tapi dulu memang ada suatu bahan

Yang bukan dasar perhitungan kini

Cinta seperti itu bukan lagi jadi dasar perhitungan kini. Saya mencoba memahami bentuk yang lain—yang enggak lagi kanak-kanak. Saya pun bertemu dengan cerita cinta Rahwana.

* * *

Rahwana jatuh cinta pada Shinta yang waktu itu sudah menikah dengan Rama. Shinta adalah titisan Dewi Setyawati yang dicintai Rahwana dan masih rapi tersimpan rasa itu di dadanya setelah kematiannya lama berselang. Shinta tidak jatuh cinta pada Rama. Dia menikah dengan Rama yang memenangkan sayembara.

Suatu ketika, Shinta diculik oleh Rahwana yang ingin memilikinya. Sampai di sini, saya paham, cinta memang seperti itu; dia menuntut kedekatan (attachment) walaupun alasannya bisa jadi bukan karena kamu ingin memiliki orang yang kamu cintai itu, tapi kadang hanya karena sesederhana; di dekatnya kamu senang. Itu saja.

Rama tidak langsung menyelamatkan Shinta. Perlu waktu sampai tiga tahun lamanya untuk Shinta menunggu Rama datang menyelamatkannya. Sepanjang masa itu, dia memang menjadi tawanan Rahwana, tapi Rahwana memperlakukannya dengan sangat baik. Dia bahkan memanjakan Shinta. Setiap hari, Rahwana minta maaf karena dia sudah menculik Shinta sambil mengatakan kalau dia begitu mencintai Shinta. Dia ingin Shinta menjadi permaisurinya. Tapi Rahwana tahu, kalau Shinta adalah istri yang setia. Shinta tidak akan mengkhianati suaminya.

Rahwana bisa saja memaksa Shinta. Dia bisa saja memperkosa Shinta kalau dia mau. Apa susahnya? Sementara perempuan itu juga sudah mulai resah karena Rama tidak juga menjemputnya. Membuatnya ragu akan keinginan Rama untuk menyelamatkannya. Di sisi lain, Rahwana tahu, bukan begitu caranya untuk memenangkan Shinta. Dia mencintai Shinta, dia ingin perempuan itu lebih dari sekadar badannya; dia ingin Shinta mencintainya balik.

Shinta sebenarnya sudah mulai jatuh cinta pada Rahwana. Benar kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah bahwa ketika kamu jatuh cinta, sebenarnya kamu hanya jatuh cinta pada dirimu sendiri yang kemudian terpantul menjadi cinta kepada orang lain. Kamu jatuh cinta pada dirimu yang sedang jatuh cinta; kamu suka betapa romantis, lemah-lembut, dan bahagianya dirimu ketika itu. Semua itu kamu berikan kepada obyek cintamu itu. Rahwana pun demikian. Kehadiran Shinta di Alengka membuatnya menjadi Rahwana yang lebih baik, yang memerintah kerajaannya juga dengan lebih baik. Kerajaan Alengka menjadi lebih baik dibanding sebelumnya. Ada sesal di hati Rahwana karena dia tidak mengikuti sayembara yang menjadikan Shinta hadiahnya. Dia bisa dengan mudah mengalahkan Rama karena kemampuan dan kekuatannya memang di atas Rama.

Ketika Rama datang dengan pasukannya dan juga Hanoman, Shinta menepuk punggung Rahwana dan berkata bahwa dia juga mencintai Rahwana tapi Rahwana harus menghadapi Rama—suaminya. Satu kata itu, cukup untuk Rahwana bangkit dan melawan Rama.

“Baiklah Sinta kalau itu pintamu,” kata Rahwana, “aku akan minta maaf pada suamimu tapi dengan caraku, cara ksatria, yaitu berperang!”

Di pertempuran itu, Alengka hancur-lebur tapi Rahwana masih juga berusaha membujuk Shinta untuk menjadi permaisurinya. Shinta masih menolak. Buat Rahwana, perempuan ini lebih penting dari apapun—kerajaan Alengka sekalipun. Rahwana kalah. Shinta kembali ke Rama.

Rama meragukan kesucian Shinta yang selama tiga tahun ditawan oleh Rahwana. Dia bahkan meragukan bayi di dalam kandungan Shinta dan itu membuat Shinta membakar dirinya dengan melakukan ritual Pati Obong untuk membuktikan kesuciannya. Tapi Rama masih juga meragukannya. Rama lalu meminta Lesmana untuk membunuh Shinta. Lesmana yang tidak tega membawa Shinta ke hutan dan meninggalkannya di sana. Di perjalanan pulang, dia menombak rusa dan memberikan tombak yang berlumuran darah itu sebagai bukti kalau dia sudah membunuh Shinta pada Rama.

Shinta pun sedih. Semua kesetiaan yang dia berikan pada Rama malah membuat Rama ingin membunuhnya karena suaminya itu tidak kunjung juga percaya. Dia melahirkan anak kembarnya di hutan dan dia meninggal. Arwah Rahwana melihat kejadian itu dan keluar dari Dhurma (alam setelah mati). Dia membawa anak kembar (Lava dan Khusa) Shinta ke seorang valmiki (seorang yang sakti atau resi). Di perjalanannya itu, dia bertanya pada dunia, mana yang lebih bajingan; dia atau Rama. Rama sendiri menikahi adik Rahwana setelah kematian Shinta.

Rahwana patut berbesar hati, dia bisa meluluhkan hati Shinta. Bisa membuat Shinta balik mencintainya setelah menunjukkan sisi lembut yang selama ini tidak satu pun ada yang tahu kalau Rahwana memiliki itu. Dia memenangkan hati Shinta bukan dengan sayembara, tapi dengan cinta itu sendiri.

* * *

Kalau saya masih muda, mungkin saya ingin seseorang seperti Rama yang rupawan, yang mendapatkan saya dengan cara luar biasa; dengan memenangkan sayembara. Tapi, waktu membuat pikiran dan harapan ini pupus karena ternyata bukan itu yang membuat hubunganmu dengan seseorang menjadi baik. Bukan tentang serupawan apa dia, bukan tentang bagaimana dia mengejarmu untuk memperlihatkan betapa dia menginginkanmu. Kalau ketajubanmu pada seseorang yang kamu sukai itu tentang rasa, maka cinta dan sayang itu adalah tentang usaha memperlihatkannya setiap waktu, setiap kali.

Mungkin saya—atau kamu juga?—terlalu banyak membaca tentang kisah cinta yang kalau dipikir lagi di usia saya sekarang; sungguh enggak masuk akal atau paling minimal … sungguh enggak sehat. Tentang dua orang jatuh cinta dan berusaha mempertahankan cinta mereka sampai titik darah penghabisan. Tentang ketidakwarasan, kupu-kupu di dalam perut, rindu-dendam, mungkin juga tentang jutaan mimpi untuk menghabiskan hidup bersama. Yang enggak ada di dalam cerita itu adalah tentang bagaimana rasa itu dijaga, bagaimana relationship itu bukan tentang gambaran besar romantisme tapi juga perkara siapa mencuci hari ini dan siapa yang membersihkan lantai—juga tagihan-tagihan yang mesti dibayar setiap bulannya.

Sekarang saya memandang cinta itu lebih sederhana, lebih membumi. Mungkin karena saya sudah enggak lagi menginginkan Rama—saya ingin Rahwana dengan segala kesabaran dan besar cinta yang dia punya sampai akhir.

Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini