/1/

Agaknya kamu yang datang ke sana pertama kali, lebih dulu, dan lebih pagi—tapi aku yang terpana sejak kali pertama. Agaknya kamu yang berani menangkat kepalamu lebih dulu untuk menatap sampul buku yang aku pegang, warna baju yang aku kenakan, atau barangkali juga mengira-ngira; mengapa ada yang sama sepertimu di sini, duduk, diam, dan membaca. Aku pun memikirkan hal yang sama.

Tapi aku yang berdiri pertama kali, bergeming, berpikir, dan urung melangkah, karena aku tahu, apapun yang aku lakukan sewaktu itu, tak akan pernah jadi apa-apa.

Kita dua asing yang sempurna.

Kita seharusnya tak saling tahu walaupun ketika itu, kita pun sudah jatuh cinta. Sedikit saja.

/2/

Agaknya kamu naik satu stasiun sebelum ini karena ketika aku berdiri di depanmu, kamu masih sibuk mengeluarkan ponsel dari dalam tasmu. Kereta sesak di pengujung sore yang sinarnya jatuh miring menembus kaca jendela. Mungkin kamu lebih paham tentang kesendirian karena apapun yang ada di dalam gerbong ini, bisa jadi, adalah penjelasannya; banyaknya orang yang ada dan betapa sedikitnya pembicaraan.

Tapi kamu yang bertanya pertama kali, tentang lagu yang aku dengarkan sejak tadi. Kamu menunjuk penampang ponselku, mengatakan kalau kamu menyukainya juga. Lagu lama, tak banyak yang tahu. Lalu aku katakan padamu kalau di sore seperti ini, ketika langit semerah itu, kereta sepenuh ini, dan kamu—bisa jadi—merasa terlampau sendirian sepertiku, lagu ini mengalunkan rindu ke dalam sesak dadamu.

Aku pun memikirkan matamu sepanjang perjalanan itu. Mana yang lebih hangat; tatapannya atau matahari di ujung jendela yang berkejaran dengan laju kereta.

Kita dua asing yang sempurna.

Kita seharusnya tak saling tahu walaupun ketika itu, kita pun sudah jatuh cinta. Sedikit saja.

Credit to all images: unsplash.