Cabe, Dongeng Globalisasi, dan Perdagangan Bebas

by | Apr 6, 2018 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 0 comments

Cabe buat saya itu harga mati: enggak bisa makan kalau enggak ada cabe. Nasi masih bisa ditawar karena masih ada subsitusinya seperti roti atau makan lauk tanpa nasi. Tapi—tapi ini pendapat pribadi orang yang suka pedas, ya—kalau makan enggak pakai cabe, rasanya kayak makan kertas; enggak ada rasanya. Mungkin karena saya orang Padang. Mungkin juga karena saya memang sudah kecanduan cabe karena dari kecil sudah dicekokin pakai makanan pedas.

Orang makan cabe dan merasa kepedesan itu mirip dengan orang yang lagi naik roller-coaster. Mereka sama-sama melepaskan endorphin yang merupakan senyawa sejenis morphin. Perasaan senang dan exited inilah yang membuat ada yang namanya ‘kapok lombok’. Habis kepedesan, sebentar juga udah lupa terus makan cabe lagi.

Sebelum Colombus mendarat di Amerika tahun 1492, saya tidak bisa membayangkan apa rasanya masakan Padang. Pastilah sangat hambar dan tidak punya rasa pedas yang khas seperti sekarang. Ketika itu, di wilayah Nusantara hanya dikenal merica (yang asli India) sebagai perasa pedas. Padahal, pedasnya merica itu adalah pedas yang bikin diare.

Ketika Colombus sampai di Amerika, terjadi perdagangan antara dia dengan penduduk asli Amerika. Salah satu hasil dari pertukaran itu adalah cabe. Dalam jurnal Columbus tanggal 15 Januari 1493, dia menulis adanya ‘merica hebat’ yang dia peroleh saat bertukar hadiah dengan orang-orang Hispniola. ‘Merica hebat’ ini punya rasa yang lebih pedas dan segar dibandingkan merica. Selain digunakan sebagai bumbu masak, waktu itu cabe juga digunakan untuk obat-obatan.

Cabe sendiri sudah dikenal oleh penduduk asli Amerika sejak tahun 7.500 SM. Bukti arkeologisnya ditemukan di dekat Ekuador. Bukti ini menunjukkan setidaknya cabe sudah mulai dikembangbiakan oleh penduduk di Amerika Tengah dan Amerika Selatan di saat itu.

Ketika cabe dibawa kembali ke Eropa, orang-orang Spanyol dan Portugis mulai menanamnya di kebun dan di depan halaman asrama gereja. Mereka melakukan eksperimen dengan memasukkan cabe ke dalam masakan. Mereka menemukan bahwa cabe bisa menggantikan penggunaan merica (baik yang hitam maupun yang putih) dalam masakan. Harganya pun jauh lebih. Saking mahalnya merica saat itu, merica bahkan dijadikan sebagai alat tukar yang sah.

Namun, kebanyakan dari spesies cabe yang dibawa dari Amerika tidak cocok dengan iklim Eropa. Orang-orang Spanyol dan Portugis juga tidak begitu menyukai rasanya. Di Eropa yang kebanyakan dipakai adalah paprika. Di Italia, paprika menjadi bahan penting untuk topping pizza.

Orang Spanyol menyebut cabe pimiento (bentuk maskulin dari pimienta yang artinya merica) untuk menunjukkan rasanya yang lebih tajam dan keras. Kalau cabenya besar disebut pimienton. Orang Pegunungan Andes menyebut cabe: uchu dan huayca. Orang Brazil menyebutnya quixa. Orang Italia menyebut cabe dengan nama peperone. Orang Perancis menyebutnya piment. Sementara Bangsa Slav menyebutnya paprika. Orang Polandia menyebut cabe pierprzyca.

Lhaaa … terus dari mana asal-muasal kata chili yang berarti cabe dalam Bahasa Inggris? Orang Indian Mexico yang menyebut cabe dengan nama chili yang artinya merah. Nama ini juga yang dibawa orang Inggris dan Belanda ke seluruh dunia.

Orang Spanyol dan Portugis-lah yang memperkenalkan cabe ke India dan Asia Tenggara. Orang India dan Asia Tenggara yang memang menyukai masakan pedas, menyambut cabe dengan gembira. Mereka dengan cepat mengembangbiakkannya dan memasukkannya ke dalam bumbu masakan sebagai pengganti merica. Cabe bisa dikatakan sebagai produk perdagangan global yang berhasil—selain sebagai akulturisasi budaya. Tanpa cabe, budaya kuliner Indonesia tidak mungkin bisa sampai seperti sekarang. Indonesia mengenal ratusan jenis sambal. Dari yang memakai cabe rawit merah, rawit hijau, rawit putih, cabe keriting merah, cabe keriting hijau, dan cabe besar.

Ada sambel terasi, sambel bajak, sambel lado, sambel lado ijo, sambel tuk-tuk, sambel taliwang, sambel goreng, sambel mentah, sambel rebus, sambel nanas, sambel tempoyak. Mention it! Cabe menjadi pengikat sekaligus pembentuk budaya kita. Padahal, cabe sendiri bukan asli tanaman Indonesia seperti halnya kopi. Kopi adalah tanaman asli dari Amerika Selatan. Tapi, dibandingkan dengan di Amerika Selatan, di Sumatera Barat, kampung saya, saya kira lebih banyak kedai kopinya.

Orang Amerika juga enggak mengenal ayam sebelum orang Eropa datang ke Amerika. Jadi, ayam juga adalah produk globalisasi. Apalagi ayam goreng bumbu cabe, itu sudah jadi makanan yang menunjukkan percampuran kebudayaan dan contoh besar globalisasi yang berhasil! Dunia kuliner memang selalu menjadi contoh yang bagus untuk globalisasi. Banyak jenis masakan yang merupakan hasil globalisasi karena; mulut bisa bohong, tapi lidah enggak bisa bohong!

Setelah dibawa ke India, orang India berhasil mengembangbiakkan cabe dan menciptakan tujuh varian spesiesnya hanya dalam waktu lima puluh tahun. Ini bisa membuktikan betapa orang India sangat menghargai cabe. Bandingkan dengan orang asli Amerika yang mengenal cabe selama 5.000 tahun dan hanya mengenal empat varian spesies. Sekarang warian spesies cabe sudah ribuan. Namun, dalam garis besarnya, cabe dibagi jadi tiga: bell peppers (keluarga paprika), sweet peppers, dan hot peppers (keluarga cabe keriting). Sekarang, India masih dikenal sebagai negara dengan produksi cabe terbesar di dunia sekitar satu juta ton tiap tahun

Sayangnya, ada hewan yang enggak mengenal betapa asyiknya cabe karena mereka tidak punya indra perasa untuk merasakan zat capsaicin pada cabe, yaitu burung, kodok, dan bekicot. Capsaicin adalah zat yang membuat cabe terasa pedas. Zat ini terbuat dari senyawa minyak. Jadi, kalau makan cabe dan kepedesan, jangan minum air. Pedasnya tidak akan hilang karena capsaicin tidak akan larut dalam air. Coba hilangkan dengan minum susu. Cabe juga larut dalam alkohol. Tapi, sangat tidak disarankan menghilangkan pedas dengan minuman beralkohol: Pertama, karena itu haram—dan kamu bisa mabuk sambil kepedesan; kedua, karena itu hanya akan jadi perpaduan yang baik kalau kamu mau bunuh orang.

Burung membantu penyebaran cabe dengan memakan cabe (karena mereka gak kepedesan) dan menyebarkan kembali biji cabe melalui kotorannya. Burung juga suka membawa cabe ke sarangnya untuk melindungi sarangnya dari gangguan hewan lain. Petani di India menggunakan cabe untuk melindungi kebun mereka dari gajah. Mereka mengikatkan cabe ke sekeliling pagar kebun.

Intensitas kepedasan cabe dihitung dengan Scoville Heat Units (SHU). Cabe terpedas di dunia adalah Bhut Jolokia dengan 855.000–1.041.427 SHU. Dengan ukuran ini berarti 1 gram cabe Bhut Jolokia dicampur dengan 1000 liter air gula, masih akan terasa pedasnya. Cabe keriting standar yang biasa ditemukan di pasar, SHU-nya hanya sekitar 100.000.

Tapi yaaah … enggak ada yang mengalahkan pedasnya caci-maki netizen budiman yang maha benar dengan segala kenyinyirannya. Hahahaaa….

Cabe juga digunakan untuk membubarkan demonstran di Malaysia. Kalau di sinetron Indonesia, cabe digunakan untuk nyabein pembantu (saya lihat di salah satu sinetron lokal yang aneh) atau nyabein pelakor (silakan dicari di salah satu video Lambe Turah). Pepper spray yang digunakan untuk mengatasi kerusuhan SHU-nya sekitar 4.5 juta.

Cabe sendiri banyak mengandung vitamin C. Entah kenapa ini membuat menu restoran Padang jadi masuk akal. Buat apa menghidangkan sayur kalau sambel aja udah bisa memenuhi kebutuhan vitamin C kamu. Tapi, vitamin C cabe bisa rusak bila terkena oksigen. Sehingga, cabe yang masih muda lebih banyak vitamin C-nya dibandingkan dengan cabe yang sudah tua, apalagi cabe busuk. Cabe kering bisa dipastikan vitamin C-nya sudah rusak.

Tulisan ini saya tutup dengan pesan moral yang indah aja, deh, hahahaaa~ Jadilah seperti cabe; kalau kamu enggak berhasil di suatu tempat, bukan berarti kamu akan gagal di tempat lain. Bisa jadi kamu bakalan jadi sesuatu yang diharapkan dan dicintai di tempat yang lain itu.

Lalu … mengglobal~!

Saya mau pakai istilah di Forgos; ‘gogon’ (go international) tapi takut sayaaa. Terakhir saya pakai istilah itu untuk menceritakan artis yang itu di blog, blog saya panen hujatan dan caci-maki dengan tingkat SHU 5 juta. Hahahaaa~

Jadilah cabe. Jadilah pedas tapi ngangenin. #eaaa

BTW, ini tulisan lama didaur-ulang karena saya pecinta go-green.