Hiburan yang Membebani

by | Apr 19, 2018 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 1 comment

Ini cuma cerita-cerita aja, sih. Bukan buat apa-apa. Jadi, yaaah … jangan terlalu anggap serius tulisan ini. Oke?

Jadi, beberapa waktu belakangan, saya mengalami—entah apa namanya—semacam kemalasan untuk menghibur diri. Saya punya draf yang sedang ditulis ulang, lalu ada draf baru di Proyek Botolan Aksarayana (ini termasuk draf yang ditulis santai saja, sebenarnya), lalu ada dua podcast yang—ketika tulisan ini sedang saya selesaikan—sudah berjalan, dan terakhir ada Aksarayana dengan segala keriuhannya.

Punya hal-hal yang mau diurus seperti itu, dalam kondisi normal, biasanya saya akan mencari hiburan di tengah waktu senggang. Apa saja; buku, serial, film, bahkan hanya sekadar bacaan ringan dari sini dan sana. Tapi anehnya, beberapa waktu belakangan, saya malah lebih suka tidur atau mengobrol kalau ada waktu seperti itu. Buku, terutama buku … jadi sesuatu yang saya hindari. Entah apa yang terjadi pada saya, tapi kalau saya melihat buku, maka yang saya rasakan cuma satu; tertekan. Ini hanya berlaku untuk buku cetak, sayangnya. Saya enggak merasakan hal yang sama kalau melihat ebook.

Ini draf yang saya tulis untuk Proyek Botolan Aksarayana. Kalau kamu mau baca, silakan diklik itu sampulnya. #ShamelessPromotion

Saya sempat punya teori kalau ini ada hubungannya dengan kebiasaan saya membeli buku lalu enggak dibaca sampai menumpuk. Lalu karena saya sudah beli, rasanya … yah, agak bersalah juga. Ebook saya kebanyakan pinjaman dari perpustakaan jadi enggak ada rasa bersalah kalau saya enggak sampai menyelesaikannya ketika masa pinjam sudah habis. Toh, nanti bisa pinjam lagi. Paling yang ada cuma rasa sebel kalau ternyata ebook-nya laris dan harus antri. Saya mulai berhitung—kadang—banyaknya uang yang harus saya keluarkan untuk membeli buku-buku itu lalu saya bandingkan dengan pos pengeluaran yang lain. Dengan kata lain; welcome to adulthood! Hahahaaa.

Saya juga malas mau nonton ke bioskop. Beberapa kali Tuan mengajak saya untuk yaaah … malam mingguan ke mana gitu, nonton apa gitu, makan apa gitu di luar. Tapi, saya juga enggak terlalu ingin. Kayaknya akhir pekan yang dihabiskan dengan kruntelan, gelindingan, gegoleran, dan ndusel-ndusel di tempat tidur itu lebih saya sukai. Memikirkan macetnya Jakarta di akhir pekan dan betapa bioskop dipenuhi pasangan pacaran, dan kerumitan lain membuat kepala saya sakit bahkan dengan memikirkannya saja.

Lalu pagi ini, saya sebenarnya mau menulis review Santa Clarita Diet 2 karena saya sudah selesai menonton sejak lama—sudah lewat sebulan mungkin. Saya mau menceritakan betapa saya menyukai serial ini. Serius. Cuma itu. Enggak ada niatan yang lain. Tapi akhirnya saya batalkan juga. Huft.

Waktu saya duduk di depan laptop siang ini, lalu Gian dengan sombongnya mengirimkan foto es kepal (apalaaah itu namanya) … saya pun mulai berpikir; jangan-jangan saya merasa seperti ini karena saya menjadikan hiburan itu sebagai bagian dari pekerjaan. Ini juga karena Gian mengirimi saya tautan artikel semalem menjelang dia tidur. (Iya, dia suka kayak gitu untuk mengguncang keyakinan saya pada satu-dua hal yang kami enggak sepakat.)

Judul artikelnya: Redefining Work, Love, and Play. Bagus, deh. Silakan diklik itu tautannya kalau kamu mau baca.

Oke. Ini keliatan enak.

Isi artikel itu singkatnya tentang; kita suka terbalik-balik memperlakukan mana hiburan, mana pekerjaan, dan mana hal-hal lain yang kita cintai. Mungkin saya seperti itu. Mungkin saya membaca banyak buku di banyak waktu yang sudah lewat bukan untuk menjadikan kegiatan membaca itu sebagai hiburan. Bisa jadi saya membaca karena saya ingin membuat review. Bisa jadi saya membaca karena saya tahu buku itu sedang hangat diperbincangkan dan saya harus tahu, saya harus baca, dan saya enggak boleh ketinggalan. Hal yang sama juga terjadi pada film dan serial yang saya tonton. Ada tekanan di sana—tekanan yang seharusnya enggak ada karena membaca dan menonton itu kegiatan hiburan. Saya seharusnya menikmati buku, film, dan serial yang saya suka. Persetan dengan nantinya saya mau mereview atau enggak. Saya nikmati dulu, baru setelah itu saya pikirkan lagi apakah saya ingin membagi pengalaman itu.

Ah, ini sungguh membuat sebal.

Saya masih menonton dan membaca akhir-akhir ini walaupun sangat jarang. Melakukannya tanpa banyak berharap bahwa saya akan menyelesaikannya—walaupun banyak dari film, serial, dan buku itu yang saya selesaikan juga pada akhirnya. Lalu melupakan kalau saya harus mereviewnya—kalau saya harus mengabarkannya pada dunia. Tapi beberapa waktu belakangan, ketika saya melihat sosial media dan jadi tahu kalau ada film ini yang sedang diputar dan bagus banget atau buku ini yang harus dibaca karena alasan ini dan itu, saya pun kembali tertekan.

Saya ingat di masa SMP dan SMA ketika saya membaca hanya untuk membaca. Mana ada sosial media waktu itu. Mana ada teman cerita untuk mendiskusikan buku-buku itu. Mana ada saya mencari informasi di internet tentang siapa penulisnya dan ada atau enggak gosip-gosip di sekitar buku itu. Mana ada keinginan untuk mereview—apalagi ada pikiran mereview untuk memperlihatkan kalau saya banyak membaca dan tahu banyak tentang apa yang saya baca. Itu masa-masa yang indah…. Huft. Masa-masa di mana saya benar menikmati apa yang saya baca tanpa tekanan apa-apa.

Oh, itu adalah masa di mana saya membaca Namaku Hiroko dan enggak paham dengan kalimat ‘dua segar aku tampakkan ke depan’. Bertahun-tahun kemudian saya baru paham apa maksudnya. Hahahaaa. Tapi itu sama sekali enggak mengurangi keasyikan saya membaca. Sebagian besar dari apa yang ditulis di Namaku Hiroko itu baru saya pahami beberapa waktu kemudian dan itu rasanya enggak mengapa. Saya akhirnya membaca lagi dan semua yang dulu saya pahami, terpaksa direvisi.

Yah, sebab serial, film, dan buku enggak menghibur lagi karena ketika menikmatinya saya merasa ada beban di sana, jadinya, akhir-akhir ini saya lebih bisa menikmati apa yang dulu saya anggap sesuatu yang menyiksa; menulis dan menyetrika pakaian, misalnya. Hahahaaa.

Begitulah.

Saya berusaha untuk enggak gimana-gimana banget sama urusan hiburan ini. Enggak bisa nonton serial tertentu karena malas, yaaa … udahlah. Enggak bisa baca buku tertentu karena belum ada waktu walaupun buku itu sangat tenar dan jadi bahan pembicaraan saat ini, yaaa … udahlah. Enggak bisa ke bioskop untuk nonton film yang sedang tayang dan jadi blockbuster, yaaa … okelah. Itu semua cuma hiburan. Sekunder—atau malah tersier? Enggak apa. Daripada menjadikan hiburan rasa kerjaan—karena sekarang saya juga mulai punya kerjaan rasa hiburan (dan untuk yang satu ini sepertinya jadi hal bagus). Kalau saya lebih suka tidur sebagai kegiatan paling menghibur di masa-masa sekarang ini, yaaa … baiklah. Mari tidur.

Kayaknya emang hal-hal seperti ini harus dibereskan dan diletakkan di tempatnya masing-masing. Mana yang kerjaan, hobi, hiburan, dan yang lainnya. Biar jelas sekatnya dan enggak tumpang-tindih satu dan lainnya.

Begitulaaah….

Segini aja ceritanya. Hahahaaa.

Kamu sendiri gimana? Masih banyak membaca? Itu bagus! Jangan sampai terbebani sama bacaanmu, ya. Kecuali kalau kamu ada di kondisi di mana membaca itu jadi pekerjaanmu.

Jakarta mau hujan sore ini. Bagaimana di kotamu?