Present Tense by Radiohead; My Bittersweet Personal Apocalypse Soundtrack

by | Apr 22, 2018 | Lagu & Cerita, Non Fiksi | 1 comment

Judulnya kenapa dramatis banget begitu, ya? Hadeuh.

Jadi ceritanya, saya dan Gian membuat tantangan baru di blog—karena yaaah … nulis begitu aja tanpa dipaksa nyaris mustahil buat dia. Setiap pekan akan ada satu tulisan yang disepakati sebagai tantangan. Bisa apa saja dengan tema (juga) apa saja. Pekan ini, sebagai penantang pertama, saya mengajukan tema: Tulis makna dan cerita di balik lagu Present Tense-nya Radiohead.

Tulisan Gian, bisa dibaca di sini: Radiohead dan Milan Kundera

Saya enggak tahu apa lagu ini bermakna buatnya—bodo amat. Hahahaaa. Tapi lagu ini adalah satu dari banyak lagu Radiohead yang saya suka. Mungkin bukan lagu yang pertama kali saya pilih dan terlintas ketika saya mengingat band yang satu itu, hanya saja … ini lagu yang akan selalu jadi; my bittersweet personal apocalypse soundtrack.

Widih. Berat.

Ah, enggak kok. Itu cuma saya saja yang punya kebiasaan menggunakan majas hiperbola secara hiperbolik—tl;dr: Saya lebay.

This dance

This dance

It’s like a weapon

It’s like a weapon

Of self defense

Self defense

Against the present

Against the present

Present tense

Pertama kali saya mendengar lagu ini, saya enggak bisa melepaskan diri dari liriknya dan ini jarang-jarang terjadi. Biasanya, saya suka sebuah lagu itu dari ketukan bass atau drumnya. Pokoknya kalau beat-nya enak, oke … saya suka. Khusus untuk lagu ini, ketika saya mendengar versi albumnya dan yang pertama terdengar adalah suara backing vocal yang mendayu-dayu sedih di belakang, lalu masuk ke gitar, saya malah enggak memperhatikan sama sekali. Lirik yang dinyanyikan Thom yang langsung nyangkut di kepala saya, “This dance … this dance … it’s like a weapon of self defense.”

Oke. Tarian ini adalah senjata untuk mempertahankan diri.

Oke.

Masuk ke lirik selanjutnya, “… against the present.”

Di sini saya kenanya; against the present!

Tarian ini adalah senjata untuk mempertahankan diri dari keadaan sekarang.

Saya enggak bisa menerjemahkannya dengan baik ternyata—dan menerjemahkan lirik lagu itu memang sungguh sulit. Tapi, kamu pasti paham betapa lirik itu menghentak. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang sedang menari (yang kalimatnya ditulis dalam bentuk present tense) karena dia ingin tarian itu jadi senjata untuk bertahan dari apapun yang sedang terjadi di sekelilingnya ketika itu. Untuk itu dia menari….

I won’t get heavy

Don’t get heavy

Keep it light and

Keep it moving

I am doing

No harm

Di lirik berikutnya, dia bilang kalau dia enggak akan menari dengan berat—mungkin dengan sambil membawa beban atau apalah—dan kalimat itu ditulis dengan future tense yang terasa seperti janji pada dirinya sendiri. Dia enggak akan bergerak dengan berat, dia akan menjaganya tetap ringan, tetap bergerak, yang ketika dia bergerak itu dia enggak akan membuat kerusakan apapun. Padahal, tarian itu—katanya di awal tadi—adalah senjata. Ah, ini menarik. Senjata untuk mempertahankan dirinya dipilih bukan yang akan melukai orang lain, tapi yang enggak akan membuat kerusakan—atau menambah kesakitan lain.

As my world

Comes crashing down

I’m dancing

Freaking out

Deaf, dumb, and blind

Di lirik berikutnya lagi, dia bilang semacam; ketika dunianya hancur sekalipun, dia akan tetap menari—sambil ketakutan, tuli, bodoh, dan buta.

Dia cuma ingin menari karena itu yang akan menyelamatkan dirinya. Itu senjatanya. Dia tahu kalau senjata itu enggak akan menyakiti siapapun.

Lalu dia bilang di lirik selanjutnya:

In you I’m lost

In you I’m lost

Di dalam tarian itu (in you) dia hilang….

Sampai sini, iya, lagu ini bisa dibilang sebagai lagu ini bikin saya giting karena liriknya pun mulai mengarah-ngarah ke kegitingan. Hahahaaa.

I won’t turn around

when the penny drops

I won’t stop now

I won’t slack off

Or all this love

Will be in vain

Dia bahkan enggak akan menoleh walaupun ada yang mengganggu (the penny drops). Dia enggak akan berhenti sekarang karena kalau begitu, semua yang dia lakukan dan dia cintai (all this love) hanya akan tersia-sia.

Tapi, di lirik selanjutnya dia bilang:

Stop from falling

Down a mine

It’s no one’s business but mine

That all this love

Has been in vain

Dia bilang kalau untuk berhenti jatuh ke lubang dalam (down a mine—yang saya artikan seperti lubang galian tambang, yah … begitulah kira-kira), itu bukan tanggung-jawab siapa-siapa, itu semua dia urusan dia. Tapi bisa jadi dia enggak berhasil untuk bertahan dan tetap terjatuh karena kalimat selanjutnya ditulis dalam perfect tense: That all this love has been in vain.

Cinta sudah tersia-sia. Dunia runtuh. Lalu dia menari sebagai senjata untuk mempertahankan dirinya. Tapi kali ini, dia enggak akan berhenti. Dia akan menari, ringan, dan terus bergerak. Persetan dengan dunianya yang runtuh. Dia akan terus menari karena dia enggak ingin cinta—yang ternyata sudah kadung tersia-sia itu—semakin jadi tersia-sia lagi. Lalu tarian itu membuat dia hilang, hilang … in you I’m lost.

Lagu ini suka saya dengarkan ketika saya nyaris putus-asa atau ketemu jalan buntu yang bikin sebel. Kadang saya juga dengarkan ketika saya mulai menulis—mengawali sesuatu itu sulit, selalu sulit. Kalau sudah lewat dua alinea, ah, itu sudah lebih mudah. Tapi untuk mengawalinya, duduk di depan laptop, lalu mulai mengetik, itu susahnya jangan ditanya. Jadi, saya dengarkan lagu ini untuk mengingatkan kalau saya ini sedang membuktikan sesuatu. Saya ini sedang coba membuktikan cinta pada apa yang saya lakukan dan ingin terus saya lakukan.

Sebenarnya saya malas untuk menulis tentang alasan-alasan mengapa saya menulis dan yang sejenis itu karena yah … saya itu enggak perlu alasan. Ini sesederhana saya suka, saya cinta, dan saya lakukan. Itu saja. Enggak ada alasan filosofis apapun di baliknya. Saya melakukannya karena saya suka. Sudah. Titik.

Seperti kamu suka dan cinta pada seseorang, kamu bisa banget nyari banyak alasan di balik alasanmu untuk jatuh cinta. Bisa jadi kamu menemukan alasannya, bisa jadi enggak. Bisa jadi alasannya hanya sesederhana; yah, kamu sudah jatuh cinta. Selesai. Titik.

Begitulah saya dengan urusan tulis-menulis ini.

Bukan berarti kamu jatuh cinta lalu kamu enggak menemukan saat yang sulit di dalam hubungan kamu itu, kan. Sama seperti saya dan urusan tulis-menulis saya ini. Banyak saat yang sulit. Banyak saat di mana rasanya ingin berhenti. Kalau saat itu datang, lalu saya mendengarkan lalu ini, saya semacam diingatkan lagi kalau saya menulis itu juga sebagai senjata untuk mempertahankan diri—dan kewarasan—saya. Saya melakukannya karena dunia di sekeliling saya—kadang—berguncang dan saya enggak ingin ikut jatuh bersama reruntuhannya.

Kadang, cuma itu yang bisa saya lakukan untuk mempertahankan diri tanpa harus menyakiti orang lain. Walau sulit sekalipun, saya akan tetap melakukannya:

I won’t get heavy

Don’t get heavy

Keep it light and

Keep it moving

I am doing

No harm

Menulis yang ringan, yang menyenangkan, terus bergerak, dan enggak menyakiti yang lain. Begitu saja.

Kalau Thom Yorke menari sebagai senjata mempertahankan diri, maka saya menulis. Enggak berhenti atau … all this love will be in vain—it has been in vain, it won’t again.

Itu pula alasan kami membuat tantangan ini setiap pekan; menulis yang ringan saja, terus bergerak, dan tanpa harus menyakiti.

Ah, akhir pekan ini saya malas sekali dan sesiangan ini Jakarta hujan sebentar. Kalau kamu, bagaimana?