Menyoal Aksarayana, Kerja Kreatif, Platform Kepenulisan, dan Curhat Lainnya

by | May 4, 2018 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 1 comment

Sudah lima bulan lebih Ririn, Gian, dan saya membuat Aksarayana tapi, ah … belum satu pun saya menuliskan tentang proyek ini. Saya sudah membuktikan teori yang bilang kalau kamu punya ide atau rencana, bicarakan dengan orang yang benar terlibat dan penting, setelah terlaksana dan selesai, baru kabarkan pada dunia.

Ini ada benar, loh. Logikanya sederhana aja sebenarnya. Kalau kamu punya ide, membicarakannya dengan banyak orang—misalnya dengan membaginya di media sosial dan mendapat tanggapan berupa likes, love, atau komen—akan membuat exciment-nya (yaelaaah, ini bahasa Indonesia yang tepatnya apaan, ya …) berkurang. Kamu nyeritain ke mana-mana itu, puasnya sama dengan kamu nyelesein proyek itu. Kalau di saya, efeknya; saya jadi malas menyelesaikannya. Toh, exciment dan adrenalinnya sudah dapat. Apalagi? Ya, kan?

Jadi, yah … sekarang ini kalau saya ada proyek, ide, atau rencana, saya akan menahannya sampai sudah terjadi atau setidaknya saya tahu itu 90% akan terjadi. Tapi untuk Aksarayana ini kasusnya unik. Saya bahkan lebih suka menjalankannya daripada membicarakannya. Ide, rencana, dan hal-hal yang berbau ‘masa depan’ memang kami bicarakan, tapi frekuensinya enggak banyak. Sehari-hari, pembicaraan saya dengan Ririn dan Gian lebih banyak tentang proyek dan bagaimana menyelesaikannya. Mungkin itu yang membuat menuliskan ini jadinya enggak semenarik menyelesaikan gambar promo untuk media sosial atau mengerjakan layout untuk cerpen. Huft.

Tapi, kali ini saya akan bicarakan karena saya sedang senggang dan juga sedang senang. Hahahaaa….

Aksarayana itu saya bicarakan dengan Ririn di Desember. Rencananya sederhana saja; kami mau buat tempat untuk publikasi tulisan fiksi; cerpen, cerbung, dan novel. Memang bisa di platform kepenulisan atau yang lainnya, saya sendiri punya blog ini dan banyak tulisan fiksi yang sudah di-publish di sini, tapi kami mau bentuknya beda; mau mengajak teman-teman yang lain untuk datang dan belajar bersama. Blog, kan, sifatnya lebih personal. Saya juga mau bisa mengatur sendiri apa dan bagaimana Aksarayana itu dari sisi bentuk dan penampakannya.

Di Ramadhan tahun lalu, prototype Aksarayana ini sudah dicoba dan … gagal. Bentuknya Project Puan—kalau masih ada yang ingat. Saya belajar dari kesalahan itu kalau setidaknya; layout enggak bisa begitu, proyek harus begini-begitu, dan beberapa hal lain. Dari sana, kami membuat konsep yang pada dasarnya sama tapi banyak juga yang diubah. Salah satunya dengan melibatkan Poddium ke Aksarayana. Poddium itu walaupun belum stabil tapi perlu semacam jam terbang tambahan. Saya dan Gian (sebagai yang punya Poddium) memang enggak akan selamanya membuat podcast di sana. Kami juga ingin membuat audiobook atau audiodrama. Materi dari Aksarayana bisa kami manfaatkan untuk dibuat audionya.

Tapi … enggak menarik kalau yang kemudian dijadikan materi hanya tulisan kami-kami saja—saya dan Ririn, terutama. Kami ingin Aksarayana enggak eksklusif. Okelah, memang ada perjanjian dan konsep dasar bahwa sampai kapanpun, Aksarayana itu akan jadi close platform—yang artinya; untuk menaruh tulisan di sana, perlu lewat seleksi—karena lebih mudah untuk menjaga kualitas tulisan dan juga konsep secara keseluruhannya. Buat kami ini penting karena kami enggak sedang membuat pasar; kami membuat toko kecil yang hanya menawarkan apa-apa yang pemiliknya suka.

Open vs Close Platform

Kita bicarakan ini dulu, ya.

Setidaknya, ada dua bentuk situs kepenulisan online: open platform dan close platform. Membedakannya mudah; kalau kamu bisa unggah sendiri karyamu—walaupun akan ada moderasi konten—tanpa melewati seleksi dan harus menunggu, itu open platform.

Kedua platform ini konsepnya sama seperti pasar (marketplace) dan toko (shop). Blog juga bisa dimasukkan ke close platform tapi itu personal dan individual sekali, kan. Platform itu hanya kamu yang pakai. Aksarayana mengambil di tengah-tengah tapi lebih condong ke konsep toko karena ingin menjaga rasa personal, unik, individual, dan konsep untuk setiap karya yang enggak seragam—konsep tampilan dibuat mengikuti konsep karya, bukan sebaliknya. Ini yang dilakukan di Proyek Botolan. Tampilan halaman karya dan layout-nya dibuat sesuai dengan konsep, tema, dan nilai personal yang dibawa oleh masing-masing penulisnya.

Kalau kamu lihat halaman milik Gian, Salam Manis Pacar, misalnya, kamu akan temukan warna kuning—yang memang jadi warna kesukaan dia dan dipilih karena konsep surat-surat bercampur dengan pembahasan di dalamnya; kuning itu warna yang menyimbolkan kejeniusan, ceria, dan terbuka. Lalu dari sana, semua dibuat kuning, deh. Lalu pilihan fontnya juga dibuat beda antara dua surat yang ditampilkan di sana—dengan pertimbangan; setiap orang punya font kesukaannya sendiri, begitu juga dengan Gian dan Si Pacar. Pembicaraan untuk membuat konsep seperti ini yang membuat Aksarayana itu menarik dan menyenangkan—dan juga rawan pertengkaran hahahaaa.

Kalau kamu melihat konsep Setoples Kenangan, misalnya, itu saya buat dengan ide sederhana bahwa di dalam toples itu ada kenangan. Dari sana kemudian dibuat gambar yang menjelaskan apa yang ditawarkan di setiap bagian tulisannya.

Seperti ini:

Saya mengusahakan ini karena saya tahu bahwa setiap karya itu punya nyawanya sendiri. Nyawa ini yang membuat dia beda dengan karya lainnya. Ini yang mau kami jaga.

Cara seperti ini enggak bisa dilakukan di open platform karena keseragaman bentuk yang menjadi hal mutlak di sana. Open platform itu seperti mall dengan kapling-kapling toko. Kamu bisa punya toko di sana untuk menawarkan karyamu, tapi hanya bisa didekorasi sejauh yang diperbolehkan. Antara toko yang satu dan lainnya, bentuk dasarnya bisa jadi sama. Hal ini bukan buruk, ya, tapi dibuat dengan pertimbangan efisiensi, karakterisasi, dan keunikan platform itu sendiri. Platform dengan user ribuan mengurusnya enggak mudah. Tapi, open platform memang memberikan kemudahan. Ini yang enggak dimiliki oleh close platform.

Untuk membuat Aksarayana seperti sekarang ini, setidaknya perlu; web designer, web developer, graphic designer, penulis, dan orang yang mau mengurus sosial media. Perlu tim dan harus solid—ini susahnya. Aksarayana juga enggak bisa mengeluarkan proyekan langsung banyak karena enggak akan mungkin bisa diurus dengan baik—SDM terbatas, hadeuh. Kalau di open platform, tiap penulis bertanggung jawab dengan karya dan promosi karyanya masing-masing. Di Aksarayana, satu tim terlibat untuk kelangsungan tiap karya. Ini juga repotnya—dan mengasyikkannya.

Kami juga membuat Aksarayana ini agar yang lain (penulis lain dengan teman-teman yang ingin menggarap proyekan bersama) bisa melihat bahwa kerja sama dengan teman-teman lain yang bidangnya berbeda itu menyenangkan. Satu lagi yang penting; kalau enggak ada tempat yang sesuai untuk menampung ide dan keinginanmu, kamu selalu bisa membuatnya sendiri. Saya sudah melihat begitu banyak kerjasama creative project yang mengasyikkan seperti ini, saya pun ingin mencoba.

Kalau kamu ingin mencoba juga, ada saya, Ririn, dan Gian yang selalu bisa kalian ajak diskusi. Tanya saja, hadang saja kami di mana kalian menemukan kami. Ya?

Kami dengan senang hati akan membantu.

Bagian berikutnya dari tulisan ini akan membahas apa saja yang sedang dan akan kami lakukan di Aksarayana. Bersambung biar kamu enggak kepanjangan bacanya dan saya enggak kelamaan duduk buat nulisnya—takut encok saya hahahaaa. Tunggu, ya.

Credit for all images: unsplash.com