Narrator Voice on The Opposite of Loneliness

by | May 21, 2018 | Non Fiksi, Notetaking | 1 comment

Sepekan belakangan, saya membaca The Opposite of Loneliness, buku Marina Keegan yang di dalamnya ada esai dan fiksi. Tentang buku ini, saya akan ceritakan lebih banyak di tulisan lain. Di sini, saya hanya ingin membahas bagaimana dia bercerita di cerpen yang dia tulis.

Kamu pernah enggak membaca tulisan yang rasanya seperti mendengar penulisnya bicara? Nah, begitu rasanya buat saya ketika membaca cerpen Keegan. Saya memang enggak pernah tahu bagaimana dia bicara—karena untuk kasus tertentu, ketika suara penulisnya kadung kamu tahu dan suka, mustahil rasanya enggak membaca apa yang dia tulis dengan suaranya. Ini terjadi pada saya ketika membaca buku Neil Gaiman. Saya membaca dengan deep husky voice Gaiman di kepala saya. Hahahaaa.

Keegan rasanya enggak begitu. Lebih seperti … kamu punya teman dekat dan kalian bercerita di sofa sambil minum kopi dan dia mengatakan banyak hal padamu, tentang hal-hal yang enggak dia ceritakan ke teman lain. Sebelumnya, saya sendiri kalau menulis fiksi, entah mengapa secara sadar menghindari penilaian terhadap karakter lain di cerita yang saya buat kalau saya menggunakan POV-1. Saya membuat MC (Main Character) saya enggak judging—sederhananya begitu. Tapi Keegan melakukan itu dan ketika saya membacanya, saya berpikir, “Oh, oke. Ini enggak apa ternyata. Ini masuk akal. We’re judging people all the time in discreet.

Saya menandai penulis yang bagus itu kalau dia bisa mendeskripsikan secara spesifik namun personal. Ini sulit—karena itu buat saya, ini yang bisa dijadikan acuan bagaimana unik, menarik, dalam, dan jujurnya narrator voice. Kita enggak punya kuasa menamai sesuatu karena semua sudah selesai dinamai. Tapi ketika ada seseorang yang bisa memecah penamaan dan menjelaskan sesuatu di balik nama itu dengan spesifik tapi personal, maka itu yang saya cari dari buku yang saya baca. Saya enggak mau penjelasan umum, klise, dan menyebalkan karena terlalu membosankan. Keegan juga bisa melakukan ini, dengan caranya sendiri. Misalnya ketika dia menceritakan bagaimana hubungan satu karakter dengan karakter lainnya dan mereka belum punya label apapun, salah satu karakternya menjelaskan dengan cara seperti ini.

Buat saya ini penjelasan yang bagus, terutama di bagian; to imagine while dancing in lonely basement.

Kamu membayangkan orang yang kamu sukai itu sebagai orang yang akan kamu ajak menari di basement sunyi—kalau di sana ada musik yang menyala. Ini sungguh … ah! Ini sederhana, apa adanya, mentah—bahkan. Karakter Keegan berumur awal dua puluhan seperti dirinya, mereka bicara dan berpikir dengan cara dewasa muda bicara dan berpikir. Enggak ada kebijaksanaan yang dipaksa atau gaya bahasa yang dibuat-buat dan memusingkan. Saya suka. Karakter yang dia buat bebas dari egonya sebagai penulis.

Ketika membaca cerpen pertamanya di buku itu, Cold Pastoral, saya membayangkan; ah, ingin rasanya saya bisa menemukan suara karakter saya sendiri, yang seperti ini; dalam, menghanyutkan, tapi unik seperti ini, yang membuat pembaca seolah merasa hidup di karakter itu. Saya juga tahu sulitnya memisahkan suara penulis dan suara karakter (apalagi kalau menggunakan POV-1), tapi cara Keegan melakukannya, membuat saya ingin mencoba. Juga dengan bagaimana dia mencampur antara pikiran, dialog, dan deskripsi. Agak kacau memang, tapi bukannya kalau kita bercerita pada orang lain, kadang, cerita itu enggak runut dan kacau antara pendapat kita sendiri, lalu ingatan yang timbul-tenggelam, dan juga jalan cerita yang sebenarnya. Ini bukan multi-POV super rumit seperti di Rashomon yang saya bicarakan. Ini hanya urusan ketidakteraturan dalam satu paragraf yang membuat suara karakter itu jadi masuk akal.

Misalnya di paragraf ini. Begini kacaunya; dia menerima email di pagi hari, lalu dia ingin pergi, kemudian dia memakai pakaian hitam, tapi kemudian teman sekamarnya mengatakan bahwa dia enggak perlu menggunakan boots hitam karena enggak muat dan dia enggak harus begitu. Di satu paragraf ini semua bercampur, dijadikan satu saja, tanpa urutan setelah kejadian ini, maka terjadi itu. Bahkan di tengahnya, dia masukkan pikirannya sendiri (and felt like I had to go), dan berakhir dengan urusan sepatu yang terjadi tepat sebelum dia pergi.

Membaca paragraf ini, saya pun berpikir; tentu saja karakter ini kacau, teman dekat lelakinya meninggal malam itu, lalu dia baru tahu kabarnya di pagi harinya, dan menjelang siang dia harus pergi ke apartemen mendiang untuk bertemu dengan orangtua mendiang. Halaman selanjutnya enggak menceritakan tentang kejadian di apartemen mendiang—belum. Tapi sedikit cerita tentang orangtua MC dan bulan Maret yang dingin, disusul tentang perjalanannya. Kalau kamu suka membaca cerpen yang padat dan ‘langsung-langsung saja’ maka cerpen ini—yang penuh dengan recalling memories dan hal-hal kecil yang diingat lagi dan hubungannya dengan perasaan—bukan untukmu.

Kalau ada yang menarik tentang buku ini, saya akan ceritakan lagi. Sekarang segini dulu, ya.

Kamu baca buku apa pekan ini?