Submarine

by | Jul 21, 2018 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 0 comments

And when you say that you need me tonight
I can’t keep my feelings in disguise
The white parts of my eyeballs illuminate

Halo….

Apa kabar?

Huft. Lama ya … saya enggak nulis di sini. Saya punya banyak alasan tapi paling berat adalah tentang kemalasan dan waktu yang sempit. Gitu aja, sih. Cukup alasannya karena saya enggak mau tulisan ini penuh dengan alasan doang.

Jadi, beberapa waktu belakangan ini saya seolah ada di dalam submarine—kapal selam. Dibilang berhenti nulis, yaaa … enggak juga. Saya menulis rutin setiap pekan untuk cerbung di Aksarayana selama empat belas pekan dan belum ada alpa—kecuali libur lebaran kemarin. Itu pun cuma satu pekan. Beberapa waktu belakangan, saya menulis puisi di instastory karena saya sedang ingin mengingat kembali bahwa menjadi penyair itu menyenangkan. Sengaja enggak ada target apapun, misalnya #30HariMenulisPuisi atau apa karena saya memang mau senangnya, bukan targetnya. Sudah 14 puisi, sepekan lebih, belum ada alpa.

Tapi, rasanya rindu kembali menulis di sini. Saya mau bingung mau menulis apa, jadi saya mau ceritakan sesuatu.

Suatu malam, saya bicara dengan seorang teman dan bilang, “Rasanya kita kayak pernah ketemu di suatu tempat, ya. Entah di mana. Ini aneh karena sejak kali pertama bicara sama lo, gue ngerasa kayak bicara dengan teman lama. Kayak menyambung obrolan yang dulu-dulu. Bukan kenalan atau apa.”

Dia setuju dengan saya. Dia bilang bahwa dia pun merasakan hal yang sama. Ini aneh karena kadang saya bertemu dengan orang seperti ini dan enggak terlalu memikirkannya dan cuma menganggap kalau itu kebetulan atau yah … mungkin pada dasarnya kami memang cocok. Udah. Tapi sama teman yang satu ini, saya sungguh jadi berpikir bahwa memang kami pernah bertemu di suatu tempat, entah di mana, entah kapan, karena banyak hal yang ternyata kami sama.

Dia bilang, “Mungkin roh kita pernah bertemu sebelum lahir ke dunia. Roh itu emang urusan Allah, tapi roh itu berkelana ke mana dan dengan siapa, kita enggak tahu, kan.”

Mungkin begitu, sih.

Mungkin.

Mungkin juga itu masalah kecocokan saja yang kemudian jadi saya besar-besarkan karena saya dan dia punya banyak hal yang cocok dan sama.

Lalu, saya pun mendengar album Alex Turner tanpa sengaja di Spotify. Saya enggak biasanya nyari-nyari lagu atau apa. Yah, selera tua. Orang seumur saya biasanya lebih suka memutar kenangan dan romansa yang diikat dengan lagu-lagu lama. Seolah kenangan itu menempel di musik dan liriknya. Padahal, bisa jadi saya aja yang masih baper. Hahahaaa…. Saya pun menemukan Alex Turner ini, yang kemudian saya tahu kalau dia vokalisnya Artic Monkey (salah satu band yang saya suka juga, sih), dan album Submarine ini adalah soundtrack dari film berjudul sama yang dulu pernah saya tonton tapi ceritanya saya sudah lupa. Lalu, ada lagi, ternyata sutradara film itu adalah Richard Ayoade yang saya suka sekali karena saya fans berat IT Crowd. Mungkin saya sudah menonton ulang lebih lima kali dan masih juga tertawa dengan lelucon di sana. Ini, sih, bisa jadi karena saya aja yang selera humornya receh.

Jadi, beberapa pekan belakangan, saya mendengarkan Submarine satu album sambil mengerjakan ini itu. Mungkin saya dan Richard Ayoade dan Alex Turner pernah bertemu rohnya di suatu tempat karena ketika saya mendengar album ini dan menonton ulang filmnya, rasanya seperti dulu saya pernah melakukannya berkali-kali tapi saya enggak ingat kapan…. Huft.

Lalu, beberapa waktu belakangan saya juga mempertanyakan tentang kesepian, jatuh cinta, hubungan manusia satu dengan lainnya, dan hal-hal enggak penting lainnya. Saya mau menuliskan itu biar pikiran saya lega sedikit tapi yah … lagi-lagi kemalasan yang menang.

Tapi memang semuanya itu harus dimulai, sih, harus dikerjakan dan bukan dipikirkan. Ini saya pahami setelah saya menulis cerbung tanpa henti beberapa pekan. Mau menunggu sampai saya pinter banget nulis dan bisa menghasilkan sesuatu di standar yang saya inginkan, yaaa … saya mulai ngerjainnya kapan? Yang penting dikerjakan dulu, memperbaiki dan menyempurnakannya bisa sambil jalan. Kalau ini semua tentang jam terbang, maka seperti puisi-puisi yang enggak henti saya tulis selama sepekan belakangan, makin lama saya makin enteng menuliskannya. Makin mudah mencari metafora yang saya inginkan untuk menyampaikan maksud yang saya mau—tanpa jadi terlalu terang-terangan tentu saja, namanya juga puisi.

Terus, saya juga tahu kalau saya enggak fun mengerjakan sesuatu, saya pasti enggak akan bisa kelar. Tertekan duluan. Jadi yah … sekarang semua saya kerjakan tanpa target muluk. Sedikit asal setiap hari itu lebih penting karena lebih memungkinkan daripada memikirkan bagaimana mengerjakan yang besar, sempurna, dan memukau tapi enggak pernah dimulai.

Gitu aja, sih.

Tulisan ini macam enggak ada intinya.

Biar agak-agak ada manfaatnya, bagaimana kalau saya tutup dengan bilang bahwa semua ini perkara prioritas. Kayak katanya Alex Turner:

You tell me, “How can I put you off when you’re a matter of urgency?”
I’ve got a million things that I need to do, but they’re all secondary

Nulis biar tetap waras itu masuk ke urusan urgent kayaknya. Hahahaaa….

Apa kabar, Manteman? Nulis yang serius-serius nanti dulu, ya. 😀