Apa Blog Masih Ngetren?

by | Aug 2, 2018 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 8 comments

Halo….

Apa kabar, Manteman.

Sore ini saya baru aja mulai baikan dari radang dan sariawan. Bibir saya pecah sampai berdarah. Terus karena saya capek tidur terus, saya jadi pengen cerita-cerita di sini.

Saya inget pernah ada yang nanya sama saya; apa blogging itu masih ngetren setelah ada sosial media lain yang lebih mudah diurus? Blog emang agak-agak lebih ribet diurus, sih. Apalagi blog dengan domain dan hosting berbayar kayak punya saya ini. Seandainya saya enggak punya si Tuan yang mau ngurus detail-detail teknisnya sampai saya bisa hanya repot di urusan nulis dan kadang desainnya, mungkin blog ini enggak akan jalan juga.

Saya juga paham betapa mudahnya sosial media itu. Saya bahkan akhir-akhir ini posting prosa lima ratus kata di sana dan itu mungkin dengan konsep ‘captionless’. Ini cara baru yang saya temukan dari hasil jalan-jalan ke banyak akun Instagram dan melihat—dan menilai sendiri—bahwa baca caption itu sungguh ngeselin. Apalagi sebelum Instagram punya line break. Sekarang udah ada jadi bisa lebih rapi. Tapi tetep aja, caption yang sepanjang itu bikin mata sepet juga bacanya. Sekarang saya bisa bilang begini padahal saya juga pelaku menulis-cerpen-pendek-di-caption dulunya. Hahahaaa. Jadi sekarang, saya hanya menulis pendek di caption dan prosa saya dibuat jadi image yang bisa di-slide.

Ngeliat ini, saya malah jadi ingin menulis cerpen atau novela sekalian di Instagram. Hahahaaa. Semoga ada yang memperingatkan saya kalau itu ide yang luar biasa konyol—tapi menantang. Hahahaaa.

Balik ke urusan blog, saya sesungguhnya enggak tahu dan enggak terlalu paham dengan urusan SEO dan lain-lainnya. Saya tahu kalau hal ini perlu dipelajari untuk orang yang ingin mengetahui banyak hal tentang blognya dan juga bagaimana memanfaatkan itu semua untuk mendatangkan pembaca sebanyak-banyaknya. Tapi, yah … saya enggak pernah melakukannya. Ngasih keyword dan tag di blog ini aja saya enggak. Kalau saya sedang menulis, saya ingin menulis yang beneran baik—dan iya, curhat kayak begini masih kurang oke buat saya.

Saya pengen nulis longform yang beneran analitik, personal, tapi enak dibaca. Kayak yang suka ada di Medium itu, loh. Ini cita-cita saya. Jadi yang saya pikirkan ketika menulis di blog selalu saja tentang bagaimana tulisan saya akan menyenangkan dan menarik untuk dibaca. Nantilah itu urusan SEO dan begituan lainnya. Saya lebih ngurus konten dan saya tahu, saya memutuskan untuk enggak terlalu memikirkan hal selain konten karena saya enggak mau dipusingkan dengan itu.

Sama seperti saya enggak mau dipusingkan dengan likes dan komen di sosial media. Likes yang saya dapat itu enggak kemudian membuat apa yang saya bagi di sana jadi lebih baik juga. Apresiasi emang datang dari sebaik apa kamu melakukan sesuatu, tapi apresiasi juga tentang orang yang memberikan; mereka relate, suka, dan paham enggak sama apa yang mereka apresiasi. Kalau enggak, bisa jadi mereka enggak akan peduli. Di lautan informasi seperti sekarang, di mana mata uangnya adalah ‘attention’ yang diberikan orang padamu, yang mudah dilihat dengan angka dan statistik, saya enggak ingin lupa bahwa kualitas kadang enggak berbanding lurus dengan itu. Saya ingin melakukan apa yang saya senangi. Itu saja. Kalau kamu seneng juga, sini kita main bareng. Sesederhana itu.

Sejak awal saya ngeblog, saya juga udah sebegini ignorance-nya kok sama urusan statistik dan SEO. Saya percaya bahwa konten bagus itu kunci. Bagaimana kamu melihat dan memahami masalah dari sudut pandangmu yang unik, dalam, dan menarik, itu lebih penting—walaupun saya kadang gagal juga untuk jadi unik, dalam, dan menarik. Jadi saya terus menulis dengan standar saya sendiri. Saya ngasih ukuran dan target sesuai dengan apa yang saya mau. Begitu saja. Entah mengapa saya percaya bahwa di luaran sana, ketika banyak yang melakukan hal yang sama dan semua tampak nyaris seragam, ketika kamu jadi dirimu sendiri tanpa malu-malu, kamu akan stand out. Gitu aja.

Jadi, jawaban untuk pertanyaan ‘apa ngeblog itu masih ngetren’, saya enggak tahu benar. Satu-satunya cara mungkin melihat dari statistik. Saya kasih lihat, ya, gimana penampakan statistik tulisan saya di bawah ini:

Iya, setiap tulisan saya di sini, dibaca sebanyak itu. Saya juga enggak terlalu memperhatikan angka-angka ini kecuali ada hari yang memang saya ingin tahu sekadar untuk melihat; apa sih yang dicari orang ke blog saya. Itu aja. Angka-angka di atas itu memperlihatkan kalau saya masih ada harapan, itu aja, sih. Kalau blog ini masih ada yang baca dan datang sesekali waktu.

Buat saya—dan ini pendapat pribadi, sih—karena blog ini sangat personal dan semua yang ada di dalam ini adalah tentang apa yang saya suka, pikir, lalu ingin bagikan, maka saya lebih memilih orang datang ke sini dan membaca karena mereka tahu siapa saya dan apa yang saya bicarakan di sini. Bukan dari google search. Saya lebih memilih kedekatan personal pembaca dengan tulisan saya dibanding mereka menemukan saya sekali saya dengan kata kunci tertentu, lalu melupakan saya. Tapi ini adalah pendapat pribadi yang bisa jadi egois, sih.

Buat kamu yang suka baca blog ini, jangan malu tinggalkan komen dan alamat blog kamu, ya. Saya suka datang ke blog lain dan membaca tulisan yang bukan iklan berbayar—karena saya udah capek dengan itu semua di sosial media lain. Biar kita bisa saling mengunjungi dan saling berteman. Seperti blog di beberapa tahun lalu. Hiks.

Jadi … blog masih ngetren enggak?

I really don’t know.

Really.

Saya ingin menulis. Itu saja.