Ekspektasi, Lofi Radio, Story Structure, dan Podcast Mantra

by | Aug 14, 2018 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 0 comments

Halooo Manteman,

Apa kabar?

Sekarang sudah lewat jam dua belas dan tulisan ini ada di bawah kategori ‘Ceracau Pagi’. Ini bukan yang pertama, sih. Nyaris setiap ceracau pagi yang saya buat itu ditulis setelah siang, kadang malah menjelang malam. Awalnya kategori ini sengaja saya buat untuk tulisan pendek yang merisak pikiran saya di pagi hari. Semacam tulisan rambling tentang ini dan itu. Tapi, lama-kelamaan … selain jam rilisnya yang mundur, frekuensinya yang makin jarang, saya pun seperti kehilangan banyak hal untuk dikomentari di pagi hari. Yaaa … enggak apa, ya, hahahaaa. Pokoknya ini adalah kategori yang paling saya suka. Kalau saya ingin menulis di bawah kategori ini, biasanya—akhir-akhir ini—karena saya ingin menceritakan sesuatu. Itu saja.

Belakangan ini saya enggak sibuk tapi teratur—ini sebenar-benar teratur. Di Aksarayana, ada jadwal harian yang harus dipenuhi. Misalnya Senin, itu adalah hari untuk Reread Harry Potter. Jadi sejak pagi atau siang, biasanya, saya membaca satu bab Harry Potter dan menjelang malam, saya akan menulis tentang apa-apa yang menarik dari hasil membaca ulang itu. Selasa, itu adalah hari untuk Setoples Kenangan. Cerbung ini beneran saya tulis dan rilis di Selasa. Sejak siang saya sudah mulai menulis, membuat image, dan menyiapkan rilisnya di Aksarayana. Untuk urusan promosi sosial media, ada Ririn yang handle, jadi memang ini kerjasama, sih, bentuknya.

Lalu di Rabu, ada cerpen sayembara bulanan yang dirilis. Ini kerjasama saya, Ririn (promo, review, apresiasi, layout web), dan Gian (sampul dan image untuk promo). Kamis saya libur di Aksarayana karena itu hari untuk Salam Manis Pacar. Jum’at ada cerpen sayembara lagi atau kalau kosong, diisi dengan Beautiful Words atau yang lain. Sabtu ada Heartbreak Recipe jadi saya libur lagi. Minggu ada Story Structure dan karena saya yang pegang, jadinya sejak pagi atau siang, saya sudah siap-siap membaca materi yang akan ditulis sore harinya. Begitu terus selama hampir dua bulan.

Saya tahu kalau saya perlu rutinitas. Sesuatu yang rutin untuk beberapa lama jadinya saya terbiasa dan enggak ada alasan untuk enggak melakukannya. Kalau dilihat jadwal di atas itu, yang saya ceritakan tadi, kayak tumpukan tanggung-jawab dan memang iya. Yang enggak kelihatan adalah betapa saya senang melakukannya. Tekanan memang ada, tapi enggak banyak. Yang lebih banyak malah chat haha-hihi dengan Ririn dan Gian. Semua dibawa senang saja. Kemarin, ketika saya sedang membuat image untuk Reread Harry Potter, saya baru sadar kalau pekan ini sudah tujuh pekan kami melakukannya, rutin, konsisten, dan sambil bergembira.

Beberapa hari yang lalu, saya punya bahan obrolan yang sama dengan Ririn dan Gian; tentang konsistensi. Memulai sesuatu itu mudah. Langkah pertama itu memang sulit—katanya—tapi juga punya tingkat kepuasan yang tinggi. Kamu bisa bikin satu bab pertama draf novel kamu, misalnya, untuk memulai memang susah. Kamu harus berubah dari keadaan enggak bergerak, menjadi bergerak, dan inisiasi energinya memang besar. Tapi ada yang lebih sulit; menjaga agar pergerakan itu tetap. Saya pernah baca di mana gitu, lupa, katanya perlu 60 hari untuk membangun kebiasaan. Kalau kamu ingin punya kebiasaan untuk bangun pagi setiap jam empat misalnya, setelah 60 hari, kamu akan melakukannya begitu saja. Di awal-awal memang sulit.

Manteman,

Pernah enggak kamu melakukan sesuatu dan setelah beberapa lama, kamu merasa bosan, enggak ada gunanya, enggak ada perkembangannya, yah … pokoknya itu bikin kamu sebel aja gitu. Ini yang kadang saya rasakan dengan banyak proyek kreatif yang saya lakukan. Setelah beberapa lama, rasanya, semua itu enggak akan berhasil. Tapi akhir-akhir ini, saya mulai mengurangi ekspektasi untuk apa yang ingin saya capai. Apalagi kalau ekspektasi itu mengenai apa-apa yang bukan dari dalam diri saya sendiri. Misalnya, saya suka dengan apresiasi yang diberikan Manteman untuk Story Structure setiap minggu; likes, komen, dan lainnya. Tapi kalau saya menjadikan ini acuan, beberapa pekan, pasti lelah saya jadinya. Saya tahu itu.

Proyek Story Structure itu awalnya dibuat karena saya memang ingin membagi apa yang saya tahu. Tapi, ketika saya memulai, saya menjadikannya lebih spesifik; saya ingin Ririn dan Gian tahu apa yang saya tahu. Jadi ketika mengerjakannya, saya memang spesifik seolah ingin membicarakan tentang hal itu dengan dua orang ini. Makanya saya sering bertanya pada mereka, “Gimana materinya? Oke enggak? Ngerti enggak?” Kalau mereka bilang oke dan paham, saya lanjut. Ini lebih bisa membuat saya enggak punya ekspektasi besar karena ‘ekspektasi’ itu kata yang berbahaya buat saya. Semacam bejana yang kalau enggak terisi sampai penuh, jadi enggak ada gunanya. Saya memecahkan bejana itu sejak awal.

Jadi, enggak ada ekspektasi yang gimana-gimana sekarang. Saya hanya ingin bersenang-senang.

Manteman,

Kalau sedang menulis, membaca, atau mengerjakan hal lain di depan komputer, kamu biasanya sambil dengerin apa? Saya, sih, dulunya dengerin iTunes atau Spotify. Sampai sekarang masih, sih—kalau saya lagi ingin mendengar lagu tertentu.

Beberapa waktu lalu, saya menemukan sesuatu yang unik di Youtube; Lofi Radio. Ini adalah streaming music live yang bisa kamu dengar di Youtube. Saya sendiri menemukannya secara enggak sengaja ketika saya sedang mencari lagu yang saya suka di sana. Awalnya, saya mikir, “Ini tuh buat apa?” Karena saya penasaran, yaaa … saya dengerin.

Lofi music itu mirip dengan musik yang kamu dengarkan di kafe. Bukan lagu yang terkenal, kamu suka, dan kamu hapal liriknya sehingga ketika kamu melakukan sesuatu—menulis misalnya—bisa jadi lagu seperti itu akan menjadi distraksi. Kamu berhenti dan karena kamu suka, kamu jadinya malah mendengarkan dulu lagu itu. Huft. Lofi music ini terdengar seperti musik yang akan menemani kamu tapi dia ada di belakang, membantu membangun ambience, tapi enggak menganggu. Kamu dengar ada musik di telingamu tapi musik ini enggak jadi fokus kamu. Ah, begitu kira-kira penjelasannya. Jadinya, setiap kali saya mau deep works, misalnya menulis yang saya enggak mau diganggu selama sejam atau lebih, saya akan mendengarkan lofi music ini. Genrenya bisa kamu pilih; jazz, akustik, dan yang saya suka; hip hop.

Mungkin saya enggak sendiri karena ada lima ribuan yang streaming kanal favorit saya, Chilledcow setiap kali saya streaming di sana. Mungkin juga ada yang punya keluhan seperti saya; ketika mendengarkan musik yang terlampau populer dan kamu sendiri suka, itu malah mengganggu. Kamu juga bisa coba, Manteman. Bisa jadi kamu juga punya masalah yang sama dengan saya.

Terus … cerita apa lagi, ya?

Oh, ada satu kanal podcast baru di Poddium. Namanya Mantra. Podcast ini dibuat oleh Shindy Farrahdiba. Kalau selama ini kamu mengenal Shindy sebagai vokalis band Makmur Sejahtera dan penulis, sekarang kamu akan mendengarkan dia sebagai podcaster yang membawakan mantra untuk kamu memulai hari.

Saya cerita sedikit, deh, konsep podcast ini. Jadi, waktu Shindy menceritakan konsepnya, saya tertarik setidaknya karena dua hal; saya suka mendengarkan radio di pagi hari, duluuu waktu saya masih punya pesawat radio, karena memang bisa membuat mood kamu bagus. Kamu mendengarkan penyiarnya bicara tentang hari itu, mengobrol entah apa ke sana-sini, dan itu menyenangkan. Konsep podcast Mantra itu seperti ini. Enggak perlu panjang, singkat saja, tentang hal-hal yang menyenangkan karena kamu—bisa jadi—perlu itu di pagi hari.

Jadi, Manteman … dengerin, ya~ Tinggalkan komen dan cerita bagaimana podcast Mantra dan isinya membuat pagimu jadi menyenangkan. ^^

Hmmm, saya lupa kalau saya ingin menjawab pertanyaan tentang produktivitas dan kreativitas. Ini saya jawab singkat aja, karena bisa jadi, saya ingin menuliskan lebih panjang nanti.

Enggak ada orang yang produktif dan kreatif sepanjang waktu. Ini dasar yang harus kamu pahami, Manteman. Ada waktu kamu akan merasa produktif banget dan enggak banget, atau di tengah-tengah dan rasanyaaa … meh—karena kamu tahu kalau kamu cuma mengerjakan sesuatu untuk bare mininum. Tapi, itu semua enggak mengapa. Seperti yang saya ceritakan di atas, kamu cuma perlu mengubah ekspektasi. Lakukan sesuatu untuk dirimu sendiri dulu. Kamu ingin menulis, menulislah karena kamu memang senang melakukannya, bukan karena ingin dilihat sebagai penulis atau karena kamu ingin memperlihatkan kalau kamu bisa menulis. Dua hal ini membuat kamu meletakkan ekspektasimu di tempat yang berbahaya; afirmasi orang lain.

Kamu juga musti paham kalau ini semua proses. Sambil menulis ini, saya juga sambil menasehati diri saya sendiri; ini semua proses. Kamu harus menumpuk satu demi satu bata untuk membangun—kalau meminjam istilah yang suka digunakan Gian—legacy-mu. Legacy kamu itu bisa apapun yang kamu inginkan dan impikan. Enggak ada legacy yang dibangun dalam semalam—Bandung Bondowoso bisa membangun candi dalam semalam tapi bukan itu yang dia kejar, kan? Dia ingin meluluhkan hati Roro Jonggrang dan butuh lebih dari sekadar seribu candi untuk itu.

Bersenang-senang. Bermain. Berteman. Itu saja, sih, yang mau saya bilang. Kalau kamu mau bermainmu jadi lebih menyenangkan, cari teman main yang menyukai permainan yang sama. Cari kumpulan teman yang di dalamnya, kamu merasa didukung, diterima, dan diperhatikan. Pertemanan yang toxic bisa mematikan apa yang sedang kamu bangun juga, soalnya.

Begitu aja, deh.

Udah panjang banget ini. Hahahaaa.

Kamu punya cerita apa pekan ini, Manteman? Kalau kamu menulis di blog, mensyen atau tag saya, ya. Saya mau baca.

Ya?

***

Credit to all images: https://unsplash.com/@evieshaffer