The Opposite of Loneliness

by | Sep 8, 2018 | Ceracau Pagi, Love & Relationship, Non Fiksi | 1 comment

We don’t have a word for the opposite of loneliness, but if we did, I could say that’s what I want in life. (John Gorman)

Saya membaca esai Marina Keegan pekan ini karena pembicaraan dan bacaan tentang kesepian (loneliness) nyaris memenuhi daftar bacaan saya beberapa bulan belakangan. Saya mengerti tentang kesepian, perasaan ditinggalkan, dibiarkan sendirian, dan enggak dipedulikan. Tapi saya enggak paham mengapa akhir-akhir ini perasaan itu jadi semakin umum, banyak diceritakan, dan dibagi—selain karena alasan bahwa banyak banyak orang yang menulis tentang itu dan internet membantu saya menemukannya. Di Inggris, kesepian sudah jadi kondisi yang mematikan, Millennials katanya lebih kesepian dibanding generasi lain, dan orang muda di Amerika adalah yang paling kesepian.

Saya pikir, kesepian itu enggak ada hubungannya dengan seberapa banyak kamu punya teman atau seberapa lama kamu menghabiskan waktu dengan temanmu untuk hangout atau sekadar bertemu. Saya tahu ini karena sebagian besar waktu saya, saya habiskan sendirian dan kebanyakan dari waktu itu, saya merasa baik-baik saja. Saya introvert seperti yang banyak orang kira. Hmmm, by the way, sampai urusan introvert dan extrovert ini, kayaknya ada banyak salah persepsi, ya.  Kamu bisa baca lebih lengkapnya di sini.

Introvert/extrovert itu bukan urusan kamu suka gaul, kongkow, atau bukan. Tapi tentang bagaimana kecenderungan perhatian yang kamu punya, kamu arahkan. Jadi, bukan tentang seberapa banyak bicara atau pemalunya seseorang. Saya introvert karena saya lebih suka berpikir, membawa apa-apa yang saya pikirkan ke dalam diri saya, reflektif, tapi saya banyak bicara. Saya juga suka dengan keramaian walaupun enggak bisa kuat lama. Setelah bertemu banyak orang dan melakukan banyak interaksi, saya biasanya perlu waktu beberapa hari untuk mengisi ulang energi saya karena, yah, ini sesederhana enggak semua interaksi itu membuat ‘penuh’ orang-orang introvert seperti saya. Kebalikannya, orang extrovert enggak selamanya banyak bicara, ceria, dan aktif. Bisa jadi dia pendiam. Orang extrovert akan mencari tempat mengisi baterai mereka ke luar dari diri mereka; ketemu orang, pergi ke keramaian—introvert sebaliknya.

According to these theories, an introvert is a person whose interest is generally directed inward toward his own feelings and thoughts, in contrast to an extravert, whose attention is directed toward other people and the outside world.

Dua tipe ini sekarang disederhanakan jadi semacam; orang pemalu dan banyak bicara. Udah, gitu aja. Padahal, enggak begitu. Lebih jauhnya, pemahamanmu tentang tipe ini—dan tipe apa dirimu—bisa kamu pakai untuk menjaga dirimu sendiri, kan. Misalnya kayak saya, kalau saya tahu saya lelah, saya enggak akan banyak bicara dengan orang-orang. Lebih suka diam, membaca, nge-games, nulis, atau membiarkan pikirian saya jalan ke mana-mana. Kalau kamu ketemu saya, percayalah, saya ini banyak bicara dan bukan pendiam apalagi pemalu.

Ah, jadi bahas ini, deh…. 😀

Balik lagi, ya~

Kesepian yang sebenarnya bukan karena kamu sendirian, sepertinya. Kamu mungkin akan kesepian ketika kamu baru pindah ke tempat baru, mulai kuliah, atau mulai pekerjaan baru. Orang-orang di tempat itu belum kamu kenali dan karena itu kamu merasa sendirian. Tapi kamu bisa kenalan, lalu kalian mulai pertemanan. Jadi, ini juga bukan kesepian.

Tentang mulai di tempat baru, saya punya teori tentang betapa mudahnya memulai pertemanan ketika kamu ada di satu lingkungan yang memaksa kamu bertemu setiap hari secara terus-menerus. Misalnya; sekolah. Mudah sekali untuk mendapat teman di sekolah—apalagi di SD. Kamu dan temanmu hanya perlu satu kesamaan yang enggak penting dan enggak prinsipil, misalnya; kalian satu kelas. Kelar. Kalian pun bisa berteman. Hal ini agak sulit ketika masuk ke bangku kuliah—setidaknya pengalaman saya begitu. Kampus itu dunia yang berbeda.

Ketika kamu baru masuk ke kuliah, di tahun pertama, kamu akan punya banyak sekali teman. Kamu akan hangout dengan sekelompok besar mahasiwa yang juga baru masuk, sama sepertimu. Ketika itu, semua terasa akan baik-baik saja. Kamu enggak akan kesepian. Kuliah bukan SMA dengan aturan dan hal-hal mengekang lainnya. Sekarang kamu bebas. Untuk berteman apalagi. Tapi, itu enggak sepenuhnya benar. Masuk tahun kedua, pertemananmu akan makin kecil karena teman-temanmu mulai membuat kelompoknya sendiri. Kelompok ini bisa jadi berdasarkan minat atau hal lain.

Ini adalah segregasi sosial yang akan terjadi, kamu ingin atau enggak. Di tahun berikutnya, bisa jadi kamu hanya akan punya beberapa orang teman. Semakin ke atas, kamu akan semakin sepi. Tapi itu enggak mengapa sebenarnya karena kamu enggak perlu teman banyak-banyak. Ada penelitian yang bilang kalau kita hanya perlu—dan hanya bisa punya—lima teman dekat.

Lebih dari itu, ternyata … kesepian itu enggak ada hubungannya dengan sebanyak apa temanmu. Bisa jadi itu juga enggak ada hubungannya dengan kamu sendirian atau enggak sendirian. Saya sering sendirian tapi saya enggak merasa kesepian.

Real loneliness runs deeper than that. It’s feeling alone even when you aren’t actually alone.

Lebih dari itu, kesepian itu:

Loneliness isn’t feeling like you don’t really know anybody. It’s feeling like nobody could ever really know you.

Makanya, ketika saya melihat ada yang curhat di sosial media tentang dirinya, urusan personal, dan hal-hal terdalam tentang dirinya, saya melihat itu sebagai usaha agar orang lain mengenal siapa dirinya. Agar yang punya pengalaman sama atau yang punya perasaan sama, bisa menemukan mereka dan kesamaan ini bisa membuat mereka bicara lebih banyak lagi. Semacam pemancar gelombang radio yang berusaha menjangkau daerah yang luas agar diterima oleh satu-dua atau beberapa radio yang dimiliki oleh orang dengan selera musik tertentu, misalnya.

Oversharing di sosial media, bisa jadi adalah tanda subtle; enggak juga mereka menemukan ‘radio-radio’ yang memutar dan mendengar ‘lagu’ yang mereka coba siarkan.

Sepertinya saya punya kecenderungan untuk banyak membahas tentang sosial media, ya, beberapa tahun belakangan. Topik ini memang sangat menarik perhatian saya.

Lanjut, ya….

Masalah mulai timbul ketika kamu sadar bahwa sosial media secara umum enggak merepresentasikan dirimu secara utuh dan jujur, tapi; highlight, kurasi, sugar-coating. Saya enggak bilang ini palsu, sih, tapi ini jadi semacam panggung pertunjukan. Kalau yang kamu pertontonkan bukan karya atau hal-hal yang ada di luar dirimu, maka kamu akan mempertontonkan dirimu. Ketika karya itu bisa dikonstruksi untuk menjadi luar biasa bagus untuk menarik perhatian, dirimu pun begitu. Kalau kamu enggak punya hal lain yang dipertontonkan, maka kamu akan membuat pertunjukan tentang dirimu sendiri dan kamu jadi dirimu sendiri to the maximum level. Ini enggak palsu, kok. Ini cuma dirimu yang versi paling baik.

Ketika lawan dari kesepian adalah terhubung dengan seseorang sampai ke di kedalaman pembicaraan dan kedekatan—dan ini enggak selalu romantis, ya, urusannya—yang membuatmu merasa dilihat, dikenali, dan dipahami, representasi dirimu yang paling baik di sosial media itu akan membuat kamu sulit menemukan kepuasan dari interaksi karena, pertama kamu tahu interaksi di sana hanya untuk apa yang kamu tunjukkan (dan bisa jadi orang enggak relate sehingga enggak sampai salam), dan yang kedua, bagaimana caranya mencari seseorang yang akan memahamimu kalau yang kamu tunjukkan itu bukan yang apa adanya.

Sampai di sini, ketika saya memahami ini, saya pun menyadari bahwa sosial media itu perpanjangan dari interaksi yang sebenarnya, dia bukan interaksi itu sendiri. Interaksimu dengan temanmu, kalian bicara, tertawa, jalan bareng, itu enggak akan terganti dengan likes dan komen—tapi bisa dibalik; likes dan komen menyempurnakan dan membuat interaksi yang genuine jadi lebih menyenangkan.

Ini juga yang membuat masuk akal kenapa idola yang punya banyak fans merasa kesepian; fans-nya melihat dia hanya dari apa yang dia tunjukkan—hidup yang nyaris sempurna.

Intinya, sih, kalau kamu enggak memperlihatkan apa yang ada di luar kamu (karya, hobi, atau apapun yang kamu buat), maka kamu akan memperlihatkan diri kamu di sana. Ketika yang kamu perlihatkan itu dirimu dengan segala insecurities, keresahan, dan kesedihan, kalau ada apa-apa (misalnya ada yang enggak suka padamu) itu yang akan dia serang balik. Kamu jadi aktor untuk memerankan dirimu sendiri, selalu yang versi paling baik, setiap kali, sampai-sampai bisa jadi, di satu titik, apa yang ada di sosial media itu bukan lagi dirimu yang kamu kenal. Kalau sudah begitu, bagaimana caranya menemukan orang yang akan mengenal dan memahamimu di sana? Dari sini mulainya urusan ‘sosial media itu membuat tingkat depresi makin tinggi’, sepertinya…. Lalu kesepian jadi masalah selanjutnya.

When we’re lonely, what we’re really craving is more connecting, not more connections.

Yang bisa menghilangkan kesepian itu hanya kedekatan yang benar hangat dan pembicaraan yang benar dekat.

The opposite of loneliness is intimacythe act of revealing your whole self to someone else and having them reciprocate. It is something you can only do one-on-one, face-to-face, soul-to-soul.

karena itu kamu enggak perlu banyak orang untuk bikin kamu enggak kesepian lagi.

Saya akan menutup tulisan saya hari ini ke kamu dengan cerita ini, deh. Tahun 2010 di The Museum of Modern Art (MoMA), Marina Abramovic melakukan performing art yang temanya tentang kehadiran, judulnya ‘The Artist is Present’. Awalnya, Marina enggak menyangka pertunjukan ini akan berhasil—bahkan akan ada yang datang dan lihat. Tapi dia punya keyakinan bahwa ada sesuatu, yang sekarang ini, enggak lagi bisa disampaikan antara orang yang satu ke orang yang lain karena dua orang itu (yang menyampaikan dan yang jadi obyek untuk penyampaian pesan itu) enggak pernah benar-benar hadir. They’re not present.

Sebagai seorang seniman, dia menggali ide ini, dan ingin menunjukkan bahwa dia ‘hadir’. Yeaaah … ini yang disebut dengan ‘seni pertunjukan’ yang brilian, kan? Hahahaaa….

Konsepnya begini. Akan ada dua bangku yang diletakkan berhadapan dan Marina akan duduk di salah satunya. Pengunjung bisa duduk di bangku yang satunya lagi, lalu mereka akan berhadapan, dan pengunjung bisa menyampaikan apa-apa yang ingin dia sampaikan ke Marina tanpa bicara. Marina akan memperlihatkan bahwa dia mengerti, bahwa dia merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang duduk di depannya selama yang mereka perlu. Sederhana, kan? Sederhana … dan kemungkinan gagalnya tinggi.

Tapi, teryata konsep itu berhasil. Banyak pengunjung yang duduk di depan Marina dan menangis karena begitu dalam luka dan kepahitan yang ingin mereka sampaikan. Ada yang hanya bertatapan. Banyak dari mereka yang berkata bahwa itu adalah kali pertama seseorang benar ‘melihat’ dan memahami mereka padahal enggak ada pembicaraan sama sekali. Marina sendiri mengatakan bahwa tiga bulan melakukan pertunjukan ini, duduk di bangku itu selama delapan jam sehari, membuat dirinya jadi orang yang berbeda setelahnya. Dia melihat dan merasakan begitu banyak emosi dan perasaan yang disampaikan padanya. Dia pun jadi berubah.

Tapi bukan hanya itu yang menarik. Di hari pertama pertunjukannya, datang Ulay.

Saya nyeritain siapa itu Ulay dulu kali, ya.

Di awal karirnya, Marina dan Ulay partner-an untuk membuat banyak pertunjukan. Walaupun ada pertunjukan yang dia lakukan sendiri, misalnya pertunjukan di mana dia berdiri di depan sebuah meja dengan benda-benda yang bisa digunakan untuk menyiksa atau memberikan perasaan senang. Pengunjung bisa melakukan apapun padanya dengan menggunakan benda-benda itu. Awalnya orang-orang hanya meletakkan setangkai mawar … lama-lama, karena enggak ada batasan, mereka pun mulai membuka semua pakaian Marina, menuliskan macam-macam di kulitnya, dan yang paling brutal, meletakkan pistol di tangannya dan mengarahkannya ke kepala Marina. Meminta Marina untuk menarik pelatuknya. Untungnya, pengunjung lain menghalangi dan terjadi pertengkaran di sana.

Manusia yang dibiarkan tanpa aturan memang akan jadi sangat menyeramkan. Sama seperti yang terjadi di Stanford Prison Experiment. Marina bilang pada akhirnya bahwa manusia itu bisa jadi sangat menakutkan. Kemungkinan untuk menjadi apapun untuk manusia itu enggak terbatas, begitu juga dengan batasan untuk menjadi kejam.

Di beberapa seni pertunjukan lain, dia melakukannya berdua dengan Ulay. Misalnya ada satu pertunjukan yang Ulay memegang anak panah dan Marina memegang ujungnya—posisi mereka pun dibuat miring seringga mereka jadi saling menahan. Kalau Ulay enggak kuat menahan, begitu juga dengan Marina, maka anak panah itu akan langsung menusuk jantung Marina. Biar lebih menarik, sensor untuk mengetahui degup jantung Marina pun dipasang dan diperdengarkan ke semua pengunjung yang datang. Mereka memang pacaran dan jadi enggak terpisahkan.

Tapi, semua yang dilakukan berdua enggak akan selamanya baik-baik saja. Apalagi kalau ada cinta di antaranya. Hubungan mereka pun menjadi memburuk dan mereka memutuskan untuk berpisah dengan cara … yah, dengan cara yang sangat nyeni, lah. Mereka sama-sama berjalan dari ujung-ujung Tembok Besar Cina dan berjanji untuk bertemu di tengah. Setelah mereka bertemu, mereka akan bicara untuk terakhir kali, lalu berjanji untuk enggak akan bertemu lagi selamanya. Perlu tiga bulan untuk berjalan sampai akhirnya mereka bertemu. Lalu, mereka berpisah.

Balik lagi ke pertunjukan The Artist is Present di MoMA, di hari pertama, tanpa diketahui Marina, Ulay hadir di sana. Keduanya pun saling memandang, saling bertukar luka yang lama ada, lalu Marina menangis. Kejadian ini sempat direkam dan aaah … emang kalau kamu pernah cinta sama seseorang, kamu itu enggak akan pernah menghilangkan semua cintanya—karena lawan cinta bukan benci, tapi enggak peduli. Kamu bisa enggak peduli tapi di dalam masih ada sisa cinta. Huft.

Sejak itu, Marina dan Ulay pun berdamai lalu kembali kerja bareng. Sebenarnya ada banyak cerita lain di belakang itu, sih. Salah satunya tentang Ulay yang menuntut Marina secara hukum untuk seni pertunjukan yang dia lakukan sendiri setelah mereka berpisah tapi ide awalnya dibuat berdua. Tapi cerita ini terlalu panjang untuk diceritakan.

Sampai di sini, saya mau bilang; semakin banyak manusia di sekeliling kita, aneh rasanya kalau kita masih juga merasa kesepian. Dengan kemudahan komunikasi, aneh rasanya kalau kita masih juga merasa sendirian. Tapi kemudian enggak jadi aneh kalau kamu paham bahwa intimacy (kedekatan) itu enggak bisa digantikan dengan apapun, dibantu dengan teknologi bisa, tapi digantikan … enggak.

Jadi, benar adanya bahwa manusia itu makhluk sosial. Kesepian membunuh. Adam pun kemudian ditemani Hawa. Tapi makna dari ‘makhluk sosial’ itu sepertinya perlu dipahami bukan lagi tentang manusia itu senang kumpul-kumpul, ada di satu komunitas, atau di tempat ramai lainnya. Sudah terbukti manusia bisa kesepian di keramaian. Manusia butuh terhubung, butuh kedekatan, butuh intimacy—as the opposite of loneliness~

Apa kabarmu, Manteman?