Tentang Self Care, Best Moments, dan Hidup yang Lebih Produktif

by | Sep 30, 2018 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 2 comments

“The loneliest moment in someone’s life is when they are watching their whole world fall apart, and all they can do is stare blankly.”

F. Scott Fitzgerald

Awal tahun itu, sudah sore di Jakarta ketika saya berjalan melewati jembatan penyeberangan. Padat lalu-lintas di bawah dan matahari rendah yang merah, saya katakan padanya, “But I’ve done my best.”

Dia jawab, “Your best isn’t what best for you—always best for anybody else but you.”

Saya sudah lupa kapan saya terakhir kali meletakkan kepentingan saya di atas kepentingan orang lain. Saya teringat sebuah tulisan yang rasanya pernah saya baca di Medium—dan saya sudah mencoba mencari tautannya tapi enggak ketemu, saya akan coba lagi nanti—kalau menjadi perempuan itu selalu saja menjadi yang berikutnya, menjadi bukan yang di depan karena mereka akan selalu mendahulukan orang lain. Enggak ada yang memasak untuk mereka karena mereka yang diharapkan untuk memasakkan orang lain. Enggak ada yang mencucikan baju mereka, merapikan kamar mereka, atau membereskan rumah mereka. Semua mereka lakukan sendiri. Kalau pun ada, semisal mereka punya asisten rumah tangga, itu adalah usaha dari mereka sendiri atau pasangan mereka untuk membuat diri mereka enggak terlalu lelah. Tapi, betapa jarangnya ada yang melakukan itu untuk mereka.

Saya pun merasa demikian.

Ini foto si Tole ketika saya punya waktu untuk menghabiskan siang dengan pergi membeli pizza dengannya. Satu dari momen terbaik di tahun ini.

Bahwa menjadi perempuan, saya punya lebih banyak kesempatan di mana ketika itu, saya harus mengalah atau menyerah. Saya enggak ingin lagi melakukannya. Saya ingin memenangkan diri saya. Sekali ini dan lalu, di banyak kali yang lain. Terutama di satu hal yang selalu saja memakan banyak kebahagian saya; hubungan sosial.

Satu atau dua tahun belakangan, saya mulai menyadari bahwa saya menghabiskan banyak waktu untuk melayani orang lain—yang bukan tanggung-jawab saya. Anak-anak dan suami, itu tanggung-jawab saya. Tapi teman-teman atau kenalan di sosial media—apalagi—seharusnya bukan tanggung-jawab saya. Seharusnya, saya bisa meletakkan kepentingan saya di atas apa pun yang mereka tuntut dari saya. Misalnya; waktu dan perhatian. Tapi saya enggak juga mengerti ini. Saya melayani banyak obrolan panjang tanpa tujuan karena enggak mau dianggap judes. Saya membalas banyak komentar di sosial media karena saya merasa kalau saya memang harus melakukannya—padahal seharusnya enggak.

Saya mencari afirmasi dan mencoba untuk diterima di satu atau lebih kelompok karena saya merasa, di dunia seperti ini (saya sedang mencoba untuk menjadi penulis) saya enggak bisa sendirian. Ada di satu atau lebih kelompok akan membuat saya merasa aman, diterima, dan tertolong kalau ada apa-apa. Yang mana, seiring waktu berjalan, saya jadi paham bahwa semua itu enggak ada hubungannya dengan apa yang sedang saya usahakan; mastery of the craft.

Enggak ada substitusi untuk menjadi penulis yang lebih baik selain; membaca, menulis, dan berdiskusi—bukan bergosip. Ini yang saya enggak pahami dulu. Ini jalan yang saya takutkan. Saya takut, kalau saya sendirian di sini, saya enggak akan bisa jadi apa pun. Saya takut, kalau saya enggak masuk ke kelompok mana pun, saya enggak akan diakui. Ketika itu saya lupa, bahwa saya membiarkan afirmasi jadi konfirmasi tentang kemampuan saya yang sebenarnya. Ini menjadi tekanan yang luar biasa berat karena saya tahu, enggak semua pertemanan dan kelompok di dunia kepenulisan ini sehat. Banyak yang kemudian membuat beban yang seharusnya enggak ada menjadi ada.

Beban ini bisa datang dari obrolan di aplikasi chat tentang orang-orang tertentu (yang juga aspring writer) tentang apa pun selain tulisan mereka; sifat, kepribadian, tindakan mereka di sosial media, dan lainnya. Obrolan enggak sehat yang membuat saya merasa bahwa waktu saya habis dan tenaga saya terkuras. Semua ini kemudian membuat saya kehilangan bagian paling penting dari proses berkarya; have fun!

We need to have fun!

Saya masih ingat kalau saya mengambil foto bunga ini setelah hari cerah di musim penghujan di awal tahun ini. Salah satu hari paling indah.

Menulis dengan konsisten itu sulit. Konsistensi yang dituntut untuk mastery itu bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun. Untuk bertahan di sana, saya tahu, saya harus merasa bahwa semua ini menyenangkan. Kalau tidak, saya akan hidup di dalam siksaan.

Saya pun keluar dari kerumunan karena di sore itu, saya pun paham kalau saya sudah lama enggak mendengar suara saya sendiri yang tenggelam di riuh pembicaraan dan perdebatan. Saya pun menepi. Ketika itu, saya juga berdo’a; pertemukan saya, pertemukan saya dengan orang yang bisa menemani tanpa harus meracuni.

Saya tahu, do’a itu akan jadi sesuatu yang sulit. Memulai pertemanan, apalagi di usia seperti saya, itu enggak mudah. Bertemu dengan orang baru yang sama minat dan kami bisa bertahan lama—lupakanlah dulu urusan kerjasama dan kerja bareng membuat ini-itu—bisa jadi hanya akan jadi harapan saja. Ketika saya mendo’akan itu, saya juga sudah siap kalau do’a itu enggak akan pernah terkabul.

Tapi kemudian, berbulan setelah itu, saya dipertemukan. Awalnya dengan satu orang, lalu dengan satu yang lain, lalu … dengan yang lainnya!

Saya enggak bisa menghitung momen terbaik saya di tahun ini karena banyak sekali. Setiap kali saya bertemu dengan mereka adalah momen terbaik. Dengan mereka-mereka ini, saya membuat proyekan yang membuat saya ingin bangun di pagi hari dan ada di depan laptop karena saya ingin menulis, saya ingin bicara dengan mereka, saya ingin berdiskusi, saya ingin tahu apalagi yang saya bisa lakukan, batas apalagi yang bisa dirobohkan.

Bisa jadi, saya bertemu dengan mereka karena saya juga melakukan self care yang ketat pada diri saya sendiri. Semacam diet dan itu saya lakukan beberapa waktu sebelumnya dengan susah-payah karena sebelumnya, saya sudah terlampau terbiasa dengan gaya komunal untuk berkarya. Self care yang saya lakukan, misalnya; berhenti mencampuri apa pun yang bukan urusan saya di sosial media, misalnya dengan berkomentar sinis atau nyinyir. Saya berhenti kepo dan menilai orang di sosial media dan kehidupan nyata. Setiap orang punya penderitaan dan perjuangannya sendiri dan saya enggak akan jadi apa pun yang menambah berat walaupun itu hanya di dalam hati dan belum saya katakan.

Saya berhenti menjadi kritikus kecuali memang saya diminta. Enggak semua orang ingin dikritik ketika berkarya dan enggak selamanya kritik yang saya berikan ada gunanya. Saya lebih banyak membaca, menulis, dan di sisa waktu, saya berdiskusi—bukan juga tentang hal remeh-temeh, tapi apa-apa yang mengganjal, apa-apa yang selama ini enggak terkatakan.

Saya membuat podcast (tiga podcast yang saya jadi podcaster-nya dan tiga podcast lain sebagai produser di Poddium), saya menulis draf novel dan selesai (sesuatu yang jarang bisa saya lakukan), saya dan teman-teman kemudian membuat Aksarayana untuk kurasi karya dan berbagi ilmu kepenulisan. Lalu di awal bulan ini, saya mencoba membuat instanovel, Dusk and Dawn. One thing leads to another thing. Semua terasa ringan, menyenangkan, membahagiakan, dan membuat saya merasa enggak sendirian tapi juga enggak sesak dengan begitu banyak orang dan kepentingan. Sampai suatu ketika, saya menyadari bahwa saya punya banyak. Saya mendapat banyak melebihi apa yang saya minta. Abundant!

Semua itu merangkai banyak best moments bukan hanya di kehidupan sosial saya yang jadi lebih sehat, tapi juga di urusan produktivitas. Dua hal ini saling berkaitan sepertinya. Kamu enggak bisa punya produktivitas yang baik selama kamu ada di lingkungan dengan orang-orang yang negatif. Begitu teori saya.

Jadi, itu best moments saya di tahun ini; jalan-jalan, menulis, berkarya, berkolaborasi, dan semua dilakukan dengan senang tanpa tekanan. Sebelumnya, jarang sekali saya bisa seperti ini. Mungkin karena yaaah … itu tadi; saya enggak ada di lingkungan yang mendukung dan sehat. Setelah saya mengubah diri saya jadi lebih baik, sekarang saya ada di sana dan saya sungguh berkelimpahan.

Akhirnya, saya bisa mengatakan seperti yang Walter White katakan pada istrinya di episod finale Breaking Bad karena saya memang merasakan itu sekarang, “I did it for me. I liked it. I was good at it. And I was really — I was alive.” 

Enggak ada momen yang bisa mengalahkan perasaan seperti itu bagi seorang kreator–it’s the best!

Banyak dari hal-hal yang berkelimpahan itu saya abadikan dalam foto agar saya enggak lupa. Semua diambil dengan kamera ponsel. Saya suka menggunakan DSLR, tapi … akhir-akhir ini, saya ke mana-mana kadang membawa laptop, buku, dan entah apa lagi isi tas saya. 

Menambah ‘penderitaan’ dengan membawa DSLR itu kalau bisa akan selalu saya hindari—kecuali memang saya enggak bisa menggantikannya dengan kamera ponsel. Tapi sepertinya, kamera ponsel jaman sekarang sudah bisa melampaui apa yang bisa dilakukan oleh kamera ponsel. Setiap momen yang saya abadikan dalam foto memang enggak selalu saya bagikan. Tapi buat saya, foto yang bagus untuk menyimpan momen itu penting—apalagi kalau kamera ini bisa pas di kantong dan enggak merepotkan.

Ini momen yang paling menyenangkan di awal tahun ini; bertemu dengan seorang teman, jalan-jalan keliling Jakarta, tapi enggak mengambil banyak foto karena ponsel diletakkan di dalam tas dan lupa dikeluarkan–saking menyenangkannya pertemuan itu.

Saya masih berjalan keliling Jakarta, melewati satu jembatan penyeberangan ke jembatan penyeberangan lain. Masih senang sekali melihat matahari nyaris terbenam. Tapi rasanya berbeda di sepanjang tahun ini, karena saya tahu, kalau saya pulang nanti, dan saya punya malam panjang yang sayang habiskan di depan laptop, saya akan punya orang-orang yang bersama mereka, saya bisa menjadi saya yang lebih baik. Orang-orang yang datang mungkin sebagai jawaban atas do’a, mungkin juga karena saya yang sekarang sudah menjadi pantas untuk mereka.

Ini senja paling indah di Jakarta yang tertangkap kamera ponsel saya di tahun ini.

Saya masih melakukan self care; membiarkan banyak orang membantu saya dan enggak berkeras bahwa saya harus melakukan semuanya sendirian. Saya menahan keinginan untuk kepo, berkomentar sinis atau nyinyir, dan mengurusi urusan orang lain yang bukan urusan saya. Kalau urusan saya yang diurusi mereka atau dinyinyiri? Yah … saya enggak punya solusi untuk ini selain; biarkan dan lupakan. Tapi kalau sudah masuk ke tahap mengganggu; pastikan kamu melakukan apa pun yang kamu perlu semua itu enggak sampai padamu—dengan memutuskan hubungan di sosial media, misalnya.

Saya mulai memberanikan diri untuk meminta menghabiskan waktu sendirian kalau saya memang perlu itu. Kadang saya pergi jalan-jalan, kadang saya hanya tidur seharian—karena saya perlu ini. Kalau saya menghabiskan waktu itu di luar rumah, saya akan mengambil foto untuk mengingatkan bahwa ini adalah momen terbaik saya—satu dari banyak. Saya mulai memprioritaskan ketenangan dan kebahagiaan saya sendiri; bahwa saya penting, perasaan saya penting.

Kamu juga, ya, Manteman…. Jaga dirimu. Lakukan self care, apa pun yang kamu perlu. Saya susah membuktikan bahwa kamu perlu untuk menjadi positif dulu sebelum akhirnya kamu bisa masuk ke lingkungan yang positif, dan semua yang ada di sekitarmu pun jadi positif. Katakan hal yang baik-baik pada orang lain bukan saja untuk membuat mereka senang, tapi juga untuk membuat dirimu sendiri senang karena kamu jadi versi terbaik dari dirimu.  Agar momen-momen terbaikmu datang—tanpa henti kalau bisa.

Melanjutkan pembicaraan di atas tentang kamera, semua foto yang saya pajang di sini diambil dengan kamera ponsel—seperti yang saya ceritakan di atas, saya mulai kerepotan membawa DSLR ke mana-mana akhir-akhir ini. Untuk mengambil foto sebaik itu, saya merekomendasikan kamera ponsel yang punya spesfisikasi tertentu, sih. Walaupun pada akhirnya foto-foto itu diedit juga, tapi kamu harus punya foto mentah yang bagus untuk bisa diedit jadi foto yang jauh lebih bagus (atau kalau tanpa diedit pun foto itu sudah baik dan sesuai dengan selera kamu, itu lebih oke lagi).

Foto ini diambil ketika saya ikut Tuan Sinung lembur dan berakhir dengan kami jalan-jalan ke Kota Tua. Ini juga jadi momen yang enggak terlupakan karena ini kali pertama saya datang ke Kota Tua dan yang paling menarik perhatian saya, tentu saja; museum. Saya masuk ke Museum Wayang yang ada di sana. Sayangnya, hari itu Museum Fatahillah ditutup karena ada panggung musik di bagian depannya.

Saya ingin punya ponsel baru lagi, sih. Yah … saya ingin yang desainnya bagus (biar enggak malu-maluin, kan, kalau dikeluarkan di tempat umum). Lagian, menurut saya, desain ponsel itu seharusnya menjadi komplimentari dari penampilan penggunanya; ngebikin kamu jadi kelihatan lebih kece. Terus kalau bisa, yang punya kamera depan dan belakang dengan AI 24 MP + 2 MP di bagian depan dan 16 MP + 2 MP di belakang. Ini sebenarnya preferensi yang penting karena enggak selamanya kamu mengambil momen yang ada di sekitarmu, kamu juga perlu selfie dan menjadi bagian dari momen itu di foto yang kamu ambil, kan? Karena itu saya perlu kamera depan yang bagus.

Saya juga ingin storage yang besar. Foto bagus itu selalu saja urusannya dengan file yang ukurannya lumayan (sekitar 1-2 MB). Saya sendiri punya kebiasaan untuk menyimpan banyak foto di ponsel tanpa memindahkannya ke laptop—semacam enggak mau repot, sih. Jadi, saya perlu storage yang besar. Saya tahu ponsel pintar seperti Huawei Nova 3i punya storage 128 GB dan jadi yang terbesar di kelas ponsel pintar mid-end saat ini. Can I have that?

Terakhir, saya mau ponsel saya bisa untuk gaming dengan lancar, jadi saya ingin GPU. Iyaaa … iya, saya tahu saya banyak maunya. Tapi, bagaimana saya tahu harus melakukan apa kalau saya enggak tahu apa yang saya mau. Iya, kan?

Oh, ini best moment yang agak aneh karena ini kali pertama saya ke Museum Transportasi di TMII padahal jaraknya dekat dari rumah saya. Huft. Saya mengambil foto sedang duduk di kereta tua karena melakukan perjalanan jauh dengan kereta adalah impian saya. Mungkin tahun depan itu akan jadi best moment saya nanti. Mudah-mudahan.

Saya ingin punya lebih banyak lagi best moments di tahun depan. Saya ingin mengabadikannya. Saya ingin diingatkan bahwa tahun ini—yang masih tersisa beberapa bulan—sudah banyak memberi momen terbaik dalam hidup saya. Saya ingin tahun depan, momen itu bertambah lagi, lebih banyak, lebih menyenangkan, dan lebih baik. Mungkin punya ponsel pintar baru akan jadi salah satunya. Hehe.

Saya juga sebisa mungkin ingin tetap seperti ini; do my best and have fun.

Apa kabar, Manteman?

Bagaimana akhir pekanmu?