Percakapan dengan Nino: Tentang Nama

by | Oct 12, 2018 | Behind the Draft | 0 comments

Kadang saya ingin bicara dengan karakter yang saya ciptakan sendiri kalau saya sedang sendirian–atau seperti sekarang; bingung mau menuliskan apa. Saya juga bingung, sih, ngobrol dengan karakter bikinan sendiri itu kayak apa kalau dituliskan. Tapi … yah, kira-kira begini bentuknya. Nino adalah karakter dari proyek Dusk and Dawn. Kalau kamu ingin membaca ceritanya (sekarang sudah sampai Bab 3), silakan ke Instagram dengan memindai papan nama di bawah ini. ^^

“Gian mana?” tanyanya ketika malam itu aku bertemu dengannya, tanpa janji apapun, karena dia datang begitu saja seolah aku selalu punya waktu untuk meladeninya.

“I dunno,” jawabku.

“Pacaran?”

“Maybe.”

Cowok early twenty seperti Gian, wajar kalau dianggap sedang pergi pacaran kalau malam-malam tidak ada. Kalau aku? Ah, tidak ada yang akan menanyakan. Tapi ini wawancara ini bukan tentang aku. Ini tentang Nino.

Dia datang sekali sebelum ini. Tengah malam, memaksa, membuatku harus bangun dan membuka mata—tapi menolak untuk menyalakan laptop karena sudah terlampau malam dan aku malas sekali.

Belum juga aku persilakan untuk masuk ke pikiranku, dia sudah bertanya, “Kenapa nama gue Nino?”

“Hah?” Aku setengah mengantuk dan tidak mengerti dengan jelas maksud pertanyaannya karena … dia itu siapa? Ciptaan gue, kan? Bisa dong, gue kasih nama apapun.

“Kenapa nama gue Nino?” tanyanya lagi.

Aku memutuskan untuk bicara dengannya di dalam pikiranku. Agar tidak terlalu berisik dan mengganggu yang lainnya.

“Suka-suka gue, dong!” jawabku asal.

“Gue mau nama yang lain. Yang lebih keren dari ini.”

“Misalnya?”

“Hmm … Andre, Adrian … siapalah!”

Aku tergelak.

“Lo tahu kemampuan gue ngasih nama karakter itu di bawah rata-rata. Yang mana, gue akan punya banyak karakter dengan nama biasa-biasa aja. Menurut lo, gue bisa ngasih lo nama lebih bagus dari ‘Nino’? Gue rasa enggak. Hampir aja lo gue kasih nama Bayu atau Banyu. Lo enggak akan suka, kan?”

“Enggak. Itu huruf depannya ‘b’. Gue enggak suka.”

“Gue juga.”

Dia duduk. Menyeruput kopi yang muncul begitu saja di depannya.

“Lo tahu,” ujarnya sambil menghabiskan setengah gelas kopi itu. Jangan tanya dari mana aku bisa tahu dia menghabiskan sebanyak itu seolah kopi itu tidak panas sama sekali karena ini pikiranku dan aku tahu semuanya. “Gue suka dengan yang gue lakukan di kafe itu. Apa namanya?”

“Magnolia.”

“Ah, Magnolia.” Dia meletakkan cangkir kopi itu, menyilangkan kaki, meluruskan punggungnya, dan duduk tegap menghadapku. “Gue suka jadi karakter yang kerjaannya bikin kopi, bikin kue, ngurus ini-itu yang berhubungan dengan kafe. Apalagi, lo ngebikin gue jadi anak yang punya kafe, kan?”

“Iya,” jawabku. Dia butuh kepastian, aku memberikannya.

“Gue juga suka hubungan gue dengan Runi nantinya.”

“Kalian berteman.”

“Bersahabat?”

“Bersahabat.”

“Sahabat lebih dekat daripada sekadar teman.”

“Yes. Second to that!”

“Tapi …,” dia kembali menyeruput kopinya—yang sekadang cangkirnya berubah menjadi warna merah. Aku tidak ingat warna cangkir yang pertama tadi, yang jelas bukan merah karena sekadang aku menangkap perubahan warnanya. “Lo pernah mikir enggak, betapa susahnya membuat karakter yang hanya sayang tanpa ada romantic feeling dengan karakter cewek yang deket banget sama dia. Itu, tuh, rasanya nyaris mustahil.”

“Maksud lo apa? Cewek dan cowok enggak bisa sekadar berteman?”

“Iya.”

“Ah….”

“Kenapa?”

“Gue pengen memecah paradigma itu.”

“Oh, lo mau jadi pemecah paradigma?” Dia tertawa. “Apa yang lo tulis itu, kan, bisa jadi apa-apa yang lo mau. Yang di dunia luar sana, bisa jadi, itu enggak ada. Lo mengamati dan mengambil apa-apa yang lo mau aja. Apa yang bagus, yang bisa ditulis, yang sekiranya orang lain membaca dan akan merasa ‘terinspirasi’. Iya, kan?” Dia menggerakkan kedua tangannya membuat tanpa kutip di udara dengan dua jari telunjuknya.

Aku menyanggah.

Aku berhak menyanggah. Tahu apa dia?

“Enggak. Gue nulis apa yang ingin gue sampaikan dari hasil pengamatan. Memang pada akhirnya itu akan melewati seleksi, penyaringan, ini, dan itu … yang sesuai dengan apa yang ingin gue sampaikan. Jadi objektif itu mustahil buat penulis. Lo tahu? Lo enggak tahu, lah. Lo tahu apa…. Lo, kan, cuma karakter.”

Dia terkekeh. “Dan lo cuma penulis.”

“Oh, shut up!”

“Lanjut.”

“Oke. Gue ingin menulis apa yang gue tahu atau apa yang belum begitu gue pahami dan ingin gue pahami. Gue ingin memahaminya lewat lo. Karena itu gue menciptakan lo di kepala gue. Memberikan lo nama, penampakan, tempat tinggal, pekerjaan, orang-orang lain di sekitar lo untuk interaksi dengan lo dan membuat cerita, karena gue ingin memahami apa yang terjadi di dunia nyata dengan menuliskannya menjadi fiksi.”

“Kok susah dipahami, ya?”

“Karena lo bukan penulis, sih.”

“Lo mau jadiin gue penulis enggak?”

“Enggak.”

“Kenapa?” dia bertanya dengan suara agak keras.

“Ssst…,” aku meletakkan telunjuk di depan bibirku.

“Bukannya ini di pikiran lo? Siapa juga yang bakalan denger kalau suara gue keras.”

“Enggak ada. Tapi suara lo yang keras itu mengganggu gue.”

“Kenapa? Kenapa lo enggak mau gue jadi penulis?” tanyanya lagi.

“Karena gue lelah dengan jenis gue sendiri.”

“Jenis lo sendiri?”

“Iya. Gue berinteraksi dengan banyak penulis. Mereka makhluk yang sensitifnya luar biasa. Kalau dunia ini ibarat kata deterjen, semua yang ada di atasnya harus hypoallergenic. Sulit untuk berinteraksi dengan orang yang sama sensitifnya. Gue mau yang lain. Gue mau lo dan semua sifat keras kepala lo itu. Makanya sekarang kita bisa bicara, kan, di sini.”

“Kalau gue ada di dunia nyata, apa kita bisa jadi sahabat?”

“Lo gue ciptakan dengan mengambil contoh manusia yang nyata adanya.”

“Bukan dari Gian, kan?” tanyanya cemas.

“Bukan. Dia enggak kayak lo. Dia sensitif juga dan ngeselin. Lo cuma ngeselin, enggak sensitif.”

Dia tertawa.

“Apa orang yang lo jadiin contoh itu kalau gue dibuat berdasarkan dia?”

“Enggak.”

“Apa lo akan ngasih tahu?”

“Enggak.”

“Apa gue boleh tahu siapa namanya?”

“Enggak.”

“Apa lo gila?”

“Belum.”

Dia terdiam beberapa saat. Cangkir kopi yang ada di depannya sudah menghilang. Begitu juga dengan bangku tempat dia duduk. Sekarangd ai berdiri dengan satu tangan di dagu dan satunya lagi di pinggang. Aku sulit mengatakan tangan mana yang kiri dan mana yang kanan karena pikiranku mendadak berkabut. Ini sudah lewat jam dua malam.

“Bagaimana kalau gue enggak bisa memenuhi ekspektasi lo? Bagaimana kalau gue bukan karakter yang tepat untuk jadi Nino yang lo mau?”

Sekarang gantian aku yang tertawa.

“Insecure?”

“Bukan. Cuma nanya.”

“Lo sempurna.”

“Beneran?”

“Iya. Untuk jadi Nino, lo sempurna.”

“Makasih.”

“Dan lo sopan, kan. Lihat, tuh!”

“Sopan gimana?”

“Lo tadi bilang ‘makasih’.”

Dia tersenyum.

“Gue lo buat jadi sopan.”

“Iya.”

“Kapan kita ngobrol lagi?”

“Kapan-kapan, ya. Gue mau tidur. Besok bangun, nulis, dan gue ketemu lo di halaman kertas, bukan di sini lagi.”

“Hmm … bukannya lo susah tidur kalau malam?”

“Iya.”

“Jadi lo enggak mau tidur?”

“I’ll try.”

Dia mendekat, tersenyum, lalu berjalan menjauh.

“Tidur.”

“Okay!”

* * *