HALT (Hungry, Angry, Lonely, Tired)

by | Oct 25, 2018 | Love & Relationship, Non Fiksi | 0 comments

HALT (Hungry, Angry, Lonely, Tired)

by Octa | Kata Octa

Tulisan ini juga bisa didengarkan versi audio-nya (dengan saya sendiri yang menyuarakan) di sini (klik player di atas), Spotify, dan iTunes Podcast.

Halo … Mantemaaan~

Saya sakit. Seminggu belakangan.

Kamu pernah ngerasa enggak waktu badan kamu beberapa lama menahan sesuatu—entah itu beban, kecemasan, atau lainnya—lalu di satu titik, kamu nyerah dan jatuh sakit? Nah, itu yang terjadi sama saya seminggu kemarin.

Sebulan belakangan ini kayaknya saya emang capek dan banyak banget yang saya pikirin. Jangan bilang, “Udah syukuri, nikmatin ajaaa…. Masih banyak yang enggak seberuntung lo. Bahagia itu sederhana.” No no nooo. Enggak begini cara pikirnya dan ini yang mau saya bahas di tulisan ini. Untung saya sakit dulu jadi saya bisa membuktikan satu poin lagi untuk tulisan ini; pikiran positif itu baik, tapi badan kamu juga menyerap apa-apa yang ada di lingkunganmu sepertinya. Sepandai-pandainya kamu menjaga pikiranmu, partikel—halah, ini saya pakai istilah apaaa—negatif itu mengenai badanmu juga.

Kita mulai dari mana, ya.

Hmmm….

Bahagia Itu Enggak (Se)Sederhana—Itu

Ini kayaknya udah pernah saya bahas, ya. Saya udah lamaaa banget berhenti menulis caption di mana pun dengan tulisan; bahagia itu sederhana. Karena pada akhirnya, saya tahu, itu tuh enggak sederhana. Itu tuh bukan perasaan permanen dan juga bukan perasaan yang musti dikejar. Kamu enggak harus bahagia. Menempatkan seseorang di posisi dia harus bahagia itu jadi beban, loh. Bahagia kok dipaksa. Lalu, kalau misalnya saya bahagia, apa orang enggak boleh sedih, marah, dan sebagainya? Ya, enggak. Semua emosi itu ada untuk dirasakan. Nyari keseimbangannya yang emang susah ampun-ampunan. Sekarang saya ada di kondisi di mana saya kalau udah ‘content’ aja gitu—itu artinya semacam ‘biasa aja’ kali, ya, itu udah cukup.

Karena bahagia itu selama ini dibuat seolah harus dikejar, jadinya ada orang yang desperate untuk bilang ke dunia kalau bahagia itu sederhana. Sama kayak jaman sekarang, deh, kemampuan bahasa Inggris itu wajib kayaknya. Karena itu jadi tuntukan dan harus dikejar, jadinya ada orang yang desperate untuk bilang ke dunia kalau bahasa Inggris itu sederhana. Kenyataannya enggak segitu sederhananya juga.

Kalau bahagia itu musti dikejar, kamu bakalan kayak orang sakaw yang beberapa waktu sekali musti high (baca: bahagia) dengan cara apapun. Kamu bakalan muter antara; bahagia, enggak bahagia, nyari cara buat bahagia, dapet caranya, bahagia, balik lagi ke enggak bahagia karena bahagianya udah habis, dan seterusnya.

Sekarang ini, beberapa bulan belakangan ini, deh, yaaah … anggaplah sejak awal tahun ini, deh, saya cuma menjaga agar diri saya enggak HALT (Hungry, Angry, Lonely, Tired), deh. Itu doang. Enggak banyak mau. Sementara tentang bahagia, rasa seneng biasanya ada terus, kok, karena saya emang ngerjain banyak hal yang saya suka, kan. Berusaha mengurangi tekanan juga, sih, sejak awal tahun ini.

Kita bahas HALT, ya.

Tentang HALT

Ini teori lama yang kemarin akhirnya saya denger lagi waktu saya muter podcastnya Lewis Howes waktu ngundang Humble The Poet. Sederhananya, sih, kamu jangan sampai merasakan satu dari keempat hal itu karena kalau satu aja muncul, yang lain akan ikut muncul cepat atau lambat. Misalnya kayak sakit saya kemaren, deh. Itu, kan, karena saya tired sebenernya. Kalau saya biarin diri saya capek terus-terusan, saya bakalan marah-marah. Muncul deh, kan, angry-nya. Ini udah pasti. Saya ngomelan dan pasti Tuan Sinung, tuh, jadi sasaran kemarahan saya karena saya capek. Dia, sih, sabaaar. Tapi bisa jadi dia males aja gitu, kan, deket-deket saya. Saya bakalan kehilangan temen ngobrol kalau malem yang ngebikin saya—bisa jadi—ngerasa lonely. Satu keluar, yang lain nyusul.

Hungry-nya gimana?

Yah, kalau dibiarkan kelamaan, saya bisa capek terus, marah terus, kesepian terus (dan jadi toxic dan bitter makanya orang ngejauh), dan berakhir dengan saya merasa bahwa saya harus memenangkan semuanya balik dengan cara; nyari pemasukan lebih banyak lagi seolah uang bisa membeli semuanya. Saya enggak bicara hitungan satu-dua tahun ini. Kondisi kayak gini dibiarkan lima tahun, deh, bisa banget saya kemaruk dengan uang dan merasa bahwa saya harus ‘membeli’ banyak hal termasuk kebahagiaan dan perasaan enggak kesepian.

Semacam itu.

Makanya saya biarkan diri saya sakit kemarin. Gelindingan di tempat tidur seharian. Kesakitan juga, sih, makanya enggak bisa bangun dan ke mana-mana. Tapi saya banyaaak banget istirahat. Jam tidur jadi kayak di-reset. Ini tuh sesederhana; saya terima saya sakit, saya mau ini berlalu, dan saya enggak mau sakit karena capek ini mempengaruhi yang lain-lain. Saya jadinya beristirahat saja, dengan tenang, dengan senang, sambil nonton banyak video Youtube (ah, abis ini kita bahas Shane Dawson dan metode yang dia pakai untuk ngebikin orang bersimpati sama orang yang udah lama jadi public enemy di docuseries dia, gimana?)

Jadi?

Jadi, yaaah … selama kamu masih lapar (lapar beneran kayak enggak bisa makan, kurang uang, atau uang tuh mepeeet aja terus jadi enggak bersisa bahkan kurang), marah (entah karena perlakuan orang sama kamu di masa lalu, atau di masa sekarang, atau karena kegagalanmu, atau karena banyak hal lain yang enggak sesuai dengan keinginanmu, atau karena keadaanmu), kesepian (karena enggak bisa secepat itu berteman, enggak tahu caranya ngobrol yang asyik—dan deep, enggak tahu caranya kenalan, dan sebagainya) dan capek (entah karena overwork, kebanyakan pikiran, kurang tidur, stress di jalan yang macet, dan sebagainya), kamu harus hati-hati. Satu ada, yang lain bisa muncul. Kamu harus selesaikan secepatnya kalau ada yang muncul.

Saya enggak bisa ngebahas lebih banyak lagi, sih, apalagi tentang lapar (hungry). Satu-satunya cara, yaaa bekerja dengan gaji yang cukup atau punya usaha dengan pendapatan yang baik.

Jadi, saya sudah sembuh. Udah enggak apa-apa ini. Abis nulis ini saya mau lihat apa-apa yang musti dikerjain lagi. Saya enggak akan buru-buru karena yah … buat apa? Tenang dan senang itu lebih penting buat saya. Selama sakit saya enggak buka-buka Instagram jadi kayaknya mulai hari ini saya akan bales-balesin komen di sana.

Kamu apa kabar?

Ada cerita apa sepekan belakangan ini?

Cerita dong, sama saya….

Podcast-nya Humble The Poet yang saya sebut di atas, bisa kamu dengerin di sini, ya~