Siluet

by | Jan 9, 2019 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 0 comments

Let’s go out in flames so everyone knows who we are

‘Cause these city walls never knew that we’d make it this far

We’ve become echoes, but echoes are fading away

So let’s dance like two shadows, burning out a glory day

Catatan akhir tahun—yah, kayak biasa lah, yaaa…. Hehe.

Akhir tahun ini hawanya kontemplatif banget dan saya suka itu. Saya emang suka mengenang lagi pengalaman atau kejadian apapun yang pernah terjadi di beberapa waktu yang sudah lewat. Bukan buat ngungkit-ngungkit, sih. Tapi, katanya—kata penelitan, sih, lebih tepatnya—kalau kita mengingat sesuatu, yang kita ‘panggil’ itu adalah ingatan ketika kita terakhir kali mengingatnya. Simpelnya, sih, gini; ketika kamu memanggil ulang kenangan, yang kamu panggil itu adalah ingatan terakhir ketika kamu mengingatnya. Memori adalah ingatan yang bentuknya—bisa jadi—berubah-ubah karena berkali-kali kamu panggil, dia datang, dan setiap kali, mungkin saja, wajahnya berbeda.

Makanya … ada yang namanya false memory. Ingatan palsu bisa ditanamkan, bahkan. Tapi saya enggak mau bahas ini. Enggak ada relevansinya juga, sih. Hahahaaa. Cuma FYI aja.

Tahun ini, sampai akhir, saya punya satu kata yang tepat menggambarkannya; siluet. Bukan tahunnya yang jadi siluet, tapi saya—dan itu enggak mengapa. Anehnya, saya menikmati keadaan seperti ini walaupun saya tahu, tahun depan enggak bisa lagi kayaknya seperti ini.

Tahun lalu, ditutup dengan sisa lelah menyelesaikan Ampersand. Diikuti dengan beberapa drama yang saya syukuri kejadiannya karena bisa menemukan saya dengan orang-orang baru yang akhirnya membuat kami berteman dan membentuk ulang lingkaran pertemanan saya. Kalau kejadian itu enggak pernah terjadi, saya bakalan masih ada di lingkaran yang sama dan saya tahu, tempat itu enggak akan sehat buat saya. Memang ada beberapa hal yang harus dipecahkan dengan dentuman dan ledakan. Awal tahun saya dibuka dengan itu.

Lalu, saya mulai memuat beberapa proyek yang saya nikmati prosesnya sampai sekarang sebagai; berkarya dengan lambat. Saya enggak membaca buku sampai habis satu pun sama sekali. Oh, ada satu yang habis dan itu pun novela pendek. Saya juga jarang menonton karena saya enggak sempat. Kebanyakan waktu saya pakai untuk hal-hal lain yang saya mulai sukai karena prosesnya, misalnya; menyeterika. Tahun 2018 ini, menyeterika saya fungsikan sebagai semacam anu … meditasi. Hahahaaa.

Saya banyak mendengarkan podcast, banyak menonton video Youtube tutorial dan review kosmetik (dari luar, sih, kebanyakan jadi saya enggak tahu siapa itu Suhay Salim sampai berita beliau menikah di KUA memakai jeans). Saya makin enggak peduli dengan sosial media karena … yah, gimana dong … saya enggak menikmati berada di sana kelamaan jadi saya memang enggak buka. Sesederhana itu. Saya enggak ketinggalan info apapun karena saya langganan tulisan dari online media yang saya suka (lagi-lagi media luar) di email. Jadi, yang sering saya buka itu yaaa … email.

Saya enggak banyak menulis dan ini keputusan sadar yang saya buat karena saya merasa kalau saya perlu istirahat. Enggak ada yang ngejar tulisan saya. Enggak ada yang menuntut saya harus menulis bagus, banyak, dan rutin, so … kenapa harus memaksa diri? Menjaga ‘jarak aman’ dengan apa yang saya kerjakan juga bentuk usaha untuk membuat saya tetap waras.

Saya juga mulai lebih menyayangi diri saya dengan enggak menerima perlakuan buruk orang yang enggak sepantasnya saya dapat—karena, misalnya, saya enggak tahu salah saya apa gitu, ya, diperlakukan begitu? Dicerca di sosmed, langsung di depan mata, atau diomongin di belakang, yah … buat saya enggak akan apa-apa. Itu harmless selama saya enggak mempedulikannya. Jadi masalah kalau dilawan dan dikonfrontasi. Yah, anggap saja mungkin mereka menemukan kelegaan dan kelapangan hati dengan salty, kan? Jadi, biarkan saja. Saya memberikan kesempatan karena kasihan juga kalau iri dan dengki enggak diucapkan nanti malah bikin frustasi. Ungkapkan saja. Enggak ngaruh di saya dan rejeki saya selama saya enggak jahat balik, kan—atau yang lebih fundamental; enggak mulai jahat duluan.

((( F U N D A M E N T A L )))

Halah!

Di sini juga susahnya. Berusaha jadi baik itu sulit ternyata. Diapa-apain aja enggak bisa bales karena kalau bales, jadinya bikin ribut dan dicoret dari daftar ‘orang yang sabar’. Balik salty di sosmed yaaa … apa bedanya dan apa faedahnya karena enggak akan jadi solusi juga. Jadi, saya biarkan. Kadang saya lihat juga, sih, sambil mengerjakan hal lain yang saya suka dan bertanya, “Kok mereka punya waktu, ya?”

Pokoknya saya enggak balik jahat. Saya paling berdo’a biar rejeki saya lebih banyak. Enggak musti bentuknya uang. Teman baru yang baik, waktu luang, kesempatan untuk mengerjakan hal yang saya suka, dan hal-hal kecil yang menyenangkan lainnya juga bisa disebut rejeki, kan? Dulu saya pikir, saya enggak akan punya kemampuan seperti ini, loh. Tapi ternyata saya bisa asal semua enggak dibuat berat. Lagian, banyak yang perlu disayangi dalam hidup, hati dan diri saya salah satu yang paling penting.

Huft.

Semua itu membuat saya jadi siluet; sesuatu yang ada karena cahaya ada di belakang objek sehingga objek terlihat enggak jelas alias gelap.

Tapi, saya suka itu. Ogeb.

Masalahnya; setahun ini saya berusaha membelakangi cahaya, bukan malah menghadap ke arahnya. Saya males silau. Jadi yah … tahun ini berlalu kayak begini, deh; enggak banyak karya, enggak banyak update, enggak ada cerita yang gimana-gimana. Lebih banyak ngabisin waktu buat self care dan bersiap nulis—entah kenapa saya perlu waktu untuk diam enggak ngapa-ngapain sebelum beneran nulis draf panjang.

Saya juga mulai ringan untuk nge-unfollow, mute, atau block akun yang reseh. Soalnya saya mulai mengerti bahwa itu bukan bentuk kebencian dari saya—tapi hanya usaha untuk menjaga diri saya sendiri. Buat apa saya bertahan di situasi yang hanya akan merugikan pikiran dan perasaan saya, kan…. Iya, kan?

Akhir tahun ini saya habiskan dengan belanja, belanja, dan belanja! Banyak diskon di mall dan sekalian jalan-jalan, sih. Entah kenapa saya lebih memilih untuk belanja di mall dibanding di toko online yang harganya bisa jadi lebih murah. Mungkin sensasi ‘bayar dan bawa pulang barang’ yang kadang jadi semacam kesenangan buat saya—sampai saya sadar kalau belanjaan sudah terlalu banyak, sulit dibawa, dan berat. Hahahaaa….

Hmm…. Apa lagi, ya?

Itu dulu, deh.

Tahun ini sepertinya saya mau ada di suasana yang sama; tenang, pelan, dan enggak banyak riak apalaaah yang bikin spaneng. Sepertinya saya memang sudah masuk di waktu dan umur untuk menyadari bahwa banyak hal yang sepertinya enggak perlu dikejar karena memang enggak perlu. Sesederhana itu. Bukan berarti saya sudah merasa cukup dengan hidup atau apalaaah. Saya hanya ingin lebih menikmatinya. Itu saja. Ibarat sedang makan, saya ingin menghabiskan makanan dalam piring saya sambil menikmati setiap suapannya dan enggak ribut memikirkan untuk nambah ini-itu lagi.

Kira-kira begitu.

Catatan ini dibuat sejak tanggal 20-an Desember 2018 dan baru saya selesaikan di hari ini, 9 Januari 2019. Lambat sekali…. Hahahaaa.

Hi~ Kamu apa kabar?

Sudah hampir sebulan sarapan saya enggak berubah; roti bakar dan kopi. Kalau kamu?

Credit to background photos: https://unsplash.com/photos/RJla0P7GNiY