#251: [Poem] Janji

#251: [Poem] Janji

Ternyata, aku sudah lupa bagaimana rasanya merindui cinta seperti hari-hari kita tak bertemu   Ketika, siang rasanya begitu panjang dan malam pun seolah tiada akan pernah berakhir   Karena, kamu selalu ada seperti udara tak pernah diminta dan tak pernah terpikir   Bagaimana, seadainya suatu ketika tanpa tanda kamu harus pergi begitu saja   Tapi, kita sudah berjanji bukan janji cinta sehidup-semati bukan….   Melainkan, janji untuk menjadi yang terbaik yang kita bisa bagaimanapun takdirnya   (Selamat berkurang umurnya bertambah usianya, Tuan...

Read More

#193: Tak Sampai-sampai Aku, Kekasih [Poem]

#193: Tak Sampai-sampai Aku, Kekasih [Poem]

Gambar dipinjam dari sini.   /1/ pagi ini datang dingin beku   atau aku saja yang jatuh hancur berbelah?   /2/ kenapa tak sampai-sampai aku, Kekasih? tak kuat juga berdiri hanya untuk-Mu   tiap kali langkah berat aku mengaduh tak kuat   aku mau di sana saja di beranda menunggu gelap bersamanya   terdengar suara-suara malam lalu siang yang jatuh terjerembab di belakang bukit horizon pendar jingga-ungu bintang berkelip jemari kecilnya menunjuk: satu dua tiga …sejuta   lalu megah lantunan adzan bumi diam, menunduk   tenang   tak ada apapun selain itu tidak juga aku, tidak juga dia karena semesta lenyap dalam lemah-lirih dzikir malam   dia mengamit tanganku aku menurut saja di sepanjang jalan: ditulisnya Allah...

Read More

#156: [Poem] Masih Mengeja Kata yang Sama

#156: [Poem] Masih Mengeja Kata yang Sama

  Bagaimana aku harus mengucapkan kata itu? Ketika kalimat-kalimat yang sudah kususun di dalam kepalaku kandas mengering ketika aku bertatapan denganmu. Menyisakan jantung yang memburu dan perut yang seakan terisi ribuan kupu-kupu. Aku ingin mengejarmu…. Seperti ketika kita kecil dulu. Memburu layang-layang putus sampai ke tepi hutan sana. Apakah kamu masih ingat ketika tiba-tiba hujan turun dan kita berteduh di bawah pohon yang seingatku hanya berbunga jingga di awal musim penghujan? Katamu itu flamboyan. Menurutku itu akasia. Mungkin kalau kita membahasnya lagi kini, kita tahu jawabannya. Bagaimana aku harus menegaskan kata cinta itu? Aku mengeja lakumu. Aku menebak tingkahmu. Seakan hati memang berubah-ubah setiap hari. Tapi, aku dan kamu...

Read More

#69: Ayunan Pelangi (Poem)

#69: Ayunan Pelangi (Poem)

  Tidak pernah ada hujan sederas itu Kilat petir seterang itu Atau pun Gemuruh sekeras itu Hampir-hampir kita tidak percaya bahwa besok akan ada hari baru Seakan malam ini berakhir kiamat Tapi kamu tidak menangis Kamu menunggu Menatap keluar jendela sambil memainkan jemarimu di dinding Seperti tengah berharap Berdoa, mungkin Atau Kamu tidak melakukan apa-apa Hanya berdiri saja di situ Tapi Ketika pagi datang, hujan mereda, dan matahari cemerlang Kamu membawaku ke luar rumah Di sana, di halaman “Apa ini?” “Tali,” jawabmu. “Untuk apa?” Kamu menunjuk ke barat sana “Ada pelangi,” katamu. “Aku akan membuatkanmu ayunan di lengkung pelangi itu. Semalaman menangis sangat melelahkan, bukan?” Ya, melelahkan...

Read More

#50: Terik dan Hujan Bulan Desember, Aku Rasa Mereka Saling Kehilangan-2 (Poem)

#50: Terik dan Hujan Bulan Desember, Aku Rasa Mereka Saling Kehilangan-2 (Poem)

Terik dan hujan bulan Desember, aku rasa mereka saling kehilangan Tapi tak ada yang lebih kehilangan selain aku   Mungkin lembut suaramu bisa menenangkan gundah, Tapi tak ada yang bisa membuatnya patah   Tiap malam jadi lamunan panjang karena ketika kamu berangsur menghilang di ujung subuh, tergantikan matahari merah dan setumpuk pekerjaan, aku makin cemburu pada ilalang yang dengan tenang tetap berdzikir tanpa henti pada tiap lambaian daunnya sepanjang siang   Rob, terik dan hujan bulan Desember itu saling kehilangan Tidakkah harusnya aku lebih kehilangan-Mu?   OctaNH 2005 Gambar dipinjam dari:...

Read More

#36: Hujan dan Terik Bulan Desember, Aku Rasa Mereka Saling Kehilangan-1 (Poem)

#36: Hujan dan Terik Bulan Desember, Aku Rasa Mereka Saling Kehilangan-1 (Poem)

Hujan dan terik bulan Desember, aku rasa mereka saling kehilangan Ketika hujan tidak lagi membuat sepanjang harimu basah Dan Terik tidak lagi membuat sepanjang harimu gerah Ketika semua berganti dan kau masih juga merasa asing sendiri Mengharapkan hujan di sepanjang malam Atau Terik di sepanjang siang Hanya saja, sekarang Aku rasa mereka saling kehilangan Seperti kamu yang juga mulai kehilangan kenangan akan rasa pahit itu Atau rasa manis ini...

Read More
Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: