#22: Termites; Mitos Kecerdasan, IQ, dan Keberhasilan Hidup
Dibaca 1,990 kali
Sewaktu saya SMP dulu, ada seorang teman yang kerjaannya main terus, tidak mau buat PR, datang ke sekolah juga “on time”, di kelas matanya sipi-sipit mengantuk. Tapi… nilainya kalo tidak 9, ya 10. Saya tidak tahu berapa IQ teman saya ini. Tapi menurut perkiraan saya, harusnya di atas 130. Orang-orang seperti teman saya ini biasa disebut: genius.
Buat yang sudah menonton “Good Will Hunting”, pasti merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan: beruntung sekali ya orang genius itu. Sepertinya, ketika kita tahu ada orang yang IQ-nya genius (di atas 130), seakan-akan Tuhan sudah menjaminkan hidup yang bergelimang keberhasilan buat dia. Seakan-akan semuanya akan mudah, semudah dia menyelesaikan soal matematika sulit.
Buat yang membaca komik “Death Note”, pasti tahu dengan karakter L. L ini, bukan tokoh rekaan lho. Dia benar-benar ada. Hanya saja, siapa dia, siapa nama aslinya, dan segala identitas pribadinya dirahasiakan. IQ-nya 200. Sebenarnya hampir tidak mungkin mengukur IQ-nya dengan test IQ standar. Karena itulah ada yang namanya test IQ khusus untuk para genius. Saya akan berikan satu contoh soalnya. Kalau ada yang bisa menjawab, sebaiknya langsung cek IQ. Jangan-jangan kamu genius! Contoh soal analogi verbal: “Teeth is to Hen and Nest is to?” Saya tidak bisa menjawabnya. Tapi saya dapet bocoran jawabannya.
Kayak apa sih orang dengan IQ 200 itu? Einstein saja IQ-nya 150 dan bisa sampai sehebat itu. L senang mempelajari tentang sejarah waktu, teori tentang konstruksi mesin, matematika, dan sejarah. Dia menciptakan alat sederhana untuk menggambarkan prinsip kronometri. Buku catatannya berisi gagasan keilmuan yang luar biasa. Dia suka memberikan kuliah tentang topik yang disukainya. Dan ketika itu dia baru berusia 10 tahun.
Bukan cuma kita kok yang berpikiran seperti itu. Lewis Terman, adalah seorang profesor muda di Stanford University juga berpikiran sama. Lewis Terman mengadakan penelitian paling panjang dan paling mahal dalam sejarah dengan bantuan dana dari Commonwealth Foundation. Penelitian ini melibatkan 1.470 anak dengan rentang IQ 140-200 yang diambil dari seluruh Amerika Serikat. Penelitian ini dikenal dengan nama Genetic Studies of Genius, dan anak-anak genius yang jadi bahan penelitian itu disebut: Termites.
Lewis Terman beranggapan bahwa IQ yang tinggi harusnya membuat seseorang lebih mudah menjalani hidupnya. Dia meramalkan bahwa Termites akan menjadi para ilmuan penerima Nobel, kepala pemerintahan, seniman hebat, dan lainnya yang hebat-hebat. Terman mengikuti hidup para Termites ini: melihat nilai sekolahnya, kehidupan pribadinya, pernikahannya, dan karirnya. Saat Termites memasuki usia dewasa, Terman mulai kecewa. Tidak banyak dari Termites yang punya karir sesuai dengan yang diramalkan Terman. Beberapa malah di bawah yang diharapkan. Hanya beberapa orang Termites yang menjadi tokoh yang dikenal secara nasional. Penelitian ini berakhir dengan kesimpulan Terman bahwa, “Kecerdasan dan keberhasilan ternyata sangat jauh hubungannya.”
Test IQ memang bisa untuk melihat sejauh mana kecerdasan seseorang. Bila ada orang dengan IQ 70 dan seorang lagi dengan IQ 110, maka bisa disimpulkan bahwa orang dengan IQ 110 akan lebih mudah melewati masa-masa sekolahnya. Sejauh itu saja. Membandingkan seseorang dengan IQ 130 dan 150 adalah hal yang mustahil karena mereka “pintar”. IQ 150 tidak bisa dibilang lebih baik masa depannya daripada yang ber-IQ 130. Kelebihan mereka dibandingkan dengan yang ber-IQ 110 hanyalah: ketika dihadapkan pada soal fisika yang sulit, seseorang dengan IQ 130 dan 150 bisa dikatakan “cukup pintar”.
Ini sama dengan menilai tinggi badan seorang model. Untuk menjadi model, kamu hanya perlu mempunyai tinggi badan 170 cm. Jika tinggi badan kamu 180 cm, itu tidak akan membuat kamu menjadi model yang lebih berhasil daripada model yang lebih pendek 10 cm dibanding kamu. Tapi, kalau dibandingkan dengan orang yang mempunyai tinggi 150 cm, kamu jelas sudah melewati standar dan lulus. Tapi… apakah semua orang ingin menjadi model? Hayooo….
Seseorang yang pintar, tidak akan berpengaruh banyak bila dihadapkan dengan segerombolan orang yang pintar lainnya. Apakah mahasiswa UI akan lebih berhasil hidupnya dibandingkan dengan mahasiswa UGM? Ini tidak akan bisa diukur. Yang bisa dikatakan hanyalah: mereka semua (mahasiswa UI dan UGM itu) cukup pintar. Mereka ada di atas rata-rata. Mereka akan lebih mudah memahami sesuatu dibandingkan dengan yang tidak cukup pintar. Tapi mereka butuh sesuatu untuk menjadi outstanding. Dan untuk menjadi outstanding itu tidak bisa diukur dengan nilai IQ atau kecerdasan. Ada hal lain….
Tulisan saya ini terinspirasi dari buku Malcolm Gladwell: Outliers. Untuk yang menyukai esai dengan sudut pandang yang baru, silahkan baca bukunya. Sepertinya di Gramedia sekarang dijual keempat serinya dengan dibundel rapi. (Ngiklan deh saya)
Gambar dipinjam dari: http://stsho.blogspot.com dan http://education.stateuniversity.com
Wife of 

















“Teeth is to Hen and Nest is to?” Bagaikan Sarang Kuman Di dalam mulut ayam karena ayam memakan makanan dari tanah IQ Gw 140++
Haha. This one is nice. Thanks for sharing.
sejak kapan ayam punya gigi????