#7: Tentang Jiwa dan Berjuang, juga tentang Bunga dan Sayur

Dibaca 498 kali

 

Lama sekali rasanya saya tidak menulis di blog ini. Semalaman kemarin, saya berusaha mengganti template blog dan web saya agar terlihat lebih oke. Bukan berarti yang sebelumnya tidak oke. Hanya saja, kadang saya butuh hal-hal tertentu untuk membuat semangat saya tetap pada level yang oke. Bukan hanya dengan bantuan template baru, kadang dengan membeli notes baru yang lucu, pulpen baru, atau tatanan kamar yang baru, saya membuat semangat saya tetap bagus. Memang menurut beberapa penulis hebat, mood itu tidak penting. Kalau tidak mood, yaaa… menulis saja. Menulis apa saja. Nanti mood akan datang dengan sendirinya. Penulis profesional tidak membutuhkan mood.

Tapi penulis macam saya, masih membutuhkan mood. :cutesmile:

Mungkin mood yang membuat tulisan “punya jiwa”. Untuk beberapa tulisan saya, saya juga membutuhkan masa “endap”. Yah, seperti tape, sake, atau wine yang perlu difermentasi beberapa waktu (atau malah waktu yang lama) sampai ide tersebut bisa dikeluarkan dalam bentuknya yang paling bulat, paling utuh, mendekati sempurna. Memang dalam beberapa kasus, ada tulisan yang sekali jadi: sambil ditulis, sambil dipikirkan. Tapi ini biasanya jarang sekali saya alami.

Untuk membuat mood saya bagus dan endapan ide saya bisa cepat matang, saya melakukan hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Salah satunya adalah menanam bunga.

Sudah lama saya takjub, bagaimana tanah bisa menumbuhkan tanaman. Ini memang ide sederhana. Setelah saya pindah ke rumah baru saya sekarang yang punya sedikit tanah di kanan-kirinya, saya sering memperhatikan bagaimana rumput tumbuh. Dalam semalam, rumput bisa tumbuh 1-2 cm. Saya benar-benar bisa melihat pertumbuhannya. Ini menakjubkan. Padahal dia hanya tumbuh di atas tanah. Tertancap hanya di atas tanah.

Dari rumput, saya meningkatkannya ke sayuran dan bunga. 8)

Beberapa hari lalu saya membeli bibit bunga dari seorang penjual di Bali, bernama Melimelon (namanya lucu). Saya membeli bibit bunga matahari. Sekarang, bunga matahari saya baru berbentuk tunas, seperti touge yang semakin menakjubkan setiap harinya.

Setelah berlibur sebulan lebih (sebenarnya tidak benar-benar berlibur), saya merombak The Miracle od Faschel. Tulisan yang ditulis ketika saya SMA ternyata punya logika yang berbeda dengan yang logika saya sekarang. Ini mungkin karena saya pun tumbuh. Saya tumbuh dan ide yang saya punya tentang Faschel pun makin matang. Saya merombak semuanya, tak terkecuali tokohnya. Ini menyenangkan buat saya karena beberapa hal yang baru saya temukan akhir-akhir ini bisa saya masukan dengan memahaminya betul, bukan hanya mereka-rekanya. Misalnya: seberapa besar seorang ibu bisa mencintai anaknya? Sebelum mempunyai anak, saya tidak mengerti. Tapi saya tahu pasti besar sekali. Setelah saya mempunyai anak, saya mengerti bahwa saya bisa mencintai anak-anak saya lebih besar dari yang saya kira bisa saya lakukan sebelumnya.

 

 

Beberapa hal menyebalkan juga ada: seperti orang iseng yang dengan hidup saya. Bertanya (ke orang lain, bukan langsung ke saya) apakah saya sudah beli rumah, ini dan itu. Saya hanya bisa bilang bahwa fokus dan target pencapaian hidup saya tidak sama dengan orang lain. Tiap orang punya masing-masing. Saya tidak suka melihat ke kanan-kiri karena saya tahu perjalanan saya masih jauh. Saya dan suami saya memetakan tujuan kamu sejauh yang bisa kami lihat dengan mata kami sekarang. Kalau akhir tujuan ini, misalnya 20 kilometer lagi, berlari sejauh 1 kilometer dalam satu tahun buat kami tidak terlalu lambat dibandingkan dengan seseorang yang tujuan akhirnya sejauh 5 kilometer tapi sudah berlari sejauh 1 kilometer dalam satu tahun. Orang itu, setelah 5 kilometer akan berhenti, akan puas, akan menganggap hidupnya sudah lengkap. Sementara kami belum.

Kalau hidup hanya diukur dengan berapa banyak nominal di buku tabungan, berapa banyak rumah, berapa banyak mobil, buat saya sayang sekali. Ada banyak hal yang bertahan lebih lama dengan lebih berharga yang nilai investasinya naik puluhan kali lipat per tahun. Tapi kalau ada yang mau mengukur kami dengan nominal, rumah, dan mobil, buat kami ya tidak apa-apa. Kami hanya agak kasihan dengan cara pikirnya. :cutesmile:

Saya bersyukur punya suami yang mengerti bahwa hidup adalah berjuang, bukan untuk memperjuangkan nominal, rumah, atau mobil… tapi lebih dari itu.

Gambar dipinjam dari: http://wallpapers-pers.blogspot.com/2010/09/wallpaper-flower.html

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)
Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: