Author: Octaviani Nurhasanah

Kukis

Siang itu, sebelum dia memutus sambungan telepon, kau katakan padanya kalau suaranya meningatkanmu pada kukis cokelat yang biasa kau patahkan jadi dua sebelum akhirnya kau masukkan ke mulutmu. “Suaraku seperti rasa kukis?” tanyanya. “Bukan,” jawabmu, “seperti bunyi ketika kukis itu patah, renyah.“ Kau tidak bisa menjelaskannya–dan sepertinya tidak perlu–karena dia tertawa. Mungkin karena mengerti, mungkin juga karena perbandinganmu terdengar lucu. Tawanya membuatmu membayangkan berbungkus-bungkus kukis cokelat yang kau patahkan di penghujung musim dingin ketika kabut memotong jarak pandang. Kau harus keluar dari apartemenmu pagi itu. Berjalan menuju kelas dan matamu basah. Kau tidak ingin lagi di sini. Kau ingin...

Read More

Gelas

Sewaktu kau bilang kalau dia seperti gelas yang menampung isi hatimu, dia malah tertawa dan mengatakan kalau dia suka melihat apapun yang kau isikan ke dalam ‘gelas’-nya. “Hari ini apa?” tanyamu. Dia terdiam sebentar. Berpikir. Lalu tersenyum. “Kamu pernah lihat es buah dengan biji selasih?” Dia tidak menunggumu untuk menjawab. Kalaupun kamu menjawab tidak pernah, dia akan menjelaskannya padamu. Tapi kau pernah, kau katakan itu padanya. Dia lalu melanjutkan, “Hari ini ceritamu manis, tapi terlalu banyak biji selasihnya yang harus ditelan di antara potongan buah dan sirup dingin.” Kau tertawa. Kau baru saja bercerita tentang banyak ketakutanmu tentang kepergiannya....

Read More

Apa Membaca Buku itu Overrated?

Sampai hari ini, saya masih enggak terlalu suka dengan istilah kutu buku, entah mengapa. Mungkin karena buat saya, membaca itu harus. Bagaimana bosannya hidupmu kalau kamu enggak membaca, coba? Saya enggak bisa membayangkan bagaimana caranya duduk di kereta atau bis dan hanya memandang ke arah luar jendela tanpa melakukan apapun yang lain. Kalau saya melakukan itu, harus sambil berkhayal, plotting, mendengarkan riuh obrolan karakter fiksi di kepala saya, atau kalau enggak semuanya, saya harus mengantuk. Ini yang membuat saat saya paling banyak menghabiskan buku adalah ketika saya harus ada di perjalanan lebih empat jam setiap harinya. Sekarang saya lebih...

Read More

Jeruk

Kau memberinya jeruk keprok paling manis yang kau beli di akhir liburanmu di Selayar. Kau beruntung, jeruk di Agustus selalu yang paling baik, paling manis, dan besar-besar. Kau memberikan sebagian padanya. Tapi ketika kau bertemu dengannya sore itu, di tepi lapangan di dekat kampusmu, kau memberinya satu lagi. “Untuk menemani kita mengobrol,” katamu. Kau tahu dia tidak suka jeruk. Kau juga tahu kalau dia tidak sabaran dengan kulit dan bijinya, karena itu, kau membukakannya dulu sebelum kau berikan padanya. “Semalam mereka bertengkar lagi,” katanya. Perlahan. “Seperti biasa?” tanyamu. “Ini tidak biasa. Mereka berdua mengepak koper, seolah berlomba untuk keluar...

Read More

Buku

“Kalau kau datang, bawa meteran yang biasa dipakai ibumu menjahit. Aku ingin mengukur, berapa tinggi tumpukan buku yang aku baca tahun ini,” katamu padanya kemarin. Kau pernah bilang kalau menghitung berdasarkan jumlahnya, itu tidak adil untuknya karena dia lebih suka buku yang tebal—yang lama habis. Dia simpan di bawah bantalnya dan selalu saja jadi alasan dia tidak cepat membalas pesan-pesanmu saban malam. “Keasyikan membaca,” katanya di pesan yang kadang baru dia kirim di pagi harinya. Sementara kau lebih banyak membaca buku tipis dan kecil yang cepat habis. Kau ingin mengetahui ceritanya secepat kau bisa. Lalu ketika dia datang sore...

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest