Author: Octaviani Nurhasanah

Rethinking Friendship

“Ally.” Peeta says the words slowly, tasting it. “Friend. Lover. Victor. Enemy. Fiancee. Target. Mutt. Neighbor. Hunter. Tribute. Ally. I’ll add it to the list of words I use to try to figure you out. The problem is, I can’t tell what’s real anymore, and what’s made up.”  (Suzanne Collins—Mockingjay) Kalau enggak karena harus membahasnya jadi tema di satu episod podcast yang sedang dibuat, mungkin saya enggak akan memikirkannya sampai jauh seperti sekarang ini. Sudah kadung dipikirkan, sudah banyak—bahkan yang bukan tentang hal ini tapi masih ada hubungannya—dibaca, dan waktu pun banyak dihabiskan untuk memikirkannya, jadi … sekalian saja...

Read More

Restart

October is mine—always mine. Saya menuliskan ini setelah main games hampir dua jam. Mungkin sudah lebih dua bulan saya enggak membuka akun Origin saya. Kemarin ada surel pemberitahuan kalau ada aktivitas mencurigakan di akun ini. Ada banyak yang harus diselesaikan, sebenarnya. Tapi … entahlah. Saya membuka almanak dan menyadari kalau beberapa hari lagi Oktober. Lalu itu membuat saya melihat lagi beberapa bulan ke belakang sampai ke awal tahun. Kesimpulannya hanya satu; roller coaster. Banyak yang datang, pergi, kembali, menolak pergi, atau menolak kembali. Beberapa hari lagi, saya harus memperbarui OS di laptop. Kemarin saya melakukannya untuk ponsel. Saya sudah...

Read More

Rain-MIKA

Is it really necessary? Every single day You’re making me more ordinary In every possible way (Rain-MIKA) 02:28 Ketika saya memulai tulisan ini. Malam sudah hilang tapi pagi belum datang. Saya memilih untuk menulis sambil menunggu subuh karena tidur pun rasanya sudah enggak bisa dilakukan. Lalu saya merindukan jendela. Di apartemen saya di Fayetteville, saya punya jendela di kamar dan di ruang tamu. Saya sengaja meletakkan meja di sana agar bisa mengetik sambil memandang ke luar. Enggak banyak yang bisa dilihat, memang. Jam sembilan pagi akan ada petugas UPS dengan truk besar berwarna hitamnya. Lalu menjelang siang di musim...

Read More

Kukis

Siang itu, sebelum dia memutus sambungan telepon, kau katakan padanya kalau suaranya meningatkanmu pada kukis cokelat yang biasa kau patahkan jadi dua sebelum akhirnya kau masukkan ke mulutmu. “Suaraku seperti rasa kukis?” tanyanya. “Bukan,” jawabmu, “seperti bunyi ketika kukis itu patah, renyah.“ Kau tidak bisa menjelaskannya–dan sepertinya tidak perlu–karena dia tertawa. Mungkin karena mengerti, mungkin juga karena perbandinganmu terdengar lucu. Tawanya membuatmu membayangkan berbungkus-bungkus kukis cokelat yang kau patahkan di penghujung musim dingin ketika kabut memotong jarak pandang. Kau harus keluar dari apartemenmu pagi itu. Berjalan menuju kelas dan matamu basah. Kau tidak ingin lagi di sini. Kau ingin...

Read More

Gelas

Sewaktu kau bilang kalau dia seperti gelas yang menampung isi hatimu, dia malah tertawa dan mengatakan kalau dia suka melihat apapun yang kau isikan ke dalam ‘gelas’-nya. “Hari ini apa?” tanyamu. Dia terdiam sebentar. Berpikir. Lalu tersenyum. “Kamu pernah lihat es buah dengan biji selasih?” Dia tidak menunggumu untuk menjawab. Kalaupun kamu menjawab tidak pernah, dia akan menjelaskannya padamu. Tapi kau pernah, kau katakan itu padanya. Dia lalu melanjutkan, “Hari ini ceritamu manis, tapi terlalu banyak biji selasihnya yang harus ditelan di antara potongan buah dan sirup dingin.” Kau tertawa. Kau baru saja bercerita tentang banyak ketakutanmu tentang kepergiannya....

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest