Author: Octaviani Nurhasanah

Comma (Part-1)

Agni sudah lupa bagaimana bentuk vila itu. Dia ingat kalau letaknya ada di puncak sebuah bukit kecil, lalu pemandangan dari jendela belakangnya menghadap ke sebuah gunung yang karena terlalu dekat, warnanya tidak terlihat membiru. Lalu halaman depan yang dipenuhi berbagai macam bunga. Hanya itu saja sisa ingatannya tentang tempat ini. Terakhir dia menginjakkan kaki di sini, ketika salah seorang sepupunya berulang tahun dan ingin merayakan hanya dengan keluarga dekat sekitar tiga tahun yang lalu. Mereka menginap dua malam dan yang paling dia ingat tentang hari itu; betapa dinginnya udara dini hari. Agni ingat untuk membawa baju hangat dan jaket karena Tante Lusi meminta untuk memilih beberapa dari lemari ketika mengantarkan kunci vila ini kemarin. Tantenya itu tahu kalau Agni perlu tempat pelarian, tempat sembunyi, mungkin juga tempat untuk pulih selama beberapa waktu. Dia datang dan menawarkan vila ini karena sejak kakeknya meninggal, tempat itu dijadikan semacam harta keluarga yang bisa dipakai siapapun tapi dirawat dan dikelola oleh Tante Lusi. Dia yang memegang kuncinya. Kadang ada beberapa minggu di musim liburan vila ini disewakan. Namun belakangan, setahu Agni, Tante Lusi tidak lagi menyewakannya karena dia ingin tidak ada satu hal pun dari vila ini jadi rusak. “Penyewa kadang enggak peduli dengan barang-barang di sana walaupun hasil sewanya lumayan juga untuk menutupi biaya operasional dan perawatan,” katanya sambil membantu Agni memilih baju hangat dari lemarinya, “yang merah jambu, lebih cantik,” lanjutnya...

Read More

Strange Encounter (by Thirteen Senses)

Siang itu saya sedang chat dengan seorang teman ketika tiba-tiba Spotify memutarkan lagu ini. Kalau kamu biasa membuat playlist di Spotify, kamu pasti tahu kalau untuk playlist dengan lagu kurang dari sepuluh, Spotify akan memutarkan lagu yang direkomendasikan—oleh algoritma mereka. Kebiasaan kamu mendengarkan lagu apa,  genrenya apa, kapan, seberapa banyak, dan sebagainya dijadikan acuan untuk melihat kamu itu kayak apa. Buat saya, sayangnya, kadang berhasil. Saya banyak menemukan lagu baru yang akhirnya saya suka dari rekomendasi itu. Are we all friends? Are we sent to defend you or keep you in? We’re not so hard, we’re the first to...

Read More

My Unpopular Opinions about Social Media

Saya punya banyak pendapat atau hal yang kadang ingin sekali saya sampaikan di sosial media, tapi, yaaah … biasanya enggak saya lakukan karena satu-dua hal yang jadi alasan. Alasan-alasan ini enggak populer, sayangnya. Enggak banyak dilakukan atau dipahami orang lain karena memang kita punya pemahaman dan sudut pandang yang beda, kan? Ini enggak masalah sama sekali. Saya juga hanya ingin cerita saja beberapa unpopular opinions yang saya punya. Siapa tahu ada yang sama dengan kamu tapi karena pencilan, enggak mainstream, jadinya enggak ada yang menjelaskannya terang-terangan. Iya, enggak? 1. Kamu bukan sosial mediamu, begitu juga dengan orang lain. Ada...

Read More

Catatan Penutup 2017

Tahun ini sudah akan berakhir dan rasanya cepet banget, ya, waktu berjalan. Tahu-tahu udah mau akhir tahun aja, gitu. Huft. Ini di luar kebiasaan saya untuk menulis catatan seperti ini, sebenarnya. Tapi tahun 2017 itu kayak roller-coaster buat saya. Kayak—kalau boleh minjem analogi yang dikasih Ambar ke Yusuf di film Tiga Hari untuk Selamanya—rasanya seperti; lo digantung, kaki lo di atas, dioyak-oyak sampai isi perut lo keluar semua, trus lo disuruh ngeliat lagi yang lo muntahin itu apaan. Rasanya persis kayak gitu buat saya. Ada banyak hal yang saya pelajari di sepanjang tahun ini. Banyak yang saya syukuri, banyak...

Read More

Behind The Draft: Ampersand

Akhirnya November berlalu, NaNoWriMo selesai, dan—seperti janji yang sudah saya katakan—saya akan menulis behind the draft Ampersand. Ini akan panjang—bisa jadi, ini akan panjang. Saya juga enggak tahu apa yang kamu bisa ambil dari tulisan ini jadi … bear with me, please. Proses kreatif itu memang rumit, berantakan, dan kadang sulit dijelaskan, tapi saya akan berusaha. Okay…. Dari awal sekali, ya. Ini juga akan jadi curhat sepertinya. Saya lelah. Itu yang saya rasakan di Oktober. Lelah pikiran. Saya sudah lamaaa … sekali enggak menulis—dengan benar. Bukan sekadar menulis caption di sosial media karena buat saya, itu bukan menulis—itu caption;...

Read More

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest