Author: Octaviani Nurhasanah

The Messiness of Human Connection

Beberapa waktu belakangan, saya teringat lagi dengan seorang teman  gadis yang pernah meminta pendapat, “Apa kalau kita suka dengan seseorang, kita seharusnya mengatakannya?” Waktu itu, saya jawab, “Jangan.” Pertimbangan saya waktu itu; bagaimana hati gadis ini kalau bujang itu mengatakan yang sebaliknya? Kalau dia enggak suka? Waktu berlalu dan saya melupakannya sampai saya ditanyakan lagi hal yang serupa, “Haruskah dikatakan?” Saya masih bilang, “Jangan.” Tapi kali ini dengan tambahan, “Kecuali kamu siap dengan segala resikonya.” Yang kali ini, dikatakan juga, dan akhirnya baik walaupun mereka enggak jadi menikah. Saya ingin melihat lagi semua yang saya pahami tentang hal ini...

Read More

It’s Called Breakup Because It’s Broken

Sebenarnya, saya agak malas menulis topik ini. Bukan karena menyakitkan untuk ditulis, bukan. Saya tahu kalau saya punya ambang batas rasa sakit yang rendah sekali. Saya enggak tahan sakit. Saya mudah menangis.  Saya mudah jatuh sayang pada apapun. Tapi sepertinya, orang patah hati menarik kedatangan orang patah hati yang lain. Jadi, saya pikir; sebaiknya saya tuliskan saja agar selesai dan jelas apa yang saya pikirkan tentang ini. Di tulisan ini, saya juga bilang, “Tanyakan lagi bulan depan.” Anggaplah sekarang ‘bulan depan’ itu. So please, take all this with a grain of salt. “Karena,” dia terdiam sebentar, memandangi saya, lalu...

Read More

Referensi: Buku, Podcast, dan Lainnya

Saya sedang membuat diagram struktur tiga babak ketika teringat; kenapa saya enggak membuat daftar referensi untuk proyek—iya, saya menganggap ini proyek pribadi yang saya bagi dengan kamu—tulisan tentang struktur cerita ini? Sebelumnya sempat terpikir untuk menuliskan saja referensi yang memang dipakai di setiap bagian tulisan, tapi … saya pikir akan lebih enak kalau saya buat satu tulisan yang merangkum semuanya sehingga kamu bisa mencari bukunya, mendengar podcast-nya, atau membaca artikelnya kalau kamu mau. Referensi saya enggak banyak sebenarnya—kebanyakan referensi juga susah mengurusnya karena pemikiran yang ditulis di tiap referensi akan berbeda. Jadi, saya perlu untuk memutuskan mazhab mana yang...

Read More

2. Premis (Bagian-1)

Setelah ide, lalu apa? Premis. Saya jawab begini karena saya mau kamu paham bahwa ide itu bukan cerita—sementara kamu seharusnya menceritakan cerita, a story. Bukan ide apalagi konsep. Saya mau baca cerita, bukan baca kamus apalagi laporan penelitian. Premis akan menjadi tulang belakang yang membuat cerita kamu tetap ada di bentuk yang kamu inginkan (atau dalam kebanyakan kasus saya; dalam bentuk yang seharusnya saya buat karena di tengah proses menulis, sering kali saya lebih tertarik untuk menceritakan ide dan konsep dibanding cerita itu sendiri). Harry Potter, misalnya, idenya adalah tentang sekolah sihir dengan segala macam world building yang memukau....

Read More

1. Tentang Ide

“D ari mana datangnya ide?” Ini juga pertanyaan yang membuat saya meringis setiap kali akan menjawabnya. Bukan karena saya tidak mau mengatakannya. Bukan itu. Ide itu bukan sesuatu yang tersimpan di sebuah tempat rahasia yang ketika kamu tahu tempat itu, sebaiknya kamu tidak beritahukan ke siapapun. Sekali lagi bukan. Tapi karena ini—lagi-lagi—pertanyaan sederhana yang rumit. Neil Gaiman menjawab begini: “You get ideas from daydreaming. You get ideas from being bored. You get ideas all the time. The only difference between writers and other people is we notice when we’re doing it.” Ketika baru belajar dan mulai menulis, saya ingin...

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest