Author: Octaviani Nurhasanah

Behind The Draft: Ampersand

Akhirnya November berlalu, NaNoWriMo selesai, dan—seperti janji yang sudah saya katakan—saya akan menulis behind the draft Ampersand. Ini akan panjang—bisa jadi, ini akan panjang. Saya juga enggak tahu apa yang kamu bisa ambil dari tulisan ini jadi … bear with me, please. Proses kreatif itu memang rumit, berantakan, dan kadang sulit dijelaskan, tapi saya akan berusaha. Okay…. Dari awal sekali, ya. Ini juga akan jadi curhat sepertinya. Saya lelah. Itu yang saya rasakan di Oktober. Lelah pikiran. Saya sudah lamaaa … sekali enggak menulis—dengan benar. Bukan sekadar menulis caption di sosial media karena buat saya, itu bukan menulis—itu caption;...

Read More

A Monster Calls

“Stories are wild creatures, the monster said. When you let them loose, who knows what havoc they might wreak?” Patrick Ness, A Monster Calls Malam setelah menyelesaikan NaNoWriMo 2017, walaupun lelah sekali, saya enggak bisa tidur. Sejak siang, saya mengejar sisa 6.500 kata dan menjelang malam baru bisa melewati batas 50.000 kata. Bukan capek duduk mengetik, sih, yang paling terasa; tapi capek pikiran. Baru kali ini saya menulis tanpa outline—hanya dengan catatan enggak cukup panjang dan detail tentang bagaimana cerita itu selesai di kepala saya. Setiap hari selama sebulan, saya duduk di depan laptop dengan memikirkan; mau dibawa ke...

Read More

Writing Kissing Scene

“How to stop time: kiss. How to travel in time: read. How to escape time: music. How to feel time: write. How to release time: breathe.” Matt Haig, Reasons to Stay Alive I’m not a good kisser but I know what a good kiss feels like, or am I?—sayangnya, standar seperti ini enggak saya temukan baca di novel young adult dan romens lokal. Memangnya gimana good or bad kisses itu kalau ditulisankan, dideskripsikan, bukan hanya selayang lalu, tapi juga detail dan visceral? Hahahaa. Penasaran enggak? Saya sesungguhnya penasaran….  Dari sini juga masalah datang; saya ingin menuliskan adegan ciuman tapi...

Read More

Rethinking Friendship

“Ally.” Peeta says the words slowly, tasting it. “Friend. Lover. Victor. Enemy. Fiancee. Target. Mutt. Neighbor. Hunter. Tribute. Ally. I’ll add it to the list of words I use to try to figure you out. The problem is, I can’t tell what’s real anymore, and what’s made up.”  (Suzanne Collins—Mockingjay) Kalau enggak karena harus membahasnya jadi tema di satu episod podcast yang sedang dibuat, mungkin saya enggak akan memikirkannya sampai jauh seperti sekarang ini. Sudah kadung dipikirkan, sudah banyak—bahkan yang bukan tentang hal ini tapi masih ada hubungannya—dibaca, dan waktu pun banyak dihabiskan untuk memikirkannya, jadi … sekalian saja...

Read More

Restart

October is mine—always mine. Saya menuliskan ini setelah main games hampir dua jam. Mungkin sudah lebih dua bulan saya enggak membuka akun Origin saya. Kemarin ada surel pemberitahuan kalau ada aktivitas mencurigakan di akun ini. Ada banyak yang harus diselesaikan, sebenarnya. Tapi … entahlah. Saya membuka almanak dan menyadari kalau beberapa hari lagi Oktober. Lalu itu membuat saya melihat lagi beberapa bulan ke belakang sampai ke awal tahun. Kesimpulannya hanya satu; roller coaster. Banyak yang datang, pergi, kembali, menolak pergi, atau menolak kembali. Beberapa hari lagi, saya harus memperbarui OS di laptop. Kemarin saya melakukannya untuk ponsel. Saya sudah...

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest