Author: Octaviani Nurhasanah

Narrator Voice on The Opposite of Loneliness

Sepekan belakangan, saya membaca The Opposite of Loneliness, buku Marina Keegan yang di dalamnya ada esai dan fiksi. Tentang buku ini, saya akan ceritakan lebih banyak di tulisan lain. Di sini, saya hanya ingin membahas bagaimana dia bercerita di cerpen yang dia tulis. Kamu pernah enggak membaca tulisan yang rasanya seperti mendengar penulisnya bicara? Nah, begitu rasanya buat saya ketika membaca cerpen Keegan. Saya memang enggak pernah tahu bagaimana dia bicara—karena untuk kasus tertentu, ketika suara penulisnya kadung kamu tahu dan suka, mustahil rasanya enggak membaca apa yang dia tulis dengan suaranya. Ini terjadi pada saya ketika membaca buku...

Read More

Menyoal Aksarayana, Kerja Kreatif, Platform Kepenulisan, dan Curhat Lainnya

Sudah lima bulan lebih Ririn, Gian, dan saya membuat Aksarayana tapi, ah … belum satu pun saya menuliskan tentang proyek ini. Saya sudah membuktikan teori yang bilang kalau kamu punya ide atau rencana, bicarakan dengan orang yang benar terlibat dan penting, setelah terlaksana dan selesai, baru kabarkan pada dunia. Ini ada benar, loh. Logikanya sederhana aja sebenarnya. Kalau kamu punya ide, membicarakannya dengan banyak orang—misalnya dengan membaginya di media sosial dan mendapat tanggapan berupa likes, love, atau komen—akan membuat exciment-nya (yaelaaah, ini bahasa Indonesia yang tepatnya apaan, ya …) berkurang. Kamu nyeritain ke mana-mana itu, puasnya sama dengan kamu...

Read More

Present Tense by Radiohead; My Bittersweet Personal Apocalypse Soundtrack

Judulnya kenapa dramatis banget begitu, ya? Hadeuh. Jadi ceritanya, saya dan Gian membuat tantangan baru di blog—karena yaaah … nulis begitu aja tanpa dipaksa nyaris mustahil buat dia. Setiap pekan akan ada satu tulisan yang disepakati sebagai tantangan. Bisa apa saja dengan tema (juga) apa saja. Pekan ini, sebagai penantang pertama, saya mengajukan tema: Tulis makna dan cerita di balik lagu Present Tense-nya Radiohead. Tulisan Gian, bisa dibaca di sini: Radiohead dan Milan Kundera Saya enggak tahu apa lagu ini bermakna buatnya—bodo amat. Hahahaaa. Tapi lagu ini adalah satu dari banyak lagu Radiohead yang saya suka. Mungkin bukan lagu...

Read More

Hiburan yang Membebani

Ini cuma cerita-cerita aja, sih. Bukan buat apa-apa. Jadi, yaaah … jangan terlalu anggap serius tulisan ini. Oke? Jadi, beberapa waktu belakangan, saya mengalami—entah apa namanya—semacam kemalasan untuk menghibur diri. Saya punya draf yang sedang ditulis ulang, lalu ada draf baru di Proyek Botolan Aksarayana (ini termasuk draf yang ditulis santai saja, sebenarnya), lalu ada dua podcast yang—ketika tulisan ini sedang saya selesaikan—sudah berjalan, dan terakhir ada Aksarayana dengan segala keriuhannya. Punya hal-hal yang mau diurus seperti itu, dalam kondisi normal, biasanya saya akan mencari hiburan di tengah waktu senggang. Apa saja; buku, serial, film, bahkan hanya sekadar bacaan ringan...

Read More

Cabe, Dongeng Globalisasi, dan Perdagangan Bebas

Cabe buat saya itu harga mati: enggak bisa makan kalau enggak ada cabe. Nasi masih bisa ditawar karena masih ada subsitusinya seperti roti atau makan lauk tanpa nasi. Tapi—tapi ini pendapat pribadi orang yang suka pedas, ya—kalau makan enggak pakai cabe, rasanya kayak makan kertas; enggak ada rasanya. Mungkin karena saya orang Padang. Mungkin juga karena saya memang sudah kecanduan cabe karena dari kecil sudah dicekokin pakai makanan pedas. Orang makan cabe dan merasa kepedesan itu mirip dengan orang yang lagi naik roller-coaster. Mereka sama-sama melepaskan endorphin yang merupakan senyawa sejenis morphin. Perasaan senang dan exited inilah yang membuat...

Read More

Pin It on Pinterest