Author: Octaviani Nurhasanah

Closure

“Nanti overdosis kafein lagi,” kata Arya. Meletakkan satu cangkir kopi, yang kali ini, hitam. “Seperti tempo hari.” Aku mengadah sebentar untuk memberikan tatapan yang seolah bicara, ‘not your business’. Biasanya dia tidak mengerti. Tapi hari ini, dia melanjutkan lagi, “Kalau itu terjadi, panggil gue, ya. Biar gue bisa berdiri di sini sambil buat bilang, I told you so.” Aku menggerutu, sial. Tapi ini sudah cangkir ke tiga. Yang pertama masih cappuccino dengan segala pernik gula dan krimnya. Dua yang terakhir, aku memilih hitam, pekat, tanpa gula. Menjelang pagi tadi, dia meneleponku. Tidak menggangu tidurku sama sekali karena dini hari...

Read More

Kadung

Aku mengingatmu dengan cara berbeda pagi ini. Setelah ceceran huruf, kata, dan kalimat itu aku singkirkan, kamu tidak lagi berbentuk seperti lembaran cerita. Kamu jadi tinggal makna. Seperti salju tipis yang turun perlahan tadi malam; meninggi, lalu mencair, dan kemudian kembali membeku. Kamu bukan lagi tumpukan itu. Kamu adalah cerah langit setelahnya, ketika aku tengadah. Aku mengingatmu dengan cara berbeda pagi ini. Itu yang ingin aku katakan padamu. Tapi percakapan itu hanya ada di kepalaku. Aku mengatakannya sambil menekuri cangkir kopiku—dengan campuran banyak creamer, tidak hitam pekat seperti yang ada di cangkirmu. Lalu kamu, seperti biasa, akan menanggapinya dengan...

Read More

Hope (Wish atau So Won)

Keputusan impulsif yang saya sesali di bulan lalu; menonton film ini di jam tiga dini hari ketika saya enggak bisa tidur. Awalnya saya pikir ini film tentang keluarga, heart warming, enggak bakalan bikin mood jadi berantakan, terus bisa bikin ngantuk kalau ceritanya lambat dan banyak dialog. Jadi, ketika saya sudah menonton setengah jam pertama, saya jadi galau mau melanjutkan atau enggak. Bukan penasaran dengan ceritanya, bukan. Tapi penasaran dengan eksekusinya. Film ini enggak perlu waktu lama untuk masuk ke bagian yang paling menyakitkan, jadi seharusnya setelah kejadian itu, enggak akan ada lagi adegan yang menyakitkan. Seperti setelah titik terendah,...

Read More

Rundung

Rundung Kamu bilang, itu penyambung. Aku katakan, itu pemisah—dan apapun tentang perpisahan selalu saja menyakitkan. Tapi di sore Desember ini berkabut. Setelah hujan dan dingin membuat berai air sebagiannya membeku. Kamu optimis dan aku pesimis, katamu lagi. Terbalik, kataku. Kamu tertawa. Aku masih keras kepala kalau itu pemisah. Bahwa pada awalnya tidak ada siang dan malam, gelap dan terang. Semua sama. Ketika perhitungan mulai diciptakan, dan debu-debu angkasa dipadatkan, gravitasi menjadi tidak terelakkan, ketika itu, waktu menjadi relatif, dan masa pun seperti jarak dan arah pandang; di depan atau di belakang. Masa lalu atau masa depan. Kita bicara senja,...

Read More

Kopi, Kenangan, dan Kebiasaan

Kopi, Kenangan, dan Kebiasaan Saya suka dengan perkembangan kopi akhir-akhir ini; banyak kedai kopi baru bermunculan; sederhana, hangat, enak, dan harganya terjangkau. Kebiasaan minum kopi yang beberapa waktu belakangan dibawa ke tempat mahal, dijadikan bagian dari kegiatan nongkrong, sekarang kembali seperti yang dulu pernah sangat saya kenal. Saya lupa tepatnya kapan saya mulai ngopi. Mungkin SMA … kelas dua—entahlah. Yang jelas, sepertinya saya menghabiskan masa remaja saya dengan minum kopi, mendengarkan radio, dan membaca buku. Waktu itu, baru saja mulai ada kopi saset yang agak fancy; dengan tambahan creamer dan bermacam rasa. Sebelumnya yang ada hanya kopi saset hitam, kopi...

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest