Author: Octaviani Nurhasanah

Untuk Bisa Mencintaimu Esok Hari

L ama sekali saya enggak menulis tentang pernikahan. Dulu, ini jadi topik kesukaan saya. Tingkat kesukaannya sama dengan; ketika saya membaca buku bagus atau menonton film yang luar biasa, lalu saya teramat ingin membahasnya dengan seluruh dunia. Rasanya seperti itu. Tapi, lama-kelamaan, ketika usia pernikahan makin bertambah, saya malah makin enggak paham dengan pernikahan saya sendiri. Selain syukur yang dalam bahwa saya diberikan suami semacam itu (ini lengkap dengan banyak hal yang saya suka dan enggak suka darinya), I humbled by this marriage. Sampai saya ada di satu titik di mana saya sendiri bingung, apa yang bisa saya berikan...

Read More

Ujung Pelangi

Aku pernah menemukan ujung pelangi. Dulu, dulu sekali. Waktu itu hujan sedari pagi. Ketika siang datang, hujan tidak kunjung berhenti dan matahari enggan mengalah. Lalu hujan pun turun di tengah terik. Indah. Tetes nya tidak seperti butiran, kalau kamu mau tahu. Dia lebih seperti tarikan-tarikan garis lurus yang mirip seperti benang putus. Sangat masuk akal kalau Frau—penyanyi dari Jogya itu—kemudian ingin membuat mesin untuk menenun hujan itu dan kembali menjadikannya awan. Sangat masuk akal. Aku pun seperti melihat benang-benang putus yang jatuh dari langit. Memantulkan terik sehingga kelihatan seolah mengeluarkan cahaya sendiri. Seperti mantra pengantar pelangi yang muncul melengkung...

Read More

Dia Pikir

Dia pikir, dia bisa menghilang setelah malam itu. Berjingkat pelan membuka pintu. Dia pikir, ini tentang pergi, kembali, atau keduanya. Tapi selalu ada pilihan keempat; tidak mengambil pilihan karena tidak memilih pun, sebuah pilihan. Dia pikir, dia bisa kembali berkelana. Menari di keributan pasar yang menurutnya—dulu—adalah tempat paling indah untuk memperlihatkan tarian terbaiknya. Dia pikir, pasar itu akan selalu ada. Tapi ketika di suatu pagi dia bangun dan berjalan ke sana, yang dia lihat hanya tanah lapang dan cekung langit di atasnya. Sepi. Suara angin pun tiada. Dia pikir, ini tentang keadaan sementara. Bagaimana kalau ini selamanya? Bagaimana kalau...

Read More

Happy International Women’s Day

Duh, udah lama enggak nulis Ceracau Pagi. Karena hari ini istimewa dan enggak bisa dilewatkan begitu saja, saya mau nulis kalau begitu. Hari ini; International Women’s Day. Kalau ada yang nanya; kenapa pula begini-beginian dibuat harinya, sih? Sesungguhnya, saya udah liat ada yang nanya kayak begitu di Twitter. Bagaimana kalau saya jawab; untuk mengingatkan. Seperti halnya hari ulang tahun yang buat saya enggak lebih sebagai pengingat bahwa saya sudah bertambah usianya. Sekarang saya usia saya 30 tahun. Yang mana, kalau saya diberi jatah umur mendekati Rasulullah, 63 tahun, itu artinya … sederhananya; saya udah setengah mati. Pedih, kan, diingatkan...

Read More

Terlalu Sakit

Terlalu Sakit aku lihat pesanmu, Nonaaku membacanyatapi tidak kubalasaku takut, kita jadi terlalu sakit nantinya imaji tentangmu mengabur di kepalaku pagi ini, Nonamenyesakmerisakjadi mimpi buruk yang mengawan sepanjang hari di atas kepalamembuat nyawaku seolah melayangmengawang karena, Nonatidak ada yang lebih aku inginkan pagi iniselain ada di depanmu dan mengatakan semua yang pura-pura kita rahasiakan dari hati sendiri aku tahu kau juga sama nelangsanyatapi sekali lagi, Nonacukup sampai di siniaku takut, kita jadi terlalu sakit akhirnya Credit to all images:...

Read More

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest