Select Page

Author: Octaviani Nurhasanah

Teaser Podcast PMJ Eps. 1: Millenials dan Budhe Sumiyati

Akhirnyaaa … alhamdulillah, Podcast PMJ (Podcast Malam Jum’at) akhirnya sudah selesai direkam, diedit, dan siap diedarkan. Karena kami ingin keren dan kece, maka kami buat teaser ini. Halah.  PMJ Episode 1: Millenials dan Budhe Sumiyati by Octaviani Nurhasanah & Fahri Dayni | Season 1 http://octavianinurhasanah.net/wp-content/uploads/2017/03/PMJ-Eps-1-Opening.mp3 Silakan unduh episod ini: ...

Read More

Date a Girl Who Read

Date a Girl Who Read By: Rosemarie Urquico This is not written by me. I am sharing this, because I was smiling constantly while reading it online. And I want to save it for myself and read it whenever I feel bad about life or about relationships. I want to be able to remember that there are millions more like me. And millions who understand how to be with me. Date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes. She has problems with closet space because she has too many books....

Read More

Masai

Masai Kalau aku katakan, kau jatuh cinta padanya karena tidak pernah melihatnya dalam keadaan biasa saja, kau pasti tidak akan percaya. Kau tidak pernah melihatnya dengan mata bengkak di suatu sore di halte itu. Kau datang setengah jam setelahnya dan ketika itu, matanya hanya tersisa sedikit merah—sama seperti gincunya yang memudar karena dia terlalu banyak menggigiti bibirnya. Mungkin agak sembab tapi kau tidak bisa melihat bedanya karena mata itu selalu sembunyi di balik kacamata minusnya. Kau tidak pernah menemukannya dengan rambut berantakan yang diikat dengan karet—yang dia pungut sembarangan dari lantai—dan baju lusuh yang tidak juga diganti dari kemarin....

Read More

Hai!

Hai! Dinda terkejut ketika cambuk kilat keemasan melecut di langit abu-abu yang menutupi kota ini seharian. Dia memegangi payung hitamnya dengan lebih erat. Beberapa detik kemudian, gemuruh terdengar di langit. Selalu saja datang terlambat karena dia kalah cepat. Lampu-lampu jalan sudah menyala padahal sekarang baru saja jam lima sore. Jalanan yang basah memantulkannya sehingga seolah ada lebih banyak sumber cahaya daripada yang sebenarnya. Sesekali mobil lewat di depannya, pelan. Lampu depan mobil itu menembus hujan yang membuat tetesannya tampak lebih jelas; seperti jarum-jarum panjang yang menghujam ke tanah lalu pecah. Seorang laki-laki yang juga memakai payung hitam berjalan pelan...

Read More

Nama

nama Gerimis ini terlalu terburu-buru. Aku berlari di bawahnya, menyelamatkan diri dari tetes air yang sudah berhasil membuat kemejaku basah di sepanjang jalan tadi. Menepi. Berdiri di bawah kanopi kafe berwarna merah. Jalanan memantulkan lampu-lampu mobil. Membuat warnanya berkilau, tidak lagi hitam. Aroma kopi membuatku menoleh. Kafe itu sepertinya ramai sekali. Tidak seperti di luar sini, di tepi jalan ini, hanya aku sendirian. Aku pun mengikuti kata hatiku untuk masuk ke sana. Satu dua cangkir kopi di dingin malam seperti ini, sambil menunggu gerimis menjadi hujan lalu kemudian kembali menjadi gerimis dan berhenti, tidak ada salahnya dicoba. Ketika aku...

Read More

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest