Author: Octaviani Nurhasanah

Malam Malam

Aku ingin kau bertanggung-jawab pada malam-malam tidak bisa tidurku, Tuan. Aku menunggumu. Muncul. Dalam huruf-huruf lengkung di monitorku. Banyak rindu yang tidak terkatakan. Bercampur dengan lagu-lagu yang aku dengarkan—membuat semua ini jadi semakin buruk. Aku ingin kau bertanggung-jawab pada cekung hitam di bawah mataku, Tuan. Sewarna kopi yang selalu ada di depanku setiap kali. Isi kepalaku berantakan. Seperti kaca besar yang kau hempaskan. Pecah. Tidak karuan. Tuan, seandainya perasaan ini datang pelan-pelan, aku tentu bisa menyelamatkan diri lebih dulu. Tapi dia menyergap lebih cepat dari hujan tadi sore. Luput dari perkiraan. Tuan. Aku ingin meletakkan sebentar kepalaku di meja...

Read More

The Garden of Words

Semalem saya susah tidur lagi—halah, emang seumur hidup susah tidur kayaknya. Mau menulis review film lain, semangat sepertinya luruh bersama hujan (alasan). Jadi saya nonton anime yang sudah lama ada di list Netflix saya tapi belum juga saya tonton sejak lama. Bukan karena saya enggak suka anime, sih. Ini lebih karena prasangka saya kalau anime ini akan lucu-lucu menggemaskan seperti kebanyakan yang lain. Sesuatu yang sehabis ditonton berlalu begitu saja. Untuk prasangka ini, saya salah. Saya masih memikirkan anime ini sampai siang, sore, dan sekarang ini. Jadi saya tulis review ini agar perasaan yang mengendap di kepala saya hilang...

Read More

Perca

Uma bilang, dulu Nay pernah punya jantung seperti gadis lain. Segumpal daging, merah, dan berdenyut—memompa darah. Uma mengatakan itu sambil menjahitkan perca baru di atas berlapis-lapis kain dengan berbagai motif yang digulung dan berbentuk seperti kuncup mawar yang setengah merekah di pengujung Mei. Setelah dingin berangsur pergi dan matahari tidak lagi enggan bersinar sepanjang siang. Uma sudah berhenti menyebutnya ‘jantung’ setelah Nay menghancurkannya tidak lama sesudah dia bertemu dengan bujang itu di awal masa remajanya. Uma lalu menyebutnya ‘jantung-hati’, karena katanya waktu itu, di sana juga disimpan rasa. “Siapa namanya? Bujang itu?” tanya Uma. Tangannya masih sibuk menusukkan jarum...

Read More

Closure

“Nanti overdosis kafein lagi,” kata Arya. Meletakkan satu cangkir kopi, yang kali ini, hitam. “Seperti tempo hari.” Aku mengadah sebentar untuk memberikan tatapan yang seolah bicara, ‘not your business’. Biasanya dia tidak mengerti. Tapi hari ini, dia melanjutkan lagi, “Kalau itu terjadi, panggil gue, ya. Biar gue bisa berdiri di sini sambil buat bilang, I told you so.” Aku menggerutu, sial. Tapi ini sudah cangkir ke tiga. Yang pertama masih cappuccino dengan segala pernik gula dan krimnya. Dua yang terakhir, aku memilih hitam, pekat, tanpa gula. Menjelang pagi tadi, dia meneleponku. Tidak menggangu tidurku sama sekali karena dini hari...

Read More

Kadung

Aku mengingatmu dengan cara berbeda pagi ini. Setelah ceceran huruf, kata, dan kalimat itu aku singkirkan, kamu tidak lagi berbentuk seperti lembaran cerita. Kamu jadi tinggal makna. Seperti salju tipis yang turun perlahan tadi malam; meninggi, lalu mencair, dan kemudian kembali membeku. Kamu bukan lagi tumpukan itu. Kamu adalah cerah langit setelahnya, ketika aku tengadah. Aku mengingatmu dengan cara berbeda pagi ini. Itu yang ingin aku katakan padamu. Tapi percakapan itu hanya ada di kepalaku. Aku mengatakannya sambil menekuri cangkir kopiku—dengan campuran banyak creamer, tidak hitam pekat seperti yang ada di cangkirmu. Lalu kamu, seperti biasa, akan menanggapinya dengan...

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest