Author: Octaviani Nurhasanah

Hai!

Hai! Dinda terkejut ketika cambuk kilat keemasan melecut di langit abu-abu yang menutupi kota ini seharian. Dia memegangi payung hitamnya dengan lebih erat. Beberapa detik kemudian, gemuruh terdengar di langit. Selalu saja datang terlambat karena dia kalah cepat. Lampu-lampu jalan sudah menyala padahal sekarang baru saja jam lima sore. Jalanan yang basah memantulkannya sehingga seolah ada lebih banyak sumber cahaya daripada yang sebenarnya. Sesekali mobil lewat di depannya, pelan. Lampu depan mobil itu menembus hujan yang membuat tetesannya tampak lebih jelas; seperti jarum-jarum panjang yang menghujam ke tanah lalu pecah. Seorang laki-laki yang juga memakai payung hitam berjalan pelan...

Read More

Nama

nama Gerimis ini terlalu terburu-buru. Aku berlari di bawahnya, menyelamatkan diri dari tetes air yang sudah berhasil membuat kemejaku basah di sepanjang jalan tadi. Menepi. Berdiri di bawah kanopi kafe berwarna merah. Jalanan memantulkan lampu-lampu mobil. Membuat warnanya berkilau, tidak lagi hitam. Aroma kopi membuatku menoleh. Kafe itu sepertinya ramai sekali. Tidak seperti di luar sini, di tepi jalan ini, hanya aku sendirian. Aku pun mengikuti kata hatiku untuk masuk ke sana. Satu dua cangkir kopi di dingin malam seperti ini, sambil menunggu gerimis menjadi hujan lalu kemudian kembali menjadi gerimis dan berhenti, tidak ada salahnya dicoba. Ketika aku...

Read More

Untuk Bisa Mencintaimu Esok Hari

L ama sekali saya enggak menulis tentang pernikahan. Dulu, ini jadi topik kesukaan saya. Tingkat kesukaannya sama dengan; ketika saya membaca buku bagus atau menonton film yang luar biasa, lalu saya teramat ingin membahasnya dengan seluruh dunia. Rasanya seperti itu. Tapi, lama-kelamaan, ketika usia pernikahan makin bertambah, saya malah makin enggak paham dengan pernikahan saya sendiri. Selain syukur yang dalam bahwa saya diberikan suami semacam itu (ini lengkap dengan banyak hal yang saya suka dan enggak suka darinya), I humbled by this marriage. Sampai saya ada di satu titik di mana saya sendiri bingung, apa yang bisa saya berikan...

Read More

Ujung Pelangi

Aku pernah menemukan ujung pelangi. Dulu, dulu sekali. Waktu itu hujan sedari pagi. Ketika siang datang, hujan tidak kunjung berhenti dan matahari enggan mengalah. Lalu hujan pun turun di tengah terik. Indah. Tetes nya tidak seperti butiran, kalau kamu mau tahu. Dia lebih seperti tarikan-tarikan garis lurus yang mirip seperti benang putus. Sangat masuk akal kalau Frau—penyanyi dari Jogya itu—kemudian ingin membuat mesin untuk menenun hujan itu dan kembali menjadikannya awan. Sangat masuk akal. Aku pun seperti melihat benang-benang putus yang jatuh dari langit. Memantulkan terik sehingga kelihatan seolah mengeluarkan cahaya sendiri. Seperti mantra pengantar pelangi yang muncul melengkung...

Read More

Dia Pikir

Dia pikir, dia bisa menghilang setelah malam itu. Berjingkat pelan membuka pintu. Dia pikir, ini tentang pergi, kembali, atau keduanya. Tapi selalu ada pilihan keempat; tidak mengambil pilihan karena tidak memilih pun, sebuah pilihan. Dia pikir, dia bisa kembali berkelana. Menari di keributan pasar yang menurutnya—dulu—adalah tempat paling indah untuk memperlihatkan tarian terbaiknya. Dia pikir, pasar itu akan selalu ada. Tapi ketika di suatu pagi dia bangun dan berjalan ke sana, yang dia lihat hanya tanah lapang dan cekung langit di atasnya. Sepi. Suara angin pun tiada. Dia pikir, ini tentang keadaan sementara. Bagaimana kalau ini selamanya? Bagaimana kalau...

Read More

Pin It on Pinterest