Author: Octaviani Nurhasanah

Hope (Wish atau So Won)

Keputusan impulsif yang saya sesali di bulan lalu; menonton film ini di jam tiga dini hari ketika saya enggak bisa tidur. Awalnya saya pikir ini film tentang keluarga, heart warming, enggak bakalan bikin mood jadi berantakan, terus bisa bikin ngantuk kalau ceritanya lambat dan banyak dialog. Jadi, ketika saya sudah menonton setengah jam pertama, saya jadi galau mau melanjutkan atau enggak. Bukan penasaran dengan ceritanya, bukan. Tapi penasaran dengan eksekusinya. Film ini enggak perlu waktu lama untuk masuk ke bagian yang paling menyakitkan, jadi seharusnya setelah kejadian itu, enggak akan ada lagi adegan yang menyakitkan. Seperti setelah titik terendah,...

Read More

Rundung

Rundung Kamu bilang, itu penyambung. Aku katakan, itu pemisah—dan apapun tentang perpisahan selalu saja menyakitkan. Tapi di sore Desember ini berkabut. Setelah hujan dan dingin membuat berai air sebagiannya membeku. Kamu optimis dan aku pesimis, katamu lagi. Terbalik, kataku. Kamu tertawa. Aku masih keras kepala kalau itu pemisah. Bahwa pada awalnya tidak ada siang dan malam, gelap dan terang. Semua sama. Ketika perhitungan mulai diciptakan, dan debu-debu angkasa dipadatkan, gravitasi menjadi tidak terelakkan, ketika itu, waktu menjadi relatif, dan masa pun seperti jarak dan arah pandang; di depan atau di belakang. Masa lalu atau masa depan. Kita bicara senja,...

Read More

Kopi, Kenangan, dan Kebiasaan

Kopi, Kenangan, dan Kebiasaan Saya suka dengan perkembangan kopi akhir-akhir ini; banyak kedai kopi baru bermunculan; sederhana, hangat, enak, dan harganya terjangkau. Kebiasaan minum kopi yang beberapa waktu belakangan dibawa ke tempat mahal, dijadikan bagian dari kegiatan nongkrong, sekarang kembali seperti yang dulu pernah sangat saya kenal. Saya lupa tepatnya kapan saya mulai ngopi. Mungkin SMA … kelas dua—entahlah. Yang jelas, sepertinya saya menghabiskan masa remaja saya dengan minum kopi, mendengarkan radio, dan membaca buku. Waktu itu, baru saja mulai ada kopi saset yang agak fancy; dengan tambahan creamer dan bermacam rasa. Sebelumnya yang ada hanya kopi saset hitam, kopi...

Read More

Tentang Ketakutan, The Giver, dan Kata Pengantar Lois Lowry

Kemarin, saya mulai membaca ulang The Giver karena saya—berencana—untuk mendiskusikannya dengan seorang teman. Tentang teman ini, dia adalah satu-satunya orang yang ketika saya katakan kalau saya suka The Giver (dan Lois Lowry), dia langsung menyahut dan bilang, “Aku juga suka!” Saya tidak tahu, apa banyak yang belum kenal Lois Lowry dan karyanya—padahal The Giver sudah difilmkan dan Taylor Swift main di sana. Iya, Taylor Swift yang itu. Yang satu itu. Memang bukan film yang bagusnya kebangetan, sih. Tapi cukup bagus untuk membuat saya tidak punya banyak komplain. Tentang filmnya, nanti kapan-kapan saya review. Saya bukan mau nyeritain itu sekarang....

Read More

The Tale of Desperaux

Penulis: Kate diCamillo Penerjemah: Diniarty Pandia Tebal: 275 halaman paperback Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 2005 Harga: Errr … lupa. Ini kisah tentang Despereaux Tilling, tikus kastil yang jatuh cinta pada musik, cerita-cerita, dan putri bernama Pea. Ini juga kisah tentang tikus got bernama Roscuro, yang hidup dalam kegelapan namun sangat menyukai dunia yang dipenuhi cahaya. Dan ini kisah tentang Miggery Sow, gadis pelayan berotak lamban yang memiliki satu harapan yang sederhana tapi mustahil. Saya suka membaca novel anak. Bukan karena ceritanya aja sih, tapi juga karena “mudah”. Beberapa novel anak yang saya baca berakhir menjadi hiburan saja. Tapi, yang satu...

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest