Author: Octaviani Nurhasanah

Bukan Hari yang Baik untuk Jatuh Cinta

Bukan Hari yang Baik untuk Jatuh Cinta “Ini bukan hari yang baik untuk jatuh cinta.” Aku katakan itu padamu Menyeret ujung kalimat dengan napas panjang Bahwa tempat itu adalah rumah sepi Muram seperti malam kesiangan di musim dingin tahun lalu Aku sudah lupa, Apakah hari itu aku juga memutuskan Bahwa tidak turun salju bertanda tidak akan ada juga rasa yang jatuh Atau sebaliknya? Pelafon tua. Lantai dingin. Sisa-sisa tubuh di atas meja “Ini bukan hari yang baik untuk jatuh cinta.” Aku katakan itu padamu Dengan mengaduk sedikit rasa agar tidak mengendap terlalu lama Tapi aku juga lupa Kalau kata...

Read More

Sepertimu

Sepertimu by Octa http://octavianinurhasanah.net/wp-content/uploads/2017/07/Sepertimu.mp3 Bukan kepergian atau kedatanganmu yang aku sesali, Tuan. Bukan pula ratusan baris dari malam tak bisa tidurku tersia-sia. Aku sudah lama tak terikat pada apapun; tempat, benda, bahkan makhluk bernyawa. Berjalan ringan karena apapun yang aku titipkan rasa, selalu saja memberat langkah pada akhirnya. Kadang lebih dari itu, Tuan; mengoyak jantung kalau terpisah. Aku sudah tak punya lagi tenaga untuk menjahit hati yang selalu saja hancur jadi perca. Karena mungkin setelah ini, kalau harus koyak lagi, rasanya ingin saja mengeluarkan jantung itu dari rongga dada. Bukan kepergian atau kedatanganmu kembali yang aku sesali, Tuan. Bukan...

Read More

Malam Malam

Aku ingin kau bertanggung-jawab pada malam-malam tidak bisa tidurku, Tuan. Aku menunggumu. Muncul. Dalam huruf-huruf lengkung di monitorku. Banyak rindu yang tidak terkatakan. Bercampur dengan lagu-lagu yang aku dengarkan—membuat semua ini jadi semakin buruk. Aku ingin kau bertanggung-jawab pada cekung hitam di bawah mataku, Tuan. Sewarna kopi yang selalu ada di depanku setiap kali. Isi kepalaku berantakan. Seperti kaca besar yang kau hempaskan. Pecah. Tidak karuan. Tuan, seandainya perasaan ini datang pelan-pelan, aku tentu bisa menyelamatkan diri lebih dulu. Tapi dia menyergap lebih cepat dari hujan tadi sore. Luput dari perkiraan. Tuan. Aku ingin meletakkan sebentar kepalaku di meja...

Read More

The Garden of Words

Semalem saya susah tidur lagi—halah, emang seumur hidup susah tidur kayaknya. Mau menulis review film lain, semangat sepertinya luruh bersama hujan (alasan). Jadi saya nonton anime yang sudah lama ada di list Netflix saya tapi belum juga saya tonton sejak lama. Bukan karena saya enggak suka anime, sih. Ini lebih karena prasangka saya kalau anime ini akan lucu-lucu menggemaskan seperti kebanyakan yang lain. Sesuatu yang sehabis ditonton berlalu begitu saja. Untuk prasangka ini, saya salah. Saya masih memikirkan anime ini sampai siang, sore, dan sekarang ini. Jadi saya tulis review ini agar perasaan yang mengendap di kepala saya hilang...

Read More

Perca

Uma bilang, dulu Nay pernah punya jantung seperti gadis lain. Segumpal daging, merah, dan berdenyut—memompa darah. Uma mengatakan itu sambil menjahitkan perca baru di atas berlapis-lapis kain dengan berbagai motif yang digulung dan berbentuk seperti kuncup mawar yang setengah merekah di pengujung Mei. Setelah dingin berangsur pergi dan matahari tidak lagi enggan bersinar sepanjang siang. Uma sudah berhenti menyebutnya ‘jantung’ setelah Nay menghancurkannya tidak lama sesudah dia bertemu dengan bujang itu di awal masa remajanya. Uma lalu menyebutnya ‘jantung-hati’, karena katanya waktu itu, di sana juga disimpan rasa. “Siapa namanya? Bujang itu?” tanya Uma. Tangannya masih sibuk menusukkan jarum...

Read More

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest