Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Author: Octaviani Nurhasanah

Submarine

And when you say that you need me tonight I can’t keep my feelings in disguise The white parts of my eyeballs illuminate Halo…. Apa kabar? Huft. Lama ya … saya enggak nulis di sini. Saya punya banyak alasan tapi paling berat adalah tentang kemalasan dan waktu yang sempit. Gitu aja, sih. Cukup alasannya karena saya enggak mau tulisan ini penuh dengan alasan doang. Jadi, beberapa waktu belakangan ini saya seolah ada di dalam submarine—kapal selam. Dibilang berhenti nulis, yaaa … enggak juga. Saya menulis rutin setiap pekan untuk cerbung di Aksarayana selama empat belas pekan dan belum ada...

Read More

Narrator Voice on The Opposite of Loneliness

Sepekan belakangan, saya membaca The Opposite of Loneliness, buku Marina Keegan yang di dalamnya ada esai dan fiksi. Tentang buku ini, saya akan ceritakan lebih banyak di tulisan lain. Di sini, saya hanya ingin membahas bagaimana dia bercerita di cerpen yang dia tulis. Kamu pernah enggak membaca tulisan yang rasanya seperti mendengar penulisnya bicara? Nah, begitu rasanya buat saya ketika membaca cerpen Keegan. Saya memang enggak pernah tahu bagaimana dia bicara—karena untuk kasus tertentu, ketika suara penulisnya kadung kamu tahu dan suka, mustahil rasanya enggak membaca apa yang dia tulis dengan suaranya. Ini terjadi pada saya ketika membaca buku...

Read More

Menyoal Aksarayana, Kerja Kreatif, Platform Kepenulisan, dan Curhat Lainnya

Sudah lima bulan lebih Ririn, Gian, dan saya membuat Aksarayana tapi, ah … belum satu pun saya menuliskan tentang proyek ini. Saya sudah membuktikan teori yang bilang kalau kamu punya ide atau rencana, bicarakan dengan orang yang benar terlibat dan penting, setelah terlaksana dan selesai, baru kabarkan pada dunia. Ini ada benar, loh. Logikanya sederhana aja sebenarnya. Kalau kamu punya ide, membicarakannya dengan banyak orang—misalnya dengan membaginya di media sosial dan mendapat tanggapan berupa likes, love, atau komen—akan membuat exciment-nya (yaelaaah, ini bahasa Indonesia yang tepatnya apaan, ya …) berkurang. Kamu nyeritain ke mana-mana itu, puasnya sama dengan kamu...

Read More

Present Tense by Radiohead; My Bittersweet Personal Apocalypse Soundtrack

Judulnya kenapa dramatis banget begitu, ya? Hadeuh. Jadi ceritanya, saya dan Gian membuat tantangan baru di blog—karena yaaah … nulis begitu aja tanpa dipaksa nyaris mustahil buat dia. Setiap pekan akan ada satu tulisan yang disepakati sebagai tantangan. Bisa apa saja dengan tema (juga) apa saja. Pekan ini, sebagai penantang pertama, saya mengajukan tema: Tulis makna dan cerita di balik lagu Present Tense-nya Radiohead. Tulisan Gian, bisa dibaca di sini: Radiohead dan Milan Kundera Saya enggak tahu apa lagu ini bermakna buatnya—bodo amat. Hahahaaa. Tapi lagu ini adalah satu dari banyak lagu Radiohead yang saya suka. Mungkin bukan lagu...

Read More

Hiburan yang Membebani

Ini cuma cerita-cerita aja, sih. Bukan buat apa-apa. Jadi, yaaah … jangan terlalu anggap serius tulisan ini. Oke? Jadi, beberapa waktu belakangan, saya mengalami—entah apa namanya—semacam kemalasan untuk menghibur diri. Saya punya draf yang sedang ditulis ulang, lalu ada draf baru di Proyek Botolan Aksarayana (ini termasuk draf yang ditulis santai saja, sebenarnya), lalu ada dua podcast yang—ketika tulisan ini sedang saya selesaikan—sudah berjalan, dan terakhir ada Aksarayana dengan segala keriuhannya. Punya hal-hal yang mau diurus seperti itu, dalam kondisi normal, biasanya saya akan mencari hiburan di tengah waktu senggang. Apa saja; buku, serial, film, bahkan hanya sekadar bacaan ringan...

Read More

Recent Comments

Pin It on Pinterest