Author: Octaviani Nurhasanah

Apa Membaca Buku itu Overrated?

Sampai hari ini, saya masih enggak terlalu suka dengan istilah kutu buku, entah mengapa. Mungkin karena buat saya, membaca itu harus. Bagaimana bosannya hidupmu kalau kamu enggak membaca, coba? Saya enggak bisa membayangkan bagaimana caranya duduk di kereta atau bis dan hanya memandang ke arah luar jendela tanpa melakukan apapun yang lain. Kalau saya melakukan itu, harus sambil berkhayal, plotting, mendengarkan riuh obrolan karakter fiksi di kepala saya, atau kalau enggak semuanya, saya harus mengantuk. Ini yang membuat saat saya paling banyak menghabiskan buku adalah ketika saya harus ada di perjalanan lebih empat jam setiap harinya. Sekarang saya lebih...

Read More

Jeruk

Kau memberinya jeruk keprok paling manis yang kau beli di akhir liburanmu di Selayar. Kau beruntung, jeruk di Agustus selalu yang paling baik, paling manis, dan besar-besar. Kau memberikan sebagian padanya. Tapi ketika kau bertemu dengannya sore itu, di tepi lapangan di dekat kampusmu, kau memberinya satu lagi. “Untuk menemani kita mengobrol,” katamu. Kau tahu dia tidak suka jeruk. Kau juga tahu kalau dia tidak sabaran dengan kulit dan bijinya, karena itu, kau membukakannya dulu sebelum kau berikan padanya. “Semalam mereka bertengkar lagi,” katanya. Perlahan. “Seperti biasa?” tanyamu. “Ini tidak biasa. Mereka berdua mengepak koper, seolah berlomba untuk keluar...

Read More

Buku

“Kalau kau datang, bawa meteran yang biasa dipakai ibumu menjahit. Aku ingin mengukur, berapa tinggi tumpukan buku yang aku baca tahun ini,” katamu padanya kemarin. Kau pernah bilang kalau menghitung berdasarkan jumlahnya, itu tidak adil untuknya karena dia lebih suka buku yang tebal—yang lama habis. Dia simpan di bawah bantalnya dan selalu saja jadi alasan dia tidak cepat membalas pesan-pesanmu saban malam. “Keasyikan membaca,” katanya di pesan yang kadang baru dia kirim di pagi harinya. Sementara kau lebih banyak membaca buku tipis dan kecil yang cepat habis. Kau ingin mengetahui ceritanya secepat kau bisa. Lalu ketika dia datang sore...

Read More

Mimpi

Dini hari kau terbangun, duduk, menjejakkan kaki telanjangmu di lantai dingin, dan teringat kalau mimpimu—bisa jadi mimpimu—hanya setengah. Bermalam-malam kau memimpikan hal yang sama dan terhenti di tengah. Seolah bersambung, padahal tidak. Keesokannya kau bermimpi itu lagi dan tetap saja, terhenti di tempat yang itu juga. Kau melupakan detailnya. Kau melupakan warna langit di mimpimu itu—yang kemudian kau mengerti mengapa begitu karena ketika beberapa hari kemudian kau mencari tahu, mimpi memang hitam putih. Seperti film tua Hitchcock, mimpimu berhenti tepat ketika kau ingin melompat dari kereta—ini pun kau ingat setelah susah-payah kau merekam dan memutar ulang mimpi itu di...

Read More

Semenjana

“Ini bukan tentang apa yang raib, Nona. Separuh hatimu, semisal. Lalu kosong relung yang dia tinggalkan.” Kamu ingat Nona, sore itu, ketika kita duduk berhadapan dan bicara tentang hal-hal kecil yang tidak juga kita sepakati maknanya. Ketika itu, waktu rasanya berhenti, buatku–mungkin juga untukmu. “Amerta, Tuan,” katamu, “enggak bisa mati.” “Bukan enggak bisa mati, Nona,” sanggahku, “tapi hanya enggak bisa hilang dari kepalamu. Bergaung menceritakan kenangan yang dulu-dulu. Kamu mencoba memandikan pahitnya di dalam madu. Terlalu manis, Nona. Terlalu menyakitkan kerongkonganmu, nantinya.” “Terus berbalik seperti ulang-alik?” tanyamu. Lalu kamu tertawa–mungkin karena merasa pertanyaanmu lucu karena kamu menyamakan rasa itu...

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest