Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Author: Octaviani Nurhasanah

Cabe, Dongeng Globalisasi, dan Perdagangan Bebas

Cabe buat saya itu harga mati: enggak bisa makan kalau enggak ada cabe. Nasi masih bisa ditawar karena masih ada subsitusinya seperti roti atau makan lauk tanpa nasi. Tapi—tapi ini pendapat pribadi orang yang suka pedas, ya—kalau makan enggak pakai cabe, rasanya kayak makan kertas; enggak ada rasanya. Mungkin karena saya orang Padang. Mungkin juga karena saya memang sudah kecanduan cabe karena dari kecil sudah dicekokin pakai makanan pedas. Orang makan cabe dan merasa kepedesan itu mirip dengan orang yang lagi naik roller-coaster. Mereka sama-sama melepaskan endorphin yang merupakan senyawa sejenis morphin. Perasaan senang dan exited inilah yang membuat...

Read More

Kita pun Jatuh Cinta, Sedikit Saja

/1/ Agaknya kamu yang datang ke sana pertama kali, lebih dulu, dan lebih pagi—tapi aku yang terpana sejak kali pertama. Agaknya kamu yang berani menangkat kepalamu lebih dulu untuk menatap sampul buku yang aku pegang, warna baju yang aku kenakan, atau barangkali juga mengira-ngira; mengapa ada yang sama sepertimu di sini, duduk, diam, dan membaca. Aku pun memikirkan hal yang sama. Tapi aku yang berdiri pertama kali, bergeming, berpikir, dan urung melangkah, karena aku tahu, apapun yang aku lakukan sewaktu itu, tak akan pernah jadi apa-apa. Kita dua asing yang sempurna. Kita seharusnya tak saling tahu walaupun ketika itu,...

Read More

Cinta Rahwana

“Tuhan, jika cintaku kepada Sinta terlarang, kenapa Kau bangun begitu megah rasa itu di hatiku?” Saya sedang berusaha menulis pagi tadi—benar-benar berusaha menulis. Lama sekali saya enggak menulis panjang seperti yang dulu biasa saya lakukan. Terakhir mungkin di November tahun lalu dan di akhir bulan itu, di tanggal tiga puluh, ketika NaNoWriMo akan berakhir beberapa jam lagi dan saya masih kurang beberapa ribu kata lagi, saya enggak bisa menulis sambil duduk. Saya berdiri, mengetik tanpa menimbang lagi apa yang harus ditulis. Cerita mengalir, emosi menguap memenuhi ruang, dan saya—saya ingat ketika itu rasanya—seperti tidak ada di sini. Keadaan seperti...

Read More

Nasehat Ira Glass untuk Pemula

All of us who do creative work … we get into it because we have good taste. But it’s like there’s a gap, that for the first couple years that you’re making stuff, what you’re making isn’t so good, OK? It’s not that great. It’s really not that great. It’s trying to be good, it has ambition to be good, but it’s not quite that good. But your taste—the thing that got you into the game—your taste is still killer, and your taste is good enough that you can tell that what you’re making is kind of a disappointment...

Read More

Strange Encounter (by Thirteen Senses)

Siang itu saya sedang chat dengan seorang teman ketika tiba-tiba Spotify memutarkan lagu ini. Kalau kamu biasa membuat playlist di Spotify, kamu pasti tahu kalau untuk playlist dengan lagu kurang dari sepuluh, Spotify akan memutarkan lagu yang direkomendasikan—oleh algoritma mereka. Kebiasaan kamu mendengarkan lagu apa,  genrenya apa, kapan, seberapa banyak, dan sebagainya dijadikan acuan untuk melihat kamu itu kayak apa. Buat saya, sayangnya, kadang berhasil. Saya banyak menemukan lagu baru yang akhirnya saya suka dari rekomendasi itu. Are we all friends? Are we sent to defend you or keep you in? We’re not so hard, we’re the first to...

Read More

Recent Comments

Pin It on Pinterest