Author: Octaviani Nurhasanah

More Than Words (by Extreme)

“Mana gue tahu.” Itu yang saya katakan pada si Tuan beberapa malam lalu, ketika kami bicara panjang dan lama sekali tentang banyak pertanda yang—bodohnya—tidak pernah saya baca dengan tepat dan jadikan penanda. “Kamu, kan, penulis. Observant,” katanya. “Gimana bisa enggak peka?” Pernyataan itu pun jadi pertanyaan saya setelah pembicaraan itu, bagaimana bisa? Seharian ini, saya darah rendah lagi. Tiduran sepanjang hari karena kalau berdiri, pandangan saya menghitam. Sekarang jam dua belas malam dan rasanya, setelah banyak tidur di siang hari, saya tidak ingin tidur sampai pagi. Saya ingin menulis. Tapi obrolan itu terngiang lagi. Saya pun membuka Spotify, memutar...

Read More

Deskripsi Tanpa Rasa di ‘A Temporary Matter’

Semalam—sampai pagi—saya membaca ulang A Temporary Matter dan menulis hasilnya di website Galeri Buku Jakarta. Buat saya, mengunjungi ulang novel, cerpen, atau puisi yang dulu pernah saya suka itu sama rasanya dengan ketika membaca pertama kali. Memang sudah tidak akan membuat penasaran karena saya sudah tahu ceritanya seperti apa. Tapi, ketika membaca dua kali—apalagi di selang waktu yang lama—akan ada satu-dua interpretasi saya yang berubah dari karya itu. ‘Teks’-nya tetap sama, saya yang berbeda—saya melihatnya dari kacamata yang berbeda. Sesuai dengan nama rubrik baru ini, saya ingin menulis catatan yang saya ambil ketika membaca. Bukan catatan analisa yang berat,...

Read More

Try (by Ali Aiman)

‘There’s a continuity to it that’s interesting, because it means there isn’t an ending to the story; it means I continue to and am still looking for answers, whatever they may be,’ Ali Aiman admits. Sepekan belakangan, ternyata saya jarang mendengarkan musik; iTunes dan Spotify lebih banyak menganggur. Sepertinya ini karena saya lebih sedikit menulis dan sedang keasyikan maraton Westworld, menonton ulang Orphan Black Season 4 yang baru diunggah di Netflix, dan menghibur diri dengan RuPaul Dragrace. Saya juga sedang mengejar ketinggalan mendengar S-Town Podcast yang fenomenal itu dan ingin sekali mereview karena … saya enggak paham kenapa banyak review yang...

Read More

Westworld dan Tuhan-tuhanan (Catatan Sebelum Review Sungguhan)

In other words, if you’re writing a piece of fiction, I’d urge you not to try to show anything—instead, try to discover something. There’s no way to write anything powerful unless your unconscious takes charge. Ethan Canin Saya sedang menonton ulang Westworld ketika menulis ini. Berhenti sebentar karena ada yang menarik dan harus dituliskan atau bisa jadi nanti saya lupa. Rencananya, saya mau mereview Westworld karena ini series dari HBO yang—katanya, banyak yang bilang—akan menggantikan megah, mahal, dan jumlah penonton Game of Thrones. Saya enggak percaya—karena saya memang enggak mudah diyakinkan sebelum melihat sendiri. Jadi, saya pun mulai menonton....

Read More

Social Media Vs. Google Search History

Once you’ve looked at enough aggregate search data, it’s hard to take the curated selves we see on social media too seriously. Or, as I like to sum up what Google data has taught me: We’re all a mess. Sekarang lewat tengah malam dan saya belum juga bisa tidur. Dua pekan belakangan, insomnia saya kambuh lagi. Saya itu lembam—ini salahnya. Kalau sudah melakukan sesuatu sulit berhenti dan kalau sudah berhenti, sulit memulai. Itu juga yang kemudian jadi jawaban dari pertanyaan, “Buset, masih ngeblog aja lo, cuy?” Masih. Masih enggak bisa berhenti. Jadi, lebih dua pekan saya enggak berkeliaran di...

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest