#568: Lagu Pengantar Menulis dan Curhat Lainnya

#568: Lagu Pengantar Menulis dan Curhat Lainnya

  Ini salah satu ruangan favorit saya untuk menulis di Fayetteville Public Library. Ada perapiannya, sofa, dan jendela besar. Berasa kayak lagi nulis di rumah yang nyaman banget. Sebenernya saya sekarang lagi mau lanjutin Jangka dan membalas surel. Tapi rasanya masih belum mood buat mulai ngerjain. Hiks. Jadi saya mau cerita tentang lagu yang lagi saya suka banget sebulan belakangan. Saya suka pakai lagu tertentu untuk menjaga mood karakter yang lagi saya tulis. Biar enggak out of character. Soalnya saya nulis enggak satu proyek di satu waktu. Kadang tiga-empat sekaligus. Kadang saya pakai juga untuk menjaga beat scene. Misalnya, saya lagi nulis scene yang saya mau jalannya lambat, detail, dan ketukannya segini, segini, segini. Saya pakai lagu tertentu untuk...

Read More

#567: Tetaplah Berani

#567: Tetaplah Berani

Aku lupa malam itu hari apa—mungkin Sabtu atau Minggu. Entahlah. Kamu bercerita tentang tugas-tugas kuliahmu dan aku duduk di depanmu. Aku melihat layar laptop-ku. Aku tidak ingin melihatmu karena cukuplah mendengar suaramu. Kamu tertawa. Aku tidak. Tidak lucu. Kita sudah sejauh ini, kataku malam itu. Aku juga sudah lupa, setelah atau sebelum kamu tertawa. Kita terbang separuh dunia untuk sampai di sini. Kamu bertanya, apa aku ingin pulang. Aku jawab, tidak. Aku berkata, aku akan tetap di sini, menemanimu bergelut dengan waktu. Dengan kode-kode yang tidak pernah aku mengerti, yang kamu ketik di komputermu. Ketika kamu bertemu denganku, tiga belas tahun lalu, kamu tahu kalau kepalaku lebih keras dari batu. Aku selalu saja menentang. Menantang. Kalau kemudian kamu...

Read More

#566: Confidant dan Side-kick

#566: Confidant dan Side-kick

Sepatu ini ada di mana ya, sekarang? *lupa* Bulan lalu sampai awal bulan ini, saya maraton Orphan Black. Kapan-kapan saya tulis review-nya karena sekarang saya enggak mau ngomongin itu. Kebiasaan saya yang lain selama ngikutin series atau film; dengerin after show discussion-nya di podcast. Soalnya kadang, ada yang lebih seru dibanding ngebahas ceritanya. Misalnya aja untuk Orphan Black ini, di salah satu podcast langganan saya, dibahas tentang confidant dan side-kick-nya dan hubungannya sama character’s arc MC-nya (main character). Ini yang mau saya bahas sekarang. Orphan Black ini ceritanya tentang clones. Jadi ada percobaan untuk membuat kloning manusia dan berhasil di tahun 80-an. Kloningnya ini diambil dari human chimera (orang yang punya dua set DNA...

Read More

#565: Hari Wisuda

#565: Hari Wisuda

Foto di stadion kampus udah jadi tradisi, konon kabarnya demikian.  Saya enggak banyak cerita tentang urusan sekolahnya Tuan Sinung, ya. Ini sebenernya porsi cerita yang sengaja disisakan biar si Tuan sendiri yang cerita nanti, di blognya. Sekalian dengan cerita pengalaman dia di kampus dan urusan beasiswa. Tapi dia sibuk terus, sih. Cuma ini kayaknya kata yang kurang tepat. Dia enggak sibuk yang lari-larian sana-sini, tugas kurang ini-kurang itu. Dia udah punya jadwal dan di jadwal itu jelas kegiatannya apa, di mana, dan kapan. Tidur pun dijadwal–karena tidur itu penting dan dia harus tetap fresh tiap hari. Di jadwal itu, sayangnya, enggak/belum ada pembagian waktu untuk nulis-nulis ringan atau sekalian ngeblog yang panjang. Tapi saya mau cerita tentang...

Read More

#564: Ngomongin Karakter Fiksi

#564: Ngomongin Karakter Fiksi

Ini proyek kolaps, eh, kolab yang baru aja akan dimulai.  Satu hal tentang membaca fiksi yang akhir-akhir ini rutin saya lakukan adalah; mempelajari karakter. Katanya–kata penulis-penulis keren itu–karakter fiksi seharusnya ‘bulat’, ‘utuh’, multidimensi, dan enggak boleh Mary Sue/Gary Sue. Saya menemukan satu hal lagi–setidaknya–yang harus mereka punya; harus bisa disukai. Kadang kita–karena saya termasuk di dalamnya–lupa bahwa cerita tidak hanya masalah plot. Atau sederhananya; kejadian-kejadian yang cool dan keren. Bukan juga hanya masalah ide-ide bagus dan yang tidak terpikir sebelumnya. Sebelum ini, saya membaca novel yang idenya luar biasa keren, baru, dan saya suka. Sayangnya, saya enggak bisa suka...

Read More

#563: Jangka, Jarak, Jeda (dan Curcol Lainnya)

#563: Jangka, Jarak, Jeda (dan Curcol Lainnya)

Ini karena banyak yang nanyain; kenapa gak bikin cerpen/novela/novel dengan setting Amerika. Salahkan mereka. Gak sih, salahkan saya juga karena entah kenapa nggak tertarik untuk bikin yang kayak gitu…. Tapi karena saya perlu pengalih-perhatian dari draft yang sulit ditulis, jadi saya buatlah cerita ringan, romens, tentang mahasiswa di Amerika. Judulnya ‘Jangka’ karena cerita ini saya buat dengan rencana dan timeline; bahwa saya menulisnya dalam jangka waktu tertentu, untuk memberi jarak pada draft yang lain, dan sebagai jeda sementara waktu. Karena saya nggak bisa kalo nggak nulis. Karena itu pula, slogan semacam; nulis itu terapi, nggak berlaku buat saya akhir-akhir ini. Saya nulis bukan untuk terapi; kalo ada masalah baru nulis biar masalah...

Read More

#562: OMG, That’s Interesting!

#562: OMG, That’s Interesting!

Seperti biasa, saya mau menceracau. Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang bilang sama saya kalo hidupnya membosankan sekali. Rutin. Plain. Begitu-begitu aja. Saya kan, orangnya sotoy gitu, yah. Suka ngasih nasehat walopun gak diminta. Suka sok bijak. Pokoknya saya ini macam motivator gitu, lah. Tapi dengan banyak aib yang terbuka lebar-lebar. Jadi kalo ada teman yang curhat, saya suka kepikiran gitu. Trus–kalo saya gak menemukan jawabannya atau penasaran banget gimana jalan keluarnya–saya browsing. Seperti yang udah saya bilang sebelumnya (entah di post yang mana), hidup tuh sebenernya sederhana. Hanya kita aja yang maunya ribet dengan segala macam pemaknaan. Dan sejarah udah membuktikan bahwa tukang nyari makna–misalnya...

Read More

#561: Bebenah di Sana-sini

#561: Bebenah di Sana-sini

Gak ngeblog bukan berarti gak nulis. Yah, gitu lah. BTW, saya lagi bebenah di Storial. Ini semacam platform bagi tulisan, cerita, cerpen, novel, atau apapun yang kamu mau. Saya mindahin beberapa cerita lama. Ngedit dan nyiapin cerita baru. Trus yaaa … sambil mbaca-mbaca juga di sana. Biasanya kalo lagi banyak yang ditulis, saya bawel. Tapi dua minggu belakangan, bawelnya bukan di sini, sayangnya. Tapi di Twitter dan Facebook. Trus saya juga sering banget pake Spotify sekarang. Kalo lagi nulis apa gitu, trus mood-nya nyambung sama lagu yang lagi saya denger, saya bisa ngulang-ngulang lagunya sampe seharian. Jadi saya bebenah playlist juga. Lagu-lagu yang lagi saya dengerin, suka saya share juga di Facebook. Saya pendengar segala, dari Ayu Ting Ting sampai...

Read More

#560: Kota dan Lagu

#560: Kota dan Lagu

Stok foto lama. Ada fungsi blog ini selain buat mendokumentasikan ceracau saya yang kadang gak jelas arahnya; buat oret-oret biar saya yang lagi nulis–sesuatu yang lain–bisa menulis apa yang tiba-tiba mengganggu. Ini mengganggunya gak kira-kira karena udah sejam lebih saya nyoba lanjut ngetik tapi gak bisa-bisa. Jadi saya tulis deh, bagian yang mengganggu ini. Mengganggu macam bekas gigitan nyamuk; kalo gak digaruk, gak selesai gatelnya. Huft. Jadi, malam ini seperti malam-malam lain, saya ngetik sejak jam sembilan atau sepuluh, saya lupa. Pokoknya setelah kafein berasa nendang dan mata saya gak sepet lagi. Sambil dengerin audiobook Eat Pray Love-nya Elizabeth Gilbert, saya ngetik lah itu halaman demi halaman. Bisa gitu ngetik sambil dengerin...

Read More

#559: Ngomongin Membaca, Buku, dan Hal Lain yang Bisa Dibaca

#559: Ngomongin Membaca, Buku, dan Hal Lain yang Bisa Dibaca

Gak punya foto laen yang sesuai tema, ih. Kemaren, saya baca link tentang minat baca Indonesia. Terus terang, artikel kayak gini tuh, banyak dan hasilnya ya gitu-gitu aja; minat baca Indonesia rendah, orang Indonesia gak suka baca, blabla … balabala … cik-acik-a-bumbum. Trus nanti di komennya, banyak yang mulai menyalahkan kurikulum pendidikan–plus menteri dan staf-stafnya biar greget–, mempermasalahkan harga buku mahal (kalo yang ini saya setuju), mengaitkan dengan Rapi Mamat, Japok, dan bala-bala jaer, eh maksud saya acara tivi gak berkualitas, dan di atas semuanya … tentu saja ini salahnya Jokowi! Saya gatel sebenernya dengan ini semua. Segatel saya selama bulan ini karena kamar saya direnovasi dan debu terbang ke mana-mana. Saya...

Read More