#13: Let Me In; Innocence Dies, Abby Doesn’t

Dibaca 3,824 kali

 

Di postingan ke-13 sebaiknya saya posting yang rada horor dikit. Berhubung saya tidak punya cerita yang bisa membuat orang takut, saya memilih untuk mereview film horor saja. Yang penting masih ada horor-horornya lah.

Saya suka menonton film horor, tapi bukan horor lokal. Hanya beberapa horor lokal yang menurut saya bagus. Sisanya adalah film horor dengan skenario hancur, pemain yang aktingnya meragukan, dan pemasaran yang menggunakan konsep “buzz marketing” acak-acakan. Mari kita tinggalkan pendapat saya tentang film horor lokal…. :teror:

Film dari genre horor yang akan kita bahas kali ini adalah Let Me In. Sebuah film tentang vampir, walaupun tidak secara eksplisit dikatakan dalam film bahwa makhluk yang diceritakan adalah vampir. Tapi kalau ada makhluk dengan mata berwarna terang, suka minum darah, terbakar di sinar matahari, apalagi kalau bukan vampir?

Berbeda dengan film-film tentang vampir lainnya, seperti Twilight atau Underworld, menurut saya ini adalah film dengan makhluk yang sangat jahat, namun terkesan innocent dan tidak berdaya. Tapi cukup menyenangkan juga menontonnya. Apalagi setelah melihat begitu banyak film dengan tokoh utama vampir yang ganteng, kaya, nyaris sempurna, punya pacar cantik pula, plus kisah cinta mendayu-dayu penuh deraian airmata.

Karakteristik vampir yang dibawakan oleh Abby adalah vampir yang konvensional. Dalam legenda asli vampir, hidup sebagai vampir tidaklah menyenangkan dan penuh dengan gemerlap (seperti hidup Edward Cullen). Vampir hanya keluar pada malam hari dan tidur pada siang hari. Karakteristik vampir yang tidak pernah diceritakan di film lain adalah: vampir tidak akan masuk ke dalam rumahmu kecuali kamu undang.

Film ini dibuat berdasarkan film aslinya Let The Right One In, sebuah film Swedia keluaran tahun 2008. Idenya berasal dari sebuah novel dengan judul yang sama. Walaupun remake, film ini tidak mengaduk-aduk premis film aslinya.

Let Me In tidak menceritakan kisah cinta, tapi pertemanan antara seorang anak berumur 12 tahun yang menjadi bulan-bulanan di sekolah dan suka disiksa oleh teman-temannya, bernama Owen. Di rumah pun keadaannya tidak lebih baik. Orangtua Owen bercerai dan ibunya punya masalah dengan ayahnya. Nilai lebihnya hanya: sepertinya ibu Owen sangat taat beragama. Yah, anggap saja selalu berdoa sebelum makan itu dianggap sebagai ketaatan. Owen yang kesepian suka membayangkan dirinya mempunyai kekuatan untuk melawan. Dia juga suka mengintip ke rumah tetangganya dengan menggunakan teleskop.

Suatu hari datanglah seorang gadis manis dengan ayahnya pindah ke flat tempat Owen tinggal. Gadis ini sangat aneh karena dia tidak menggunakan sepatu dan tidak ingat kapan hari lahirnya. Namanya Abby. Awalnya Abby tidak mau berteman dengan Owen. “Why?” tanya Owen. “It just the way it is,” jawab Abby. Yah, memang begitulah adanya. Dan hubungan itu pun berkembang lebih akrab dan Owen berharap Abby mau menjadi pacarnya. :cutesmile:

Seorang tua yang tinggal dengan Abby dan diakuinya sebagai ayahnya punya kebiasaan keluar di malam hari dan membunuh. Dia mengambil darah orang yang dia bunuh dan menyetorkannya pada Abby. Bila Abby tidak mendapatkan darah dari ayahnya itu, dia akan keluar dan membunuh mangsanya sendiri untuk mendapatkan darah. Selain keinginannya yang tidak bisa ditahan untuk minum darah, Abby adalah gadis yang manis.

Suatu hari (lagi), ayah Abby gagal membunuh dan malah menyebabkan kecelakaan. Agar tidak diketahui polisi, dia menyiramkan air keras ke wajahnya. Polisi pun membawa ayah Abby ke rumah sakit. Abby yang mengetahui kejadian itu dari radio, datang ke rumah sakit untuk menemui ayahnya. Ayah Abby yang sudah tidak bisa bicara karena wajahnya hancur, menyerahkan dirinya untuk dihisap darahnya oleh Abby.

Ber-setting Los Alamos tahun 1983, film ini sangat menarik menurut saya. Rasa jahat yang biasanya ada pada makhluk jahat yang biasanya mengejar-ngejar tokoh utama di sepanjang film, tidak ada. Yang ada adalah rasa tertekan, rasa putus asa, dan keinginan untuk melepaskan diri dari tekanan dan kesepian.

Setelah saya pikir-pikir, yang namanya setan dan kejahatan itu akan lebih menakutkan bila dilakukan oleh anak kecil dengan wajah polos dibandingkan bila dilakukan oleh makhluk kuat dan bentuk yang menyeramkan. Apalagi bila kejahatan itu dilakukan atas dasar cinta dan keinginan untuk melindungi.

Kalau mau tahu bagaimana akhirnya, harus tonton sendiri. Saya tidak akan memberitahukan bocoran akhir kisahnya. Saya tidak mau dikatakan “spoiler”. Walaupun saya sendiri suka “spoiler”. Saya tidak suka dikejutkan oleh film. Berita baiknya, tidak banyak hal-hal mengejutkan yang membuat penonton akan berkata, “Oh… ternyata gitu ya!” di film ini, tapi saya bisa jamin ini adalah film yang cukup menghibur. Saya sendiri suka film yang setelah saya tonton akan membuat saya memikir-mikirkan ceritanya, maknanya, atau bahkan hanya dialog-dialognya. Kalau filmnya setelah saya tonton bisa saya lupakan, berarti memang ada yang salah dengan film itu, atau mungkin malah ada yang salah dengan saya? :?:

Genre itu selera, film juga selera. Beberapa orang suka horor, yang lainnya tidak. Beberapa orang juga akan suka film ini dan yang lainnya tidak. Namun bisa ada film yang memang bagus, biasanya akan lebih banyak yang suka daripada yang tidak. Kalau saya menonton film, minimal saya merasa terhibur. Lebih bagus lagi kalau sampai ada pelajaran yang bisa diambil. Apapunlah bentuknya. Kalau filmnya malah bikin kepala saya pusing, ceritanya aneh, dan waktu menonton saya lebih banyak mijit-mijit kepala sendiri, lebih baik saya melakukan hal lain saja. Kalau temans bagaimana?

Selamat menonton.

Sutradara       : Matt Reeves

Skenario         : Matt Reeves

Pemain           : Chole Moretz, Richard Jenkins,  Kodi Smith-McPhee

Durasi             : 1 Jam 55 menit

Genre              : horor

Referensi:

http://www.imdb.com

http://www.rottentomatoes.com/

http://rogerebert.suntimes.com

 

 

4 Comments

  1. OctaNH
    Jun 14, 2011

    Dimana yak? Aku beli DVD (bajakannya). Ini pelem keluar pas ribut-ribut film Hollywood gak mau masuk Indonesia. Padahal udah ada jadwal tayangnya di Cineplex. Eee… malah kagak jadi. :die:

    Om Didik harusnya tahu tuh web kriminal donlot gretong…. :>

  2. Nisa
    Jun 14, 2011

    kira-kira bisa ngunduh dimana yah? :lol:

  3. OctaNH
    Jun 12, 2011

    Ya, tapi saya suka. Berhubung ekspektasi saya juga tidak terlalu tinggi pada film ini. Jalan cerita? Maksudnya plot atau naratif? :cutesmile:

  4. reina martinez
    Jun 12, 2011

    ini salah satu film yang mengecewakan di awal tahun 2011, sama seperti season of the witch, jalan cerita keseluruhannya tidak seperti yang diharapkan pecinta film horror.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)