#46: Confession/Kokuhaku (2010) – Review Film

Dibaca 2,461 kali

Sudah hampir sebulan ini saya selalu tidur rutin tidur siang antara jam dua sampai jam lima. Lalu dilanjutkan dengan tidur cepat, kalau bisa sebelum jam sembilan. Hasilnya, saya bisa bangun jam dua atau paling lambat jam tiga pagi. Setidaknya saya punya empat sampai lima jam waktu sendirian yang tidak diganggu siapapun untuk melakukan apa saja yang saya suka. Saya bisa menulis, nonton, atau kadang baca buku.

Beberapa hari lalu, saya menggunakan waktu ini untuk menonton film yang khusus saya pesan kepada Sinung untuk dicarikan segera. Judulnya Confession (Kokuhaku). Saya melihat film ini di IMDB dengan rating 7,8. Itu cukup tinggi. Awalnya saya kira saya akan menikmati film drama misteri yang menyeramkan. Ternyata saya salah. Ini adalah film yang tidak hanya mempermainkan hati yang menontonnya, tapi juga pikiran. :D

Saya sangat menikmati tiga puluh menit pertama film ini. Adegannya biasa saja, sebenarnya. Seorang guru bernama Yuko Moriguchi (Matsu Takako) sedang berbicara di kelas ketika murid-muridnya sedang menikmati susu kotak. Dia adalah wali kelas murid kelas tujuh. Kalau ada yang pernah menonton drama Jepang Long Vacation, Matsu Takako ini yang memerankan gadis manis pemain piano yang tidak akan pernah bisa dibenci bernama Ryoko. Di film ini, saya tidak bisa tidak untuk mengatakan bahwa Matsu Takako yang dulu sangat manis itu sudah hilang. Aktingnya yang dingin, kalem, dan penuh dengan misteri membuat saya—bahkan—pada awalnya tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran tokoh yang diperankannya.

Adegan Yuko Moriguchi yang sedang bicara di kelas ini memang sangat lama. Berjalan dengan lambat. Awalnya, Moriguchi hanya menjelaskan tentang hal-hal sepele, seperti hubungan antara susu dengan pubertas, tentang keinginannya untuk berhenti menjadi guru, dan lainnya. Kebanyakan dari murid di kelas tidak terlalu mendengarkannya. Bahkan ada beberapa murid yang malah pergi ke atap sekolah untuk mem-bully murid lainnya. Tapi, ketika Moriguchi menceritakan tentang anaknya yang baru saja meninggal, seisi kelas mulai memperhatikannya.

Manami, anak Moriguchi satu-satunya meninggal tenggelam di kolam renang sekolah. Moriguchi menceritakan tentang detail meninggalnya, tentang ayah Manami yang merupakan pengidap AIDS sehingga Moriguchi tidak pernah menikah, dan tentang kecurigaannya bahwa anaknya dibunuh… oleh dua orang murid di kelas ini. Seketika seisi kelas pun diam. Moriguchi tidak mengumumkan siapa nama pembunuh itu. Dia hanya menyebutnya dengan murid A dan murid B. Sesuai dengan hukum yang berlaku di Jepang, anak di bawah usia 14 tahun tidak akan bisa dituntut untuk kasus kriminal, termasuk pembunuhan. Seorang anak berumur 13 tahun bisa saja membunuh dan akan dibebaskan tanpa diadili.

Untuk membalas dendam, Moriguchi memberitahukan sebuah rahasia. Dia telah menyuntikkan campuran spesial ke dalam kotak susu yang diminum dua pembunuh anaknya: darah ayah Manami (Sakuranomiya). Moriguchi mengatakan itu semua dengan tenang, dengan wajah tetap manis, dan nada bicara yang kalem. Saya, sebagai penonton jadi merasa terombang-ambing emosinya, antara sebel sama ikutan seneng. :D

Adegan dia atas adalah bagian pertama dari enam confessions (pengakuan) yang diberikan oleh tokoh-tokoh di film ini. Pengakuan berikutnya diberikan oleh seorang murid yang tidak ada hubungannya dengan kejadian pembunuhan itu tapi merupakan seorang pengamat yang baik. Dia adalah Mizuki Kitahara. Mizuki tidak seperti teman-teman sekelasnya yang kemudian mem-bully dua pembunuh itu. Dia memandang semuanya dengan lebih objektif. Tiap bagian pengakuan membawa penonton untuk memandang kejadian pembunuhan itu dengan lebih dalam. Ternyata bukan hanya pembunuhan itu saja yang menjadi inti dari semuanya. Ada hal-hal lain yang berkaitan dan membuat pembunuhan itu kemudian menjadi dimungkinkan terjadi.

Hampir semua scene di film ini gelap dan suram. Adegan demi adegan kadang disajikan dengan slow motion yang memang indah, tapi memberikan efek lambat. Kalau terbiasa dengan adegan di film Hollywood yang cepat dan intens, film semacam Confession ini akan terasa berjalan seperti keong: lamban tapi mulus dan sangat hati-hati.

Film dengan style penceritaan seperti ini bukan barang baru lagi sih di Jepang. Tahun 1950, Rashomon sudah pernah mencobanya dan berhasil dengan sangat baik. Bahkan di Rashomon, penceritaan tidak hanya dari POV orang-orang yang masih hidup saja. Orang yang sudah mati pun dipanggil arwahnya dan dimintai keterangannya melalui medium.

Satu permasalahan—yaitu pembunuhan Manami—menjadi sebuah hal besar dan rumit ketika orang-orang yang terlibat memperlihatkan sudut pandangnya masing-masing. Saya sendiri pada akhirnya tidak bisa berpihak pada salah satu tokoh. Nilai moral benar atau tidaknya pembunuhan itu menjadi ambigu. Okelah, pembunuhan Manami itu memang hal yang salah dan pelakunya memang tidak bisa dihukum karena undang-undang yang ada di sana. Tapi, ketika motif dan perasaan pembunuhnya diperlihatkan, terus-terang hal itu tidak lagi jadi mudah. Saya bisa mengatakan bahwa film ini sangat provokatif di lain sisi. :-x

Apa sih yang bakalan didapat dua pembunuh itu dari darah yang sudah terinfeksi AIDS? Palingan cuman HIV. Mereka—seperti kata Moriguchi—akan punya kesempatan hidup selama masa inkubasi virus antara lima sampai sepuluh tahun. Obat-obatan bahkan bisa membuat hidup mereka lebih lama lagi. Tapi, bukan itu yang benar-benar ingin disampaikan Moriguchi kepada pembunuh itu. Bukan itu yang ingin Moriguchi lihat dari para pembunuh itu. Dia menginginkan sesuatu yang lebih dan bukan dia yang melakukannya. Terus terang, saya melihat motif ini sangat gelap tapi sekaligus pintar. Berusaha menghancurkan seseorang dan juga orang-orang di sekitarnya dengan cara yang licik dan brilian. Benar-benar sebuah thriller psikologis yang memukau. Kayaknya saya kebanyakan muji deh. :D

Okelah, biar seimbang saya akan mengatakan apa yang tidak saya suka dari film ini. Warna film ini terlalu gloomy buat saya. Ini masalah selera lho. Memang membuat ceritanya menjadi lebih kuat dengan semua ke-gloomy-an itu. Tapi, ini juga membuat mata saya sepet. Saya bisa bilang sinematografinya memang sangat bagus. Tapi coba deh nonton film yang gelap selama sejam lebih, setelah itu pasti matanya kriyep-kriyep. Untungnya ceritanya bikin mata saya tetep nempel ke monitor. Seandainya ceritanya dudul, saya sih gak pake lama buat matiin laptop terus tidur atau baca buku.

Sebelum saya menonton film ini, saya tidak pernah mendengar nama sutradaranya: Tetsuya Nakashima. Tapi rasa penasaran akhirnya membuat saya mencari tahu lebih banyak tentang beliau itu. Ternyata, Nakashima ini sebelumnya sudah membuat film-film yang banyak dikritik sebagai film thriller yang mempesona. Misalnya saja: Memories of Matsuko. Bedanya, Memories of Natsuko ini dibuat dengan warna yang terang dan cerah. Membaca ini, saya langsung masukkan film ini ke daftar film yang akan saya tonton berikutnya.

Saya suka dengan thriller psikologis yang cerdas. Kalau bisa, ada twist yang pintar dan tidak terduga di belakangnya. Kalau bisa lagi, ceritanya dan cara penceritaannya membuat saya betah memikirkannya. Kadang saya menemukan film dengan twist yang terlampau klise atau terlalu sederhana, dan itu membuat saya sebel. Kalo cuman mau ngasih twist begitu mah, gak usah capek-capek buat film sepanjang dan seribet itu, begitu menurut saya. Tapi Confession ini memberikan semua yang saya harapkan. Apalagi saya sudah lama sekali tidak menonton film Jepang. Sekalinya saya nonton, saya dikasih film ini, saya langsung terkesima.

Yah, pada akhirnya saya bisa bilang kalau dendam itu hanya akan mengancurkan si pendendam dan objeknya. :cry:

Buat yang pengen nonton, jangan tanya saya dimana link download-nya. Saya gak akan ngasih tahu. Kalau punya uang lebih dan punya akses ke toko CD dan DVD original, saya sih menyarankan untuk membeli DVD aslinya saja, kalau ada. Kalau yang bajakan, mungkin saja gambarnya bakalan ancur. Mengingat film ini gloomy dan gelap sekali. :cutesmile:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)