#75: Cerpen EAT Aku dan Dya (Ho-oh, Ini Romance)

Dibaca 1,057 kali

Jadi, begitulah akhirnya…. (Lho? Mulai aja belom!) :teror:

Begini ceritanya. Saya dan Dya mengikuti event EAT (Event Akhir Tahun) di kekom (www.kemudian.com). Peraturannya agak unik. Dua orang peserta harus menuliskan satu cerita yang berkaitan tapi dijadikan dua cerpen. Masing-masing menulis satu bagian.

Saya dan Dya pun berjodoh. Cerpen di bawah ini adalah versi final cerpen EAT kami. Temanya romance. Yaaa … karena itulah terasa love is in the air! Tapi, berhubung selera romance kami sama, saya dan Dya tidak banyak menuliskan tentang kontak fisik, rayuan keju, atau bahkan kata cinta itu sendiri. :cutesmile:

Silahkan dibaca cerpennya. Kalo iseng, silahkan dikasih point di kekom. Kalo mau iseng lagi: jadikanlah kami penulis favoritmu…. :-x

Link kekom cerpen kami.

Cerpen Dya: http://www.kemudian.com/node/262765

Cerpen saya: http://www.kemudian.com/node/262767

Cerpen karya Dya Ragil (Aocchi):

WANGI LAUT DALAM DAUN KERING

Kehidupan itu benar-benar menyedihkan. Seindah apa pun Tuhan menciptakan manusia, wangi hati mereka tak pernah sama. Beberapa seperti aroma angin yang bertiup di padang rumput—samar, tapi menenangkan. Terkadang seperti wangi beberapa bunga. Tapi, kebanyakan laiknya bunga bangkai. Busuk bukan main.

Teman-temanku—kalau mereka bisa disebut teman—sering menganggapku aneh hanya karena hidungku yang terlalu sensitif. Seringkali aku menciumi bau-bauan padahal tak ada yang berbau di sekitar kami. Seringkali mereka kebingungan karena aku selalu merasa pening bila berada di antara kerumunan orang. Pada akhirnya, tak satu pun bertahan di dekatku. Semuanya menjauh dan meninggalkanku sendirian. Aku tak menyesal. Aku jauh lebih suka begitu.

Matahari hampir terbenam saat aku sampai di deretan pohon di pekarangan belakang SMA-ku dulu. Hanya ada satu jenis pohon di sini. Aku tidak tahu namanya. Tapi, dedaunannya cepat kering dan saat masanya tiba, akan berguguran selayaknya hujan. Suasananya menjadi hangat setelahnya.

Kudatangi salah satu yang berbatang besar, meskipun bukan yang paling besar. Aku memilih pohon yang satu ini karena aku menyukainya. Ada ceruk di antara lekukan akar yang takkan terlihat kalau tidak diamati dengan baik. Tempat sempurna untuk menyembunyikan sesuatu.

Aku berjongkok, lantas merogoh ceruk itu. Banyak daun-daun kering yang melumuri sekitar lekukan akar itu. Aku menyibaknya, dan menarik sebuah buku tipis seukuran A6 yang kubuat sendiri dengan membendel setumpuk kertas buram hasil daur ulang. Lagi, kembali kutemukan sehelai daun kering di dalam bukuku. Dan di lembar tempat daun kering itu terselip, sebuah tulisan latin yang berantakan tertera oleh tinta biru pekat. Kali ini dia menggunakan drawing pen, rupanya. Tulisannya tebal, jadi ukurannya pasti 1,0.

Kita sepakat dalam satu hal. Kehidupan memang menyedihkan, malah cenderung busuk. Seperti manusia. Kebanyakan serigala berbulu domba. Dalam hati, siapa yang tahu? Apakah kamu pun akan bisa dengan tepat menerka bau hatiku?

Aku tersenyum. Kata-katanya sarkastik, tapi aku bisa merasakan aroma yang hangat dan lembut dari helai daun yang ia sisipkan. Itu adalah aroma laut, kesukaanku. Setelah bau-bau tak menyenangkan dan beraroma negatif yang kutemui tiap aku melewati kerumunan, daun kering darinya memberiku jeda yang menyenangkan.

Aku mendengus geli. Aku iseng menyimpan buku kecil di ceruk akar pohon ini, karena aku tak bisa menyimpannya di kamar kami—aku berbagi kamar dengan dua kakak perempuanku. Dan semua barang di dalam kamar kami tak pernah aman dari satu sama lain. Selama ini, tak pernah terpikir olehku bahwa keluh kesah yang kutuliskan pada buku kecil ini akan terbaca oleh orang lain. Yang lebih tak terduga, orang lain itu membalas tulisanku. Sudah lewat beberapa lama, aku mulai terbiasa menulis untuknya. Seperti halnya kali ini.

Kurasa aku bisa menerkanya. Aroma laut menguar dari daun kering. Hangat dan lembut. Mirip seperti hati Ibu Bumi, kalau kamu tahu maksudku. Kuyakin kamu pasti juga sama seperti itu. Ah, daun kering yang begitu kamu sukai itu … kenapa selalu kamu sisakan satu untukku?

Aku mengambil daun kering itu sebelum meletakkan buku kembali ke dalam ceruk. Aku pun tersenyum.

***

Makan malam merupakan waktu yang tak pernah kusukai. Enam orang termasuk aku berkumpul di satu meja. Semua membawa masalahnya masing-masing. Meski tak diucapkan, aku seketika tahu dari bau hati mereka. Dan itu memuakkan, terutama kalau sedang berhadapan dengan makanan.

Dulu, bertahun-tahun yang lalu, waktu pertama kali aku menyadari bahwa aku bisa merasai bau hati mereka, aku muntah. Siapa pun akan merasa begitu kalau membaui aroma sesangit kemenyan yang berbaur dengan wangi mawar. Hari itu marmut kesayangan salah satu kakakku meninggal. Sementara kakakku yang lain sedang jatuh cinta.

Tiba-tiba bau busuk memenuhi udara. Aku seketika menengadah. Mataku tepat menuju kakak lelakiku satu-satunya itu. Sorot matanya tak beda dari sorot mata orang-orang yang juga kubaui busuk. Kedengkian. Kebencian. Dendam. Apa yang sebenarnya sudah terjadi pada kakakku itu? Aku tak berani bertanya. Aku buru-buru meninggalkan meja. Selera makanku hilang. Siapa pun takkan tahan berada sedetik lebih lama bersama dengan bau sebusuk ini.

“Chi.” Suara ibuku menghentikanku. “Makanan kok nggak dihabiskan. Mubazir.”

Aku hanya menggeleng, lantas minta maaf. Aku tak tega memberikan alasan. Takut kakak lelakiku tersinggung. Lagi pula, mereka toh takkan percaya. Seperti yang sudah-sudah.

Aku masuk ke dalam kamar, mengambil daun kering yang tadi sore kuambil dari dalam buku, lalu memanjat tangga yang terpasang di dipan bertingkat dua kami. Kubuka jendela lebar-lebar dan berbaring miring. Angin malam perlahan masuk dan menyapaku lembut. Membawa rasa laut kepadaku. Sayang, rumah kami berada agak di tengah kota, membuatku gagal menyimak lagu ombak dari arah selatan. Aku harus puas hanya dengan aromanya.

Kupandangi lamat-lamat daun kering itu. Aku berencana melaminatingnya besok, lalu melubanginya untuk kukaitkan pada ikat rambutku. Aku seketika bangkit. Tidak. Kurasa yang satu ini tak perlu laminating. Aku sudah punya banyak.

Aku merogoh bawah bantalku, mengambil banyak daun kering yang sudah berlaminating. Sudah kulubangi dan kugunting. Lalu, kubuka ikatan kepangku. Kukaitkan dua di antaranya di ikat rambut warna hijau itu. Paduannya manis, membuat kedua sudut bibirku terangkat. Tipis.

Aku melipat tangan di bingkai jendela. Daguku menyusul sesudahnya. Kupejamkan mata, mencoba membau laut agak jauh di depan sana. Tak lama, bau itu menguat. Pekatnya bertambah drastis hingga cukup untuk memaksaku membeliak. Beradanya dekat. Aku yakin. Tanpa pikir panjang, aku melongok keluar jendela—perbuatan yang ceroboh mengingat aku berada di lantai dua tanpa beranda.

Sebayang hitam mengelebat di jalanan depan rumah. Aku mengernyit. Bulan sedang sembunyi di balik awan, memaksa bumi di bawahnya terlumur bayangan sekarat. Aku tak bisa melihat siapa dia. Tapi, sebayang hitam itu berjalan cepat sekali. Bau laut yang menguar darinya benar-benar menyenangkan. Aku sudah bilang bahwa itu adalah bau kesukaanku, kan? Senyumku merekah. Ini sudah lebih dari cukup untuk mengusir bau busuk hati kakak lelakiku. Aku akan bisa tidur tenang malam ini.

***

Daun kering pohon ini bagus. Awet untuk dijadikan pembatas buku. Kupilih yang terbaik buatmu. Selalu begitu, agar kamu ingat. Kamu bilang, hatiku berbau laut. Apa artinya buatmu?

Aku tersenyum. Bau laut sangat berarti untukku. Terakhir kali kucium—selain sebayang hitam yang melewati rumahku semalam—adalah mendiang nenekku. Beliau meninggal tiga tahun lampau, meninggalkan ikat rambut hijau yang berbau sama seperti beliau. Nenek tak pernah menistakan kehadiranku. Tak seperti semua yang meninggalkanku karena aku aneh.

Pemilik aroma laut selalu bisa melihatku saat aku tak terlihat, jawabanku untuknya.

Selang beberapa hari, tak kudapati tulisan darinya. Aku tak tahu apa yang terjadi. Kuharap bukan hal buruk. Entah bagaimana, perasaanku tidak enak. Terasa ada yang hilang. Ini sedikit berbeda dengan firasat buruk. Apakah kerinduan?

Aku berjalan gontai sore ini. Setiap hari aku terus menulis untuknya, tak sekali pun dibalas. Aku menghela cepat. Ketika kutengadahkan kepala, hujan daun kering menyambutku. Mau tak mau memaksaku tersenyum. Aku memejam dan membuka telapakku. Bisa kurasakan beberapa daun kering mendarat di sana. Aku membuka mata. Sambil tertawa kecil, kujatuhkan daun-daun kering dari telapak tanganku. Bau laut samar-samar menyertainya. Tawaku hilang.

Aku berlari menuju pohon dan mengambil bukuku. Aku tersenyum lega saat menemukan daun kering di sana. Juga tulisan latin berantakan darinya. Dia…, dia…, dia…. Aku bahkan tak tahu namanya.

Helai-helai keemasan meluruh deras. Mungkin akibat sinar jingga dari timur. Pertama kali aku datang sepagi ini. Mungkin karena ketaksabaran. Salahku sendiri. Dipaksa ikut acara keluarga. Biasanya mereka tak sudi memedulikanku. Tetap saja, tak bisa kutolak. Maaf. Apa kamu masih merasa tak terlihat? Rasanya aku ingin benar-benar bisa melihatmu.

P.S. Namaku Ru.

Aku tertegun. Di satu sisi, aku senang karena bisa tahu namanya. Di sisi lain, aku bimbang. Bukankah ini berarti ajakan untuk bertemu? Aku menggeleng pelan. Tidak mungkin.

Ru, terima kasih sudah memberi tahu namamu. Aku jadi benar-benar merasa memiliki teman. Kamu tahu? Saat ini, aku juga melihat helai-helai keemasan yang berguguran. Mungkin karena sinar jingga dari barat. Kita … selalu datang ke tempat yang sama. Tapi, waktunya tak pernah tepat. Mungkin kita tak berjodoh.

P.S. Namaku Chi.

Besoknya, di waktu yang sama, kudapati jawaban darinya. Aku hanya bisa membeku sesudahnya.

Waktu tak pernah mengatur jodoh. Itu hanya alasan rekaan. Kemauanlah yang mengatur jodoh. Apakah kamu punya kemauan itu, Chi?

***

Kuhentikan langkah sejenak di muka pelataran belakang SMA-ku dulu, mencoba menikmati angin kering yang dingin. Aku sudah lupa tanggal akhir-akhir ini. Baru saja teringat bahwa musim hujan sudah tiba. Pantaslah kalau siang ini teriknya bukan main. Tak lama lagi pasti hujan. Dan aku tak bawa payung. Sempurna.

Aku mendengus geli, menertawakan kecerobohanku sendiri. Biarlah.

Ah, bahkan sampai sekarang, aku belum memberikan jawaban pada pertanyaan Ru. Bukan karena aku tidak tahu jawabannya. Justru karena aku tahu, maka aku menjadi bimbang. Aneh, bukan? Orang lain akan bingung saat tidak bisa menemukan jawaban. Aku justru sebaliknya. Aku pun tahu apa yang hendak ia katakan. Tapi, ini terlalu cepat. Untukku, juga untuknya.

Kuhentak kakiku keras. Lantas menampar kedua pipi sendiri. Mungkin ini kebiasaan buruk. Apa boleh buat. Aku harus sadar, melamun di tempat seperti ini bukanlah hal bagus.

Begitu aku mencapai pohon, kuambil buku kecilku. Ada perasaan kecewa yang terlintas saat tak kulihat apa pun terselip. Bahkan juga tulisannya. Apakah tadi pagi ia tidak datang? Atau justru karena aku tak menuliskan jawaban apa pun, ia tak jadi menulis apa yang hendak ia tulis? Kemungkinan kedua lebih mungkin terjadi. Aku menghela panjang. Ini kesalahanku sendiri.

Aku sudah mengangkat pulpen, siap menulis. Tapi, tanganku terhenti. Apa yang harus kutulis?

Tanpa sadar, tanganku yang bebas meraih ikat rambut hijau yang tengah mengikat kepangku. Kedua daun kering berlaminating itu kuusap-usap lembut. Entah bagaimana, aroma laut langsung menyerbak begitu saja. Apakah laminating ini tak cukup kuat untuk menahan sisa-sisa aroma yang melekati kedua daun kering? Apa pun penyebabnya, aku tak terlalu peduli. Aku sudah mendapatkan kekuatan yang kubutuhkan untuk menulis apa yang benar-benar ingin kusampaikan.

Meski kemauan membuncah, bila Tuhan tak memberi kesempatan, hasil akhirnya akan tetap nol. Tapi, begitu pun tak apa. Nol adalah permulaan segala sesuatu, bukan?

Aku tersenyum. Itu jawaban yang cukup. Kuharap.

Aku meletakkan buku kecilku kembali ke dalam ceruk, lantas bangkit perlahan. Bau laut yang tadi kucium, membuat langkahku begitu ringan, sampai-sampai tak kusadari bahwa aku sudah berada di pintu keluar pekarangan belakang. Saat aku hendak keluar, aroma laut menguar pekat. Aku membeku saat seseorang melewatiku.

Sedetik…, dua detik…, bahkan sampai terasa selamanya…, aku tak sanggup bergerak. Saat kekuatanku kembali, aku berbalik. Mendapati punggung tinggi tegap lelaki itu, aku tersenyum. Tidak mungkin itu Ru. Ia selalu datang pagi-pagi, tak pernah mengingkari jadwalnya. Tak ada alasan baginya untuk datang lebih siang. Senyumku merekah. Aku senang ada orang lain yang memiliki bau hati yang begini menyenangkan selain Nenek dan Ru. Dan sebayang hitam yang lewat di depan rumahku tempo hari.

Kurasa, anggapanku salah. Dunia ini tak sebusuk yang terlihat. Masih ada bau laut yang langka. Mungkin tak hanya di negeri yang dipenuhi tikus busuk ini. Dunia ini sangat luas. Aku akan berusaha untuk mulai percaya. Bahwa ada banyak orang lain selain Ru di belahan dunia lain.

Untuk pertama kalinya, aku senang sudah keliru. Aku berpaling dari lelaki tinggi berambut ikal itu. Tapi, tak juga aku beranjak. Aroma hatinya amat menyenangkan. Aku ingin menikmatinya lebih lama.

Tak lama, matahari meredup. Aku menengadah. Awan kelabu berarak pelan, namun pasti. Aku masih tak beranjak saat gerimis mulai turun. Lagi, untuk pertama kalinya, aku senang karena tak membawa payung. Kutengadahkan telapakku, menerima dengan tulus air mata langit yang hangat dan lembut. Entah bagaimana, aroma laut menguat, membuatku mulai tertawa.

Aku benar-benar lega.

* * *

 

Cerpen karya akyuuu…. :cutesmile:

BAU LAUT, ASIN, TAPI SEDIKIT LEBIH MANIS

Aku berjalan lebih pelan sambil memainkan sebuah daun kering. Aku ingin menyelipkan daun itu—seperti biasa—di buku catatan milik Chi. Tapi entah kenapa aku merasa sangat tidak yakin kali ini.

Aku datang lebih pagi dari biasanya. Bukan karena apa-apa. Semalam aku memang tidak bisa tidur, dan sampai sepagi ini aku belum juga merasa mengantuk. Aku memilih untuk berjalan-jalan saja di dekat pohon flamboyan tua itu. Aku tidak tahu sudah berapa tua usia pohon itu. Yang jelas, rasanya sejak aku kecil pohon itu sudah ada di situ dengan bunga berwarna jingganya yang biasa mekar di awal musim penghujan.

Tidak ada siapa pun.

Aku berjalan lebih pelan.

Yang paling buruk dari semua ini adalah kalau aku benar-benar bertemu dengannya, dengan Chi. Aku sudah mengatakan pada Chi kalau seharusnya kami tidak perlu mengatur apa pun tentang pertemuan. Kalau memang akan bertemu, ya akan dipertemukan. Sesederhana itu.

Aku melihat seorang gadis berjalan menjauhi pohon akasia tua itu. Rambutnya yang panjang dikepang. Aku berhenti sejenak. Apakah itu Chi? Aku rasa bukan. Dengan cepat Chi pasti bisa mengenali aku dari bau hatiku, seperti yang dia bilang di bukunya. Aku kira gadis ini hanya lewat. Ini kan juga bukan jalan pribadi. Siapa pun bisa lewat di sini. Gadis itu berjalan berpapasan denganku. Aku melihatnya sekali lagi dari sudut mataku. Memastikan kalau itu bukan Chi. Dan entah kenapa aku merasa yakin kalau itu bukan Chi. Ketika kami berpapasan, dia tidak memberikan ekspresi apa pun. Biasa saja. Asing. Aku tidak asing dengan Chi, begitu pula sebaliknya. Kami hanya tidak pernah bertemu. Itu saja.

Aku berjalan ke pohon akasia tua. Ada sebuah ceruk di pohon itu yang cukup besar tapi juga cukup tersembunyi. Kalau Chi sudah datang pagi ini, dia pasti sudah meninggalkan catatan di bukunya. Aku mengulurkan tanganku ke dalam ceruk itu dan mengambil buku itu dan langsung membukanya:

Meski kemauan membuncah, bila Tuhan tak memberi kesempatan, hasil akhirnya akan tetap nol. Tapi, begitu pun tak apa. Nol adalah permulaan segala sesuatu, bukan?

Nol adalah permulaan segala sesuatu katanya.

Mungkin benar. Mungkin hubungan aneh kami dimulai bukan dari nol, tapi dari minus sepuluh. Dan sekarang sudah sampai pada titik nol. Aku mengambil pulpen di saku kemejaku dan mulai menulis:

Jadi, sekarang hubungan kita baru masuk titik nol. Permulaan yang aneh.

Aku berusaha menulis serapi dan sebagus mungkin. Tapi apa mau dikata, sepertinya jari-jariku sudah terlalu kaku untuk bisa menulis sebagus tulisan Chi. Kalau benar tulisan itu memperlihatkan kepribadian, aku yakin kepribadianku sangat buruk.

Aku lalu meletakkan daun kering di halaman itu. Sebagai penanda bahwa aku sudah membalas catatannya. Aku pun lantas cepat-cepat pergi. Aku tidak ingin Chi memergokiku sedang berada di sini.

* * *

Selain membalas catatan di ceruk pohon akasia itu, aku juga mempunyai kegiatan lain kalau berkunjung ke sana: mengumpulan daun-daun tua yang bagus untuk dijadikan pembatas buku. Sampai di rumah, aku akan mengeringkannya sampai benar-benar kering lalu melaminatingnya agar tidak rusak. Aku punya banyak koleksi daun kering. Tidak hanya daun pohon akasia itu yang aku jadikan pembatas buku. Tapi, memang pohon akasia itu sangat istimewa, entah kenapa. Walaupun bila dibandingkan dengan daun-daun lain yang aku kumpulkan, bentuknya biasa saja. Tidak terlalu bagus juga. Aku meninggalkan daun-daun kering yang belum dilaminatng di buku catatan itu. Aku tidak tahu—dan tidak bisa menebak—apakah Chi lebih menyukai daun-daun kering yang sudah dilaminating atau yang belum. Aku juga tidak tahu apakah dia akan menggunakannya untuk pembatas buku seperti yang biasa aku lakukan atau untuk yang lain.

Aku sedang menyusun beberapa daun segar yang aku temukan di jalan hari ini di atas sebuah baki kecil ketika Sarah datang dan langsung duduk di tepi tempat tidurku. Dia bukan siapa-siapa. Hanya temanku dari kecil yang tinggal di sebelah rumahku. Kadang dia suka datang dan menggangguku. Hampir setiap hari.

“Kenapa gak dijual aja, sih?” tanya Sarah dengan suaranya yang cempreng dan tidak enak didengar itu.

“Hmm….” Aku berusaha menjawab, tapi yang keluar hanya gumaman sebal.

“Aku mau satu, dong. Kalo gak, aku jualin deh sama temen-temenku di kelas.”

“Hmm….”

“Eh, tau gak sih, masak ada cewek di kelasku yang nanyain kamu, Ru. Katanya kamu ganteng.”

“….”

“Dia pengen ketemu.”

Aku berdiri, menarik tangan Sarah, membawanya paksa ke depan pintu, lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Sarah masih berteriak-teriak sambil memukul-mukul pintu kamarku. Aku tidak peduli. Paling sebentar lagi dia juga pergi. Aku mengambil baki yang sudah penuh dengan daun segar dan meletakkannya di dekat jendela. Jendela kamarku ini menghadap ke barat. Aku hanya bisa menjemur daun-daun ini dari tengah hari sampai menjelang sore nanti.

Terngiang tulisan Chi di buku catatannya: Aku bisa mencium bau hati orang lain, tapi tidak hatiku sendiri.

* * *

Ketika aku bertemu dengan Sarah di depan pagar rumahku siang keesokan harinya, Sarah kelihatan sangat marah. Dia bahkan tidak menyapaku sama sekali. Aku berusaha tersenyum. Tapi dia malah melemparku dengan sebuah ranting kering. Tidak sopan sekali cewek itu. Aku memungut ranting kering yang dilemparkan Sarah dan membawanya masuk ke rumah. Aku meletakkan ranting itu di atas meja belajar, menjatuhkan tasku di lantai, dan memindahkan baki kecil berisi daun yang masih setengah kering ke dekat jendela. Setelah itu aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Tidak ada balasan apa pun dari Chi hari ini. Ke mana dia? Aku juga tidak menuliskan apa pun di buku catatan itu tadi. Hanya meninggalkan sebuah daun kering yang sudah dilaminating. Bukti kalau hari ini aku datang ke sana.

Aku berusaha tidur. Tapi tulisan Chi kembali terngiang: Seandainya kamu tahu betapa busuknya bau hati kebanyakan orang….

Kalau suatu hari dia kuajak ke sini, ke rumah ini, apakah dia mau memberitahuku bagaimana bau hati orang tuaku? Apa benar bau hatiku seperti bau laut?

Setelah itu, tidak pernah ada jawaban dari Chi hampir sebulan lamanya. Tapi aku tetap datang ke sana setiap siang, meninggalkan satu daun kering yang sudah dilaminating untuknya. Dan setiap kali aku datang, daun kering yang aku letakkan kemarin sudah tidak ada. Chi tetap datang, setiap hari. Hanya saja dia tidak menuliskan apa pun.

Kenapa?

* * *

Hari ini, aku memberanikan diri untuk menanyakan pada Chi kenapa dia tidak menulis di buku dan hanya mengambil daun-daun kering yang aku selipkan di sana. Jawabannya aku dapatkan keesokan harinya. Aku sama sekali tidak menduganya. Aku pikir dia akan mendiamkanku seperti sebulan belakangan ini.

Bau hatimu lebih manis. Tidak seperti bau laut yang asin. Tidak seperti biasanya. Bau hati yang manis: bau hati orang yang sedang jatuh cinta. Benarkah?

Lebih manis? Apa maksudnya? Aku bahkan merasa baik-baik saja. Tidak terkena penyakit cinta atau apa pun yang sejenis dengan itu. Hari itu aku menyelipkan tujuh daun kering. Seminggu ke depan, aku sepertinya tidak akan datang. Aku harus konsentrasi ujian. Walaupun aku tahu, ujian dan cerita tentang buku, catatan, dan daun-daun kering ini sama sekali tidak ada hubungannya. Tapi, balasan Chi tentang bau hati yang manis itu benar-benar membuatku merasa terpojok. Aku tidak pernah mau dekat-dekat dengan urusan cinta. Dan aku yakin sekarang masih berada jauh dari urusan itu.

* * *

Tujuh hari tanpa melihat pohon akasia itu, tanpa mengeringkan daun, dan tanpa rasa penasaran apakah Chi menuliskan sesuatu di buku catatan itu. Benar-benar tujuh hari yang menyebalkan.

Sarah juga sudah kembali menyebalkan. Dia datang lagi ke kamarku dan menggangguku.

“Ru, kamu tau rumah baru di ujung salan sana? Katanya rumah itu ada hantunya.” Sarah memberikan informasi tidak penting yang harus langsung aku lupakan.

“Hmm….”

“Padahal yang tinggal di situ satu keluarga besar.”

Aku duduk membelakangi Sarah yang masih sibuk bercerita.

“… gak tau kenapa gitu, tau-tau ada bayangan hit—“

“Sarah.” aku memutus cerita Sarah yang mulai terdengar agak menyeramkan. Sarah refleks terdiam. Aku memutar bangkuku dan menatap matanya.

“Bau hatimu manis. Bau manis itu menempel di mana-mana. Bahkan di bau hatiku juga. Aku ingin bau hatiku seperti dulu lagi, Sarah. Seperti bau laut.”

Sarah membalas tatapanku. Aku tahu dia sama sekali tidak mengerti.

Aku mengambil sebuah ranting kering di meja belajarku dan memberikan padanya. Sarah menerimanya juga dengan tatapan tidak paham. Dia benar-benar tidak paham apa yang terjadi di sini, sekarang.

“Itu ranting yang kamu lemparkan ke kepalaku tempo hari.” Aku berusaha memberikan penjelasan singkat. Mata Sarah membulat.

“Kamu simpen?” tanyanya kebingungan. Aku menempelkan daun-daun kering yang sudah dilaminating ke ranting itu dengan kawat. Sekarang ranting itu terlihat cukup indah. Setidaknya menurutku begitu.

“Daun-daunnya kering, Sarah. Rantingnya pun mati. Aku tidak bisa menumbuhkan daun-daun segar di sebuah ranting yang kering. Hatiku pun begitu.”

Sarah mulai menangis. Aku berdiri dan mengusap rambutnya pelan. Sesaat kemudian, aku membungkuk dan membisikkan sesuatu di telinganya.

“Kamu akan menemukan cowok yang lebih segalanya daripada aku. Percaya, deh.”

Tapi, Sarah masih menangis.

Apakah bau hati Sarah masih semanis dulu, Chi? Aku ingin tahu….

* * *

Aku datang ke pohon akasia itu. Sudah tujuh hari dan aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi.

Ketika aku hampir sampai di dekat pohon akasia itu, aku melihat seorang gadis sedang berdiri di sana. Rambutnya panjang, dikepang, dengan ikatan yang terbuat dari daun-daun kering yang sudah dilaminating dan diberi pita. Aku mengingat dengan baik daun-daun itu. Aku juga masih ingat gadis ini. Ini adalah gadis yang aku temui dulu, di sini. Gadis yang sama.

Aku berjalan mendekatinya. Dia tidak menoleh sama sekali. Aku bisa melihat matanya terkadang menutup lama. Seperti sedang mencoba merasai sesuatu. Atau sedang membaui sesuatu? Aku berdiri di sampingnya. Tidak bicara. Aku menunggunya bicara. Aku bisa melihat buku catatan yang biasa kami tulis ada di tangan kirinya.

“Bau hatimu masih seperti bau laut. Aku menyukainya,” katanya pelan.

Aku mencoba menatap ke arah yang sama seperti yang sedang dia lakukan. Tapi sepertinya dia tidak sedang menatap apa pun. Dia hanya sedang berdiri di situ. Sedang mencium bau hatiku.

“Apa masih sedikit manis?” tanyaku penasaran.

“Ya. Masih sedikit manis.”

Aku tersenyum.

“Mungkin lebih manis dari yang biasanya karena kita bertemu di sini?

Chi menatapku lembut.

“Tidak juga. Ini masih bau manis yang sama seperti yang kemarin-kemarin.”

Aku memberikan beberapa daun kering yang sudah aku siapkan dari rumah untuk diselipkan di buku. Tapi, sebaiknya kali ini aku berikan langsung saja. Sepertinya menyelipkannya di buku lebih butuh banyak usaha. Apalagi Chi sedang memegang buku itu. Chi mencium daun-daun kering itu. Kami pun berjalan menjauhi pohon akasia. Ke arah mana, aku pun tidak lagi ingin tahu. Satu hal yang aku tahu, setidaknya hubungan kami tidak lagi di titik nol.

* * *

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)