#568: Lagu Pengantar Menulis dan Curhat Lainnya

Dibaca 1,446 kali

 

perapian

Ini salah satu ruangan favorit saya untuk menulis di Fayetteville Public Library. Ada perapiannya, sofa, dan jendela besar. Berasa kayak lagi nulis di rumah yang nyaman banget.

Sebenernya saya sekarang lagi mau lanjutin Jangka dan membalas surel. Tapi rasanya masih belum mood buat mulai ngerjain. Hiks. Jadi saya mau cerita tentang lagu yang lagi saya suka banget sebulan belakangan.

Saya suka pakai lagu tertentu untuk menjaga mood karakter yang lagi saya tulis. Biar enggak out of character. Soalnya saya nulis enggak satu proyek di satu waktu. Kadang tiga-empat sekaligus. Kadang saya pakai juga untuk menjaga beat scene. Misalnya, saya lagi nulis scene yang saya mau jalannya lambat, detail, dan ketukannya segini, segini, segini. Saya pakai lagu tertentu untuk memastikan apa yang saya inginkan bisa dituliskan.

Untuk Jangka, misalnya, saya punya playlist sendiri untuk setiap karakter.

jangka-udin

Itu di atas, playlist punya Udin. Udin ini karakternya, kalau diibaratkan musik, dia EDM (Electronic Dance Music). Enggak ada urusan perasaan yang gimana-gimana kalau menuliskan scene dari POV-nya si Udin ini. Pokoknya semua ringan, beat-nya cepat, dan semua tentang dia itu keras. Abis nulis scene Udin ini, bisa jadi saya terlalu masuk ke tulisan yang saya buat sendiri dan jadinya, waktu mau nulis dari POV Elang, saya jadi lupa harus bagaimana. Untuk itulah playlist Elang dibuat.

Tapi akhir-akhir ini, saya juga perlu lagu untuk membuat saya terus dan tetap menulis. Awalnya, lagu ini dikasih tahu sama Kakak Fahri Dayni di Twitter. Saya yang minta, sih. Minta ditunjukkan jalan menuju musik yang enak. Karena–sepertinya–saya tercipta untuk Britpop, jadinya saya mudah banget untuk suka sama Radiohead ini. Dulu saya enggak suka. Saya juga enggak tahu kenapa. Mungkin seingat saya, karena musiknya terlalu keras untuk selera saya. Tapi di album yang baru, A Moon Shaped Pool, musiknya enggak kayak dulu lagi dan saya sukaaa … banget. Lagu Present Tense jadi lagu yang pertama saya suka di album itu dan paling saya suka sampai sekarang.

img_0702-png

Waktu saya buka laptop, saya langsung puter lagu ini. Saya beli satu album sekalian. Biar puas. Soalnya kualitas di Spotify (gratisan) dan di iTunes beda. Kalau dengerinnya begitu aja, enggak kentara memang. Tapi kalau pakai headphone, lumayan beda lah, rasanya.

Present Tense ini kan, banyak penafsirannya, ya. Liriknya sederhana, dalam, manis, dan entah kenapa, mengingatkan saya sama sesuatu yang juga sederhana. Mungkin karena itu juga, saya gampang banget buat suka sama lagu ini. Karena sekarang ini lagu jadi lagu wajib pengantar menulis, saya pun jadi punya penafsiran sendiri–yang mana itu penafsiran ‘suka-suka gue’. :D

Oh, silakan ini sambil didengerin, ya. Ini versi Youtube-nya yang akustik. Agak beda sama versi albumnya tapi sama enaknya.

Kalau saya dengerin lagu ini, saya menafsirkan liriknya seperti ini:

This dance

This dance

It’s like a weapon

It’s like a weapon

Of self defense

Self defense

Against the present

Against the present

Present tense

Jadi, menurut lagu ini kan, this dance’s like a weapon. Menulis pun buat saya bisa jadi senjata. ‘Dance’ yang ada dilirik itu, saya ibaratkan jari-jari saya yang menari waktu mengetik. Apalagi kalau di hari itu saya pakai cat kuku warna-warni. Tariannya bakalan lebih cantik lagi. :D

Pun saya menulis juga untuk self defense … againts the present. Sederhananya; biar tetap waras. Karena kalau saya enggak bikin drama di tulisan saya (dan kalau di cerpen atau novel kan, semakin drama semakin bagus) saya bakalan bikin drama di hidup saya sendiri. :D

Terus bagian ini:

I won’t get heavy

Don’t get heavy

Keep it light and

Keep it moving

I am doing

No harm

As my world

Comes crashing down

I’m dancing

Freaking out

Deaf, dumb, and blind

 

Ini masalah tiap kali saya menulis sebenarnya; overthinking. Saya kebanyakan mikir ini mesti bagaimana, diapain, terus mau diapain lagi setelah tadi mau diapain. Ribet deh, pokoknya. Padahal, saya juga tahu bahwa yang diperlukan ketika menulis draft pertama adalah; menangkap ide dan emosi. Emosi ini yang paling penting. Karena dia hanya akan datang di saat saya menuliskannya pertama kali. Waktu editing, saya udah enggak mikirin emosi. Yang saya kerjain bukan lagi sesuatu yang emosional, tapi logis. Makanya, buat saya, draft pertama itu penting banget. Kayak ciuman pertama. Hahahaaa…. Apa sih, yang mau dibanggakan dari ciuman pertama? Enggak ada. Tekniknya nyebelin kalau diingat. Belum lagi kikuknya. Tapi bakalan terus dikenang bukan karena hebatnya, tapi karena emosinya. Begitu, deh. :D

Bait-bait yang ini mengingatkan saya untuk melakukannya dengan ringan; keep it light, keep it moving. Yang penting terus bergerak, menulis, kata demi kata. Preserving the emotion. 

Yang berikutnya ini, bagian yang saya teriakkan berulang-ulang kalau saya sudah mulai malas untuk melanjutkan. Istilahnya sih, writer’s block. Karena saya enggak percaya ada writer’s block–buat saya itu mitos, jadinya bagian lirik yang ini nampol banget di saya.

I won’t turn around or the penny drops

I won’t stop now

I won’t slack off

Or all this love

Will be in vain

Kamu tahu kan, waktu kamu ngebikin koin muter di lantai atau di meja. Bayangkan kalau kamu menoleh terus koinnya jatuh. Sayang banget, kan? Begitu juga dengan momen di mana saya bisa menulis. Kalau misalnya saya masih punya waktu satu jam lagi, misalnya, tapi saya malas melanjutkan (maunya main games). Ya … itu yang akan terjadi; the penny drops. Karena itu saya enggak bisa (atau boleh) berhenti karena semua yang saya bilang; bahwa saya suka menulis, saya cinta … itu cuma bakalan jadi kata-kata kosong belaka.

Kalau ternyata semua sulit, semua enggak semudah itu;

Stop from falling

Down a mine

It’s no one’s business but mine

That all this love

Has been in vain

 

It’s no one’s business but mine. :D

Saya ini tipe tukang tulis yang berisik banget. Kalau saya mulai ngetwit banyak, itu biasanya saya kerjakan sambil menulis. Karena kalau sudah di depan laptop dan mulai fokus, pikiran-pikiran yang sebelumnya enggak terpikirkan, malah datang. Kan, nyebelin. Untuk bikin saya enggak mikirin, saya ngetwit. Makanya Twitter saya isinya sampah banget. :D

Dan terakhir; in you I’m lost.

Itu benar adanya. Kadang saya enggak ingat waktu dan bisa menulis tiga sampai (paling banyak yang pernah terjadi) lima ribu kata sekali duduk. In you I’m lost.

Ini baik dan enggak baik, sih. Karena kalau sudah sampai lebih tiga ribu kata, biasanya saya jadi berasa abis-abisan banget dan besoknya saya jadi enggak ada semangat buat nulis. Seribu sampai seribu lima ratus per hari itu yang paling ideal buat saya.

Biasanya, habis dengerin lagu ini, ikutan nyari berkali-kali, saya jadi semangat nulis, sih. Daripada bikin drama in real life, kan? Kayak masih kurang drama saja hidup saya. :D

Yah, begitu saja.

Saya juga enggak paham ini, sebenernya, saya nulis apa. Tapi lumayan buat pembukaan buat lanjut nulis yang lain sekalian ngisi blog yang lama terbengkalai. :cutesmile:

 

6 Comments

  1. info game
    Jan 25, 2017

    Waah jadi ikutan baper euy

  2. Heritage
    Dec 26, 2016

    Hadeh, jadi ikut baper pengen nulis

  3. Heritage
    Dec 26, 2016

    Hadeuh, jadi ikutan baper nih heehehhe

  4. kaos polos
    Dec 13, 2016

    terbukti deh kalau untuk menghasilkan tulisan maksimal mood juga harus maksimal :D mantap gan!!

  5. kuliah bahasa
    Dec 12, 2016

    sama gan saya juga lagi belajar nulis tetap semangat :music:

  6. syanu
    Dec 7, 2016

    Saya suka pake lagu Uda Tulus kalo lagi nulis, adem banget dengernya. Hehehehe.

    Salam,
    Syanu.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)