#164: Suatu Hari di Persahabatan Kami Itu….

#164: Suatu Hari di Persahabatan Kami Itu….

Selasa itu, 10 tahun yang lalu, seperti berjalan seperti biasanya. Saya pergi ke sekolah dengan membawa buku SPP dan dompet yang berisikan semua uang saya. Saya memang biasa menyatukan semua uang jajan saya yang tidak seberapa itu di sebuah dompet agar mudah diambil kalau dibutuhkan. Saya juga membawa dompet itu kemana-mana. Ketika jam istirahat, saya tersadar kalau uang bayaran dan semua uang di dompet saya hilang. Saya tidak tahu kemana perginya. Saya juga tidak paham bagaimana buku SPP dan dompet yang tersimpan di tas saya itu bisa ditemukan oleh orang lain. Saya pun risau…. Saya tidak punya uang untuk ongkos pulang. Padahal saya harus menumpang angkot dua kali untuk sampai ke rumah. Setidaknya saya butuh uang sebanyak Rp. 1.000,- agar bisa sampai di...

Read More

#75: Cerpen EAT Aku dan Dya (Ho-oh, Ini Romance)

#75: Cerpen EAT Aku dan Dya (Ho-oh, Ini Romance)

Jadi, begitulah akhirnya…. (Lho? Mulai aja belom!) Begini ceritanya. Saya dan Dya mengikuti event EAT (Event Akhir Tahun) di kekom (www.kemudian.com). Peraturannya agak unik. Dua orang peserta harus menuliskan satu cerita yang berkaitan tapi dijadikan dua cerpen. Masing-masing menulis satu bagian. Saya dan Dya pun berjodoh. Cerpen di bawah ini adalah versi final cerpen EAT kami. Temanya romance. Yaaa … karena itulah terasa love is in the air! Tapi, berhubung selera romance kami sama, saya dan Dya tidak banyak menuliskan tentang kontak fisik, rayuan keju, atau bahkan kata cinta itu sendiri. Silahkan dibaca cerpennya. Kalo iseng, silahkan dikasih point di kekom. Kalo mau iseng lagi: jadikanlah kami penulis favoritmu…. Link kekom cerpen kami....

Read More

#47: Easy A (2010) – Review Film

#47: Easy A (2010) – Review Film

Beberapa waktu lalu, saya sempat lihat-lihat akun Facebook orang yang saya tidak kenal, tapi anehnya saya temenan udah lama sama dia. Biar saya gak penasaran, saya akhirnya lihat-lihat fotonya juga. Abis liat fotonya, tetep aja saya gak tau ini siapa. Tapi, foto-fotonya memang menarik. Mengingatkan saya pada salah satu film komedi remaja yang saya tonton tahun lalu, judulnya, Easy A. Pose memegang kertas bertuliskan sesuatu untuk menyampaikan pesan, seakan-akan gambar tidak bisa menyampaikan apapun. Posenya kira-kira seperti ini: Saya tidak banyak menonton teen-flick. Saya juga menonton film ini awalnya tanpa ekspektasi apapun. Saya tahu Emma Stone, dia tidak terlalu terkenal. Penampilannya di House Bunny (2008) tidak bisa dibilang bagus. Saya juga melihatnya di...

Read More

#46: Confession/Kokuhaku (2010) – Review Film

#46: Confession/Kokuhaku (2010) – Review Film

Sudah hampir sebulan ini saya selalu tidur rutin tidur siang antara jam dua sampai jam lima. Lalu dilanjutkan dengan tidur cepat, kalau bisa sebelum jam sembilan. Hasilnya, saya bisa bangun jam dua atau paling lambat jam tiga pagi. Setidaknya saya punya empat sampai lima jam waktu sendirian yang tidak diganggu siapapun untuk melakukan apa saja yang saya suka. Saya bisa menulis, nonton, atau kadang baca buku. Beberapa hari lalu, saya menggunakan waktu ini untuk menonton film yang khusus saya pesan kepada Sinung untuk dicarikan segera. Judulnya Confession (Kokuhaku). Saya melihat film ini di IMDB dengan rating 7,8. Itu cukup tinggi. Awalnya saya kira saya akan menikmati film drama misteri yang menyeramkan. Ternyata saya salah. Ini adalah film yang tidak hanya...

Read More

#35: Bukan Ngibul Sembarang Ngibul: It’s Liar Games!

#35: Bukan Ngibul Sembarang Ngibul: It’s Liar Games!

  Beberapa hari ini dan kemarin, sakit gigi saya kumat. Gigi geraham bungsu saya yang baru tumbuh waktu saya umur 20 tahun, bolong. Itu letaknya di ujuuu…ng banget. Gak bisa digosok pake sikat gigi. Mau ke dokter gigi, saya takut. Ya udah deh, ditahan aja dulu. Untuk menghibur diri, saya pun akhirnya menonton dorama Jepang yang berjudul Liar Games. Ini sebenernya atas bujuk rayu Om Eko Hardiyanto juga. Dia yang pertama nonton dorama ini dan bilang dengan semangat bahwa: ini bagus! Jadi, saya pun termakan bujuk rayunya, saya nonton deh. Awalnya, saya gak terlalu suka. Di episode awal, saya rasa gak terlalu kuat unsur mind-blowing-nya. Yah, cuma gitu-gitu aja. Apalagi cowoknya, yang jadi Akiyama, gak seganteng yang saya harapkan. Emang sih, ganteng kan...

Read More

#25: Source Code; Make Every Second Count

#25: Source Code; Make Every Second Count

Sebenarnya film ini sudah cukup lama dirilis, tapi saya baru menontonya semalam. Saya menonton bukan karena review-nya bagus atau apa, tapi karena Jake Gyllenhall. Setelah melihat Jake Gyllenhaal menjadi anak pintar di October Sky, lalu jadi gay di Brokeback Mountain, setelah itu jadi cowok kekar berotot di Prince of Persia, kemudian “too much skin” di Love and other Drugs… saya ingin melihat dia main film yang agak intelek sedikit gitu. Perkiraan saya, film ini akan menjadi seperti, yaaa… mirip-mirip lah, dengan Inception. Walaupun ternyata twist-ending dan “oooh” momennya lebih banyak dan lebih mantap Inception. Tapi, seperti kata saya di awal: saya ini mau nonton Jake Gyllenhaal. Semalam, saya menonton film ini 3 kali. Iya, 3 kali. Dari jam 8 malam...

Read More

#13: Let Me In; Innocence Dies, Abby Doesn’t

#13: Let Me In; Innocence Dies, Abby Doesn’t

  Di postingan ke-13 sebaiknya saya posting yang rada horor dikit. Berhubung saya tidak punya cerita yang bisa membuat orang takut, saya memilih untuk mereview film horor saja. Yang penting masih ada horor-horornya lah. Saya suka menonton film horor, tapi bukan horor lokal. Hanya beberapa horor lokal yang menurut saya bagus. Sisanya adalah film horor dengan skenario hancur, pemain yang aktingnya meragukan, dan pemasaran yang menggunakan konsep “buzz marketing” acak-acakan. Mari kita tinggalkan pendapat saya tentang film horor lokal…. Film dari genre horor yang akan kita bahas kali ini adalah Let Me In. Sebuah film tentang vampir, walaupun tidak secara eksplisit dikatakan dalam film bahwa makhluk yang diceritakan adalah vampir. Tapi kalau ada makhluk...

Read More