#506: Ngomongin Collective Creativity

#506: Ngomongin Collective Creativity

Linda Hill Beberapa hari yang lalu–saya lupa tepatnya–saya baca artikel di The Verge tentang menjadi yang pertama itu bukan hal yang paling penting; menjadi yang terbaik, itu yang penting. Kalo Manteman mau baca artikelnya, silakan di sini. Kalo males baca, saya kasih garis besarnya aja deh, ya. Intinya sih, itu artikel menceritakan tentang banyak produsen gadget yang mengklaim kalo produk mereka yang pertama punya ini dan itu, atau inovasi yang pertama di bidang ini dan itu. Masalahnya, itu semua jadi gak berarti ketika masuk ke pasar (konsumen) karena yang jadi pertimbangan konsumen sebelum membeli adalah; sebaik apa produknya–selain juga budget. Kalo kamu nyari perbandingan produk yang mau kamu beli, misalnya aja mouse (atau bahasa kerennya;...

Read More

#414: The Art of Asking; Crowd Funding Ketika Mas Gagah Pergi (Bagian 1)

#414: The Art of Asking; Crowd Funding Ketika Mas Gagah Pergi (Bagian 1)

Sekitar tahun 2002, ketika saya masih kelas dua SMA, saya mulai membaca novel-novel Islami dan langganan (atau lebih sering minjem kalo lagi gak punya uang) Majalah Annida. Ada sesuatu yang baru yang saya temukan di dua hal itu (novel Islami dan Majalah Annida), yaitu semangat untuk menyebarkan pemahaman Islam dengan cara yang elegan; dengan bercerita. Saya lupa kapan tepatnya saya membaca Ketika Mas Gagah Pergi. Mungkin menjelang saya lulus SMA dan itu sudah lebih sepuluh tahun yang lalu. Yang saya ingat; saya meminjam novelnya dari seorang teman—yang saya lupa siapa. Ceritanya sederhana saja, menurut saya. Tentang hubungan adik-kakak, tentang perubahan ke arah yang lebih baik, tentang kedekatan, dan perasaan kehilangan. Saya masih ingat betapa salah seorang...

Read More

#413: Hon, Sekolah Yuk!

#413: Hon, Sekolah Yuk!

“Hon, ke sini yuk. Kita sekolah.” Begitu kata-kata ajakan Tuan Sinung yang dia katakan berkali-kali kepada saya. Mungkin setengah dari facetime kita, isinya cuma itu. “Aku gak pernah nemu orang sepinter kamu.” Ini bisa dibilang setengah rayuan, setengah lagi menunjukkan kalo dia kurang pergaulan. Tapi mungkin itu gak salah juga kalo menyangkut urusan aneh-aneh kayak; nyasar–saya pinter banget nyasar. Saya sebenernya belum siap nyeritain ini semua. Tapi karena ada beberapa kesalahpahaman dan hal-hal lain yang bikin saya gak nyaman, akhirnya saya pengen nyeritain juga. Mungkin bakalan panjang dan isinya emang curhat doang. Jadi kalo kamu males baca curhat panjang, silakan di-skip. Saya gak pernah bermasalah dengan sekolah. Walopun saya...

Read More

#395: Lo Nyusul, Gak? Nyusul Dong!

#395: Lo Nyusul, Gak? Nyusul Dong!

  Jadi, beberapa waktu belakangan, ini pertanyaan yang sering saya dapet–mengalahkan pertanyaan; kok kamu kurus banget sih? Cacingan? Sebenernya gak apa-apa sih ini pertanyaan. Gak masalah dan gak akan membawa masalah. Hanya saja, untuk orang-orang yang belum tahu bahwa (seperti yang suka saya bilang ke Tuan Sinung bahwa beasiswa itu bukan jalan-jalan ke surga), jadi ada yang belum paham betapa menggalaukannya pertanyaan ini. Sama menggalaukannya dengan pertanyaan “Udah isi?” untuk penganten baru atau pertanyaan “Kapan kawin?” untuk orang yang belom ketemu jodohnya. Saya akan jelaskan mengapa oh mengapa pertanyaan ini menggalaukan biar Manteman bisa melihat dari sudut pandang saya–si tukang galau. Hahahaaa…. Pertama,...

Read More

#338: Apa yang Paling Melelahkan dari sebuah Perjalanan?

#338: Apa yang Paling Melelahkan dari sebuah Perjalanan?

… kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan dan kuyakin … kau tak ingin, aku berhenti. “Tidakkah iri?” tanyamu. Hari itu, ketika pertanyaan itu ditanyakan, bukan hari yang baik buatku. Matahari rasanya bersinar lebih terik dari biasa. Hati pun lebih lelah dari yang seharusnya. Tapi aku jawab–dan aku selalu menjawab, “Tidak.” Bukan bohong. Bukan. Karena aku memang tidak iri. Mungkin kamu tidak percaya kalau aku sudah mengubur lama rasa iri pada siapa saja. Benar-benar siapa saja. Bukan karena aku tidak punya rasa iri. Tapi, hanya saja, ketika aku merasakan itu–iri itu–seolah aku sedang membandingkan kasih sayang Tuhan padaku padahal aku tahu bahwa Tuhan selalu sayang dengan jumlah yang tak terkira...

Read More

#337: I did It for Me

#337: I did It for Me

Iya nih, masih dalam masa penyembuhan Breaking Bad….  Mau nge-review Breaking Bad tapi hati ini masih menangis…. *halah* Jadi saya nyeritain yang lain dulu deh. Pernah gak sih kamu ngebayangin suatu ketika kamu bangun tidur dan menyesali apa yang udah kamu lakukan sepanjang hidupmu? Kayak Walter White di Breaking Bad gitu. Pas dia dikasih tahu dokter kalau dia kanker paru-paru–itu pun tahunya setelah dia pingsan begitu aja dan batuk-batu muluk–trus kamu malah ngerasa harus ngelakuin suatu karena dorongan: kamu pengen hidup! Kamu pengen ngerasa hidup. Saya nyeritain di Walter White aja yak. Jadi dia 50 tahun udah jadi ayah yang baik, suami yang baik, guru yang baik, dia goodboy. Pas dia tahu hidupnya gak bakalan lama lagi, dia malah...

Read More

#334: How Far will You Go?

#334: How Far will You Go?

Beberapa waktu belakangan, saya udah sampe di fase capek ngeriset. Ada sebuah cerita yang mau saya jadikan novel dan mau saya ikutkan ke sebuah lomba novel, tapi … saya ngambil genre yang sebenernya saya sendiri gak tau apakah saya bisa ngerjainnya atau gak; sci-fi. Saya suka nulis romens sih. Tapi saya gak mau dikenal sebagai penulis romens walaupun sekarang sepertinya demikian. Salah strategi branding kayaknya. Saya capek banget ngebaca banyaaak paper, banyak hasil riset, banyak jurnal. Semua pake bahasa Inggris yang kadang saya harus muter lagi nyari definisi istilah yang digunakan. Kadang hati kecil saya menjerit…. *halah* Saya bisa memilih untuk menulis yang biasa-biasa aja, yang gak perlu banyak riset, yang saya udah tahu gimana-gimananya, yang...

Read More

#332: Late Bloomers si Terlambat Panas

#332: Late Bloomers si Terlambat Panas

Kayaknya saya dulu udah pernah menuliskan tentang late bloomers ini deh. Tapi cuma sempilan aja gitu. Sekarang saya akan menuliskannya lagi dengan lebih lengkap. Beberapa waktu belakangan, saya sukaaa … banget dengerin Lorde. Walaupun gak semua lagunya di album Pure Heroine. Betewe, heroine sama heroin itu beda ya. Yang satu, heroin itu masuk jenis narkotik. Yang satu lagi heroine, itu sebutan untuk hero atau pahlawan perempuan. Di beberapa komentar saya masih ngeliat ada yang mempertanyakan kenapa Lorde ngasih judul albumnya pake nama narkotik. Apa karena gaya menarinya di panggung yang mirip orang lagi high? Awalnya saya gak tau kalau si Lorde ini masih 16 tahun ketika album itu dirilis dan sekarang dia udah 17 tahun. Saya kira–dari...

Read More

#329: Look, Feel, and Her

#329: Look, Feel, and Her

Foto ini diambil sekitar jam 7 pagi pas lagi mendung. Terasa gloomy ya…. Sambil nunggu Tuan Sinung pergi beliin sarapan, saya mau nyeritain tentang “look and feel” dalam fim Her. Semoga dia gak lama-lama soalnya saya udah laper banget. Semalem saya abis nonton Her. Awalnya sih saya mau nunda nonton sampe weekend karena bawaannya suka gak konsen kalo nonton di hari biasa karena udah capek duluan. Tapi yah, karena penasaran saya akhirnya nonton juga. Saya pengen nge-review panjang-lebar tapi blog review saya masih belom beres juga sampe sekarang. Jadi saya gak mau nyeritain filmnya, tapi ada satu hal dari film itu yang ngebikin saya inget tentang unsur yang ngebikin sebuah karya yang perlu untuk diputuskan: look and feel. Look and feel ini materi...

Read More

#328: A Stolen Story

#328: A Stolen Story

Udah lama gak Baloiya Resort nih saya. Jadi pengen kangeeen.  But I really do think that human beings are very narrative creatures and even in mediums that are considered very formal and abstract, those mediums communicate to their audience, not just through the splashes of paint on the canvas, but very much through the narratives of the people that created them. (Diambil dari kutipan wawancara Alexandre Singh di sini.) Gak. Saya gak mau ngomongin tentang pertunjukan teater The Human-nya Alexandre Singhs. Walaupun saya menanti-nanti kapan ya bisa ngeliat pertunjukan teater, konser, pameran lukisan, dan lainnya kayak gitu. Yang saya mau omongin sekarang salah satunya tentang kecenderungan manusia sebagai makhluk naratif. Mereka (termasuk saya juga) mencari...

Read More