#561: Bebenah di Sana-sini

#561: Bebenah di Sana-sini

Gak ngeblog bukan berarti gak nulis. Yah, gitu lah. BTW, saya lagi bebenah di Storial. Ini semacam platform bagi tulisan, cerita, cerpen, novel, atau apapun yang kamu mau. Saya mindahin beberapa cerita lama. Ngedit dan nyiapin cerita baru. Trus yaaa … sambil mbaca-mbaca juga di sana. Biasanya kalo lagi banyak yang ditulis, saya bawel. Tapi dua minggu belakangan, bawelnya bukan di sini, sayangnya. Tapi di Twitter dan Facebook. Trus saya juga sering banget pake Spotify sekarang. Kalo lagi nulis apa gitu, trus mood-nya nyambung sama lagu yang lagi saya denger, saya bisa ngulang-ngulang lagunya sampe seharian. Jadi saya bebenah playlist juga. Lagu-lagu yang lagi saya dengerin, suka saya share juga di Facebook. Saya pendengar segala, dari Ayu Ting Ting sampai...

Read More

#557: Selalu Ada Tumpukan Buku dan Proyek yang Belum Selesai di Meja Makan

#557: Selalu Ada Tumpukan Buku dan Proyek yang Belum Selesai di Meja Makan

Ini foto diambil di mana dan kapan, saya lupa…. Malam ini, di antara kopi yang belum habis, anak-anak yang berkeliaran–berisik dan membuat sulit konsentrasi, dan dua Beng-Beng yang masih saya pertimbangkan untuk dimakan sekarang atau nanti, saya mendengarkan podcast Elizabeth Gilbert tentang kreativitas dan ide; Magic Lessons. Karena saya mendengarkan sekelebat lalu, sambil membaca ebook di laptop, jadi saya gak bisa menceritakan ulang lebih detail. Tapi cerita ini–entah kenapa–ketinggalan di kepala saya. Jadi setelah saya mematikan laptop dan berniat tidur–yang mana sepertinya itu cuma rencana karena saya merencanakannya sekitar empat jam yang lalu, dan sekarang, menjelang jam satu dini hari, saya masih menulis post ini dan belum...

Read More

#553: Hati-hati di ATM

#553: Hati-hati di ATM

Pagi ini, saya ke ke ATM dengan Tole. Tujuannya bukan ke ATM aja, sih. Mau ke pasar juga, trus mau beli lontong sayur juga, trus mau nyari shampoo juga, trus itu juga sambil mikir mau belanja apa di pasar karena yaaah … biasanya emak-emak begitu gak, sih? Baru tahu mau masak apa pas udah di depan tukang sayur? Bayangkan betapa riweuhnya pikiran saya. Saya ke ATM bukan mau ngambil uang, tapi mau bayar tiket untuk Emak saya balik kota dari kampung. Karena pembayaran tiket lewat ATM itu ada batas waktunya, jadi saya prioritaskan. ATM yang saya tuju itu ada di dalam Indomaret. Ada dua ATM di situ, bersebelahan; Mandiri dan BRI. Saya mau pakai yang BRI. Sampai di Indomaret, Tole langsung ngajak milih shampoo. Yang ini gak mau, yang itu gak mau, maunya yang...

Read More

#549: Life Is Strange, So Are You

#549: Life Is Strange, So Are You

Saya suka cerita, bercerita, membaca cerita, mendengarkan cerita, dan melihat cerita. Gak pilih-pilih, saya suka cerita di media apapun; buku, film, foto, dan games. Masalahnya, saya suka mikir gitu kalo mau beli games RPG. Mahaaal banget, kan. Satu-satunya games RPG yang saya mainkan itu Parasite Eve. Itu juga udah lama banget di PS 1 punya adek saya. Setelah itu, saya lebih banyak main time management dan games apapun yang perlu mikir tapi gak buru-buru. Makanya saya suka banget The SIMS. Saya mainin dari masih SIMS 1 sampai terakhir, waktu Black Friday kemaren, saya beli The SIMS 4. Yang saya cari di The SIMS bukan hanya gameplay-nya, tapi juga ceritanya–yang mana saya bikin sendiri. Kadang kalo saya suka pundung, saya bikin yang gak gak sama sims-nya....

Read More

#548: Ngomongin Masak, Masakan, dan Cinta

#548: Ngomongin Masak, Masakan, dan Cinta

Adalah hal yang gak terbayang sebelumnya kalo sekarang saya suka masak karena duluuu … sekali, sebelum saya menikah–bahkan beberapa tahun setelah saya menikah–saya gak suka masak. Saya baru belajar masak sewaktu saya ikut pindah ke Makassar bersama Tuan Sinung. Itu pun masih masak yang sederhana saja. Bagaimana mencuci ayam, memotong bawang (iya, memotong bawang itu ada caranya ternyata), dan hal-hal lain yang lebih sulit dibanding masak bening bayam dan telor ceplok, saya gak bisa. Setelah pindah ke Selayar, punya dapur yang alakadarnya, dan mulai punya budget untuk membeli peralatan dapur, saya pun berusaha untuk belajar masak sendiri. Jadi bisa dibilang, setengahnya dari semangat saya untuk belajar masak itu datangnya dari …...

Read More

#542: Sunday Night Is Laundry Night

#542: Sunday Night Is Laundry Night

Satu hal yang sangat saya syukuri selama tinggal di sini; urusan nyuci jauh lebih sederhana dan mudah dibanding ketika saya tinggal di Indonesia. Punya anak tiga yang masih kecil-kecil dan suami yang kerja pakai seragam selalu aja membuat urusan nyuci ini jadi lumayan merepotkan. Apalagi mesin cuci yang saya punya itu model dua tabung yang mesti diurus setiap beberapa waktu sekali; mengisi air, mengisi sabun, mengeluarkan air, membilas (kadang saya membilas di luar untuk jenis pakaian tertentu), membilas lagi, membilas lagi (dan lagi), dan mengeringkan. Terakhir; menjemur. Ini pun masih diikuti dengan mengangkat jemuran, melipat, dan menyetrika. Karena urusan cuci-mencuci ini ribet, saya dan Tuan Sinung pun berbagi tugas. Ini pun masih terasa merepotkan. Pokoknya...

Read More

#538: Tentang Musim Gugur

#538: Tentang Musim Gugur

Ketika saya sampai di sini awal September, musim gugur belum mulai; daun-daun masih hijau, udara masih panas. Hampir sama dengan keadaan di Selayar panasnya. Saya menunggu musim gugur datang setelah terlalu banyak membaca betapa romantisnya musim itu. Di mana–sepertinya–muda-mudi jatuh cinta ketika daun-daun berguguran dan udara mendingin. Daun-daun menjadi jingga kemudian coklat dan gugur, memenuhi jalan dan pandangan. Hari pertama musim gugur jatuh di tanggal 23 September dan tidak ada yang berubah; daun-daun masih hijau dan sepertinya saya masih harus menunggu sampai sebulan lagi untuk melihat daun-daun itu berubah warna. Saya pun menunggu lagi. Ketika daun-daun itu berubah warna dan saya lebih sering ke luar rumah sambil membawa kamera, saya belum...

Read More

#534: Garota

#534: Garota

Bulan yang melelahkan…. Kemarin saya datang ke US Ambassy untuk mengurus visa J2. Besok, insya Allah, visanya sudah bisa diambil. Sore-sore. Tengah malam, saya sudah terbang ke Fayetteville lewat Dubai. Yah, begitulah. Selama sebulan belakangan ini, dengan kerjaan yang segitu menguras pikiran dan hal-hal lain yang membuat mood naik-turun, saya dengerin Erlend Øye, Garota. Mewakili perasaan saya lah, pokoknya. Semoga saya selamat di perjalanan, sampai tanpa kekurangan suatu apapun, dan bisa mulai hidup seperti biasa lagi; bisa masak, bisa moto, bisa nulis. Aamiin. Minta do’anya juga ya, Manteman…. If you act upon it when theres no trace of doubt within When your heart is freshly stung You cannot fail, you cannot act...

Read More

#524: Tangan-tangan yang Ganteng

#524: Tangan-tangan yang Ganteng

 Ini tangan Tim Rice-Oxley dan cincin kawinnya (sekarang dia udah gak pake karena udah bercerai). Saya punya kebiasaan aneh; suka ngeliatin tangan cowok. Kalo saya lagi jalan ke manaaa … gitu, atau lagi ngobrol, atau lagi ngeliat video wawancara, pokoknya ngeliat cowok gitu lah, yang pertama saya liat; tangannya. Saya suka ngeliat tangan cowok yang di salah satu jarinya ada cincin kawinnya. Hahahaaa…. Bukan buat ngecek apa dese bisa digebet atau gak, ya. Tapi menurut saya–menurut pemikiran aneh saya–tangan cowok yang ada cincin kawinnya itu seksi. Ngebikin cowok yang punya tangan keliatan lebih ganteng dan gagah. Ini terlepas dari perdebatan cowok gak boleh pake emas dan sebagainya. Saya gak mau bahas itu. Lagipula banyak cincin kawin...

Read More

#520: Paper Town; Cerita Tentang Kota Fiktif yang Menjadi Nyata

#520: Paper Town; Cerita Tentang Kota Fiktif yang Menjadi Nyata

Judul di atas itu kayaknya judul paling panjang yang pernah saya tulis. Seminggu belakangan, di antara kerjaan serabutan dan hal-hal lain yang membuat pikiran saya susah fokus (kayaknya saya perlu Aqua, hahahaaa~), saya membaca novel YA (Young Adult) John Green, Paper Town. Saya baca yang versi bahasa Inggrisnya karena, entah kenapa, waktu saya baca The Fault in Our Stars beberapa halaman depannya di toko buku, saya ngerasa terjemahannya gak pas. Trus waktu saya ada di Bandara Adisucipto tahun lalu, saya sempet liat buku yang belum diterjemahkan, bentuknya lebih kecil dan halamannya lebih tipis, sayang … harganya lebih banyak. Trus saya gak jadi beli. Tapi karena kadung udah terlalu penasaran, saya beli ibook-nya juga akhirnya. Saya gak mau nge-review novel...

Read More