#189: Curhat Penulis Wannabe tentang Tokoh di Tulisannya

#189: Curhat Penulis Wannabe tentang Tokoh di Tulisannya

(Saya pengen banget ngasih kredit sama gambar ini, tapi saya gak tau siapa yang gambar. Buat saya, gambar ini brilian. Gambar ini kayaknya di-copy-in sama teknisi di tempat saya beli laptop bareng-bareng sama sejibunan wallpaper lain.) Sebagai penulis yang belum keliatan kegagalan dan keberhasilannya, saya kadang suka males gitu nulis tentang pengalaman menulis saya. Soalnya, apa yang bisa didapat dari pengalaman penulis yang bahkan belum menunjukkan sejauh mana kemampuan dia menulis. Kayaknya kok ya kalo saya nekat nulis tips dan trik menulis kesannya gimanaaa … gitu. Kepedean. Tapi saya beneran pengen ngebagi hal yang satu ini. Kali-kali ada yang penyakitnya sama kayak saya gitu. Ketika banyak teman-teman penulis saya yang meributkan plot dan ide, saya...

Read More

#26: Melarikan Diri dari Faschel

#26: Melarikan Diri dari Faschel

Cerpen ini adalah independent-part dari The Miracle of Faschel. Saya iseng mengikuti Lomba Cerpen Fantasy Fiesta 2011, dan saya bingung mau menulis apa. Jadi saya tuliskan saja cerita tentang Rhea, Rheon, dan Daphrio. Tentang pelarian Rhea dan Daphrio ke bumi. Sudah lama saya tidak melanjutkan TMoF karena websitenya sedang dirombak agar terlihat lebih bagus dan sesuai selera saya. Saya akan melanjutkannya lagi setelah websitenya sudah beres. Rencananya, saya akan mengulang lagi TMoF Series. Setelah saya baca-baca dan pikir-pikir lagi, apa yang saya tulis dulu itu pasti berbeda dengan apa yang saya harapkan dari ide cerita ini sekarang. Saya berkembang, cerita ini juga. Saya tidak bisa menggunakan naskah 10 tahun lalu. Saya akan membuat naskah baru. Saya sendiri...

Read More

#17: #indonesiajujur Memberikan Ilmu yang Halal dan Menerimanya dengan Halal

#17: #indonesiajujur Memberikan Ilmu yang Halal dan Menerimanya dengan Halal

Pasti udah pada tahu kan, cerita tentang Ibu Siami dan anaknya yang terusir dari kampungnya karena mengadukan masalah mencontek di UN? Ceritanya memang membuat hati berdenyut-denyut gemes. Ibu Siami ini hanya satu kasus yang ibarat gunung es, hanya ujungnya saja. Masalahnya lebuh besar dari hanya sekedar seorang ibu yang berusaha mengadukan adanya tindakan kecurangan dalam UN. Ini masalah pendidikan, masalah moral, masalah nilai yang kita percayai. Jangan-jangan kita adalah salah satu dari sekian banyak orang yang ikut menyumbang masalah di negeri ini. Tidak banyak murid yang sadar untuk apa dia sekolah. Seakan-akan sekolah adalah sesuatu yang otomatis terjadi ketika kamu berusia 6 tahun, kamu (tanpa kamu sadari) masuk SD. Mungkin untuk anak SD, ini masih bisa...

Read More

#15: Mengapa Twitter Lebih Asyik?

#15: Mengapa Twitter Lebih Asyik?

Beberapa waktu belakangan, saya memang sering bilang kalau saya lebih asyik Twitter dibandingkan Facebook. Bukan berarti saya tidak suka Facebook. Facebook dan Twitter sendiri konsepnya beda. Kalau Facebook bisa dibilang social networking, sedangkan Twitter adalah information networking. Saya akan menjelaskan alasannya: mengapa Twitter lebih asyik dibanding Facebook. Sebenarnya saya menggunakan Twitter baru beberapa bulan belakangan. Awalnya saya tidak begitu mengerti bagaimana caranya dan apa asyiknya. Tapi kalau saya tetap tidak mencoba, sampai kapanpun saya tidak akan pernah tahu. Apalagi kalau saya bersikap seperti salah seorang teman Facebook saya yang berkata, “Terserah.” Iya dong, terserah saya. Terserah saya mau melakukan apa saja selama bukan kriminal....

Read More

#14: Proactive, Anyone?

#14: Proactive, Anyone?

Semalam, sebelum tidur, saya teringat obrolan dengan seorang teman yang sebenarnya sudah lama sekali. Tapi entah kenapa tiba-tiba teringat lagi. Teman saya ini mengatakan pada saya (saya sudah lupa diksinya, ini hanya dikira-kira berdasarkan ingatan): Yaaa… saya kan orang (menyebut salah satu suku), saya emang dari sononya begitu. Kamu harus ngertilaaah…. Beberapa lama saya memang percaya atau dibuat percaya bahwa sikap dan sifat seseorang itu memang dipengaruhi secara sosial, budaya, bahkan genetik. Banyak mitos yang mengatakan itu. Bahkan salah satu sitkom di televisi mengangkatnya untuk dijadikan premis cerita. Mengumpulkan orang-orang dari berbagai suku di Indonesia dan melihat sikap dan sifat mereka yang (katanya) dipengaruhi oleh sosial, budaya,...

Read More

#12: Selamat Berkurang Umurnya, Selamat Bertambah Usianya

#12: Selamat Berkurang Umurnya, Selamat Bertambah Usianya

Bulan depan, anak saya yang pertama, Aisha, usianya akan jadi 4 tahun. Saya sangat tergoda untuk melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan seorang ibu ketika anaknya berulang tahun. Membuat kue misalnya, atau mengadakan syukuran, atau pesta ulang tahun. Seingat saya, saya hanya pernah merayakan ulang tahun sekali seumur hidup, ketika umur 7 tahun. Mama saya membuatkan tumpeng dan mengundang teman-teman dan tetangga saya untuk makan nasi kuning bersama dan berdo’a. Saya senang sekali. Apalagi hadiah yang saya dapat lumayan banyak. Berangsur dewasa, teman-teman saya biasa mengadakan acara ulang tahun, mengundang teman-teman untuk sekedar makan malam. Saya tidak pernah melakukannya. Biasanya, saya hanya mendapat bonus uang dari Bapak saya yang kira-kira cukup untuk...

Read More

#11: Do You Envy Other People’s Life? Plis Deh!

#11: Do You Envy Other People’s Life? Plis Deh!

Salah satu dari enam pohon pisang kesayangan saya, tumbang ketiban pagar. Batangnya memang tidak sampai patah. Tapi melihat kondisinya yang jadi bersudut di sana-sini, saya kira pohon pisang ini akan mati tidak akan lama lagi. Yah, anggaplah sekarang doi lagi sakaratul maut. Ketika Om Rendy (yang memberikan saya bibit pisang), datang dan melihat kondisi pohon pisang saya, beliau berkata: “Jangan potong! Pertahankan! Nanti tumbuh lagi!” Gaya bicara Om Rendy ini memang seperti instruktur senam: “Satu, dua, tiga! Angkat kaki, angkat tangan! Jangan malas! Ayo lagi! Satu, dua, tiga!” Cita-cita Om Rendy ini ingin menjadi guru olah raga. Beliau ingin memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Mari kita do’akan. Amin. Kemarin, sewaktu saya sedang mengangkat...

Read More

#10: Tentang Keluhan dan Kemesraan Itu

#10: Tentang Keluhan dan Kemesraan Itu

Menjelang Dzuhur di Selayar dan Ibu Salma (yang biasa membantu saya membersihkan rumah) belum datang. Rumah saya kelihatan seperti kapal pecah. Seperti biasa, setelah saya selesai mencuci, memandikan anak-anak, memasak, dan memastikan anak-anak itu sarapan, saya menyalakan laptop dan langsung konek internet. Yang pertama saya buka adalah sosial media dengan bantuan TweetDeck. Dengan TweetDeck, orang macam saya ini, yang punya akun sosial media lebih dari satu (bahkan saya punya tiga akun Facebook) bisa dimudahkan. TweetDeck membuka semua akun saya dalam satu window. Sosial media merubah segalanya. Jika dulu catatan harian (diary) disembunyikan dan dikunci (pernah lihat kan diary yang ada gemboknya?). Sekarang semua itu dibuka. Tiap orang bisa menuliskan apa saja...

Read More

#9: Cerita Mas Joko tentang Perjalanan Pasukan Silat Indonesia ke Malaysia

#9: Cerita Mas Joko tentang Perjalanan Pasukan Silat Indonesia ke Malaysia

Entah karena salah enter atau memang sengaja, tiba-tiba saya mendapatkan chat super panjang di Facebook dari seorang teman jauh bernama Mas Joko. Mas Joko ini tinggal di Riau, di kampung saya. Walaupun tidak penah bertemu, tapi pertemanan kami terasa dekat dan hangat. Awalnya saya bingung membaca chat ini karena bahasa Jawanya banyak. Tapi akhirnya, dengan bantuan suami saya, saya pun paham isi ceritanya yang ternyata seru! Dengan sedikit editing, saya pun ingin membagi cerita ini. Mungkin ada yang belum tahu tentang kunjungan kontingen silat Indoneia ke Malaysia karena berita tentang yang negatif lebih banyak berkeliaran di sekitar kita. * * * Rabu 1 Juni, terdengar suara pidato Habibie yang menggores-gores nurani, tetap OL nunggu konfirmasi penting, mau...

Read More

#8: Jurus Menjadi Penulis Hebat (Ada Gituh?)

#8: Jurus Menjadi Penulis Hebat (Ada Gituh?)

Siang ini saya merasa “kesurupan” karena entah apa yang menjadi pendorongnya, tiba-tiba saya mengetikkan kata “jurus menjadi penulis hebat” di Google. Mungkin yang menjadi pendorongnya adalah karena saya merasa tidak hebat. Hasil search saya hampir semuanya berisi tips dan jurus untuk menjadi penulis yang bukunya laris di pasaran, terkenal, dan pendapatannya oke. Tapi ironisnya, para perumus jurus dan tips ini bukan penulis terkenal. Ya, minimal saya tidak kenal. Penulis hebat menurut saya adalah penulis yang tulisannya benar-benar menggetarkan. Seperti kata Ahmad Tohari di suatu hari ketika saya menghadiri Cakrawala Sastra di TIM. Ketika banyak orang yang ada di diskusi itu sibuk untuk saling melempar pendapat tentang apa dan bagaimana sastra yang hebat itu,...

Read More