#554: Nyeritain Apartemen

#554: Nyeritain Apartemen

Sebenernya saya bingung gimana mau nyeritain apartemen ini waktu saya masih ada di dalam apartemennya. Mau ngambil foto … barang-barang berceceran di mana-mana. Ada aja deh, halangannya. Tapi karena saya udah gak di sana lagi, trus semacam udah ada jarak sama apartemennya, mungkin (mungkin loh, ya) bakalan lebih mudah nyeritainnya. Tapi, baiklah. Jadi memang hal yang paling penting ketika kamu sampai di suatu tempat itu adalah memastikan kamu bisa tinggal di mana. Waktu si Tuan pertama kali datang, dia ditampung di apartemen temannya. Trus beberapa hari kemudian, dia dapat roommate orang Pakistan dan pindah ke apartemen baru. Gak lama kemudian, dia pindah lagi karena saya mau datang. Pertimbangan memilih apartemen ini sebenernya banyak, sih. Tapi yaaa...

Read More

#552: Sekolah di Luar Negeri; Semacam Tips Hidup dan Curhat dari Bini Rewel

#552: Sekolah di Luar Negeri; Semacam Tips Hidup dan Curhat dari Bini Rewel

Iya, saya emang bini yang rewel. Saya gak malu mengakui itu soalnya itu yang paling disuka si Tuan dari saya. Hahahaaa…. *kepedean* Beberapa kali saya diminta untuk menulis pengalaman hidup di luar negeri. Tapi bukan yang sekedar cuma curhatan tentang kisah panjang saya sampai akhirnya saya bisa naik sepeda atau resep. Boleh deh, resep. Tapi–ada tapinya–resep masakan Indonesia tradisional yang dibuat dengan bahan-bahan yang ada di sana. Entah kenapa saya nggak nulis-nulis. Biasanya saya suka nulis kalau ada hal yang menyentuh atau gimanaaa … gitu. Apa Amerika kurang menyentuh, ya? Sekarang saya nulis, deh. Tips hidup di luar negeri dari kacamata istri mahasiswa. Maafkan kalau tips ini berlumur curhat. Yah, namanya juga cewek. 1. Buat...

Read More

#550: Bike Trail

#550: Bike Trail

Sebulan–atau mungkin dua bulan–yang lalu, Tuan Sinung bertanya, “What will you miss the most if we have to come back to Indonesia?” Saya berpikir … lama. Saya suka tempat ini. Sedikit mengherankan memang, entah mengapa kami selalu saja pindah dari satu tempat ke tempat yang lain tapi bukan kota besar. Saya memang sempat tinggal di Jakarta, tapi di tepiannya; di perbatasan Jakarta, Depok, dan Jawa Barat. Masuknya bukan kota, tapi kampung. Di mana sewaktu saya SD, masih ada sawah di sana. Kemudian kami pindah ke Selayar. Pulau yang bahkan tidak pernah saya dengar namanya sebelumnya–dan kemudian acara kontes dangdut di salah satu stasiun televisi memenangkan peserta dari pulau ini. Setelah itu, kalau saya bercerita tentang...

Read More

#544: Stories In A Frame

#544: Stories In A Frame

Apa yang kamu pikirkan ketika melihat lukisan? Atau foto? Atau sebuah pertanyaan lain yang ditanyakan Tuan Sinung kepada saya ketika kami ada di art gallery, di depan sebuah lukisan, di menit yang lebih dari hitungan ke sepuluh dan saya belum juga ingin beranjak, “Jadi bagaimana caranya melihat sebuah lukisan?” Dia tidak percaya ketika saya katakan bahwa sebuah lukisan, sama seperti sebuah buku, puisi, lagu, atau tarian; di dalamnya ada cerita. Hanya saja cara memahaminya yang berbeda. Ketika mengunjungi museum, yang pertama ingin saya lihat adalah art gallery-nya–kalau ada. Saya akan berjalan, mungkin sedikit cepat–di antara lukisan-lukisan yang dipajang di sana, melihat tata cahaya yang membuat ruang di galeri itu tampak dramatis, atau...

Read More

#542: Sunday Night Is Laundry Night

#542: Sunday Night Is Laundry Night

Satu hal yang sangat saya syukuri selama tinggal di sini; urusan nyuci jauh lebih sederhana dan mudah dibanding ketika saya tinggal di Indonesia. Punya anak tiga yang masih kecil-kecil dan suami yang kerja pakai seragam selalu aja membuat urusan nyuci ini jadi lumayan merepotkan. Apalagi mesin cuci yang saya punya itu model dua tabung yang mesti diurus setiap beberapa waktu sekali; mengisi air, mengisi sabun, mengeluarkan air, membilas (kadang saya membilas di luar untuk jenis pakaian tertentu), membilas lagi, membilas lagi (dan lagi), dan mengeringkan. Terakhir; menjemur. Ini pun masih diikuti dengan mengangkat jemuran, melipat, dan menyetrika. Karena urusan cuci-mencuci ini ribet, saya dan Tuan Sinung pun berbagi tugas. Ini pun masih terasa merepotkan. Pokoknya...

Read More

#541: Ngomongin Halal, Kosher, dan Pareve

#541: Ngomongin Halal, Kosher, dan Pareve

Halo, Manteman~ Sebenernya saya masih males ngeblog. Tapi setelah tiga bulan tinggal di sini–di Amerika sini atau kalo anak saya bilang ‘mamarikah’–saya ngerasa sudah saatnya saya nulis-nulis apa kek gitu tentang kehidupan saya di sini. Soalnya pas saya masih di Indonesia, saya suka baca tulisan-tulisan temen-temen blogger yang tinggal di luar negeri. Saya bingung juga sih, mau nulis apa. Padahal sebenernya mah banyak, ya. Termasuk salah satunya yaaa … urusan makanan dan bahan makanan. Oh, buat yang minta diceritain masalah culture shock, sayangnya saya dan Tuan Sinung gak ngalamin itu. Saya tinggal di kota kecil, bukan metropolitan besar dan pas nyampe sini saya biasa aja. Gak yang gimana-gimana. Kalo Tuan Sinung sendiri malah...

Read More

#536: Fayetteville Farmer’s Market

#536: Fayetteville Farmer’s Market

Saya ini tipe ibu-ibu banget; lebih suka ke pasar dibanding ke mall. Lebih suka masak dibanding beli makan–kecuali waktu tinggal di Jakarta karena jajanan pasar dan pinggir jalannya enak-enak dan murah. Tapi di sini, saya belum nemu jajanan yang enak. Atau gak akan pernah nemu, ya? Waktu pertama kali sampai di sini, saya mikir, “Ini bakalan jadi Selayar 2.0″. Saya harus masak sendiri apapun yang saya mau karena gak ada yang jual.” Jalan-jalan pertama saya; ke Walmart. Beli beberapa kebutuhan harian (shampo, sabun, dan sabun cuci muka karena saya gak bisa make produk yang sama dengan si Tuan–tipe kulitnya beda), piring (karena ternyata Tuan Sinung cuma punya dua buah piring), dan sayuran. Setiap kali saya mulai ngitung harga...

Read More