#545: Ujung

#545: Ujung

mari sini, kita untai harap, cemas, dan rindumu satu satu lalu lihat; tidak akan pernah selesai dia memanjang merenggang sampai ke tempat di mana kamu temukan pintu yang dulu kau kenali mari sini, aku ceritakan tentang jantung yang detaknya menakutkanku seakan berkejaran dengan jam dinding yang mengusik laju waktu katamu; ini bukan karena kita lengah hanya saja, di perjalanan ini kita tidak pernah tahu ujung mari sini, kutemani menyusuri usia yang kita tahu ada batasnya dan hidup yang kita tahu ada akhirnya hanya saja, kita tidak pernah tahu di mana ujungnya mungkin saja, ketika berjalan kita temukan arah pulang atau bisa saja perjalanan ini akan selalu jadi rumah kita 21 Januari...

Read More

#417: [Poem] Maka Harusnya

#417: [Poem] Maka Harusnya

Maka kita harusnya tidak perlu mengorbankan apa-apa Karena ketiadaan hanya di kematian Dan kehilangan bukan rasa di setelahnya Kita hanya harus tetap hidup Menjawab banyak pertanyaan Yang muncul setelah kita melakukan sesuatu Bahwa semua perlu dijelaskan; itu aku baru tahu Kita hanya perlu berhenti menantang Karena (lagi-lagi) bukan tentang kalah-menang Ini tentang perjalanan Kalau kita harus melawan arah, toh bumi bentuknya bulat, Dan kita akan sampai juga pada akhirnya; itu aku sudah tahu Maka kita harusnya tidak perlu mengatakan apa-apa Karena kesepian hanya di kesendirian Dan nyeri bukan rasa di...

Read More

#407: [Poem] Perihal Rindu

#407: [Poem] Perihal Rindu

  perihal rindu itu sudah kujelas-terangkan padamu jauh sebelum kamu mengerti bahwa jarak tak selalu membawa nyeri karena perihal jarak itu kadang adalah jeda antara satu napas dengan napas yang lain seperti spasi di puisi ini layaknya aether yang mengisi ruang kita perlu jeda dan spasi kosong ruang untuk ditinggali sendiri karena ini semua juga perihal janji itu yang kau bacakan bak dongeng sebelum tidur dan itu bukan tentang ksatria dan puteri tapi tentang dua jelata yang memegang pedang dan panah lalu mengembara sampai kemudian terpisah untuk bertemu lagi dan perihal rindu itu sudah kujelas-terangkan padamu...

Read More

#391: Kota Milik Kita

#391: Kota Milik Kita

  Tak ada kota yang benar-benar menjadi milik kita; kalau tidak kita yang meninggalkannya, maka kita yang terusir dari sana Lalu akhirnya aku memilih untuk membangun rumah di hatimu dan kemudian berkelana mencari arah setidaknya, kita punya rumah yang kita bawa ke mana-mana yang membuat kita tidak pernah kehilangan tempat sembunyi walaupun langit laksana akan runtuh ketika hujan-petir bergemuruh Kita tetap punya tempat kembali karena rumah kita di sini, di hati Lalu kota-kota itu seolah berjalan di sekeliling kita mengikuti tapi tak pernah benar-benar menjadi milik kita; tapi kita tak pernah lagi meninggalkannya dan juga tak pernah lagi terusir dari sana Karena rumah kita di sini, di hati Seperti kamu pun di sini, di hati...

Read More

#380: [Kamisan] Game of Love

#380: [Kamisan] Game of Love

  Kalau cinta itu permainan Maka aku selalu kalah dan mengalah Karena dia datang dan aku menyambutnya Bukan mengangkat pedang dan menebasnya Dan aku selalu saja senang ketika mengenang betapa aku mengalah Bukan karena lemah Karena bisa saja, bisa saja ketika itu aku menukarkan cinta dengan banyak hal lain, tapi akhirnya aku meletakkan senjata dan menyerah Bukan karena lemah Karena bisa saja, bisa saja ketika itu aku memilih untuk tidak menyerah, tapi apalah artinya? Karena bisa saja, bisa saja melawan itu berarti menyakiti diriku sendiri Karena ku tahu, aku tidak jatuh cinta pada siapapun, tidak juga padamu, aku jatuh cinta pada diriku sendiri Yang imajinya terbiaskan pada cintamu Karena itu mudah sekali untuk menyerah Karena kemudian, cinta itu membawa pada...

Read More

#374: There’s a Devil inside of Me

#374: There’s a Devil inside of Me

  There’s a devil inside of me. Need to be tamed.  Ada iblis di hatiku yang ingin aku takluklan. Iblis yang sama dengan yang membuatku bisa memindahkan benang-benang pikiran ke atas kertas. Membuat proses yang menyakitkan itu terasa melegakan. Iblis yang sama yang membuatku kuat melawan ketika dunia ingin menenggelamkan. Ada iblis di hatiku yang ingin aku taklukkan. Iblis yang sama dengan yang membuatku bisa menusuk dan melukai cukup dengan huruf dan kata. Iblis yang sama yang membuatku bisa keluar sambil membawa pisau, malam itu, ketika aku sendirian dan mendengar ada seseorang di luar rumah kita. Ada iblis di hatiku yang ingin aku taklukkan tapi tidak ingin aku bunuh. Maka pertarungan ini, sayang, selalu tentang siapa yang paling kuat. Bukan tentang...

Read More

#264: [Poem] Ke Arah Terbit Matahari

#264: [Poem] Ke Arah Terbit Matahari

Credit. Karena sudah terlalu lama menunggu dan lelah, pagi itu kamu mengajakku berjalan ke timur. Terus ke timur. Jauh. Ke arah terbit matahari. Entah kemana tujuannya kamu pun tidak tahu. Tapi kita tahu, arah ini, menuju tempat terbit matahari. Matahari memang tidak punya tempat terbit seperti yang digambarkan anak-anak ketika pelajaran menggambar di SD, tapi kamu yakin bahwa arah ini akan mempertemukanmu dengan hal-hal lain yang tidak pernah kita tahu karena selama ini kita hanya diam. Menunggu. Setelah beberapa lama berjalan, aku tahu bahwa kamu mengajakku berjalan ke arah ini bukan tanpa pertimbangan. Kamu mengajakku berjalan menantang matahari. Sejak pagi sampai siang, matahari akan ada di depan kita. Seperti mata raksasa yang menatap tanpa jeda. Kita...

Read More

#262: [Poem] Kalau Kau Mencintaiku

#262: [Poem] Kalau Kau Mencintaiku

  Kalau kau mencintaiku…. Kau pasti sudah mendengar berat-lirih keluh itu aku sembunyikan di hampir setiap tawa dan senyum. Bukan. Bukan karena aku tidak bahagia. Tapi cinta itu seharusnya bisa melihat jauh ke dalam. Menangkap desibel terendah dari suara yang tidak ingin aku sampaikan, kecuali pada Tuhanku. Kalau kau mencintaiku…. Kau pasti sudah melihat bercak darah yang tertinggal di kerah bajuku yang aku sembunyikan dibalik jilbab dan kerudung. Bukan. Bukan karena aku tersiksa. Itu adalah tanda kalau aku tetap berjuang bahkan ketika pisau itu berjarak sekulit ari dari leherku. Luka yang tidak ingin aku cari obatnya, kecuali pada Tuhanku. “Kamu pernah melihat ada sebuah kelopak bunga tersangkut di sepatumu?” tanyamu. “Tanda bahwa kamu pernah...

Read More

#251: [Poem] Janji

#251: [Poem] Janji

Ternyata, aku sudah lupa bagaimana rasanya merindui cinta seperti hari-hari kita tak bertemu   Ketika, siang rasanya begitu panjang dan malam pun seolah tiada akan pernah berakhir   Karena, kamu selalu ada seperti udara tak pernah diminta dan tak pernah terpikir   Bagaimana, seadainya suatu ketika tanpa tanda kamu harus pergi begitu saja   Tapi, kita sudah berjanji bukan janji cinta sehidup-semati bukan….   Melainkan, janji untuk menjadi yang terbaik yang kita bisa bagaimanapun takdirnya   (Selamat berkurang umurnya bertambah usianya, Tuan...

Read More

#193: Tak Sampai-sampai Aku, Kekasih [Poem]

#193: Tak Sampai-sampai Aku, Kekasih [Poem]

Gambar dipinjam dari sini.   /1/ pagi ini datang dingin beku   atau aku saja yang jatuh hancur berbelah?   /2/ kenapa tak sampai-sampai aku, Kekasih? tak kuat juga berdiri hanya untuk-Mu   tiap kali langkah berat aku mengaduh tak kuat   aku mau di sana saja di beranda menunggu gelap bersamanya   terdengar suara-suara malam lalu siang yang jatuh terjerembab di belakang bukit horizon pendar jingga-ungu bintang berkelip jemari kecilnya menunjuk: satu dua tiga …sejuta   lalu megah lantunan adzan bumi diam, menunduk   tenang   tak ada apapun selain itu tidak juga aku, tidak juga dia karena semesta lenyap dalam lemah-lirih dzikir malam   dia mengamit tanganku aku menurut saja di sepanjang jalan: ditulisnya Allah...

Read More