#361: If It’s a Broken Heart, Then Face It

#361: If It’s a Broken Heart, Then Face It

Walaupun hati setiap makhluk dapat hancur–seperti kata Desperaux–tapi hati saya tidak pernah benar-benar hancur. Pagi ini, ketika saya mengganti kopi dengan teh manis karena sakit kepala, saya mengingat-ingat lagi apa yang saya rasakan ketika hati saya benar-benar hancur. Saya bengong di depan laptop sambil ngeliatin Thaariq yang lagi main di halaman–dan pohon mangga tetangga di depan rumah sepertinya tumbuh cepat sekali karena dua bulan lalu baru dipotong tapi sekarang sudah rimbun lagi. Harusnya pagi ini saya menulis tentang patah hati. Saya sedang menulis novelet pendek (sekitar 40 halaman) dan sudah sampai pada bagian di mana si karakter utama saya patah hati. Patah-sepatah-patahnya … karena cinta. Masalahnya, saya gak pernah patah...

Read More

#315: Hon

#315: Hon

Hon. Adalah penjelasan itu yang tidak tersampaikan. Kamu sudah tahu apa yang ingin aku katakan. Hon. Menulis itu menakutkan. Kalau kamu hanya di sepanjang garis aman, menuliskan yang orang akan baca dengan tenang dan senang, atau menuliskan sesuatu yang telah menjadi lumrah–tentang cinta, hujan, atau senja, kamu tidak akan pernah ketakutan. Tapi aku ingin menuliskan kembali kumpulan pedih yang selama ini hanya menyesak dada. Yang di antaranya bahkan akan membuatmu bertanya; kamu siapa? Kamu pun akan ketakutan membacanya. Menulis itu menakutkanku. Bukan karena mereka akan membacanya, tapi karena aku menuliskannya. Karena mungkin tanda titik di tulisan itu dibuat dengan setetes kecil darah. Sedikit nyeri yang ditahan. Berapa banyak jejak kesakitan di...

Read More

#283: At the End of the Day….

#283: At the End of the Day….

Beberapa hari belakangan, saya kepikiran tentang salah seorang teman saya yang udah lama banget gak ketemu. Dulunya kami deket banget. Sampe pernah tidur bareng gitu deh. Tapi entah gimana ceritanya, saya juga gak gitu ngerti, pertemanan itu sedikit demi sedikit merenggang. Sampai lama-lama udah aja gitu gak ada kabar lagi. Kayaknya bukan beberapa hari ini doang sih saya kepikirannya. Bulan-bulan lalu juga saya kepikiran gitu. Gak tau kenapa. Trus, saya juga keingetan kata salah seorang temen saya yang saya udah lupa yang mana (beneran lupa, mau ngasih kredit juga bingung ke siapa), kalo menurut doi: pas kita kangen ama orang, orang itu juga mungkin kangen ama kita. Jadi pas kita keingetan orang, orang itu juga bisa jadi lagi keingetan ama kita. Gitu. Percaya...

Read More

#265: Saya Boleh Berhenti

#265: Saya Boleh Berhenti

Kamu boleh berhenti. Melihat ke belakang. Mengukur jauh perjalanan tertempuh. Meluruskan kaki. Mengeluarkan bekal, minum, lalu makan. Memijat pinggang yang lelah. Membuka peta; memastikan tidak salah arah. Kamu boleh berhenti. Ketika kamu merasa perjalanan berat. Cuaca buruk. Angin kencang. Hujan datang. Kilat membutakan pandangan. Petir menyakitkan pendengaran. Kamu boleh berhenti. Menyembunyikan diri. Menyelamatkan hati. Kamu boleh berhenti. Tapi setelah itu semua reda, kamu harus berjalan kembali.  __________________________________________________ Itu yang saya percayai: bahwa saya boleh dan bisa berhenti. Perjalanan itu tidak selamanya mulus dan sesuai dengan rencana. Beberapa hal harus diputuskan secara mendadak di depan persimpangan. Itu tidak mudah....

Read More