Category: Cerpen

Hai!

Hai! Dinda terkejut ketika cambuk kilat keemasan melecut di langit abu-abu yang menutupi kota ini seharian. Dia memegangi payung hitamnya dengan lebih erat. Beberapa detik kemudian, gemuruh terdengar di langit. Selalu saja datang terlambat karena dia kalah cepat. Lampu-lampu jalan sudah menyala padahal sekarang baru saja jam lima sore. Jalanan yang basah memantulkannya sehingga seolah ada lebih banyak sumber cahaya daripada yang sebenarnya. Sesekali mobil lewat di depannya, pelan. Lampu depan mobil itu menembus hujan yang membuat tetesannya tampak lebih jelas; seperti jarum-jarum panjang yang menghujam ke tanah lalu pecah. Seorang laki-laki yang juga memakai payung hitam berjalan pelan...

Read More

Nama

nama Gerimis ini terlalu terburu-buru. Aku berlari di bawahnya, menyelamatkan diri dari tetes air yang sudah berhasil membuat kemejaku basah di sepanjang jalan tadi. Menepi. Berdiri di bawah kanopi kafe berwarna merah. Jalanan memantulkan lampu-lampu mobil. Membuat warnanya berkilau, tidak lagi hitam. Aroma kopi membuatku menoleh. Kafe itu sepertinya ramai sekali. Tidak seperti di luar sini, di tepi jalan ini, hanya aku sendirian. Aku pun mengikuti kata hatiku untuk masuk ke sana. Satu dua cangkir kopi di dingin malam seperti ini, sambil menunggu gerimis menjadi hujan lalu kemudian kembali menjadi gerimis dan berhenti, tidak ada salahnya dicoba. Ketika aku...

Read More

Ujung Pelangi

Aku pernah menemukan ujung pelangi. Dulu, dulu sekali. Waktu itu hujan sedari pagi. Ketika siang datang, hujan tidak kunjung berhenti dan matahari enggan mengalah. Lalu hujan pun turun di tengah terik. Indah. Tetes nya tidak seperti butiran, kalau kamu mau tahu. Dia lebih seperti tarikan-tarikan garis lurus yang mirip seperti benang putus. Sangat masuk akal kalau Frau—penyanyi dari Jogya itu—kemudian ingin membuat mesin untuk menenun hujan itu dan kembali menjadikannya awan. Sangat masuk akal. Aku pun seperti melihat benang-benang putus yang jatuh dari langit. Memantulkan terik sehingga kelihatan seolah mengeluarkan cahaya sendiri. Seperti mantra pengantar pelangi yang muncul melengkung...

Read More

Perca

Uma bilang, dulu Nay pernah punya jantung seperti gadis lain. Segumpal daging, merah, dan berdenyut—memompa darah. Uma mengatakan itu sambil menjahitkan perca baru di atas berlapis-lapis kain dengan berbagai motif yang digulung dan berbentuk seperti kuncup mawar yang setengah merekah di pengujung Mei. Setelah dingin berangsur pergi dan matahari tidak lagi enggan bersinar sepanjang siang. Uma sudah berhenti menyebutnya ‘jantung’ setelah Nay menghancurkannya tidak lama sesudah dia bertemu dengan bujang itu di awal masa remajanya. Uma lalu menyebutnya ‘jantung-hati’, karena katanya waktu itu, di sana juga disimpan rasa. “Siapa namanya? Bujang itu?” tanya Uma. Tangannya masih sibuk menusukkan jarum...

Read More

Closure

“Nanti overdosis kafein lagi,” kata Arya. Meletakkan satu cangkir kopi, yang kali ini, hitam. “Seperti tempo hari.” Aku mengadah sebentar untuk memberikan tatapan yang seolah bicara, ‘not your business’. Biasanya dia tidak mengerti. Tapi hari ini, dia melanjutkan lagi, “Kalau itu terjadi, panggil gue, ya. Biar gue bisa berdiri di sini sambil buat bilang, I told you so.” Aku menggerutu, sial. Tapi ini sudah cangkir ke tiga. Yang pertama masih cappuccino dengan segala pernik gula dan krimnya. Dua yang terakhir, aku memilih hitam, pekat, tanpa gula. Menjelang pagi tadi, dia meneleponku. Tidak menggangu tidurku sama sekali karena dini hari...

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest