Category: Bab-2

[2.1] Oranye

Pertama, Papa sudah pulang. Mungkin dini hari tadi dia baru pulang. Kedua, dia harus menyiapkan diri dan otaknya karena amplop ini—dan apapun isinya—akan membutuhkan kedua hal itu. Tahun Lalu Gya menyadari kalau hari sudah menjelang siang ketika dia membuka mata dan melihat cahaya matahari yang masuk melalui bagian atas jendela kamarnya tidak lagi berwarna kekuningan. Cahaya itu terlihat lebih putih dan jatuh dengan sudut yang nyaris vertikal dengan lantai. Dia bangkit, menyibakkan gorden lebar-lebar, dan membuka jendela. Panas dari luar menyerang masuk mengenai kulitnya. Dia bertahan untuk berdiri di depan jendela itu beberapa saat. Menatap ke luar—ke halaman belakang...

Read More

[2.2] Arya

“Oke. Kalau lo dan mantan pacar lo itu putus karena lo bilang antara kalian berdua enggak ada chemistry atau gue lebih suka dengan istilah, reaksi kimia.” Gya menyambung kalimatnya yang terpotong dan tidak lupa memberikan penekanan pada kata ‘mantan pacar’. “Dan sekarang lo mau ngajak cewek yang baru lo kenal kurang dari seminggu….” Gya memarkir mobilnya di bawah pohon mangga di bagian dengan Magnolia, lalu turun, meraih postman bag-nya, dan berjalan cepat menuju pintu masuk. Dia membalikkan papan kayu dengan tulisan ‘Close’ yang tergantung di depan pintu itu agar terbaca ‘Open’ sebelum akhirnya masuk. Suara denting lonceng kecil yang...

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest