Category: Bab-1

[1.1] Mercury Retrograde

“Di situ ditulis; it’s often said that whatever you lose during Mercury retrograde will come back to you.” “Gue benci bilang ini—” Arya meletakkan secangkir latte di hadapan Gya, mendekatkan kotak kayu tempat meletakkan berbagai macam gula—gula palem, gula merah, gula putih, dan gula tanpa kalori—lebih dekat ke hadapan gadis itu. Arya tahu Gya tidak akan mengambil satu pun bungkusan gula itu karena dia membuatkan latte yang persis seperti kesukaan Gya dengan manis yang pas dari sirup gula yang ditakar baik-baik, bukan dari gula butiran. Tapi dia dekatkan juga kotak itu karena terbiasa melakukan itu kepada pelanggan lain. Dia...

Read More

[1.2] Gyanda

“Hmmm … tapi dosis yang disarankan untuk ketemu sama lo itu cuma sehari sekali. Lebih dari itu, efeknya enggak bagus buat kesehatan mental gue.” Tapi Arya lupa bahwa hati yang sudah dibawa pergi tidak akan mungkin kembali. Orang yang membawa pergi tidak akan mengembalikannya karena kadang mereka tidak sadar kalau mereka membawanya serta, di suatu hari, ketika mereka berkata bahwa semua sudah cukup; cukup sampai di sini. Mungkin hati itu tersangkut di ujung bajunya. Mungkin juga karena sudah terlalu lama memegangnya, mereka sudah terlalu terbiasa; tidak lagi menyadari kalau benda itu ikut terbawa. Gya tidak mendebat Arya siang itu—mungkin...

Read More

[1.3] Kembali

Gya merasa ada satu lagi yang kembali ketika dia memegang tengah dadanya dengan tangan kanan; sakit di sana. Arya meminta iron skillet—semacam penggorengan dengan dasar rata terbuat dari besi—dan Gya lupa meletakkannya di mana. Mungkin rumah ini tidak pernah menyimpan barang seperti itu, Gya sendiri tidak yakin. Setengah jam yang lalu, Arya mengirimkan pesan yang meminta Gya untuk menyiapkan iron skillet. Pesan itu diakhiri dengan tiga tanda seru. Berlebihan memang. Tapi apa yang tidak berlebihan dari Arya? Termasuk yang paling Gya suka; perhatiannya. Gya menemukan teflon dengan ukuran cukup besar. Tapi suatu kali, Arya pernah memberikan kuliah singkat tanpa...

Read More

[1.4] Luka

“Ya, ini memang pertaruhan. Gue akan mempertaruhkan apa yang gue punya dan sanggup letakkan di atas meja. Karena, Ya … kalau gue enggak mempertaruhkan sesuatu, gue akan kehilangan lebih banyak lagi.” “Gue membayangkan hari ini, Ya,” ujar Gya setelah menelan tegukan kecil teh tanpa gula. Kebiasaannya setelah makan malam sejak lama. Arya berdiri di sampingnya, mungkin memandang ke arah lampu-lampu dari kamar-kamar di perumahan ini—entahlah. Dia tidak juga bicara. Ketika makan malam tadi, dia banyak bicara dengan Mama, seperti biasa. Dia juga berbohong dan bilang kalau dia jatuh dari motor ketika menuju ke sini. Mama yang curiga—tentu saja curiga,...

Read More

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest