Category: Love & Relationship

Rethinking Friendship

“Ally.” Peeta says the words slowly, tasting it. “Friend. Lover. Victor. Enemy. Fiancee. Target. Mutt. Neighbor. Hunter. Tribute. Ally. I’ll add it to the list of words I use to try to figure you out. The problem is, I can’t tell what’s real anymore, and what’s made up.”  (Suzanne Collins—Mockingjay) Kalau enggak karena harus membahasnya jadi tema di satu episod podcast yang sedang dibuat, mungkin saya enggak akan memikirkannya sampai jauh seperti sekarang ini. Sudah kadung dipikirkan, sudah banyak—bahkan yang bukan tentang hal ini tapi masih ada hubungannya—dibaca, dan waktu pun banyak dihabiskan untuk memikirkannya, jadi … sekalian saja...

Read More

Broken Glass Makes Beautiful Sparkle

The world breaks every one and afterward many are strong at the broken places. Ernest Hemingway, A Farewell to Arms Saya sudah katakan padanya, “Kita harus bisa bertengkar karena ke depannya, akan banyak sekali pertengkaran.” Dia setengah enggak percaya, sepertinya. Saya katakan lagi padanya, “Aku sudah melewati beberapa yang seperti ini dan orang sepertimu akan selalu datang dan pergi. Kalau kita enggak belajar bagaimana caranya bertengkar, berbaikan, rekonsiliasi, dan kemudian kembali bekerja lagi, enggak akan ada yang selesai. Semua ini akan—seperti yang dulu-dulu—sia-sia.” Dia mungkin masih setengah enggak percaya. Tapi malam itu, dia mengatakan sesuatu yang sebenarnya, kalau dikatakan...

Read More

The Messiness of Human Connection

Beberapa waktu belakangan, saya teringat lagi dengan seorang teman  gadis yang pernah meminta pendapat, “Apa kalau kita suka dengan seseorang, kita seharusnya mengatakannya?” Waktu itu, saya jawab, “Jangan.” Pertimbangan saya waktu itu; bagaimana hati gadis ini kalau bujang itu mengatakan yang sebaliknya? Kalau dia enggak suka? Waktu berlalu dan saya melupakannya sampai saya ditanyakan lagi hal yang serupa, “Haruskah dikatakan?” Saya masih bilang, “Jangan.” Tapi kali ini dengan tambahan, “Kecuali kamu siap dengan segala resikonya.” Yang kali ini, dikatakan juga, dan akhirnya baik walaupun mereka enggak jadi menikah. Saya ingin melihat lagi semua yang saya pahami tentang hal ini...

Read More

It’s Called Breakup Because It’s Broken

Sebenarnya, saya agak malas menulis topik ini. Bukan karena menyakitkan untuk ditulis, bukan. Saya tahu kalau saya punya ambang batas rasa sakit yang rendah sekali. Saya enggak tahan sakit. Saya mudah menangis.  Saya mudah jatuh sayang pada apapun. Tapi sepertinya, orang patah hati menarik kedatangan orang patah hati yang lain. Jadi, saya pikir; sebaiknya saya tuliskan saja agar selesai dan jelas apa yang saya pikirkan tentang ini. Di tulisan ini, saya juga bilang, “Tanyakan lagi bulan depan.” Anggaplah sekarang ‘bulan depan’ itu. So please, take all this with a grain of salt. “Karena,” dia terdiam sebentar, memandangi saya, lalu...

Read More

More Than Words (by Extreme)

“Mana gue tahu.” Itu yang saya katakan pada si Tuan beberapa malam lalu, ketika kami bicara panjang dan lama sekali tentang banyak pertanda yang—bodohnya—tidak pernah saya baca dengan tepat dan jadikan penanda. “Kamu, kan, penulis. Observant,” katanya. “Gimana bisa enggak peka?” Pernyataan itu pun jadi pertanyaan saya setelah pembicaraan itu, bagaimana bisa? Seharian ini, saya darah rendah lagi. Tiduran sepanjang hari karena kalau berdiri, pandangan saya menghitam. Sekarang jam dua belas malam dan rasanya, setelah banyak tidur di siang hari, saya tidak ingin tidur sampai pagi. Saya ingin menulis. Tapi obrolan itu terngiang lagi. Saya pun membuka Spotify, memutar...

Read More
  • 1
  • 2

Recent Comments

Blog Lama (2011 – 2016)

Pin It on Pinterest